Vandaag, 12 mei is een awareness day voor iedereen die lijdt aan een chronische immuunziekte of een chronische neurologische aandoening, zoals bijvoorbeeld Fibromyalgie. Ja, dat is een mondvol, maar het is vooral vervelend als je er zelf mee te maken hebt. Deze aandoeningen zie je meestal niet van de buitenkant, maar je mag ze niet onderschatten. Mensen die hieraan lijden, leveren elke dag een gevecht. Elke dag opnieuw. Daarbij stoten deze mensen vaak op onbegrip van de omgeving. Vandaag vraag ik aan elk van jullie om er eens over na te denken. Wees dankbaar als je gezond bent! Wees dankbaar als je familie en je vrienden gezond zijn. Toon begrip en help een handje bij de mensen die het moeilijker hebben, en durf hulp vragen en ervoor uit te komen als je zelf ziek bent. Deze ziektes zijn niet te genezen, maar een beetje warmte en begrip kan wonderen doen.
Douche, sinds kort met behulp van een badlift. Tijdens mijn revalidatie in 1993 heb ik een bad geprobeerd, maar mijn benen kwamen bovendrijven en de rest zonk naar de bodem
Ik stamp hard met mijn blote voeten op de harde tegels buiten. Mijn hoofd opgeheven naar de lucht. Schreeuwend. In de hoop dat er dikke regendruppels naar beneden kwamen zetten met harde onweer. De enige druppels die er kwamen waren die uit mijn ogen. De zon bleef vrolijk schijnen. Boos op de wereld. Boos op mezelf. Boos op de mensen om me heen. Boos op de mensen die alles hebben verpest. Voor zichzelf. Voor mij. Gewoon even boos op alles. Ik stamp nogmaals hard met mijn blote voeten op de harde tegels buiten. Mijn hoofd heb ik laten zakken en ik huil zoals een kleine baby dat doet. Niemand die het merkt. Niemand die het ziet. Niemand die het hoort.
Ada satu waktu di mana aku pernah berpikir kalau sepertinya kehidupan itu suka mempermainkan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah momen dalam hidupku di mana waktu berjalan begitu cepat dalam satu hari dan mampu mengajarkan padaku berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda dalam waktu kurang dari duapuluh empat jam.
Tanggal duabelas Mei, hari Sabtu. Kampusku memperingati sebuah tragedi yang tampaknya masih tetap mengiang dan membekas menjadi rekam jejak sejarah yang tidak bisa hilang. We are the reformed jacket. Begitu beberapa senior dan teman satu angkatanku menyebutnya. Entahlah, aku tidak terlalu tertarik untuk memperingatinya –jujur. Duabelas Mei adalah bagian lain dari hidupku yang tidak ingin kukenang. Masa-masa di mana aku mendengar sendiri cerita Ayah mengenai rencana keji jenderal Republik Indonesia yang harus Ayah laksanakan atas nama sumpah kemiliteran.
Rasanya muak. Aku tidak ingin mengingatnya.
Meski begitu ada satu orang yang menarikku ke medan ini, momen di mana akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengan kegiatan kampusku mengenang peristiwa limabelas tahun dulu. Kisah yang tidak boleh terulang lagi. Sejarah empat orang mahasiswa yang darahnya tumpah untuk sebuah kata reformasi.
Kepribadiannya inilah yang mampu membuatku mendadak terjebak dalam medan magnet yang dia miliki. Bukan.. bukan berarti aku ikut kegiatan kampus untuk pe-de-ka-te dengan Koko! Aku ikut karena aku ingin tahu bagaimana rasanya kebebasan berekspresi mahasiswa di jaman ini yang katanya sudah bebas beraspirasi. Plus, Koko memang mengatakan padaku (setengahnya berpromosi agar aku ikut acara ini) bahwa kami akan mencoba melawan lupa akan kejadian limabelas tahun lalu di mana senior kami tewas untuk sebuah perjuangan melawan pemimpin yang katanya lupa diri.
