Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi ditentukan oleh diri kita sendiri. Berbahagialah jika sedang sendiri, mungkin Tuhan sedang memberi waktu untuk mengenali diri sendiri.

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Israel
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Japan

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from Israel
seen from Russia
Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi ditentukan oleh diri kita sendiri. Berbahagialah jika sedang sendiri, mungkin Tuhan sedang memberi waktu untuk mengenali diri sendiri.
Bersyukur : Dari kesehatan
Tahukah kamu, ada 2 hal yang sering dilalaikan manusia, waktu luang dan kesehatan. bersyukur dari waktu sudah ditulis di hari kemarin. Kesehatan adalah satu hal yang sangat penting dan wajib di syukuri. pernah gak sih ngerasa ga bisa ngapa-ngapain karena nikmat sehat Allah ambil? atau rasanya kepala terlalu penuh, ricuh sehingga tidak optimal menjalani keseharian.
Alhamdulillah, pagi tadi walau tergolong telat bangun, aku masih bisa beraktivitas hingga detik ini, di jam istirahat. Kalau ngobrolin kesehatan, we must thankgod, bersyukur, atas hujan yang Allah turunkan sehingga tanaman dapat tumbuh dan kita dapat makan dr tanaman. Tanaman yang ada jadi sumber makanan hewan, dan ternak bisa kita makan, sehingga kita sehat. air minum Allah sirkulasikan melalui hujan, mengalir dipegunungan lalu kita minum, untuk mandi sehingga badan bersih dan sehat.
Banyak sekali yang Allah berikan gratis ke kita, namun terkadang banyak yang kita ingkari, dan itu membuat diri kita kurang sehat. dengan bersyukur kita sehat, kita sehat agar kita semakin bersyukur.
Hai diri, terima kasih siang ini sudah memberi asupan bergizi untuk menghidupkan sel-sel tubuh. seperti yang ditulis di tulisan sebelum ini, waktu kita tidaklah banyak dan salah satu hal yang harus kita lakukan yaitu menjaga kesehatan dan mengisi kegiatan yang bermanfaat.
kalau kamu, apa yang kamu syukuri hari ini?
Mumpung baru buka, mendahului pecinta @nyapii.kemangpratama.bekasi biar bisa pulang (gowes) dengan hepi ✅ #harikedua @jamselinasxmagelang #chapterbekasi @brompton.waskita (di Kemang Pratama Raya Bekasi) https://www.instagram.com/p/CF6DI4WBqiT/?igshid=1m1w2juxbcmyc
Kopi
Saya selalu berpendapat, kopi yang baik akan membuat semua orang tersenyum. Tanpa terkecuali. Apakah orang tersebut seorang penikmat kopi atau bukan, pernah mencicipi kopi atau belum. Bahkan orang-orang yang tak tahan dengan bau kopi, bila mereka mencicipi kopi yang baik serta merta akan tersenyum.
Kopi yang baik berawal dari sumber yang baik. Bagaimana petani memperlakukan pohon mereka akan menjadi indikasi kualitas kopi yang dihasilkan. Misal, jika petani membiarkan kopinya ranggas akibat hama, tentu bijinya akan berbeda. Bahkan kualitas biji dari kebun tersebut akan berbeda, minimal karena defect yang bersumber dari pohon itu.
Setelahnya pada proses pasca panen, proses apa yang dipilih. Seberapa sering biji dibalik selama pengeringan juga menenetukan rasa dari biji tersebut. Pemilihan proses pasca panen (full wash, semi wash, dan natural) akan menentukan rasa kopi selanjutnya. Namun yang lebih penting adalah bagaimana proses pasca panen tidak menambah defect dari kopi. Karenanya butuh kehati-hatian yang ekstra.
Bila sudah selesai proses pasca panen kopi akan dipanggang. Pemilihan profil yang tepat akan menunjukan kualitas biji. Saya termasuk golongan yang tidak suka dark roast karena profil yang terlalu gelap akan menutupi rasa kopi. Perbedaan waktu memanggang dalam detik sangat berarti dalam penentuan profil ini.
Tentu terakhir adalah penyeduhan. Ukuran gilingan, suhu air, lama penyeduhan, juga rasio kopi:air diperhitungkan untuk memberikan rasa kopi yang baik. Supaya lebih bisa menikmati, kadang saya memilih gelas (keramik karena bisa menahan panas lebih lama) dan air tertentu pada proses penyeduhan. Selain itu saya terbiasa menyaring gilingan kopi supaya gilingan yang terlalu halus tidak ikut terseduh dan menjadikan rasa kopi tidak clear.
