seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
BELENGGU SI ‘KECIL’
Aku ingin berbagi sebuah kisah tentang kegilaan di abad 21
Di mana sang monster kecil itu lahir
Menebarkan teror ketakutan
Merantai tiap-tiap jiwa
Ini membuatku gila
Bagaimana mungkin dia disebut monster?
Di kecil, bahkan lirikan semut pun tak akan mampu menelisiknya
Bagaimana si makhluk mungil itu menjadi penyebab kematian banyak orang?
Bagaimana bisa dia membuat banyak jiwa melayang tanpa arti?
Bagaimana dia bisa membuat kita terjebak di dalam ruangan dalam situasi seperi ini?
Saat ini, mungkin kita masih terkung rapi di dalam ruangan sendiri
Mendekap erat nyawa sendiri
Sembari menyaksikan satu per satu nyawa lainnya pergi
Duduk manis menyaksikan huru hara akibat monster mikroskopis
Sembari berdoa memohon pengampunan
Seakan menunggu kapan giliran akan tiba
Arghhh… Ini membuatku frustasi
Sejenak aku tertawa
Meratapi kebodohan kita semua
Sedetik berikutnya
Ketakutan kembali melingkupi
Apa yang bisa aku lakukan di saat ahlinya pun tak bisa berbuat banyak
Aku ingin kembali melihat matahari yang sama
Hujan yang sama seperti tahun-tahun yang lalu
Aku ingin pergi dengan cara apapun, bisakah?
Setiap harinya, hingga setahun berlalu
Kini hanya dinding dan meja tua ini yang menjadi teman setia
Akankah dunia berhenti di ruangan ini?
Perjuangan Untuk Kembali
Berawal dari sebuah rasa ‘iba’ melihat seorang guardian mengirimkan laporan rekap tulisan squadnya hanya berisi tiga link tulisan. Kami para guardian berusaha menghibur tanpa membahas kondisi laporannya itu. Tapi, tetap saja kesedihan itu tak mampu lagi ia bendung.
“Aku sedih lihat semakin hari semakin banyak yang merah, pada sibuk squad aku,” ucap gadis bernama Ilma yang merupakan guardian squad enam.
Aku pun bisa merasakan kesedihannya, seperti merasa kegagalan karena tidak bisa menjaga mereka utuh. Walaupun General Admin, Kak Sari selalu saja menghargai kinerja kami para guardian dalam menjaga fighter-fighternya.
Membaca pesan itu di grup guardian, membuatku bingung untuk membalasnya. Seolah-olah kata penyemangat sedang tak dibutuhkannya. Yang ia butuhkan adalah solusi atas permasalahannya.
‘Apa yang bisa aku bantu?’ pikirku dalam hati.
Aku pun melihat daftar nama fighternya, ada nama tak asing yang sudah lama tak mengumpulkan tulisan. Dia bernama Laila, teman sekantorku. Walaupun beda bagian, tapi aku mengenalnya dengan baik. Bahkan aku yang mengajaknya untuk mengikuti tantangan ini.
Aku menawarkan bantuan untuk menghubungi temanku ini. Dan dibalas dengan rasa penuh terima kasih dari sang guardian. Aku langsung mencari kontak Laila, kemudian mengirimkan pesan.
“Assalamualaikum Lail, utang tulisan kamu ada berapa tah? Aku bantu yuk buat nyicil.” Sebuah pesan yang tergolong to the point, tapi mengandung penuh harap. Ia membalas pesanku dan mengatakan ada sembilan tulisan. Awalnya aku sempat pesimis, karena tahu betul temanku ini sangat sibuk antara bekerja dan menyusun thesisnya. Dia mau mengikuti tantangan menulis ini aja, suatu hal yang luar biasa bagiku. Sampai akhirnya secercah harapan itu menyala karena sebuah pesan balasan.
“Temenin aku di kostan mau nggak? Sehari aja buat nyusun bayar hutang. Kalo sendirian di kost banyak godaannya.” Pinta Laila sederhana. Aku menyanggupi dengan langsung mendatangi kostnya yang dekat dengan kantor kami. Kebetulan saat itu, di grup empire, Kak Sari membagikan foto squad masing-masing. Aku pun menunjukkan foto squad enam padanya. Karena aku tahu, dia sudah lama tidak berada dalam grup itu. Melihat fotonya, membuat ia lebih termotivasi lagi dalam menyelesaikan hutangnya. Malam pertama, dia berhasil menyelesaikan hutang tiga tulisannya. Aku sungguh menghargai usaha dia.
Pada pagi hari aku pun harus pamit untuk masuk bekerja dan memberikan dia semangat. Beharap, tanpa aku dia masih bisa fokus untuk menulis.
Siang harinya aku mendapatkan pesan dari guardian enam.
