Pojok Narasi #2 [Fajar] Dari Fajarku, Di Tanah Pesisir Jogja Lantai 2. Ahad, 9 Agustus 2020. https://www.instagram.com/p/CDpdVTtDqjq4gtFVwM7uIkW8lpZ_swLGYnYYFo0/?igshid=16h1d9c7arf3y
occasionally subtle

izzy's playlists!

tannertan36

Origami Around
styofa doing anything
will byers stan first human second
Lint Roller? I Barely Know Her
Mike Driver
Cosmic Funnies
One Nice Bug Per Day
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie

shark vs the universe
YOU ARE THE REASON
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Andulka
noise dept.
Game of Thrones Daily
RMH
art blog(derogatory)
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Switzerland

seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from Denmark
@syifaaulqolbi
Pojok Narasi #2 [Fajar] Dari Fajarku, Di Tanah Pesisir Jogja Lantai 2. Ahad, 9 Agustus 2020. https://www.instagram.com/p/CDpdVTtDqjq4gtFVwM7uIkW8lpZ_swLGYnYYFo0/?igshid=16h1d9c7arf3y
Pojok Narasi #1 Senja Terimakasih atas indah yang kau cipta. Seberkas oase di langit jingga. Menampak bayang yang masih ku rindu kehadiranya. #pojoknarasi #senja #ruangnulis #ceritakita #sastra https://www.instagram.com/p/CDn3qTmDi3DMxMIEaQu1AuflxGNRi0YvVJbtjA0/?igshid=1ldnwc1ernvy8
[Sprout : Rainy]
Dingin embun pagi kali ini terganti dengan beku air langit yang sedari malam intens mengguyur bumi.
Rintiknya enggan enyah menggempur tanah merah di permukaan tertinggi kota istimewa di deret selatan pulau Jawa.
Ya, tanah sumengkar namanya.
Tanah dengan gugusan batu karst berjajar dari ujung gerbang masuk hingga biru air lepas di samudra.
Relief sengkedan dengan berbagai pohon gagah di setiap titik perbukutan, tak urung menambah keindahan mencipta ketakjuban.
Dan, dari tanah situlah biji kecil itu berawal.
Biji kecil yang sempat terinjak itu terbangun karena desir sejuk begitu menggigitnya.
Matanya berkedip, mendongak, menyapu semua pandang di depan netranya.
"Sudahkah aku di alam barzah? Mengapa begitu gelap jika pagi memang sudah kembali?" bisiknya ternyata membangunkan sosok di belakangnya.
"Hei! bicara apa kamu? Telitilah lagi setiap inci pandang yang kau temui. Ini mendung anak muda. Tidakkah kau merasakan tetes air dari Rabb kita masih terus jatuh pada kita?" suara berat itu mengejutkan biji kecil yang bingung dengan pergantian hari ini
"Benar. Aku masih merasa sejuk air langit yang mengguyur kelopakku yang hampir membuncah ini." serunya dalam hati
"Terimakasih bapak tua, kau telah menyadarkanku, bahwa Khalik ku masih memberi waktu untukku merajut asa kembali. Alhamdulillah. Puji syukur hanya kepada-Mu yaa Rabb. Tuhanku. Tuhan semesta alam. Pencipta, pengatur, dan pemelihara segala yang di langit pun di bumi." Dengan bahagia biji kecil itu bertekat untuk memulai hari ini dan terus bertumbuh sebagaimana mestinya.
[Sprout : Start from the end]
Biji kecil itu pernah terinjak, bahkan hampir mati karena tekanan yang begitu keras menindihnya
Pecah. "Tak ada setitik harapan untuk bangkit menembus jejak tumpuan" jeritnya dalam diam
Selang beberapa saat kaki besar itu pergi, enyah, tak diketahui langkahnya mengarah
Sedetik kemudian, hujan turun dengan derasnya
Perih retakan yang ia terima bukan hanya keluh semata
Tapi memang, harapannya untuk meninggi telah sirna
Dia berguyur dengan Rahmat yang diberikan Khaliknya
Dia bersyukur masih bisa ditimpa sejuk air kehidupan dari langit yang begitu kelam dirasa
"Allaah.. Tuhan semesta alam. Penciptaku tak pernah habis memberi kasih dan sayang. Izinkan aku kembali merajut asaku yang hilang. Izinkan aku kembali meninggi meski rapuh ini belum sepenuhnya hilang" katanya merintih
Biji itu masih terus bertahan, yang ia tahu kehidupan yang telah diberikan tak pantas untuk disia-siakan, ia tau betul kemana dia akan dikembalikan, oleh karenanya dia ingin terus berjuang, meninggi, dan berkembang, berikut rekah bunga serta buah yang bergelimang.
Tak salah jika harus bertumbuh di saat akhir nyawa di ujung tanduk, asal iya tak seketika melonjak dan menghilang.