Paragraf-paragraf di atas menjelaskan banyak hal-hal teknis, tapi inti dari proses ini adalah perhatian. Sebesar apa perhatian yang kita berikan kepada kopi, sebaik itu pula kopi yang dapat dihasilkan. Perhatian dalam menanam, mengolah, hingga menyeduh yang akan menyentuh jiwa, “memaksa” kita untuk tersenyum di tiap hirupannya.
Kapan nyusul?
Su·sul-nyu.sul-me·nyu·sul berarti mengikuti atau mengejar sesuatu yang di depan.
Sebuah tanya yang kerap kali berseliweran di room chat kita pasca teman-teman terdekat kita lebih dulu menemukan patner hidupnya, patner dalam kebaikan bertumbuh bersama. Untuk saat ini jawaban "do'ain aja yaa" sepertinya menduduki peringkat teratas yang sering dilontarkan. Bahkan jawaban seperti itu bukan hanya saat ditanyai kapan nikah? kapan nyusul? dan sejenisnya tapi juga berlaku bagi pertanyaan-pertanyaan lain yang rasa-rasanya cukup dijawab dengan "Do'ain aja yaa". Ternyata, kalimat "do'ain aja yaa" itu memang mengandung efek yang baik untuk kita karena kita sadar bahwa usaha kita terbatas, sedangkan do'a-do'a kita tak ada batasnya, kita tak pernah tau, Allah ridho pada do'a yang mana untuk kita. Bisa jadi do'a yang diam-diam orang lain langitkan untuk kita. Jadi, "do'ain aja yaa".
Dibalik itu kita gak tau juga kan sudah sejauh mana ikhtiarnya, sebab memilih dengan siapa kita menikah butuh proses selektif, karena menikah adalah ibadah seumur hidup, juga penentu terbentuknya generasi yang shalih juga muslhih, jadi untuk yang bertanya "kapan nyusul?" "tunggu apa lagi?" dan kemudian disusul dengan kalimat "jangan pilih-pilih". Lalu, sebagian memilih untuk tidak ambil pusing daripada bikin goyah kan? Hehe😂
Kadang kita lupa bahwa Allah-lah yang Maha Pengatur, Al-Mudabbir. Allah dengan qadarnya, dan kita dengan ikhtiarnya. Bahkan, teori cocokloginya manusia gak se-awesome teori cocokloginya Allah. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Itulah kenapa kadang kita terkagum-kagum dengan takdir Allah. Hal ini senada dengan FirmanNya "....boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Jadi perkara jodoh ini memang sifatnya misterius, hanya Allah yang tau, kita ndak bisa ngintip lauh manfuzhNya. Itulah kenapa sangat sulit sekali jika dijejalin pertanyaan se-spesies: kapan nikah? kapan nyusul? Sebab kita yang dimintai jawaban juga sedang menunggu jawabannya, jadi emang cukup direspon dengan "Do'ain aja yaa".
Lagi-lagi manusia cuma bisa berusaha, ber'doa, dan bertawakkal. Apapun yang sudah Dia tetapkan pasti itu yang terbaik dan akan selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Ikhtiar semampu (masthatho'tum) kita. Libatkan Allah. Pandai-pandailah merawat prasangka baik kita sama Allah; dan seluruh rasa khawatir ini akan luruh jika kita memilih untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah.
"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
#Day-2 Pukul Tiga Pagi
Pukul tiga pagi.
Aku terbangun di jam yang sama dan dengan mimpi yang sama. Mataku menatap kosong langit-langit kamar. Berusaha mengatur nafasku yang terengah. Ini mimpi yang sama dalam satu minggu. Seminggu dengan mimpi yang sama benar-benar mengherankan memang. Pada hari pertama aku mendapat mimpi itu, aku hanya menatap kosong langit-langit kamarku. Kamarku gelap karena aku terbiasa tidur dengan menatikan lampu. Tapi dalam kegelapan itu, aku mengingat dengan jelas mimpiku.
"Ini aneh"
Bayangan mimpi itu jelas. Aku berusaha tidak memikirkannya dan menjalani kehidupan siangku dengan biasa. Di hari kedua dengan mimpi yang sama, kepalaku mulai sibuk dengan berbagai macam pertanyaan. Rasanya aku ingin menangis saja karena tidak menemukan jawaban. Di hari ketiga, aku berusaha mencari tahu artinya dengan bertanya kesana-kemari. Membuka ramalan pun mencari jurnal ilmiah. Tapi aku tidak menemukan jawaban.
