#Day-2 Pukul Tiga Pagi
Pukul tiga pagi.
Aku terbangun di jam yang sama dan dengan mimpi yang sama. Mataku menatap kosong langit-langit kamar. Berusaha mengatur nafasku yang terengah. Ini mimpi yang sama dalam satu minggu. Seminggu dengan mimpi yang sama benar-benar mengherankan memang. Pada hari pertama aku mendapat mimpi itu, aku hanya menatap kosong langit-langit kamarku. Kamarku gelap karena aku terbiasa tidur dengan menatikan lampu. Tapi dalam kegelapan itu, aku mengingat dengan jelas mimpiku.
"Ini aneh"
Bayangan mimpi itu jelas. Aku berusaha tidak memikirkannya dan menjalani kehidupan siangku dengan biasa. Di hari kedua dengan mimpi yang sama, kepalaku mulai sibuk dengan berbagai macam pertanyaan. Rasanya aku ingin menangis saja karena tidak menemukan jawaban. Di hari ketiga, aku berusaha mencari tahu artinya dengan bertanya kesana-kemari. Membuka ramalan pun mencari jurnal ilmiah. Tapi aku tidak menemukan jawaban.
"Semakin dipikirkan, semakin absurd"
Aku berpikir bahwa mimpi tersebut akan berlalu. Namun, di hari keempat mimpi itu datang lagi. Kini hatiku makin tidak damai. Rasanya terlalu aneh untuk diabaikan. Setelah seminggu berlalu rasanya hampa kalau kemarin-kemarin aku akan terbengong-bengong memikirkan mimpiku, sekarang aku hanya berpikir bahwa itu adalah kehidupan malamku yang "biasa" seperti siangku yang "biasa".
Pukul tiga pagi
Aku terbangun dengan mimpi yang masih sama. Dalam mimpi itu segalanya berwarna hitam kecuali seberkas bentuk abstrak berwarna emas. Dalam ruang itu hanya ada aku sendiri. Aku berusaha pergi menuju berkas emas itu. Rasanya, ia terlalu muram dan suram. Ia hanya sendiri kesepian. Aku menujunya, dan sebelum aku sampai, aku terbangun lalu menatap langit kamarku.
"Mimpi yang tidak pernah selesai. Bahkan dari hari pertama"
Udara dingin menyapa kulitku. Aku melihat tirai jendela berkibar tertiup angin. Merutuki diriku yang lupa menutup jendela lalu bergegas menghampiri jendela.
Di langit hanya ada bulan. Aku bukan seorang melankoli yang senang memandang langit malam. Tetapi kali itu, aku mencari bintang karena bulan tampak muram dan kesepian. Perasaanku aneh seolah sesuatu menjadi lebih hampa di dalam dadaku.
Aku melewati hariku dengan biasa. Terlalu biasa saja sampai kupikir aku tahu apa yang akan terjadi besok, walaupun konsepnya besok adalah ketidakpastian. Ini seperti membaca novel yang sama berulang kali sampai rasanya kau sendiripun akan merasa bosan. Padahal itu adalah novel favoritmu; padahal itu adalah hidup yang kau pilih dengan alasan kau bisa melakukannya terus-menerus sampai kau mati.
Dalam perjalanan pulang di hari biasaku, aku bertemu seseorang. Kami pernah sangat dekat. Ia menatapku lamat. Kami saling bertatap dalam waktu yang lama dengan udara canggung. Lelaki jangkung dengan gingsul dan senyum yang manis.
Dalam kepalaku, seperti memutar film lama, terputar kenangan saat senyumnya yang menular berubah kaku. Aku masih merutuki hari itu. Tapi itu sudah lama. Ia sekarang didepanku. Berpapasan di jalan berlawanan. Kami hanya saling bertatapan. Dalam matanya, ia kembali tersenyum.
Pukul tiga pagi.
