The Prince of Wales attends his new patronage, the College of Paramedics' first-ever Emergency and Critical Care Conference in Birmingham | 15 JANUARY 2025

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Russia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from Côte d’Ivoire
seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from Japan

seen from United Kingdom

seen from United States
The Prince of Wales attends his new patronage, the College of Paramedics' first-ever Emergency and Critical Care Conference in Birmingham | 15 JANUARY 2025
Ibu Tenang, Ibu Pembelajar
Kalimat di atas memiliki maksud yaitu ibu yang tenang adalah ia yang memiliki semangat belajar mencari ilmu sebab segalanya pasti ada ilmunya. Dari sesuatu yang dianggap sederhana sampai yang luar biasa. Kita ambil contoh dalam urusan rumah tangga. Dalam mengurus rumah tangga dibutuhkan keterampilan yang bisa didapatkan dengan memperhatikan orangtua kita, buku, kelas, ataupun yang lainnya. Misalnya, metode Konmari yang digunakan untuk melipat pakaian, mengorganisasi buku atau barang lainnya agar tertata rapi. Hal itu bisa berdampak pada gaya hidup minimalis. Terlihat sederhana, bukan? Ini hanya perkara melipat pakaian yang dampaknya bisa membuat bahagia dan tidak stres. Dan ada buku yang menjelaskan metode tersebut.
Tantangannya sekarang adalah anak itu sendiri. Allah karuniakan buah hati yang membuat saya harus terus menerus belajar karena bayi berkembang maka kita sebagai orangtua juga harus berkembang. Bukan berarti kita sudah dewasa lalu merasa cukup. Seperti yang Ali bin Abi Thalib katakan,
“Didiklah anakmu sesuai jamannya karena mereka hidup bukan di jamanmu.”
Dan ilmu pengetahuan juga berkembang. Jika kita mendidik anak dengan ilmu maka akan muncul ketenangan karena berpegang pada ilmu yang kita yakini. Akan berbeda jika kita hanya mengikuti orang di sekitar kita, akan terbentuk seperti apa anak kita nantinya.
Ada sedikit cerita. Qadarullah, setelah persalinan ASIku tidak kunjung keluar hingga hari ketiga. Otakku merekam pengetahuan bahwa bayi memiliki cadangan makanan yang ia dapatkan sewaktu masih di kandungan yang kurang lebih mampu memenuhinya selama 3 hari bahkan aku mendengar versi yang lebih dari 3 hari. Aku juga meyakini bahwa ASI itu jauh lebih baik dan tidak ingin dengan mudahnya memberi susu formula pada bayiku. Alhamdulillah, keyakinanku didukung oleh suamiku tentunya bahkan menjadi obrolan ketika masih hamil dan tenaga kesehatan di puskesmas yang selalu menenangkanku. Aku tidak tinggal diam, aku mengusahakan makan makanan yang bersifat booster, berusaha mencari pompa karena belum siap, berusaha menyusui meski ASI belum keluar dan tentunya tidak boleh stress yang akan berdampak pada produksi ASI. Bahkan ketika itu aku berpikiran juga untuk mencari donor ASI. Jika aku tidak belajar tentang ASI mungkin akan dengan mudahnya memilih opsi yang mudah namun meski begitu aku juga mempersiapkan diri jika memang harus memberikan susu formula.
Siapa yang tidak sedih melihat bayi baru lahir menangis namun ibunya tidak bisa melakukan apa-apa?
Aku cukup tenang dan senang dengan keputusan yang kubuat dengan harapan aku ingin memberikan yang terbaik untuk bayiku. Alhamdulillah, hari ketiga ASIku pun keluar meski masih sangat sedikit.
[Desclaimer] Kejadian ini tidak bisa disamakan dengan ibu lain. Setiap ibu pasti memiliki keyakinan masing-masing yang berdampak pada bagaimana mempertimbangkan lalu memutuskan sesuatu dan tentunya keadaan setiap orang pasti berbeda.
Maka dari itu, teruslah belajar ya, bu!