"Semakin dipikirkan, semakin absurd"
Aku berpikir bahwa mimpi tersebut akan berlalu. Namun, di hari keempat mimpi itu datang lagi. Kini hatiku makin tidak damai. Rasanya terlalu aneh untuk diabaikan. Setelah seminggu berlalu rasanya hampa kalau kemarin-kemarin aku akan terbengong-bengong memikirkan mimpiku, sekarang aku hanya berpikir bahwa itu adalah kehidupan malamku yang "biasa" seperti siangku yang "biasa".
Pukul tiga pagi
Aku terbangun dengan mimpi yang masih sama. Dalam mimpi itu segalanya berwarna hitam kecuali seberkas bentuk abstrak berwarna emas. Dalam ruang itu hanya ada aku sendiri. Aku berusaha pergi menuju berkas emas itu. Rasanya, ia terlalu muram dan suram. Ia hanya sendiri kesepian. Aku menujunya, dan sebelum aku sampai, aku terbangun lalu menatap langit kamarku.
"Mimpi yang tidak pernah selesai. Bahkan dari hari pertama"
Udara dingin menyapa kulitku. Aku melihat tirai jendela berkibar tertiup angin. Merutuki diriku yang lupa menutup jendela lalu bergegas menghampiri jendela.
Di langit hanya ada bulan. Aku bukan seorang melankoli yang senang memandang langit malam. Tetapi kali itu, aku mencari bintang karena bulan tampak muram dan kesepian. Perasaanku aneh seolah sesuatu menjadi lebih hampa di dalam dadaku.
Aku melewati hariku dengan biasa. Terlalu biasa saja sampai kupikir aku tahu apa yang akan terjadi besok, walaupun konsepnya besok adalah ketidakpastian. Ini seperti membaca novel yang sama berulang kali sampai rasanya kau sendiripun akan merasa bosan. Padahal itu adalah novel favoritmu; padahal itu adalah hidup yang kau pilih dengan alasan kau bisa melakukannya terus-menerus sampai kau mati.
Dalam perjalanan pulang di hari biasaku, aku bertemu seseorang. Kami pernah sangat dekat. Ia menatapku lamat. Kami saling bertatap dalam waktu yang lama dengan udara canggung. Lelaki jangkung dengan gingsul dan senyum yang manis.
Dalam kepalaku, seperti memutar film lama, terputar kenangan saat senyumnya yang menular berubah kaku. Aku masih merutuki hari itu. Tapi itu sudah lama. Ia sekarang didepanku. Berpapasan di jalan berlawanan. Kami hanya saling bertatapan. Dalam matanya, ia kembali tersenyum.
Pukul tiga pagi.
Tentunya aku terbangun dengan mimpi yang sama. Mimpi itu masih belum selesai. Tapi cahaya berwarna emas terlihat lebih besar dan jelas dari kemarin. Alih-alih memikirkan mimpi, aku menghampiri jendela dan melihat langit. Aku berdoa semoga kali ini ada bintang paling tidak hanya satu saja untuk menemani bulan. Seperti dalam mimpi, ia masih muram dan sepi.
Aku mencari-cari bintang. Sejauh mataku bisa mencari diluasnya langit tapi tak kutemukan satupun bintang. Bulan masih sendirian. Lama aku menatap bulan. Ia masih muram dan sepi. Hatiku masih hampa.
"Paling tidak, satu bintang saja. Kumohon."
Ini pertama kali aku berharap dan memohon kembali dalam waktu yang lama. Bukan karena aku tak pernah berharap. Tapi karena mudah menyerah. Lantas sia-sia. Aku tidak perlu berharap. Hanya perlu melakukan kehidupan biasaku.
Udara yang menerpa kulitku dingin. Terlalu dingin rasanya sampai-sampai kehampaan dalam hatiku terasa lebih dingin. Setidaknya bulan tidak tertutup awan. Ia lebih jelas.
"Besok!" kataku. "Semoga besok ada bintang." Aku berharap dan tidak menyerah.
Hariku masih biasa. Dalam perjalanan pulang, aku melewati jalan yang biasa kulalui. Aku melihat tiga anak perempuan. Mereka bersenda-gurau satu sama lain. Aku menatap mereka. Lambat dan lamat. Lagi-lagi, dalam kepalaku memutar film lama.
Aku mengambil ponselku dan mengetik sesuatu disana. Lama kutimbang mengirimkannya atau tidak. Saat tiga gadis itu tertawa lebih kencang, aku memutuskan mengirimkannya.
"Ya, tidak apa-apa. Kamu melakukan hal yang benar."
Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku melihat mereka kembali sebelum melanjutkan perjalanan kekehidupan biasaku. Sebelum membuka pintu rumah, ponselku berbunyi. Aku menatapnya dan tersenyum dengan benar.
