Kitalah Ibrahim itu.
Ibrahim punya Ismail; Ismailmu mungkin hartamu, Ismailmu mungkin jabatanmu, atau apa pun yang paling engkau cintai di dunia ini. Allah SWT sesungguhnya tidak memerintahkan untuk membunuh Ismail, melainkan memerintahkanmu untuk menyembelih rasa kepemilikan atas dunia yang sementara ini. Hakikat kurban bukanlah sekadar menumpahkan darah hewan, melainkan menyembelih rasa kepemilikan dan keterikatan hati yang berlebihan terhadap titipan-Nya.
Allah SWT berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al-Hajj: 37).
Dalam pesan cintanya Allah menegaskan bahwa nilai ibadah tidak terletak pada materialnya, tetapi pada sejauh mana hati mampu melepaskan diri dari dominasi duniawi menuju ketaatan mutlak.
Maka, mari kita sama-sama sadar, bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik, maka belenggu keserakahan dan rasa takut kehilangan akan runtuh. Inilah puncak ketakwaan: ketika dunia berada di genggaman tangan namun tidak masuk ke dalam hati, sehingga setiap tindakan kita senantiasa selaras dengan kehendak-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga, kita bisa mengambil momentum kurban sebagai pembebasan jiwa dari penjara dunia, agar kita mampu mencintai Allah melebihi segalanya, menyadari bahwa setiap amanah yang kita "lepaskan" di jalan-Nya akan diganti dengan kemuliaan yang jauh lebih abadi.
















