Selamat Hari Raya Idul Adha 2022. Mari kita meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang menjadi inspirasi untuk selalu ikhlas dan taqwa kepada Allah SWT. - Rino Lande -
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Maldives
seen from Netherlands
seen from Yemen

seen from Moldova

seen from United States

seen from Maldives

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Moldova
seen from United States

seen from Germany

seen from Maldives

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Russia
Selamat Hari Raya Idul Adha 2022. Mari kita meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang menjadi inspirasi untuk selalu ikhlas dan taqwa kepada Allah SWT. - Rino Lande -
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H
Taqabbalallahu minna waminkum
Mohon Maaf Lahir & Batin 🙏🏼
Catatan 2 Ramadhan 1433 H : Qiyam Ramadhan ; Shalat Tarawih
“Siapa yang menjalankan qiyam Ramadan semata-mata karena iman kepada Allah dan mengharap pahala kepada-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan terampuni.” [HR Imam Bukhari] ********************************* Catatan 2 Ramadhan 1433 H Qiyam Ramadhan ; Shalat Tarawih Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pada suatu malam (di bulan Ramadhan) mendirikan sholat, lalu datang orang-orang pada malam berikutnya (ingin sholat bersama beliau). Kemudian datanglah malam ketiga dan beliau kembali sholat bersama ummatnya yang hadir memenuhi masjid. Pada malam ke-empat, orang-orang pun sudah berdatangan, namun beliau tidak keluar dari rumahnya. Saat pagi datang beliau bersabda: "Aku telah melihat yang kalian lakukan, dan aku tidak keluar karena aku takut kalian akan menganggap sholat itu diwajibkan kepada kalian". (H.R. Muslim). Maka jelaslah bahwa Rasulullah s.a.w. menunaikan sholat Tarawih berjamaah di masjid hanya tiga kali sepanjang hidupnya. Rasulullah SAW sendiri melakukan sholat Tarawih secara perlahan-lahan, dilakukan tidak langsung setelah sholat isya berjama'ah, melainkan setelah beliau beristirahat. Sesuai dengan asal kata Tarawih sendiri, yaitu Tarwiha, bentuk plural dari raahah yang artinya istirahat/rileks; dipakainya kesempatan Tarawih sepanjang bulan Ramadhan itu untuk membaca seluruh surat dalam Al Qur'an dan di antara setiap dua raka'at beliau beristirahat sambil mengingat-menyebut nama Allah (berdzikir) dan berdo'a khusyu'. Lalu beliau baru akan menyelesaikan Tarawihnya saat menjelang waktu sahur, yang dekat dengan waktu imsak. Kemudian setelah Rasulullah sudah wafat, sahabat beliau, Abu Bakar Sidik r.a. meneruskan kebiasaan sholat tarawih ini secara berjama'ah tetapi dalam kelompok-kelompok terpisah. Lalu ketika Abu Bakar Sidik wafat, Umar bin Khattab r.a. sebagai Khalifah pada saat itu merasa bahwa sholat tarawih akan menjadi peluang syi'ar Islam yang baik, sehingga Umar 'merapikan' pelaksanaan sholat itu menjadi berjama'ah dalam satu kelompok dan 'menarik' waktu pelaksanaannya, menjadi langsung setelah sholat Isya ditunaikan di masjid. Mengenai jumlah raka'at sholat Tarawih, hadis shahih tentang salat tarawih atau “qiyam Ramadan” sebetulnya tidak memberikan batasan jumlah rakaat yang pasti, tidak berorientasi sedikit atau banyaknya jumlah rakaat salat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang dikutip di awal catatan ini. Pada hadis itu, Nabi sama sekali tidak menyinggung bilangan rakaat salat apalagi membatasinya. Kuantitas bukan orientasi utama dalam salat tarawih, tapi yang mesti diutamakan adalah kualitas. Jadi, mau salat tarawih empat rakaat silakan, enam rakaat monggo, delapan rakaat tidak mengapa, dua puluh rakaat mbonten nopo-nopo, atau bahkan lima puluh, seratus dan seterusnya, dengan catatan tetap menjaga kualitas; ikhlas, khusu’, baik, dan sebagainya. Wallahu a’lam.
Catatan 3 Ramadhan 1433 H : Do'a Bukan Lampu Aladin