Pukul tiga pagi.
Aku jadi terbiasa bangun pukul 3 pagi. Mataku nyalang mencari sandal rumah lalu bergegas menuju jendela. Ingatan tentang mimpi tergambar jelas dalam pikiranku. Bentuk abstrak berwarna emas tadi tampak lebih bercahaya. Ukurannya bahkan lebih besar. Dan bahagianya, tidak hanya ada satu. Walaupun lebih kecil, ada titik berwarna emas lain. Ia tidak terlalu nampak muram.
Aku menghampiri jendela. Di langit, bulan menatapku. Kupikir ia masih bersedih. Kerlip lain tertangkap mataku.
"Itu bintang!" hatiku melonjak senang.
Perasaanku tak sehampa kemarin. Aku senang. Hariku masih biasa. Ini seperti hari biasa lain. Karena senang, aku mendengarkan lagu di ponselku. Lagu lama, yang membuat damai.
Sebuah tangan menepuk bahuku. Aku terkaget.
"Dipanggilin dari tadi!"
Aku melihat seorang perempuan berambut sebahu dengan mata bulat yang besar. Ia terengah seperti habis berlari tapi raut wajahnya tersenyum lega. Aku mengenalnya sebagai seorang rekan kerja di pekerjaan yang kupilih untuk kehidupan biasaku. Namanya Erma. Ia berjalan mendahuluiku, lalu berkata "Sedang apa? Ayok pulang!"
Belakangan, aku baru tahu ia tinggal di daerah yang sama denganku. Hari-hariku selanjutnya pulang bersama. Kadang aku harus menunggunya menyelesaikan pekerjaannya. Aku tak pernah suka menunggu. Pula, aku bisa langsung pulang sendiri. Tapi tidak buruk juga pulang bersama, bukan?
Pukul tiga pagi.
Dalam mimpiku, ruangan gelap itu semakin bercahaya. Mulanya hanya satu titik emas kecil. Lalu mulai bermunculan titik-titik emas lain. Mereka semakin meramaikan bentuk abstrak yang pertama. Sehingga aku tak lagi merasa ia muram dan sepi. Bulan juga begitu. Entah karena ini sudah musim panas, langit tak lagi mendung. Bulan semakin bercahaya tidak tertutup awan. Bintang tentu saja semakin banyak. Aku bahkan menemukan venus.
Aku tahu formulanya. Jika ingin menambah titik emas, aku harus bertemu seseorang dan membangun sebuah hubungan. Hari itu di kehidupan biasaku, aku mengambil inisiatif bertemu orang lain. Tentu saja dengan bantuan Erma. Ini melelahkan. Dan titik-titik emas tidak bertambah.
"Apa yang salah?"
"Kamu harus membiarkan mereka mendekati hatimu."
Aku tidak begitu. Itu mengerikan. Membiarkan orang lain mendekati hatimu. Membuka hatimu dan mempersilakan orang lain masuk. Itu melelahkan.
"Lelaki dengan gingsul, kalian sudah saling memaafkan."
Benar juga. Aku selalu suka melihatnya tersenyum. Itu pernah menjadi favoritku. Sebelum bibir yang sama itu memaki dengan dingin. Tapi tak lagi. Matanya sudah tersenyum. Dan masih menjadi favoritku walaupun bukan milikku.
"Dengan dua perempuan ini, walaupun canggung, kalian berusaha melipat jarak, bukan?"
Erma menunjuk sebingkai foto berisi tiga orang perempuan dengan senyum yang lebar. Aku menatap foto tersebut lalu seperti tertular, aku pun tersenyum. Ia benar.
"Lalu apa?"
"Denganku, kamu membiarkan aku mendekat. Ah, ini mungkin karena aku tidak tahu malu."
Ia tertawa.
"Lantas?"
"Formulanya dengan hati. Kamu perlu membangun hubungan yang melibatkan perasaan. Bukan sekadar berpapasan."
Ah, itu melelahkan.
Pukul tiga pagi.
Aku di mimpi yang sama. Namun, kali itu dalam mimpiku ada orang lain. Ia terlihat muram dan sepi. Seorang laki-laki yang tampak ganjil menatap bentuk abstrak milikku. Untuk kali pertama, aku menyentuh bentuk itu dengan memotongnya. Aku memberikan potongan itu padanya. Ia menatapku lama. Lalu berlari ke sisi gelap milikknya dan menaruh potongan itu sehingga sisi itu sedikit bercahaya.