“Kak, terima kasih ya sudah membantu menghubungi Laila. Dia udah menulis sembilan tulisan, tinggal satu lagi.” Sebuah pesan yang membuatku terkejut.
Pada malam harinya, aku mengirimkan pesan lagi pada Laila.
“Mau ditemenin nulis lagi nggak?”
“Mau banget dong. Sambil nungguin aku setoran. Ya ampun sebahagia ini aku, wkwk.” Sebuah pesan yang membuatku terharu, sesederhana itu membuat bahagia seseorang.
Aku tiba di kost Laila dan menceritakan bahwa guardian dia mengucapkan terima kasih. Lalu disambut dengan jawaban.
“Aku bukan orang yang dengan mudahnya menyerah ya. Aku masih mau berjuang.”
Sebuah kalimat yang penuh makna, terkhusus untuk aku yang awalnya pesimis akan perjuangan dia. Ternyata justru hari ini dia sudah berhasil menyelesaikan sepuluh tulisannya. Terima kasih Laila udah mau berusaha menyelesaikan atas apa yang telah dimulai.
Selamat datang kembali di grup empire, mari kita berjuang sampai akhir :)
Sisi Lain Pagi
Garis jingga terlihat di ufuk timur. Malu-malu menampakkan cahayanya yang lebih mempesona, karena pasukan awan mendung berjaga diatasnya.
Seolah acuh, beberapa burung menari-nari tampak bahagia menyambut pagi, saling menyahuti kicauan satu sama lain.
Satu, dua awan tipis yang terlihat ringan, berjalan begitu cepat tertiup angin. Tapi rentetan pasukan itu tak bergeming. Tetap bertengger menguasai wilayah di bawahnya yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.
Beberapa menit berlalu, walau gumpalan hitam masih disana, tapi garis jingga itu lebih berkuasa. Alam menyajikan salah satu lukisan indah yang tak terbayangkan sebelumnya.
Langit biru, awan putih tipis dibeberapa bagian, garis kuning yang sangat terang, menjadi latar dibalik bangunan kotak beton besi itu.
Sekarang, rintik hujan terdengar ringan diatas atap seng yang mengatapi ruang binatu. Suaranya berpadu indah dengan kicau burung, membuat hati yang mendengar menjadi tenang dan lupa akan hiruk piruk ibu kota dalam sesaat.
Setelah matahari terbit sempurna menerangi segala penjuru cakrawala, baru tersingkap jelas baris pegunungan yang membentengi wilayah ini. Warna biru tua dengan sedikit aksen abu-abu membuatnya begitu gagah terlihat di pagi hari.
Namun dalam sesaat, udara dingin menjadi semakin mencekam. Rintik berganti derai hujan yang mengintimidasi siapapun yang mencoba keluar. Alam yang tak pernah bisa diprediksi. Pemandangan indah tak cukup menghalau terjadinya hujan deras pagi ini.
Undangan
Dalam usia yang telah memasuki dua puluhan, cepat akan lambat tentu akan segera akrab dengan berbagai undangan yang datang. Entah itu undangan prosesi khitbah, akad, apalagi undangan pernikahan seorang teman.
Meskipun sudah mempersiapkan hati dan diri untuk menerima, sejak jauh hari bahkan. Akan tetapi, selalu saja ada perasaan kaget selain senang dan berbahagia karenanya.
Kaget, yang tersebab tak menduga mereka, teman-teman kita, yang baru saja kemarin tengah berproses bersama pada akhirnya akan menjalani kehidupan baru. Ternyata, waktu begitu sangat singkat terasa setelah membaca isi undangan mereka. Mengingatkanku pula bahwa masa saat ini tentu berbeda dengan masa kemarin, yang tinggal mampu untuk dikenang.
Namun, di tengah antrian undangan yang begitu panjang itu tentu akan selalu menarik untuk menyimak kisah yang ada di baliknya. Bukan, kita tentu tidak akan membicarakan soal bagaimana mereka mengenal, dekat hingga akad. Yang menarik untuk dibahas adalah tentang alasan di balik pertemuan, serta kesamaan value yang diperjuangkan serta nilai-nilai yang dikompromikan. Karena tentu, setiap orang memiliki value masing-masing.
Sementara bukanlah pekerjaan mudah untuk menyatukan value satu sama lain antara dua orang yang berbeda dan punya banyak ingin. Apalagi untuk menuju ke sebuah jenjang pernkahan.
Tersebab, pernikahan sejatinya bukan hanya menyatukan dua orang insan semata, atau sekadar membuatnya satu dalam sebuah atap menara. Namun, pernikahan hakikatnya ialah sebuah ikatan, ibadah yang teramat panjang, serta pintu dari berbagai rezeki dan kebaikan.