Aku dan Koko memang tidak terlalu dekat tapi kami saling kenal karena kebetulan berada di bawah naungan KMK ¾sebuah perkumpulan mahasiswa Katolik di kampus. Koko merupakan seniorku di sana dan dia cukup terkenal di kalangan anak-anak KMK. Sosoknya begitu membumi di manapun, suka membantu, dan selalu siap sedia menjadi pengurus acara apapun. Tidak ada satupun mahasiswa yang tergabung dalam KMK yang tidak mengenal Koko. Hebat ya?
Setelah berhasil membujukku ikut acara ‘melawan lupa’ itu, Koko sepertinya cukup bertanggungjawab dengan selalu menemaniku kapanpun aku terlihat sendiri seperti anak hilang di tengah kerumunan. Well, memang sebagian teman sepergaulanku tidak mengikuti acara ini. Buat mereka acara ini hanya buang-buang waktu dan tidak akan membantu mereka mendapat nilai ‘A’ di mata kuliah akuntansi manajemen. Jadi jangan bayangkan aku bisa cepat membaur dengan mahasiswa-mahasiswi yang mayoritas berasal dari gerombolan exist di kampus.
Baru saja aku datang ke kampus dan Koko langsung menyambutku. Aku sudah melihatnya dari kejauhan dan tidak menyangka dia juga sudah melihatku lalu berjalan mendekat.
“Udah dateng?” tanyanya dan aku menjawab dengan anggukan.
“Kok nggak bawa almamater?”
“Lupa..” alasan bodoh karena sebenarnya aku memang meninggalkan almamaterku di jemuran kosan karena aku malas memakai almamater yang nampaknya akan membuat tubuh kecilku tenggelam di dalamnya. Almamaterku kebesaran dan itu sangat menganggu.
“Oh.. mau aku cariin pinjaman?”
“Nggak usah, Ko. Nggak papa kok..” kusunggingkan senyum berharap Koko tidak terlalu baik dan benar-benar mencarikan pinjaman almamater untukku. Memakai almamater orang lain adalah hal terakhir yang bisa kupikirkan untuk dilakukan. Jelas bukan pilihan yang bagus untuk orang yang fobia bakteri sepertiku.
“Ya sudah kamu masuk ke bus aja deh ya langsung, nanti aku absenin..” tangan besarnya mendorongku pelan ke arah bus yang akan membawa kami ke tempat acara. Aku tidak bisa menolak karena sepertinya tubuhku selalu bereaksi di luar kendali setiap Koko ada di dekatku. Ah.. I’m really out of my head.
Ternyata acara berlangsung di sebuah kampus lain yang masih satu yayasan dengan kampusku. Kami akan menggelar long march dari kampus itu ke taman makan di Tanah Kusir. Ini benar-benar long march karena massa yang mengikuti kegiatan ini banyak dan jarak dari lokasi berkumpul sampai pekuburan tempat kami akan melayat senior kami itu cukup jauh.
Aku mencoba untuk berbaur dengan beberapa mahasiswa lain tapi tidak terlalu berhasil. Kebanyakan dari mereka tidak mempunyai minat dan arah pembicaraan yang sama denganku. Ini sangat sulit.
Ketika aku memutuskan untuk menyibukkan diri dengan memotert barisan panjang mahasiswa berjas biru tua yang tumpah ruah di jalan, Koko mendekatiku. Dia sepertinya punya radar yang mengingatkannya setiap saat aku merasa mulai kesepian dan bosan.
“Kamu foto pakai kecepatan berapa?” Koko menanyaiku yang masih sibuk memotret.
Kuhentikan kegiatan membidik ini sebentar lalu menatap Koko. “Memangnya Koko ngerti fotografi?”
“Kelihatannya gimana?” dia justru balik bertanya.
Sambil berjalan kami meneruskan obrolan.
“Dugaanku Koko cuma asal nanya dan sebenarnya nggak ngerti fotografi..”
“Tergantung sih..”
“Maksudnya?”
“Kalau cuma suruh bedain kamera digital, DSLR. SLR, lomo, Polaroid, de es be sih aku bisa..”