Aku terbangun dengan perasaan ganjil. Ini bukan perasaan hampa. Tatapan laki-laki dalam mimpiku masih tampak jelas seolah ia masih menatapku. Aku tergesa bangun lalu melihat keluar jendela. Mencari bulan dan bintang. Memastikan segalanya baik-baik saja.
"Kamu harus bertemu seseorang dan membiarkan ia masuk ke hatimu seperti kamu memberikan potongan milikmu."
Itu sedikit sulit.
Pukul tiga pagi.
Aku memimpikan mimpi yang sama. Ada anak laki-laki yang sama dalam mimpiku. Ia menatapku dan potongan yang kuberikan bergantian. Tatapannya berhenti di mataku. Lambat. Lama. Aku melihat pantulan bayanganku di matanya. Lalu ia tersenyum. Ah, senyumnya sampai ke mata.
"Ah, benar. Aku harus bertemu dengannya."
16 Mei 2020
Kata pertama yang aku baca hari ini adalah angka jam digital di ponselku. "Ah, aku terbiasa bangun pukul segini" — dan dengan kalimat itu aku menulis tentang pukul tiga pagi. Di mana venus muncul dengan cantik.
#2
11/5/2020
Saya tidak menyangka sebelumnya, bahwa Ramadan kali ini akan ditemani oleh pandemi yang sudah hampir genap dua bulan menyebar di negeri tercinta ini.
Rencana-rencana yang sudah disusun dengan baik jauh-jauh hari mesti ditunda, ada juga rencana yang dengan berat hati mesti digagalkan.
Ini mengingatkan saya kepada nasihat teman, “serapi-rapinya kita menyusun rencana, hanya ada satu yang mampu mengubahnya, yaitu takdir-Nya.”
Benar merasa sedih,
tentu merasa kecewa juga,
bohong kalau bilang Ramadan kali ini tidak meninggalkan ngilu dibanding Ramadan yang sudah-sudah,
masjid-masjid sepi akan saf-saf salat lima waktu atau salat tarawih, tak ada anak-anak kecil yang antre mengambil takjil sembari becanda, tradisi pulang kampung atau mudik ditiadakan, dibatasinya jarak hingga tak ada lagi jabat tangan atau pelukan hangat antar sahabat ketika bertemu,
namun dari segala kesedihan yang ada, terselip pelajaran, bahwa kita mesti lebih menghargai sebuah pertemuan, sebuah hubungan, dan sebuah jarak, segala nikmat dari-Nya sekecil apapun yang terbaca mata,
tak ada lagi kesibukan bermain gadget ketika kelak sudah diperkenankan untuk berkumpul dengan teman dan sanak keluarga, meluangkan waktu sejenak untuk saling bertukar kabar dengan keluarga jauh sesibuk apapun kita, menghidupkan masjid-masjid di sekitar rumah dengan rutin salat lima waktu berjemaah, tadarus, mengikuti kajian atau majelis ilmu di sana,
kita pun tahu bahwa seriuh apapun badai yang datang, pasti akan reda, sebagaimana sisa hujan deras tadi sore di kaca jendela, semoga wabah ini pun segera reda juga, karena ada hutang rindu yang mesti dibayar lunas.
- @namanyayani
Sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita hari ini? Baik nikmat jasmani dan rohani, materi maupun non materi? Di zaman yang serba cepat, serba terburu-buru ini, meluangkan waktu untuk sekedar bersyukur atas makanan yang terhidang seringkali terlupakan. Agama kita sudah mengajarkan untuk mengucapkan basmalah sebelum makan dan mengucapkan hamdalah sesudah makan. Bersyukurlah jika masih bisa makan tiga kali sehari, bahkan ada yang lebih dari itu. Makan pagi/sarapan, makan siang, makan sore dan makan malam/dinner , belum lagi ngemil camilan/snack/makanan ringan, serta makan makanan pembuka dan penutup atau pencuci mulut. Tidak peduli makanan yang kita makan itu mewah atau sederhana, murah atau mahal, makanan restoran, kaki lima, warteg, makanan orang tua, masakan ibu atau bukan, apapun jenis makanannya yang penting adalah bersyukurnya. Itulah yang akan menambah kenikmatan makanan yang kita santap. Mari kawan lebih banyak lagi kita bersyukur atas apa yg telah Allah berikan pada kita, agar hidup yg kita jalani lebih baik dan bahagia. #latepost #ramadhantiba #ramadhanstory #ramadan #harikedua #ramadhanpunyacerita (di Pondok Pesantren Nurul Huda) https://www.instagram.com/p/B_6q91OgNvdlFuB2HIz5c527XP6teROOfNxxLg0/?igshid=1cjqg12pbs8e2