3 Babak dalam Film
Dalam sebuah film, biasanya terdapat tiga babak. Babak pertama dimulai dengan pengenalan karakter, babak kedua menuju puncak konflik, dan babak ketiga penyelesaian masalah. Film dengan babak pertama yang terlalu lama kadang membuat penceritaannya terasa lambat. Mengurangi keseruan film karena konflik tidak juga muncul. Babak terakhir yang terlalu cepat juga bisa jadi perkara. Jika terlalu terburu-buru menyelesaikan cerita, penonton akan merasa ada yang janggal. Keseruan berkurang saat semua terasa terlalu mudah.
Bukan hanya film, tanpa sadar hidup kita dipenuhi begitu banyak babak. Diawali dengan pengenalan situasi baru, muncul masalah, dan diakhiri dengan penyelesaian. Ada saatnya sulit sekali turun dari puncak konflik. Ujung dari permasalahan seakan tidak terlihat sama sekali. Fase semacam ini sering membuat kita kesulitan untuk bertahan. Kadang ada yang mampu bertahan, kadang ada yang menyerah.
Kehidupan manusia memang seperti film. Ada babak-babak di dalamnya. Seperti halnya kisah para nabi dengan berbagai hikmah di dalamnya. Jika diperhatikan, kita akan menemukan babak demi babak pada kisah tersebut. Sebut saja salah satu kisah nabi yang terkenal dengan ketabahannya menerima cobaan penyakit. Penyakit yang belum pernah ada sebelum dan setelahnya. Penyakit yang membuatnya kehilangan harta dan keturunan, beliau adalah Nabi Ayub alaihissalam. Meski melewati masa sulit, Nabi Ayub tetap melaluinya dengan tabah. Bahkan ada satu kalimat paling mahsyur dari beliau.
"Aku malu jika aku meminta agar Allah SWT melepaskan penderitaanku ketika aku melihat masa kebahagiaanku."
Babak kedua terletak pada ujian yang diterima Nabi Ayub. Beliau memilih bertahan sekalipun tidak tahu ujung masalahnya. Hingga akhirnya Allah bantu keluar dari masalahnya pada babak terakhir. Kemudian mulailah babak baru pada hidup Nabi Ayub dengan keberkahan yang melimpah.
Ada saatnya hidup terasa begitu sulit. Satu masalah selesai, muncul masalah baru. Babak demi babak hadir dalam hidup kita. Begitu seterusnya. Hidup tanpa masalah memang bukan hidup namanya. Seperti sebuah film, hidup yang tidak masalah di dalamnya kadang membuat hidup terasa kurang menarik.