Aku meledak dalam tawa. Coba pikir, siapapun tentu bisa melakukannya dan menurutku itu tidak bisa dibilang sebagai tolok ukur mengenai tahu tidaknya seseorang tentang fotografi. Terkadang Koko suka bicara ngawur seperti ini. Kehangatannya pada setiap orang inilah yang membuatku tidak pernah berani mengenal Koko lebih dekat. Aku sangat takut. Takut kalau-kalau aku bisa jatuh dalam kehangatan itu, yang sayangnya harus dibagi dengan banyak orang lain di muka bumi ini.
Kami terus saja mengobrol sampai akhirnya kami tiba di kompleks pemakaman. Suasana sendu ala taman makam mendadak menyeruak. Aku mendadak merasa ngeri. Bulu kudukku merinding dan aku tahu kenapa. Bayangan hal yang kudengar limabelas tahun lalu keluar dari mulut Ayah mendengung lagi di telinga. Keputusan ikut acara ini memang seperti merobek luka lama.
Setelah berdoa di dua makam dengan empat nama senior yang limabelas tahun lalu terbunuh, aku buru-buru pergi dan berjalan keluar kompleks pemakaman. Perasaan gugup itu menyerangku lagi. Ada kenangan yang mendesak ingin keluar tapi dengan paksa aku tekan agar jangan menyeruak dan mengganggu hidupku lagi.
“Kok udah keluar aja? Takut karena ini kuburan?” suara Koko menyapu telingaku.
“Ah?” aku menoleh ke arahnya yang sudah berdiri di sampingku.
“Kamu takut hantu? Ini masih siang bolong, tahu..”
“…..” aku tidak menjawab karena pikiranku masih kacau balau.
“Look..” Koko memegang bahuku yang tegang dengan kedua tangannya. Entah ada energi apa yang dia salurkan tapi aku mendadak merasakan kehangatan, aku bisa merasakan kenyamanan bahkan hanya dengan cengkeraman tangannya di bahuku. Kedua tangan itu seolah menopangku mengangkat beban hidupku limabelas tahun belakangan ini.
“Empat orang yang terbunuh di tanggal ini limabelas tahun yang lalu itu nggak pernah takut mati. Kita yang masih hidup di tanggal ini limabelas tahun kemudian juga harus begitu,” matanya tersenyum segarisan bulan sabit memandangku penuh hangat.
Refleks aku hanya bisa mengangguk.
Ya, aku tidak takut mati karena aku sudah pernah mati sebelumnya. Limabelas tahun yang lalu, jiwaku sudah mati oleh perbincangan Ayah dan Ibu yang menelanku pada lingkaran dosa.
***
Matahari makin meninggi dan acara terus dilanjutkan. Beberapa mahasiswa duduk di atas bus sambil meneriakkan yel-yel revolusi selama perjalanan menuju destinasi berikutnya. Sementara itu, Koko masih berbaik hati menemaniku yang belum juga mendapat teman untuk sekadar menemani perjalanan.
REVOLUSI.. REVOLUSI.. REVOLUSI SAMPAI MATI! REVOLUSI .. REVOLUSI.. REVOLUSI SAMPAI MATI! REVOLUSI.. REVOLUSI.. REVOLUSI SAMPAI MATI! REVOLUSI.. REVOLUSI.. REVOLUSI SAMPAI MATI!
Yel-yel itu terus terdengar berderup di atas bus yang kami tumpangi. Mahasiswa-mahasiswa di atas sana sepertinya kelewat bersemangat mendalami peran mereka sebagai mahasiswa yang membela reformasi – revolusi.
“Koko nggak ikutan?” tanyaku penasaran.
“Buat apa? Bukan itu yang kita butuhkan sekarang! Udah basi gerakan-gerakan semacam itu..”
“Terus, yang seperti apa yang kita butuhkan?” aku mulai tertarik.
