It’s Saturday night. I just spent two nights at Marcie’s house. It was really fun. Sucks I had to come home. As if being stuck here isn’t bad enough, now mum isn’t letting me use the internment for an ENTIRE MONTH!! Because the cost was too high. Now what the hell am I supposed to do??? I guess I could take up my old hobbies again - reading, writing, drawing. I used to love doing these so much. Back when I thought I was good. But I’m not good at anything. I really am worthless.
Fuck, I gotta stop thinking so negatively. Or else Marcie will begin to hate me again I wonder sometimes whether she even loves me. I just can’t understand her. There are times when she is completely cold towards me, completely ignoring me, and other times she can make me feel so special. ARGH there I go again.
Things that make me happy:
• watching Pretty Little Liars, Princess Tutu, Pewdipie & Shane Dawson & scary movies
• Mel & Kat
• brownies & pasta & grape soda
• ballet
• browsing tumblr
• jacking off
Song in my head:
Zetsubou Billy - Maximum The Hormone!!!
11:03pm
A couple days ago, I relapsed. Just two small cuts across my stomach. I did where I knew Marcie wouldn’t see them. If she found out...I knew it would hurt her and I did it anyway. I’m pathetic. I’m a LIAR.
Belakangan ini banyak banget orang-orang yang kena mental disorder ini itu dan jujur, gue sedih banget.
Beberapa saat yang lalu, gue pernah melalui salah satu fase gelap dan menyedihkan itu. Pertama depresi, lalu selang beberapa tahun kemudian anexiety disorder. Rasanya? Enggak enak. It was draining both my body and soul.
Waktu pertama kali ngalamin yang namanya depresi, gue masih belum paham dan orang-orang di sekitar gue pun tidak aware (baik akan keadaan gue yang ternyata sedang depresi dan betapa berbahayanya jika tidak ditangani dengan serius). Pada saat itu (gue masih SMA), gue pikir gue hanya stress-stress biasa aja, kalau dibiarin juga nanti berlalu dengan sendirinya, sembuh dengan sendirinya. Tapi, semakin berlarut-larut dibiarin, ternyata semakin menjadi-jadi.
Emosi enggak stabil, sakit kepala terus-terusan, sedih berkepanjangan, ngapa-ngapain enggan, mau ujian nasional, bingung perguruan tinggi, dan yang paling bikin semakin menjadi itu tuntutan untuk tetap (terlihat) kuat untuk keluarga. I was only a 17 going 18 teenager at that time and I had to deal with depressed mom and two baby sisters. Mau muntah darah, mau nangis kejer rasanya tiap kali gue denger orang-orang tua di sekitar gue bilang "kamu pasti kuat, kamu pasti bisa," dengan nada menuntut, dengan nada 'kamu anak paling besar jadi nggak boleh cengeng!' ke gue.
Once again, I was only 17 going 18 at that time.
Kekuatan macam apa sih yang lo harepin dari anak ingusan yang seumur hidupnya enggak pernah susah?
Omongan-omongan itu akhirnya terserap juga ke dalam diri gue. Gue merasa 'oh, gue memang harus jadi orang yang kuat dan juga nggak cengeng, demi mama dan demi adik-adik gue' dengan sendirinya. Belum lagi orang-orang juga pada bilang, “kamu kuat kok chik!” atau “elo tuh kuat banget, chik!”. Tapi, setelah beberapa saat berlalu, gue tersadar kalau itu semua semu. Sepertinya tampak luar gue terlihat biasa saja: gue masih tetep ketawa-ketawa kalau sama temen-temen gue, gue enggak cengeng di depan mama dan adik-adik gue, tapi ternyata kalau gue lagi sendiri, banyak pikiran-pikiran aneh yang datang.
Ini, itu, segala macam dan salah satunya, yang paling menyedihkan: apa gue mati aja, ya?
Beneran, waktu itu gue pingin mati, tapi di saat yang bersamaan gue juga takut mati. Takut ngerasa sakit fisiknya sih sebenernya, karena gue masih sehat. Kalau gue mau mati, artinya gue harus menyakiti diri gue sendiri, dong? Entah gantung diri, potong leher, terjun dari atas gedung, dll dll dll. Gue sempet nyari-nyari gimana cara mati yang enggak menyakitkan dan taunya enggak ada. Akhirnya, gue urung mau mati
Terus gue pernah nulis di twitter gue mau mati apalah sejenis itu. Lalu gue sempet dijudge. Halah. Fase menyedihkan.
