Pelajaran 22 tahun #1: Membedakan porsi kita dan porsi Allah.
porsi /por•si/ n bagian (yang menjadi tanggung jawab atau yang harus dikerjakan dan sebagainya)
Salah satu pelajaran paling berharga yang aku dapat selama 22 tahun hidup di bumi ini adalah memahami porsinya Allah dan porsinya kita (sebagai manusia) dalam segala sesuatu.
Porsi kita adalah berusaha. Sedang bagaimana hasilnya adalah porsinya Allah.
Kalau dalam dakwah, mengajak adalah porsinya kita, sedangkan hidayah itu porsinya Allah.
Hal ini paling kerasa pemebelajarannya saat aku diamanahi menjadi Kadep Keputrian DKM FISIP Unpad 2017.
Ternyata, jadi Kadep tidak semudah yg aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak hanya harus menyusun program kerja, membuat anak2 nyaman, menjaga etos kerja mereka, tetapi yang paling penting adalah mengendalikan hati saat hasil dari program kerja tidak sesuai dengan harapan.
Berbeda dengan program kerja di organisasi lain, proker2 DKM bertujuan untuk mengajak orang2 lebih mengenal Islam, bertujuan untuk mengajak orang-orang lebih dekat dengan Allah. Dan itu ternyata tidak mudah dilakukan di fakultas yang dapat julukan "rimbanya Unpad."
Salah satu proker Keputrian adalah KISMIS (Kajian Islam Manis Selasar), kajian kemuslimahan yang diadakan setiap 2 minggu sekali (11 kali selama kepengurusan) waktu Jumatan di Selasar Mushola.
Hal yang paling sulit dari menjalankan proker itu bukan persiapannya, bukan hanya mencari tema atau pembicaranya, tapi mengendalikan HATI saat jarum jam sudah menunjuk angka 11 lewat tapi tidak ada satu pun peserta yang datang.
Saat pembicara sudah datang tapi peserta yang hadir masih kurang dari 10 orang. wkwk padahal pas jadi staf mah biasa aja, pas jadi kadep ternyata deg2 an banget cuy wkwkwk
Padahal kita sudah berusaha untuk mencari tema yang relevan dengan muslimah2 FISIP, pembicara yang relevan dengan tema, publikasi dari satu minggu sebelumnya. Sekalipun yang hadir ada 40 orang (sesuai target kita), hampir setengahnya pasti anak-anak DKM juga haha
Sampai suatu hari aku sadar (dan disadarkan juga oleh Teh Pepew), kalau porsi kita cuma berusaha. Sedangkan hati orang2 hanya Allah yang bisa kendalikan. Lagipula, Allah hanya melihat usaha, bukan hasil kita (toh hasil itu kan Allah yg punya kuasa).
Kalau Allah hanya melihat hasil, mungkin Nabi Nuh gaakan Allah kasih surga, setelah ratusan tahun berdakwah, tidak lebih dari 13 orang yang akhirnya masuk ke kapal Nabi Nuh as. Tapi nyatanya, Nabi Nuh adalah salah satu manusia yang Allah beri kemuliaan.
Karena Allah hanya melihat usaha. Apa-apa saja yang sudah dilakukan. Sedang hasilnya, Allah yang paling tau yang terbaik buat kita.
Usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Allah tidak akan mengkhianati usaha kita. Jikapun hasilnya nanti tidak sesuai dengan harapan kita, pastilah itu yang terbaik menurut ketetapan-Nya.
Dan lagi, Allah Maha Teliti dan Maha Bijaksana. Allah tidak akan lupa atas usaha2 yang sudah kita lakukan.
Maka usaha adalah sebuah kewajiban. Bukan hanya usaha biasa, tapi usaha yang maksimal. (untuk poin maksimal ini liana memang masih berperang dengan si waktu luang. Masih mencari cara agar setiap detik waktu luangnya termanfaatkan🙃).
Yang pasti, mindset di atas membuatku lebih tenang dalam menghadapi berbagai hal. Membuatku lebih bahagia menjalani hidup hehe.
Mengetahui mana porsi kita dan mana yg bukan juga membuatku lebih santai menghadapi orang-orang.
Jikalau ada yg benci liana, misalnya. Yasudah. Rasa benci yang orang itu punya padaku sungguh berada diluar jangkauanku. Bukan termasuk dalam porsiku.
Porsiku hanya bagaimana aku bersikap padanya. Maka aku cukup fokus pada sikapku. Jika setelah aku bersikap baik dia tetap membenciku, maka itu bukan lagi urusanku.
Begitu juga dengan banyak hal lainnya.
Kita kadang disibukkan dengan banyak hal yang yg sebenarnya diluar jangkauan kita. Sesuatu yang sebernarnya bukan prosinya kita.
Padahal, Allah hanya akan meminta pertanggungjawaban atas apa2 yg menjadi tanggung jawab kita, bukan yg menjadi tanggung jawab orang lain, apalagi yang menjadi kuasanya Allah.
Kalau kata ustaz Hanan, cukuplah diri yang berusaha. Hati jangan. Nanti capek. Biarkan hati bertawakal. Maka hidup kita akan menjadi lebih tenang.
Semoga kamu senantiasa percaya. Bahwa Allah, Tuhan kita, adalah Zat Yang Maha Segalanya. Bahwa Allah yang memegang kendali atas hidup kita. Bahwa tugas kita hanya berusaha. Sedang Allah Yang Maha Tahu, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana, yang paling tau mana yang terbaik untuk kita.
Maka, jangan takut kalau hasilnya tidak sesuai harapan kita.
Takutlah jika kita menyerah dan berhenti percaya pada Allah dan segala sifat yang melekat pada-Nya.
Semoga kita tidak termasuk dalam orang2 itu ya❤