Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.
Minggu lalu, saya menyempatkan diri untuk memperpanjang Surat izin Mengemudi (SIM) yang habis masa berlakunya. Pada dinding ruang tunggu kantor polisi setempat, saya melihat bagan berukuran besar yang menjelaskan tentang alur penerbitan SIM. Di dalamnya tertera informasi bahwa proses penerbitan SIM baru bagi mereka yang baru pertama kali memilikinya akan menghabiskan waktu selama dua jam sementara mereka yang datang untuk perpanjangan cukup menempuh waktu sebanyak lima belas menit.
Saat tahap demi tahap perpanjangan dilalui, ternyata apa yang tertera pada bagan alur tidak begitu sesuai dengan kenyataan. Namun, mudah dipahami bahwa dengan jumlah pendaftar hingga 500 orang pada pagi itu, waktu pemrosesan pun harus bertambah. Untuk mengurus perpanjangan hingga akhirnya mendapatkan SIM baru, saya harus menghabiskan waktu 20x lipat dibanding semestinya alias lima jam lamanya.
Seperti halnya pengalaman yang kita lalui saat mengurus berbagai bentuk identitas pribadi (SIM, KTP, KK, Akta Lahir, Paspor) kerap ditemui mereka yang terlihat mengumpat dengan pemrosesan yang memang jarang singkat. Malah tanpa sadar, mungkin kita pun pernah melakukan hal yang sama dalam situasi serupa. Padahal, kemumetan selama berjam-jam tersebut tak dirasakan oleh kita yang datang untuk hanya mengurus perizinan diri sendiri tapi juga oleh para petugas yang harus menghadapi ratusan pengantre yang mengular setiap harinya.
Bahkan, kita mengenal umpatan yang begitu khas untuk mengomentari birokrasi semacam ini dengan nada, “Indonesia banget sih, apa-apa lama”. Bukankah justru dengan kekurangan tersebut, mereka yang disebut sebagai “orang-orang Indonesia” ini terlatih untuk menjadi bangsa yang penyabar?
Ya, satu diantara dua pilihan yang bisa kita ambil setiap diharuskan menempuh penantian adalah bersabar. Saat kita tahu bahwa pengalaman adalah guru terbaik, maka di balik setiap penantian hadir kesempatan dan proses pembelajaran untuk meningkatkan kapasitas kesabaran. Kapasitas yang terus meningkat seiring waktu hingga kita tak lagi mengenal batasannya karena ia terus bertambah seiring keputusan untuk bersabar dibuat.
Saat kita menyambut kesempatan untuk menunggu dengan baik, artinya kita siap bertumbuh untuk jadi lebih penyabar dibanding sebelumnya. Lewat pengalaman kemarin, kapasitas kesabaran saya dalam menunggu setidaknya “bertambah” lima jam dibanding sebelumnya. Andai di hari berikutnya saya harus menunggu dalam kurun waktu kurang dari lima jam, tentu saya akan menganggap enteng hal tersebut - karena sebelumnya saya pernah bersabar lebih dari itu.
Maka, keputusan untuk menjadikan setiap pengalaman sebagai guru juga berlaku dalam kesabaran. Tak hanya kesabaran karena kita pun berkesempatan memiliki banyak guru lewat hal-hal (tak) menyenangkan yang ditemui dalam pengalaman sehari-hari. Baik itu belajar disiplin saat melihat orang lain yang dihukum karena melakukan pelanggaran, belajar teliti saat mengalami dampak buruk dari kecerobohan atau belajar berlapang dada saat ditimpa musibah yang tak terhindarkan.
Dalam bersopansantun terhadap guru, hal penting apa yang perlu kita lakukan sebagai murid? Tentu bersyukur atas keberadaannya dan membuka diri untuk memetik sebaik-baik hikmah atas pembelajaran yang diberikan. Berbekal pemahaman sederhana tersebut, sudah semestinya kita menikmati semua pengalaman tanpa terkecuali dengan penuh rasa syukur karena di balik setiap peristiwa, ada takdir yang telah terukur dari takaran-Nya yang paling sempurna agar kita bisa berbahagia.
Tak perlu sulit mencari-cari kebahagiaan karena ia tak pernah beranjak dari dalam hati. Juga tak perlu sulit mencari-cari pembelajaran karena dalam hal paling sederhana pun ia hadir untuk dicermati.