Tentunya aku terbangun dengan mimpi yang sama. Mimpi itu masih belum selesai. Tapi cahaya berwarna emas terlihat lebih besar dan jelas dari kemarin. Alih-alih memikirkan mimpi, aku menghampiri jendela dan melihat langit. Aku berdoa semoga kali ini ada bintang paling tidak hanya satu saja untuk menemani bulan. Seperti dalam mimpi, ia masih muram dan sepi.
Aku mencari-cari bintang. Sejauh mataku bisa mencari diluasnya langit tapi tak kutemukan satupun bintang. Bulan masih sendirian. Lama aku menatap bulan. Ia masih muram dan sepi. Hatiku masih hampa.
"Paling tidak, satu bintang saja. Kumohon."
Ini pertama kali aku berharap dan memohon kembali dalam waktu yang lama. Bukan karena aku tak pernah berharap. Tapi karena mudah menyerah. Lantas sia-sia. Aku tidak perlu berharap. Hanya perlu melakukan kehidupan biasaku.
Udara yang menerpa kulitku dingin. Terlalu dingin rasanya sampai-sampai kehampaan dalam hatiku terasa lebih dingin. Setidaknya bulan tidak tertutup awan. Ia lebih jelas.
"Besok!" kataku. "Semoga besok ada bintang." Aku berharap dan tidak menyerah.
Hariku masih biasa. Dalam perjalanan pulang, aku melewati jalan yang biasa kulalui. Aku melihat tiga anak perempuan. Mereka bersenda-gurau satu sama lain. Aku menatap mereka. Lambat dan lamat. Lagi-lagi, dalam kepalaku memutar film lama.
Aku mengambil ponselku dan mengetik sesuatu disana. Lama kutimbang mengirimkannya atau tidak. Saat tiga gadis itu tertawa lebih kencang, aku memutuskan mengirimkannya.
"Ya, tidak apa-apa. Kamu melakukan hal yang benar."
Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku melihat mereka kembali sebelum melanjutkan perjalanan kekehidupan biasaku. Sebelum membuka pintu rumah, ponselku berbunyi. Aku menatapnya dan tersenyum dengan benar.
Pukul tiga pagi.
Aku jadi terbiasa bangun pukul 3 pagi. Mataku nyalang mencari sandal rumah lalu bergegas menuju jendela. Ingatan tentang mimpi tergambar jelas dalam pikiranku. Bentuk abstrak berwarna emas tadi tampak lebih bercahaya. Ukurannya bahkan lebih besar. Dan bahagianya, tidak hanya ada satu. Walaupun lebih kecil, ada titik berwarna emas lain. Ia tidak terlalu nampak muram.
Aku menghampiri jendela. Di langit, bulan menatapku. Kupikir ia masih bersedih. Kerlip lain tertangkap mataku.
"Itu bintang!" hatiku melonjak senang.
Perasaanku tak sehampa kemarin. Aku senang. Hariku masih biasa. Ini seperti hari biasa lain. Karena senang, aku mendengarkan lagu di ponselku. Lagu lama, yang membuat damai.
Sebuah tangan menepuk bahuku. Aku terkaget.
"Dipanggilin dari tadi!"
Aku melihat seorang perempuan berambut sebahu dengan mata bulat yang besar. Ia terengah seperti habis berlari tapi raut wajahnya tersenyum lega. Aku mengenalnya sebagai seorang rekan kerja di pekerjaan yang kupilih untuk kehidupan biasaku. Namanya Erma. Ia berjalan mendahuluiku, lalu berkata "Sedang apa? Ayok pulang!"
Belakangan, aku baru tahu ia tinggal di daerah yang sama denganku. Hari-hariku selanjutnya pulang bersama. Kadang aku harus menunggunya menyelesaikan pekerjaannya. Aku tak pernah suka menunggu. Pula, aku bisa langsung pulang sendiri. Tapi tidak buruk juga pulang bersama, bukan?