Allah berfirman kepada para malaikat ; "Di sebelah sana ada seorang hamba-Ku yang fasik, banyak berbuat dosa, berdo'a kepada-Ku. Segeralah penuhi permintaannya. Aku bosan mendengar suara (rengekannya). Di tempat lain ada seorang hamba-Ku yang saleh sedang berdo'a kepada-Ku. Tapi, tangguhkan permintaannya. Aku senang mendengar rintihannya" Hadits Qudsi ****************************** Catatan 3 Ramadhan 1433 H Do'a Bukan Lampu Aladin oleh Jalaluddin Rakhmat Pada zaman orde baru saya mendapat beasiswa dari Presiden untuk belajar di Australia. Tetapi sampai sebulan di sana, beasiswa tidak kunjung cair. Maka saya mulai bertambah rajin sholat malam dan hampir setiap hari, ba'da sholat Maghrib membaca al Qur'an. Semakin panik, semakin saya menambah do'a. Begitu terus. Setiap hari saya mengecek rekening di bank, seolah ingin membuktikan khasiat dari do'a saya, dan dari ibadah-ibadah tambahan saya. Ternyata, angka di rekening masih tetap sama. Tidak bertambah sepeserpun. Ketika sampai pada tahap gawat, saya hubungi keluarga di tanah air. Kebetulan ada sebuah mobil yang saya tinggalkan. Saya minta keluarga untuk menjualnya lalu mengirimkan dananya ke saya. Namun ternyata mobil itu sudah hancur ; mengalami kecelakaan berat ketika dipinjam oleh seorang teman. Kembali saya bersimpuh di hadapan Allah, mengadu. "Ya Allah, Engkau ini bagaimana, aku memohon bantuan-Mu, tetapi malah mobil yang Kau berikan, Kau ambil di saat aku sangat membutuhkannya." Saya lantas berpikir, ini barangkali karena banyaknya dosa saya yang menghambat terkabulnya do'a. Tetapi siapa sih di dunia ini yang terbebas dari dosa? Bukankah Allah berfirman bahwa semua anak cucu Adam adalah pendosa? Kalau memang dosa menghalangi terkabulnya do'a, maka kita tidak usah berdo'a saja, karena tidak mungkin terkabul. Kebetulan ketika saya melanjutkan membaca al Qur'an untuk menenangkan hati, saya sampai pada Surah Maryam yang bercerita mengenai Nabi Zakaria yang berdo'a ingin punya anak. Setelah menikah di usia 20 tahun, ia berdo'a setiap hari untuk mendapatkan keturunan. Namun sampai usia 80 tahun pun, do'anya tidak juga terkabul. Berhentikah beliau berdo'a? Kecewakah beliau pada Tuhan-nya? Tidak. Beliau justru terus berdo'a. Maka Allah memuji Zakaria dalam ayat 2-4 surah Maryam itu. "Ingatlah rahmat Tuhanmu untuk hamba-Nya, Zakaria. Ketika ia berdo'a kepada Tuhannya dengan suara lembut, ia berkata, "Tuhanku, sungguh sudah rapuh tulangku, sudah berkilau uban kepalaku, tetapi aku belum pernah kecewa untuk berdo'a kepada-Mu, ya Tuhanku" Ayat itu membuat saya tersentak. Nabi adalah yang boleh dibilang tidak berdosa, tapi ternyata Tuhan juga tidak menyegerakan pengabulan do'anya. Saya yang baru berdo'a beberapa minggu saja sudah menggerutu. Lalu dalam kitab tafsir Al-Muin saya temukan hadis qudsi yang menjelaskan tentang ayat tersebut. Hadis itu (terkutip di awal catatan -red) membuat saya tersungkur, bersujud memohon ampunan Allah. "Ya Allah, bila Engkau senang mendengar rintihanku, maka aku ridho. Aku berserah sepenuhnya pada-Mu. Terserah kapan saja Engkau berkenan memenuhi permintaanku. Aku akan terus berdo'a… merintih." Setelah itu saga tenang dan tidak pergi-pergi lagi ke bank untuk mengecek isi rekening. Tidak lama setelah itu, saya dikabari bahwa beasiswa sudah dikirim. Herannya, saya tidak melonjak senang. Saya sudah tenang. Mengetahui bahwa Allah senang ketika saya merintih dalam do'a saya dan berserah akan hasil do'a itu sudah cukup bagi saya. Kisah Zakaria dalam al Qur'an hanya salah satu saja contoh. Nabi Musa pun mengalami hal yang sama. Begitu sulit dan beratnya beliau menghadapi kedzhaliman Fir'aun, dan begitu gigihnya beliau berdo'a agar Allah menggulingkan Fir'aun dari kekuasaannya. Tetapi ternyata Allah membuatnya menunggu 40 tahun sampai akhirnya Fir'aun dimusnahkan dengan cara ditenggelamkan. Bagaimana dengan kita? Dengan tingkat kesulitan ujian yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang dihadapi para Nabi-Nya, pantaskah kita menggerutu dan berkeluh kesah merasa do'a kita tidak juga dikabulkan? Kita tidak diminta menunggu sampai empat puluh tahun, hanya sekedar diminta bersabar menjalani proses. Jika kita memang beriman dan mencintai Sang Khaliq, maka teruslah berdo'a.. biarkan Allah menikmati rintihan do'a kita, sampai hati mampu tenang dan berserah total pada waktu pengabulan-Nya.