Selang beberapa tahun kemudian, gue udah lulus kuliah, gue merasa ada yang aneh lagi dengan diri gue sendiri. Ternyata, gue mengalami depresi lagi dan akhirnya itu berlanjut ke anxiety disorder. Waktu itu, gue sedang berada di umur-umur ampas, yaitu umur 23-24 tahun dan gue sedang clueless dengan hidup gue sendiri.
Beneran, gue bingung dengan hidup gue sendiri. Gue mau apa, apa yang akan gue lakukan, gue mau jadi apa, dll dll dll pokoknya enggak habis-habis. Tiap gue mau melakukan ini itu, rasanya tuh adaaaaa aja hambatannya.
Awalnya ya gue pikir kayaknya gue depresi lagi tapi akhirnya gue mulai enggak beres banget karena gue ngerasa enggak karuan pas ketemu temen-temen gue. Gue deg-degan luar biasa (tapi enggak enak), keringet dingin, dan bahkan pas sampai rumah gue nangis dan histeris sendiri. Terus gue merasa teman-teman gue tidak menghargai gue, menjadikan gue sebagai pilihan ke-XXXX sedangkan gue seberusaha mungkin selalu ada untuk mereka, ini itu segala macem, dan akhirnya gue meminta bala bantuan sama yang ngerti, sama yang kompeten.
Anxiety disorder.
Habis itu gue enggak pernah main sama temen-temen gue lagi. Interaksi sosial primer gue hanya dengan orang-orang di rumah dan orang-orang di kantor. Selebihnya gue diem di kamar, entah baca buku, dengerin lagu, tiduran, atau enggak nonton korea. Sebisa mungkin gue meminimalisir interaksi langsung dengan orang-orang karena interaksi-interaksi yang 'kelewat batas' gampang bikin gue ketriggered.
Temen-temen gue pada nanyain kenapa gue jarang main, kenapa gue enggak mau main, dll dll dll, terus ya paling gue bilang males, enggak punya duit, dan sebagainya. Gue enggak bisa ngomong ke mereka kalau gue lagi sakit. Nangis ngejer gue tiap gue dikatain sombong dan sebagainya tiap kali nolak ajakan main (padahal sebelum-sebelumnya kapan sih gue nolak?), tanpa mereka mau tau sebenernya gue lagi kenapa sampai gue enggak main lagi sama mereka. Atau di saat gue lagi ada secercah kesenengan dan mau berbagi cerita ke mereka tapi mereka enggak nanggepin, atau nanggepin tapi cuma alakadarnya terus ujung-ujungnya gue lagi yang jadi tong sampah..............
Ya sudahlah.
Itu rasanya enggak enak. Banget.
Beberapa bulan gue mengisolasi diri dari temen-temen gue dan akhirnya tibalah saat di mana gue dapet lampu hijau untuk trial pertama, apakah gue udah bisa ketemu dengan teman-teman gue. Trial pertama gue adalah dua temen terdeket gue. Mereka waktu itu belum tau soal ini, dan trial pertama lumayan sukses meskipun pas udahannya gue mulai ketriggered: keringet dingin, panik, mau nangis, dan pingin cepet-cepet pulang, sembunyi di rumah.
Trial kedua, gue ketemu temen-temen kuliah gue dan mereka nggak tau juga soal ini. Di sini kurang berhasil trialnya. Baru satu apa dua jam ngobrol, gue udah pamit ke toilet dan gue udah hampir nangis saking gue ngerasa paniknya. Pada nanyain gue kenapa, dan lagi-lagi, gue enggak bisa jawab segamblang itu.
Jujur, sebenernya gue pingin menjelaskan ke orang-orang bahwa ada yang enggak beres sama diri gue, tapi gue takut. Iya, gue takut dijudge ini itu segala macam. Dan bener aja, pas gue bilang (kelepasan, lebih tepatnya) ke salah satu teman gue, bahwa gue mengalami anxiety diorder, dia malah bilang:
"Hahahahaha lebay lo. Paling juga itu cuma stress biasa."
