via Giphy https://ift.tt/2GFAn3K
seen from United States
seen from United States
seen from Peru
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from France
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from Belgium
seen from Italy
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
via Giphy https://ift.tt/2GFAn3K
Mari Kita Duduk dan Mendiskusikan Nasionalisme
Figure 1. Laporan langsung Kompas TV 17 Agustus 2017, Wisma Indonesia Washington DC. (Foto: Satria Wijaya)
Tadinya saya tidak percaya bahwa nasionalisme itu semakin kuat ketika merantau. Ternyata memang betul. Rasa itu semakin kental justru ketika kita di negara orang lain, tidak di kampung halaman.
Itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan upacara penaikan bendera di Wisma KBRI Washington, DC, Kamis (17/8) kemarin. Saya merasakan ada percik semangat yang sama ketika kami berjalan ke lapangan upacara, dengan pakaian terbaik, memberi hormat ketika sangsaka berkibar di angkasa. Ada tali-temali yang merekatkan kami semua sebagai saudara satu tanah air.
Diaspora Indonesia di Amerika Serikat dan seluruh dunia selalu berusaha menghidupkan suasana negara asalnya. Ada lomba-lomba 17-an, panggung gembira, bazar makanan, sampai pakaian tradisional. Seluruhnya mebangkitkan ingatan kolektif kita akan ibu pertiwi.
Bendera Terbalik SEA Games
Tapi nasionalisme itu jadi rancu ketika pada Jumat (18/8) linimasa ramai dengan kasus terbaliknya bendera Indonesia di booklet SEA Games Kuala Lumpur. Menpora Malaysia Khairy Jamaluddin langsung meminta maaf lewat Twitter. Pada poin ini, saya pikir cuitan saja tidaklah pantas untuk kesalahan sebesar itu – menyangkut lambang negara – baik disengaja atau tidak. Khairy butuh permintaan maaf langsung dan resmi – yang untungnya dia lakukan kemudian.
Langkah itu tak meredam warganet Indonesia yang sudah geram sejak awal. Di linimasa Twitter dan Facebook, kita masih melihat ungkapan kemarahan. Orang mengumpat negeri jiran dengan kata-kata kasar. Sebagian memposting bendera Malaysia dengan sengaja dibalik. Lalu saya kesal sendiri, inikah nasionalisme yang kita banggakan?
Haruskah kita membalasnya dengan cara-cara yang sama menjengkelkan? Haruskah kita mengejawantahkan kecintaan kita terhadap negeri sendiri, menjadi kebencian terhadap negeri orang? Ayolah, kemasan nasionalisme itu benar-benar tidak cantik. Kebanggaan tidak membuatmu berhak mencela Malaysia. Kesal boleh, tapi tetap hormat.
Nasionalisme harus berdiri tangguh, tapi tidak angkuh.
Nasionalisme harus hangat namun tidak galak.
Buat saya, itulah makna nasionalisme yang relevan kini, saat teknologi telah merangkum dunia menjadi kampung mungil. Sebab di balik identitas kewarganegaraan kita - Indonesia, Malaysia, seluruh dunia – kita semua sama-sama warga dunia, sama-sama manusia.[]
Masya Allah. Semoga Allah merahmati orang-orang seperti beliau yang berusaha menegakkan kebenaran di tengah fitnah akhir zaman. Aamiin Ya Rabb
Sarawak Division Flags (Bendera Bahagian Sarawak) based on the old flag of Sarawak.
from /r/vexillology Top comment: Context: Inspired by [this designed division flags of Sarawak](https://www.deviantart.com/sarawakflag/art/Sarawak-Divisional-Flag-618175415), I redesigned them based on the old flag as well as changed some of the flags to suit the divisions.