Catatan 4 Ramadhan 1433 H Khusyu'
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sulit kecuali bagi orang yang khusyu’ " Qs. Al Baqarah (2) : 45 ************************************** Catatan 4 Ramadhan 1433 H Khusyu' Dilihat dari kaidah bahasa, khusyu' bermakna 'tunduk'. Khusyu' adalah sikap hati. Tunduk menyadari kemahabesaran Sang Khaliq. Tunduk merasakan kehadiran Allah. Khusyu itu bukan semata sikap dalam sholat. Ketertundukan hati merasakan Allah ada itu bukan hanya ketika sedang berada di atas sajadah, melainkan dalam kehidupan. Khusyu adalah sikap hidup ; merasa rendah dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Sadar bahwa dirinya bukan dan tidak perlu menjadi ‘yang paling….’ dalam hal apapun. Orang yang khusyu’ tidak akan sombong. Orang yang khusyu’ tidak akan merasa perlu mengumumkan ibadahnya. Orang yang khusyu’ tidak butuh pengakuan, apalagi pujian dari sesama manusia. Orang khusyu’ sibuk memperhatikan, menghitung dan memperbaiki aibnya saja. Orang yang khusyu, menjadikan segala sesuatu yang dilihat dan dialami sebagai syahadat ; kesaksiannya akan kebesaran Allah yang wahid. Takbir bagi orang yang khusyu’ adalah pengakuan bahwa Allah yang Mahabesar; sedang dirinya hanya setitik kecil, bagaikan partikel debu. Tahmid bagi orang yang khusyu’ adalah pernyataan bahwa segala bentuk pujian itu hanya Allah yang berhak dapatkan; sedang apapun yang dirinya mampu kerjakan dan capai adalah semata karena pertolongan Rabb-nya. Tasbih bagi orang yang khusyu’ adalah kesaksian bahwa Allah itu suci, utuh sempurna tanpa setitik cela-pun; sementara dirinya berkubang dosa, dari sejak mata dibuka hingga menutup lagi. Orang khusyu’ itu tidak minder yang merendahkan diri, tetapi justru percaya diri untuk tenang dalam perkara apapun. Dia punya Allah yang Mahabesar, Mahasuci, Sang Pemilik puja dan pujian. Dia punya syukur yang tak berbatas, karena susah dan senang baginya sama-sama membuat ia semakin dekat dan yakin akan kehadiran Allah dalam dirinya. Orang khusyu' itu tidak pernah memisahkan sabar dan sholatnya. Ia mampu bersabar karena sholatnya menghadirkan Allah. Ia mampu sholat dengan sabar, menyadari bahwa ia hidupnya, matinya, peribadahannya berujung pada Allah saja.
Catatan 5 Ramadhan 1433 H : Marah
"Orang yang kuat bukanlah orang yang menang ketika bergulat, melainkan orang mampu menahan amarahnya ketika dia (memiliki alasan untuk) marah." [HR Bukhari & Muslim] ********************************** Catatan 5 Ramadhan 1433 H Marah Hadits di atas menunjukkan bahwa marah adalah bagian dari nafsu yang diciptakan Allah swt dalam diri manusia. Oleh karenanya, marah itu tidak dapat dihilangkan, namun bisa ditahan. Kita marah biasanya karena dua alasan ; 1. Harapan (ekspektasi) kita tidak terpenuhi. Cara mengatasinya yang utama adalah berdamai dengan diri sendiri. Harapan itu diri kita sendirilah yang membuat. Boleh-boleh saja kita meletakkan pengharapan itu tinggi, asalkan kita juga menyisakan ruang untuk kemungkinan apapun. Harapan dibuat oleh hati dan pikiran, oleh karenanya sangat penting untuk mempersiapkan hati dan pikiran agar selalu realistis menyadari bahwa tidak ada kesempurnaan kecuali pada sisi Allah yang Maha Sempurna. 