Pukul tiga pagi.
Dalam mimpiku, ruangan gelap itu semakin bercahaya. Mulanya hanya satu titik emas kecil. Lalu mulai bermunculan titik-titik emas lain. Mereka semakin meramaikan bentuk abstrak yang pertama. Sehingga aku tak lagi merasa ia muram dan sepi. Bulan juga begitu. Entah karena ini sudah musim panas, langit tak lagi mendung. Bulan semakin bercahaya tidak tertutup awan. Bintang tentu saja semakin banyak. Aku bahkan menemukan venus.
Aku tahu formulanya. Jika ingin menambah titik emas, aku harus bertemu seseorang dan membangun sebuah hubungan. Hari itu di kehidupan biasaku, aku mengambil inisiatif bertemu orang lain. Tentu saja dengan bantuan Erma. Ini melelahkan. Dan titik-titik emas tidak bertambah.
"Apa yang salah?"
"Kamu harus membiarkan mereka mendekati hatimu."
Aku tidak begitu. Itu mengerikan. Membiarkan orang lain mendekati hatimu. Membuka hatimu dan mempersilakan orang lain masuk. Itu melelahkan.
"Lelaki dengan gingsul, kalian sudah saling memaafkan."
Benar juga. Aku selalu suka melihatnya tersenyum. Itu pernah menjadi favoritku. Sebelum bibir yang sama itu memaki dengan dingin. Tapi tak lagi. Matanya sudah tersenyum. Dan masih menjadi favoritku walaupun bukan milikku.
"Dengan dua perempuan ini, walaupun canggung, kalian berusaha melipat jarak, bukan?"
Erma menunjuk sebingkai foto berisi tiga orang perempuan dengan senyum yang lebar. Aku menatap foto tersebut lalu seperti tertular, aku pun tersenyum. Ia benar.
"Lalu apa?"
"Denganku, kamu membiarkan aku mendekat. Ah, ini mungkin karena aku tidak tahu malu."
Ia tertawa.
"Lantas?"
"Formulanya dengan hati. Kamu perlu membangun hubungan yang melibatkan perasaan. Bukan sekadar berpapasan."
Ah, itu melelahkan.
Pukul tiga pagi.
Aku di mimpi yang sama. Namun, kali itu dalam mimpiku ada orang lain. Ia terlihat muram dan sepi. Seorang laki-laki yang tampak ganjil menatap bentuk abstrak milikku. Untuk kali pertama, aku menyentuh bentuk itu dengan memotongnya. Aku memberikan potongan itu padanya. Ia menatapku lama. Lalu berlari ke sisi gelap milikknya dan menaruh potongan itu sehingga sisi itu sedikit bercahaya.
Aku terbangun dengan perasaan ganjil. Ini bukan perasaan hampa. Tatapan laki-laki dalam mimpiku masih tampak jelas seolah ia masih menatapku. Aku tergesa bangun lalu melihat keluar jendela. Mencari bulan dan bintang. Memastikan segalanya baik-baik saja.
"Kamu harus bertemu seseorang dan membiarkan ia masuk ke hatimu seperti kamu memberikan potongan milikmu."
Itu sedikit sulit.
Pukul tiga pagi.
Aku memimpikan mimpi yang sama. Ada anak laki-laki yang sama dalam mimpiku. Ia menatapku dan potongan yang kuberikan bergantian. Tatapannya berhenti di mataku. Lambat. Lama. Aku melihat pantulan bayanganku di matanya. Lalu ia tersenyum. Ah, senyumnya sampai ke mata.
"Ah, benar. Aku harus bertemu dengannya."
16 Mei 2020
Kata pertama yang aku baca hari ini adalah angka jam digital di ponselku. "Ah, aku terbiasa bangun pukul segini" — dan dengan kalimat itu aku menulis tentang pukul tiga pagi. Di mana venus muncul dengan cantik.