“Orang lo masih ketawa-ketawa juga sama yang lain, enggak usah sok-sokan stress sakit enggak jelas, deh.”
Itu obrolan di chat Whatsapp dan gue ketriggered luar biasa. Gue marah, gue nangis, dan gue menyesal luar biasa karena udah mencoba untuk terbuka. Dan di saat gue udah marah-marah, yang bersangkutan masih aja ketawa dan ngegampangin sakit gue. Yasudahlah. Habis itu gue enggak lagi-lagi ngobrol serius sama dia. Dan butuh waktu lama buat gue bisa main lagi sama orang itu. Kalau pun main ya enggak pernah ngebahas masalah yang serius.
Orang itu beneran udah jadi penanda buat gue pribadi bahwa emang orang-orang sini belom bisa aware sama kesehatan mental. Ngegampangin banget, bahkan di saat itu tuh orang terdekat lo yang mengalami. Gimana coba kalau orang lain yang enggak dia kenal? Wah, kebayang banget lah dibilang enggak bersyukur, enggak solat, enggak sedekah, apalah ini itu segala macam.
Dengan orang-orang di sekitar yang enggak aware dan enggak welcome dengan kondisi mental yang enggak sehat ini, gue enggak heran makin ke sini makin banyak orang yang milih buat berhenti berjuang dan mengakhiri segala-galanya.
Today was another drive day, probably one of the best ones. We were leaving Italy and heading into Austria on the Brenner pass. Seeing as it was such a beautiful drive through the alps I sat in the middle of the aisle up the front of the bus. I didn't want to sleep, even though I felt terrible.
We left Venice super early because we were only spending one night in Kirchdorf and had to make the most of our time. Skydiving had been cancelled again because there was a storm rolling in. The people going canyoning had to stick it out though, poor people.
After a really great drive - I got some videos - we rolled into Kirchdorf around 2, the people going canyoning literally put their bags in the room, quickly changed and left again. The place we were staying in was amazing, exactly the type of house I want to live in in a year or two. Its one of those big Bavarian style places, with about 5 levels and rooms all over the place, like a rabbit warren. It was stunning. I very easily could have missed the bus and stayed there the rest of my life.
The rest of us, that were not insane like the people standing out in a storm jumping down waterfalls, went into town. Its not a very big town by all means, kind of spread out. Sarah, Sam, Beck, Ashleigh and I all found a cute little bakery and had a coffee/cake/girly session which was actually really nice. They all got to gossip, while I listened. Apparently not many people were getting along on with the tour leader anymore. I was completely oblivious to be completely honest, I had no problem with a single person on the bus. I'm sure other people were annoyed by me, but I wasn't going to let that ruin my holiday.
Once we'd outstayed our welcome in this bakery, they called us a taxi and we went back to the house. They had cooked us a really nice BBQ dinner, not an Australian BBQ like I was familiar with but an Austrian one. Still amazing though. Almost better because the storm that had come over was bringing snow with it apparently! Even if it didn't snow, Austria was already one of my favourite places. South Germany, Switzerland and Austria, I could live in any one these places and be super happy.
After dinner we had our scribble party, basically us just writing on each others t-shirts. Which sounds a lot less fun than it was. Everyone had really nice things to say about everyone, or just quoting things from the trip.
A few of my favourites 'To red wine sarah, you have scarily amazing eyes, love (boy) Ashley x' 'You're my favourite drunk person to pick up off the floor - Josh' 'Queen of the quiet ones, work it like Topdeck ALWAYS - Dee' 'How'd you get to be so good at things ;) - Scotty' 'Can you stand mousette its only 7pm' 'Muse under the swiss stars love Chris'
Trying to read my shirt just then was a complete mission And I hope someone reads this and appreciates how much that hurt my eyes. It also made me really miss my Topdeck buddies. Aw.
So after more alcohol and laughs, I secretly made my way to bed. I was so tired. One final mission before bed was getting into the top bunk with no ladder and a body full of alcohol.
Let me just say that it probably should have been a lot easier than it was.