Bahagianya Ada pada Peluhku, Nyonya
Cing...cing...cing... Dari belakang tembok kusam, terdengar dencing yang sibuk antara sendok perak dan piring-piring mungil. Seketika, kenangan kembali melungkah dari kepala; meluncur ke kedua pelupuk mata. Perjamuan malam musim hujan lalu, kau suguhkah kue warna-warni pada sebuah piring cantik peninggalan Eyangmu. Kuemu manis, sayang jarimu seperti rintik gerimis, yang kurus dan dingin. Ingat betul, kala itu matamu serupa rekah fajar yang aduhai. Ia molek tanpa mengerling. Melihatnya aku melayang. Bingung. Aku bingung. Ingin membawamu pulang, menyimpanmu dalam saku celana yang berlubang. Tapi, embus udara bergincu merah darah, ikut gelisah tak memberiku markah untuk bercinta. Ia memanas seperti cerek yang mulai berisik. Aku memilih pulang. Jalan setapak aku susur membusur dari ujung barat hingga timur. Angkutan umum berwarna merah muda di persimpangan depan jalan lalu mengangkutku beserta kegelisahan yang hanya bisa selesai dengan lenguhan. Lantas berhenti aku di jembatan merah. Tempat beringin tua menjadi raksasa bisu kala itu. Ia menyaksikan aku kewalahan ketika lembut bibirmu menyentuh kelopak mata kananku. Ah. Aku gelisah tak sudah. Basah ingin membelah. Aku marah pada Sang Nyonya rumah. Baginya, tidakkah cinta bisa dipercaya? Tidakkah dia bisa terima bahwa kebahagiaan darah dan dagingnya ada pada peluhku?! Arisan kata bersama edoyaa.. 10 Frasa: angkutan umum, jembatan merah, embus udara, rekah fajar, beringin tua, tembok kusam, perjamuan malam, saku celana, piring cantik, jalan setapak.











