Sering kali aku memulai pagi dengan gontai. Duduk lama dan berharap bisa berbaring lagi. Sayangnya aku harus tetap bangun dan memulai hari. Terima tidak terima, setumpuk pekerjaan sudah mengetuk pintu hari ini.
“Halo, Mike. Kamu punya sekian daftar revisi dan sekian daftar tulisan yang harus diolah menjadi poster.”
Kurang lebih begitulah suara yang aku dengar saat menatap laptop kantor yang warna hitam itu. Ia selalu menjadi pengingat bahwa aku punya pekerjaan hari ini. Oh tentu saja, tidak hanya laptop yang menyerukan namaku. Cucian piring dan tumpukan baju kotor juga memanggilku. Seisi rumah seakan-akan mengingatkanku bahwa hari sudah pagi dan sudah saatnya aku memulai hari. Aku pun bangkit dengan gontai menuju kamar mandi. Membersihkan diri lalu bersiap solat subuh sebelum matahari datang menyinari.
Waktu subuh itu ajaib. Aku merasa punya banyak waktu selepas solat. Senang rasanya bisa memulai hari dengan perlahan. Duduk tenang selepas subuh, menyiapkan minum dan cemilan, menonton tayangan agama di pagi hari, dan membereskan rumah dengan santai. Bahagia sekali saat tidak ada seorang pun yang memintamu berlari. Terasa tenang karena masih punya banyak waktu sebelum matahari terbit dan jam kerja dimulai. Aku yang awalnya kesulitan memulai hari, lama kelamaan tidak gontai lagi.
Kesulitan bangkit setelah istirahat adalah hal yang wajar. Bangkit tidak semudah perkataan. Meskipun setiap orang pernah harus bangkit, tapi perasaan dan kesulitan yang dialami tidak pernah benar-benar sama. Bahkan tidak bisa diukur siapa yang paling sakit.
Bukan hanya pagi hari yang membuatku merasa gontai. Kesulitan setelah Ayah dan Ibu meninggal membuatku bingung cara untuk bangkit. Aku pernah linglung menghadapi hari. Bertanya-tanya aku sedang di fase mana. Sering kali aku mengunjungi makam Ayah dan Ibu untuk mengingatkan diri bahwa mereka pernah hadir di hidupku. Mereka pernah berjuang hingga batas maksimal untuk anak-anaknya. Seperti tumpukan pekerjaan yang memanggil tiap pagi, datang ke makam Ayah dan Ibu menjadi pengingat terbaik untuk mau tetap menjalani hari.
Bangkit memang tidak mudah. Memulai pagi dengan gontai bukan masalah besar. Sekali kamu bangkit, perlahan “baterai” dalam dirimu akan terisi. Sedikit sedikit lama terpenuhi. Energimu mungkin belum sepenuh dulu, kekuatanmu mungkin belum pulih, tapi semua akan kembali. Kabar baiknya, semakin sering jatuh semakin sering bangkit. Semakin sering bangkit, semakin kuat saja energi yang kamu miliki.
Selamat malam, sampai bertemu esok pagi dengan pagi yang gontai.