Pernah nggak ngerasa kualitas ruhiyah semakin menurun tapi nggak kerasa menurun, cenderung biasa aja dan nggak kerasa apa-apa?
Sesederhana waktu yang semakin sedikit, dan dari yang sedikit itu, malangnya, tetap nggak ada waktu untuk sekadar membaca satu ayatNya?
Sibuk, katanya. "Ah, bukannya kerja juga ibadah? Apalagi kerjanya bantu orang." Samar-samar suara akal membela.
Tapi suara hati terus-menerus bergema.
"Kenapa ya, dulu kayaknya mudah ikut kajian, mudah diluangkan. Sekarang, kenapa sibuk terus ya?"
"Dulu dunia dan seisinya (2 rakaat sebelum subuh) begitu mudah dirasa, tapi kok, belakangan ini, mata ini begitu lemah untuk sekadar hitungan menit terbuka?"
"Dulu juga mudah untuk dhuha, sekarang kok nggak sempat ya?"
Kebaikan-kebaikan yg mudah itu, kini sulit digapai. Tapi malangnya, hal ini nggak berdampak apa-apa. Sederhana, "Kamu sibuk. Nggak apa-apa.." suara akal menyela. Lalu diri larut dan terlena. Hingga kebiasaan-kebiasaan baik itu perlahan sirna. Lupa, bagaimana indahnya. Malang ini terasa biasa saja. Dimaklumi sempurna.
(masih) Malangnya, bangunan hidayah yg selama ini disusun satu per satu batu-batanya, runtuh begitu saja. Perlahan, tapi berangsur-angsur rata tak bersisa. Juga, istana pinggir sungai 'Adn yang kau idam-idamkan itu, yang kau susah payah tebus dengan cicilan amal puluhan tahun, sedikit demi sedikit sedang kau hancurkan dengan tanganmu sendiri.
Semua yang kamu buat sendiri itu, nyata tapi tak terasa. Bahkan neurotransmitter di kepalamu tetap mengirim sinyal untuk bibir agar tetap tersenyum seakan tak ada apa-apa. Lambat laun, inderamu sampai terbiasa manipulatif. Ironis..
Tapi ada yang berkeras menolak. Ada yang kehilangan ketenangannya. Hatimu protes besar-besaran. Kamu mendengarnya.
Ya,kamu mendengar suara yang semakin lama semakin samar itu. Suara itu semakin lemah tak ada daya, seiring dengan noktahnya yang semakin tebal dan menggumpal. Kamu tetap mengabaikannya. "Ah, hanya ketakutanku saja.."
Iya, ketakutan yang nyata. Ketika hati terkunci dan jiwa dikuasai dunia.