2. Merasa bahwa ada milik dan hak kita yang diambil. Cara termudah untuk menghindari alasan kemarahan yang satu ini adalah dengan terus-menerus berlatih mengingatkan diri bahwa "innalillaah".. segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, pada diri kita, yang tampaknya melekat dan mengikuti ke mana kita pergi sekalipun, adalah bukan milik kita. Semua milik Allah. Semua adalah hak Allah. Setelah sadar akan hal itu, berlatih jugalah terus untuk meyakini bahwa Allah itu Mahabaik, Mahapemurah, Mahapengasih, Mahapenjamin. Bagaimana kita bisa marah kalau kita yakin bahwa Allah tahu dan menjamin apapun yang kita butuhkan? Allah Mahatepat dalam menakar porsi rezeki kita, baik yang berupa materi maupun non-materi. Apa yang dalam pandangan mata kita luput, lalu membuat kita marah, barangkali justru merupakan bentuk rezeki dari Allah untuk menjaga kita. Apa yang terasa sebagai hak yang terambil oleh orang lain sehingga membuat kita kesal, siapa tahu justru di penghujung Allah gantikan dengan kebaikan yang lebih besar. Ayo kita jadikan Ramadhan ini tempat berlatih. Ibarat 'fitness center' untuk hati agar menjadi lebih lentur dan siap menjalani apapun skenario Allah. Juga agar jiwa raga semakin kuat dalam keyakinan akan kesempurnaan Allah dalam pengetahuan, dalam perhitungan, dan dalam menetapkan porsi rezeki kita. Kita jadikan Ramadhan ini sebagai 'Personal Trainee' untuk berlatih intensif menguatkan iman. Berlatih menyandarkan segala harapan pada kesempurnaan Allah. Berlatih melepaskan, mengikhlaskan, memasrahkan apapun sebagai milik dan hak Allah. Selamat berlatih : )
Catatan 6 Ramadhan 1433 H : Berbakti kepada Orangtua yang sudah Meninggal dunia
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapakmu" [Qs. an-Nisaa : 36) ***************************************** Catatan 6 Ramadhan 1433 H Berbakti kepada Orangtua yang sudah Meninggal dunia Sedemikian penting dan mulianya kedua orang tua, sehingga bakti anak kepada orang kedua orang tua tidak selesai setelah kedua orang tua meninggal dunia, tapi masih berlanjut walaupun sudah meninggal. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki-laki mendatangi Rasullah saw. lalu bertanya : "Wahai Rasulullah, apakah saya masih bisa berbakti kepada kedua orang tua saya setelah kedua orang tua saya meningal dunia?" Rasulullah saw. menjawab: "Seorang anak akan selamanya bisa berbakti kepada kedua orangtuanya walaupun keduanya sudah meninggal dunia,, yaitu dengan cara 1. mensahalatkan jenazah mereka, 2. memohon ampunan untuk mereka, 3. memenuhi janji mereka setelah mereka tiada, 4. menyambung tali silaturrahmi yang tidak tersambung kecuali dengan mereka 5. memuliakan teman mereka" (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
Catatan 7 Ramadhan 1433 H : Menikmati Kesulitan
"Barangkali, pada saat sulit, engkau mendapatkan tambahan karunia yang tidak kau temukan dalam puasa dan sholatmu." *********************** Catatan 7 Ramadhan 1433 H Menikmati Kesulitan Saat keadaanmu mendesak, jangan biarkan hatimu merasa sesak. Sungguh, engkau akan temukan betapa nikmatnya saat datang kepada-Nya dengan terisak-isak. Ketika engkau makin merasa tertekan oleh kesulitan, hadirlah cahaya kesadaran akan siapa dirimu dan apa kemampuanmu. Engkau kini benar-benar memahami bagaimana artinya membutuhkan. Engkau merasakan langsung bahwa hanya kepada kekuatan dan kekuasaan-Nya-lah engkau bisa dan mesti bersandar. Engkau pun makin mengerti bahwa untuk dapat hidup dalam kemurahan-Nya dibutuhkan ketundukkan hati. Semakin banyak kesulitan yang engkau lalui, semakin bertambah pengetahuanmu tentang Penciptamu. Dan semakin bertambah pengetahuan serta pengalamanmu tentang kesulitan dan pertolongan-Nya, semakin bertambahlah kerendahan hatimu di hadapan seluruh makhluk ciptaan-Nya. --------------------------- Sumber : Al Hikam ; untaian hikmah Ibnu 'Athaillah