Rabu: Wisuda, Bulu Tangkis di Fakultas, dan Hal Ajaib Lainnya (2-selesai)
Kegilaan yang sesungguhnya baru dimulai di sini. Menghadiri wisuda ‘bukan siapa-siapa’ hanya pendahuluannya. Hari itu temanku sudah berniat untuk bermain bulu tangkis di fakultas. Seperti kala semester satu di rumput Harvard atau Panggung Terbuka. Tetapi fakultas kami sedang sangat ramai karena acara wisuda. Lagipula kalau hujan deras begini, siapa juga yang mau merelakan diri untuk masuk angin secara sia-sia?
Rencana pun diubah. Bulu tangkis tetap harus dilaksanakan, tetapi tidak di fakultas sendiri. Kebetulan, setelah menghadap Bos Besar di Musholla Psikologi, kami melihat spot yang tampaknya menarik untuk dijadikan lapangan jadi-jadian. Di mana lagi kalau bukan di koridor Filsafat? Maka, tanpa ragu-tanpa malu, kami bergiliran menangkis shuttlecock sambil yang lain berjaga kalau-kalau ada orang mau lewat—karena letaknya dekat kamar mandi.
Mungin orang lain yang melihat bakal mengira kami tidak ada kerjaan atau…gila, tapi memang beginilah adanya.
Ada satu teman yang dengannya kami bisa melakukan apa saja yang awalnya bahkan tidak pernah terlintas di benak seorang mahasiswa biasa, sepanjang tidak melanggar batas norma dan agama.
Hal itu bukannya membuat kami risih atau terganggu, tetapi justru menciptakan kenangan baru yang membuat masa perkuliahan kami (((yang baru semester dua))) sama sekali tidak datar-datar saja.
Di tengah gerimis, bermain bulu tangkis, menumpang fakultas orang, ternyata cukup mengesankan. (hanya disertai cuplikan tangkapan layar, tidak bisa mengunggah video aslinya)
Apalagi setelahnya kami memesan seblak untuk menghangatkan diri dan berpindah tempat ke Selasar Fakultas Ekonomi. Banyak yang sedang mengadakan pertemuan di sana. Rapat UKM, interview himpunan, dan yang, lagi-lagi bermain bulu tangkis juga ada—siapa lagi kalau bukan kami, tetapi singkat saja, tidak sampai lima menit karena malu…dan lapar. Salah satu alasan kami ke sini adalah ‘orang-orang’ yang sedang rapat itu.
Sampai di sana aku terkejut (tapi berusaha penuh untuk pura-pura biasa saja) karena mendapati sosok yang baru kutemui di Selasar Fisipol sehari yang lalu. Ia terlalu terlihat diantara yang lain—mungkin hanya bagiku, tidak mencolok tapi ia berbeda sehingga aku begitu mudah menemukannya. Ia duduk di sebelah kekasih temanku yang semakin membuat perutku mual karena kesenangan. Kebetulan juga, stop kontak yang masih kosong ada di dekat lingkaran rapat mereka. Mau tidak mau aku memilih tempat di dekat situ, tidak peduli yang lain bilang “modus lu” karena ya tidak salah juga….
Setelah urusan baterai ponsel beres, aku langsung mengajak temanku ke kamar mandi untuk ‘sedikit merias kembali’ agar tampak segar karena, ya aku baru saja bermain bulu tangkis dan berkeringat dan kalau ada kesempatan untuk menampilkan diriku yang terbaik, kenapa tidak?
Sosok itu…aku tidak pernah menyangka bisa bertemu secara tiba-tiba. Bahkan pada awalnya aku sudah malas menunggu hujan dan langsung ingin pulang, tetapi di sisi lain aku tidak nyaman kalau berkendara dengan jas hujan. Maka keputusanku untuk ikut tetap tinggal bersama teman-teman nyatanya cukup bijak juga.
Sebab, sosok itu sebetulnya penghuni fakultas yang untuk mencapainya harus menyeberang Jalan Persatuan. Mesti memutar melalui perempatan Mirota Kampus atau Bundaran FKH supaya bisa memarkirkan kendaraan di Perpusat dan pinggir GSP. Sosok itu perlu usaha lebih untuk menyambangi ‘tempat-tempatku’ setiap hari. Singkat kata, kami tidak terlalu bersinggungan; apalagi bertabrakan, sehingga kalau tiba-tiba bertemu begini pasti bukan sebuah kebetulan.
Sore itu, tidak ada senja. Langitnya lebih jelas terlihat dari sebelah selatan fakultas. Langit-langit gedung yang tinggi ini lebih sering menyilaukan juga. Untungnya ada riuh-rendah suara diskusi yang membuat rintik gerimisnya tersamarkan.
Sore itu, di tempat yang sama aku menonton Reality Club secara cuma-cuma; menikmati Faiz dan Iqbal yang wangi memainkan gitar dari depan mata (kapan-kapan aku cerita di tulisan tersendiri), aku makan seblak level satu di dekatmu. Rasanya lebih pedas dari biasanya tetapi aku harus tetap makan karena lapar. Aku malah tidak sengaja menggunakan dua sendok yang menempel atas-bawah, tetapi teman-teman mengatakan itu efek salah tingkah, pengaruh adanya sosok itu di seberangku (kami pindah tempat setelah baterai ponselku penuh). Hah, yang benar saja.
Sore itu menjelang Magrib, rapatnya selesai. Kekasih temanku membubarkannya. Temanku tidak sabar untuk segera intens berinteraksi lagi. Seblakku masih separuh porsi. Aku sedang menyendokkan cuanki saat sosok itu lewat dan menoleh ke arahku (dan teman-temanku) dengan senyum tipis. Kemudian azan berkumandang dan aku tahu sosok itu buru-buru pulang, namun mungkin hujan menahannya kalau ia tidak mengendarai jipnya.
Aku dan teman-temanku masih betah di sini sampai azan Isya lagi. Kekasih temanku ternyata masih meneruskan rapatnya bersama yang seangkatan. Untung temanku tidak gusar. Bahkan ketika sampai pulang pada sekitar setengah sembilan, temanku memilih tetap bersamaku karena musim hujan ini agaknya terlalu berbahaya bagi mereka yang tengah memadu cinta.
Tapi pada intinya aku bahagia juga. Kadang susah dilakukan, tapi aku belajar pelan-pelan. Bahwa sesuatu yang tidak terduga akan terjadi kalau kita tidak kebanyakan ekspektasi. Sampai selanjutnya, semoga.
^aku, yang sedang berbahagia setelah kenyang makan seblak dan bertemu orang-orang teristimewa.
Keesokan harinya aku baru mendapat kabar kalau sosok yang lebih tua itu juga menghadiri wisuda, selisih satu jam denganku dan teman-temanku, tentu saja untuk mewakili UKM-nya. Kenapa kita tidak juga bertemu waktu itu? Kenapa harus menunggu sore harinya?
Namun betul ternyata ketika ia berkata, kalau sudah jalannya pun pasti akan bertemu, kalau bukan jalannya…mau bagaimanapun tetap tidak pada akhirnya.
Jalan kita yang mana, ya, kira-kira?