“Aksi nyata! Revolusi itu udah jalan, bukan lagi saatnya kita nuntut revolusi. Tugas kita sekarang menjalankan revolusi sampai selesai nanti. Buat apa buang-buang suara untuk hal nggak berefek apapun kayak gitu..”
“Kedengarannya sarkasme banget!”
“Entahlah. Banyak yang bilang cara berpikirku emang aneh..”
Aku terpana. Sejujurnya aku juga begitu. Buatku bukan hanya teriakan revolusi sampai mati yang perlu dilakukan sekarang. Segalanya tentu lebih jauh dari sekadar itu dan betapa bahagianya menemukan seseorang yang memiliki jalan pemikiran sama denganku. Pemikiran yang sulit ditemukan di jaman ini saat segalanya menjadi begitu mudah berimitasi satu sama lain.
Koko sudah membuatku terpesona, tidak habis pikir, dan nyaman dalam setengah hari. Entah apalagi yang bisa dilakukan pria ini untuk mengobrak-abrik perasaanku.
Bus berhenti melaju. Kami sudah sampai di lokasi berikutnya. Sebuah panti asuhan. Acara hari ini memang sepertinya lebih mengarah pada aksi nyata. WOW! Ini baru hebat!
“Ayo kita masuk!” Koko menggenggam tanganku dan menuntunku masuk ke dalam panti. Digenggam seperti ini memberikan sensasi aneh lagi padaku. Apa ya? Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang melayang di perutku. Geli, bahagia, aman. Nano-nano yang sepertinya cukup nikmat.
Adik-adik yang menyambut kami jumlahnya ada tigapuluh. Mereka semua laki-laki karena memang panti asuhan ini hanya menampung anak yatim laki-laki sementara panti di seberangnya menampung anak-anak yatim perempuan. Kegiatan kami berikutnya adalah bakti sosial untuk menghibur mereka.
Menyenangkan sekali melihat mereka tertawa karena aksi kocak yang ditampilkan beberapa mahasiswa, juga aksi sulap yang tidak kalah keren. Banyak gambar-gambar tawa yang berhasil kuabadikan lewat Nikonku. Kuharap bisa menjadi another master piece.
“Kok nggak gabung ngajar mereka mewarnai?”
Sekali lagi Koko datang saat aku tengah duduk sendiri di pinggir ruangan. Memang aku tidak ikut mengajari anak-anak itu mewarnai dan lebih memilih duduk menepi. Tidak kusangka kegiatanku ini tidak luput juga dari pandangan Koko. Haruskah aku bahagia mengetahui ini?
“Nggak, Ko. Udah banyak yang ngajar kok,” tidak tahan aku tersenyum. Sepertinya saraf-sarafku selalu bekerja untuk tersenyum setiap Koko ada di dekatku.
“Seru kan?” tanyanya.
“Ya…” aku menggantungkan kalimatku, “Kenapa kita nggak ikutan anak univ ke bundaran HI?”
Aku memberanikan diri bertanya mengenai hal ini. Univ adalah sebutan anak-anak kampusku untuk universitas lain yang bernaung di bawah trisula yayasan yang sama dengan kami. Sebenarnya bisa kupastikan alasannya adalah karena Univ dan Yayasan sedang bertengkar memperebutkan hak kepemilikan.
“Nggak boleh..” jawab Koko membetulkan perkiraanku.
“Emangnya kenapa kok nggak boleh?”
“Kamu tahu abu-abu kan?”
“HAH?” aku tidak tahu arah pembicaraan ini akan ke mana karena Koko membelokkannya ke arah yang kelewat bersimpangan.
“Ya, menurut kamu abu-abu itu apa?”
“Nggak tahu deh. Warna? Campuran antara hitam dan putih?” jawabku asal.
“No. Abu-abu itu warna dasar. Dia yang menentukan akan jadi hitam atau putih. Kita juga begitu. Trisula itu abu-abu dan kita mencoba menjadi putih bukan hitam..”
Aku hanya memberikan tatapan bingung dan sepertinya Koko mengerti karena dia langsung melanjutkan penjelasannya, “Kalau kamu ada di HI sekarang, nggak ada yang bisa jamin kamu akan pulang dengan selamat. Bisa aja kamu dibawa teman kamu entah ke mana. Keadaan di sana riuh banget dan kebanyakan dari mereka nggak benar-benar punya misi. Kebanyakan cuma mau ikut hype aja..”
Aku menangguk-angguk mulai mengerti arah pembicaraan.
“Jadi kita harus jadi abu-abu yang menentukan?”
“Terserah masing-masing pribadi. Yang jelas aku tahu kalau kehidupan nggak bisa disia-siakan begitu aja. Mahasiswa nggak boleh asal demo aja tanpa ada visi misi jelas yang dibawa..”
Aku bisa merasakan aura kematangan pemikiran Koko. Begitu juga dengan karismanya yang memancar kuat. Dia orang yang hebat.
“Koko orang yang hebat..” tanpa sadar aku mengucapkannya dan Koko tersenyum lagi dengan senyumnya yang paling hangat yang pernah kulihat.
“Mungkin karena limabelas tahun yang lalu aku sudah pernah tahu rasanya kehilangan yang berat. Aku merasakan sendiri tragedi ini limabelas tahun yang lalu..”
“….”
“Limabelas tahun lalu tanggal tigabelas, keluargaku dibantai. Mungkin karena kami etnis tionghoa atau mungkin juga karena Oom-ku aktivis PRD* yang ikut berunjuk rasa bareng mahasiswa. Yang jelas keluargaku sekarang dan keluargaku limbabelas tahun yang lalu sudah nggak lagi sama. Papi dibunuh ditanggal itu hanya karena kami etnis tionghoa..”
Cukup.
Aku tidak perlu mendengar lebih banyak lagi.
Kupeluk Koko seerat yang kubisa.
“I’m so sorry” bisikku.
Aku bisa mendengar Koko mengucapkan terimakasih. Kami masih berpelukan dan tangisku tertahan. Mungkin Koko kira aku sedang mengucapkan belasungkawaku atas pembantaian keluarganya limabelas tahun lalu, tapi itu salah. I do really say sorry. Aku benar-benar meminta maaf untuk hal itu. Memintakan maafnya untuk pembantaian keluarganya.
Tanganku bergetar dan duniaku tidak lagi sama sejak itu.
Koko sudah berhasil membuatku merasa menjadi manusia paling berdosa hari itu. Koko memperkenalkanku pada berbagai sensasi yang berbeda hari itu. Termasuk sensasi rasa bersalah yang teramat dalam.
Limabelas tahun lalu, tanggal duabelas Mei, aku mendengar Ayah berbicara pada Ibu mengenai perintah Jenderal di kesatuan militernya untuk membunuh semua warga keturunan di Jakarta. Ayah terdengar sangat sesak malam itu dan Ibu sudah terisak. Ayah tidak mau jadi pembunuh tapi dia tidak mau mati terbunuh. Kalau dia tidak melaksanakan komando Sang Jenderal maka aku dan Ibukulah yang akan kehilangan Ayah.
Aku mendengar segalanya.
Aku merinding lagi mengingat malam itu.
Kalau saja aku berani mencegah Ayah melakukannya. Kalau saja aku merengek demi menghalangi Ayah jadi pembunuh. Mungkinkah Koko tetap akan memiliki Ayahnya di sisinya? Mungkinkah Koko bisa merasakan kehidupan yang tenang dan normal?
Tapi nasi sudah jadi bubur. Tanggal duabelas mei sembilanbelas sembilanpuluhdelapan sudah lewat. Kejamnya, karma bergerak mendekatiku. Aku tidak lagi bisa menatap Koko tanpa memandangnya sebagai salah satu korban Ayah. Aku dan cintaku untuk Koko terasa sangat nista mengingat Koko bisa jadi merupakan salah satu keluarga yang dibantai oleh Ayah limabelas tahun yang lalu.
Koko… I’m really sorry.
-Oda Sekar-
*PRD : Partai Rakyat Demokratik - partai yang idanggap komunis di era Orde Baru