Pernikahan bukan pula sekadar peristiwa penyatuan dua hati, peristiwa pertemuan dua pribadi. Lebih dari itu, pernikahan juga mampu menjadi sebuah pintu untuk membangun, mempertahankan, serta memperkokoh peradaban. Bahkan ikatan pernikahan menjadi satu dari tiga perjanjian agung yang mampu menggetarkan Arsy-Nya.
Oleh karenanya tentu proses pernikahan bukan suatu hal yang mampu dengan mudah dipermainkan, melainkan dipersiapkan dengan ikhtiar yang matang.
Dari sebuah kesadaran tersebut kemudian aku menjadi tersadar, bahwa barangkali mereka yang telah terlebih dahulu memberikan undangan adalah mereka yang telah banyak melalui proses, banyak berjuang, banyak melalui berbagai hambatan. Mereka juga tentu telah berkali-kali memikirkan dengan matang akan apa yang tengah mereka perjuangkan.
Dan aku atau kamu yang bahkan belum mempersiapkan, usahlah risau dengan tahapan kehidupan orang lain. Karena mempersiapkan dengan matang akan membawa kita pada kesiapan dan kewaspadaan berbagai ujian yang kelak datang menghujam.
Dan Aku atau kamu, juga tak perlu gusar tersebab rumput tetangga yang lebih hijau. Barangkali rumput tersebut adalah sebuah sintetis buatan yang tak pernah layu dan bertumbuh.
Praduga
"Jangan-jangan dia memang nggak suka denganku makanya sikapnya begitu."
"Mungkin dia menjauh karena kemaren aku salah terus dia sakit hati"
"Aduh, sepertinya aku makin melebar deh"
"Duh aku kayaknya ngga bisa deh ngerjain ini. Terlalu sulit."
Familiar dengan beberapa kalimat di atas? Tentu akan sangat familiar untuk sebagian besar dari kita, yang seringkali terjebak dalam pikiran serta perasan sendiri.
Keadaan tersebut disebabkan tak lain dan tak bukan karena asumsi dan prasangka yang diciptakan sendiri.
Dalam hidup, kita memang seringkali secara sadar atau tidak sadar membuat banyak asumsi dan praduga. Tentang masalah yang tengah dihadapi, tentang respons dan perubahan sikap orang lain, bahkan tentang diri sendiri.
Padahal, sebagian besar asumsi dan praduga tadi adalah sebuah hal yang tidak akan pernah terjadi. Semuanya hanya sebuah kerumitan yang diciptakan diri sendiri.
Padahal, sebagian dari masalah yang kita hadapi tidaklah sebesar yang kita kirai. Sebagiannya berasal dari dugaan kita yang menambah was-was diri.
Tanpa kita sadari, sebagian asumsi tadi tentu telah sedikit banyak mempengaruhi keputusan yang kita ambil, telah mengubah alur jalan yang tengah dilalui. Dan barangkali menjadi satu keniscayaan yang tak pernah kita harapkan sebelum ini.
Maka, bila segala macam praduga yang telah diperbuat terbukti menghambat. Minimalkanlah. Akan ada begitu banyak waktu yang terbuang tatkala memperkeruh masalah dengan berbagai asumsi.
Sadarilah. Pastikan kita telah memahami tentang fakta dan asumsi belaka, tentang realita dan praduga. Bila mendapati hal yang belum pasti antara keduanya, hal terbaik yang mampu diperbuat adalah identifikasi serta konfirmasi.
Identifikasi mana yang sebenar-benarnya fakta dan mana yang bukan.
Tulisan ini, tak berarti kita sama sekali tak boleh menduga, berasumsi, atau mengira-ngira. Tidak, torehan ini justru akan memperjelas bagaimana, kapan, dan di mana kita seharusnya dapat berasumsi sendiri. Sekumpulan kata ini hanya bermaksud untuk tidak berlebihan dalam berprasangka.
Tersebab, bukankah sebagian prasangka adalah dosa?
Momen
Dalam kehidupan yang sangat dinamis saat ini, setiap detik kejadian menjadi begitu berarti. Sebab satu per satu peristiwa menjadi hal yang tak dapat diulangi kembali. Seperti kedatangan sebuah pandemi setahun belakangan ini.
Dalam keseharian yang memberikan banyak fakta yang ada, perubahan merupakan hal yang biasa bahkan dan bisa jadi memberikan luka yang menganga. Hingga membuat terbelalakknya mata atau memekaknya telinga.
Dalam kenyataan yang begitu riuh, tentu ada begitu banyak peristiwa yang tengah ditempuh. Menjadikannya begitu bergemuruh sebab terbatasnya waktu yang dipenuhi dengan keluh dan peluh.
Seluruh kehidupan yang serba tak menentu tadi, sudah tentu akan dipenuhi dengan banyak momen yang saling bertukar silih berganti.
Seperti pertemuan dan perpisahan yang niscaya. Entah sebuah perpisahan atau pertemuan yang diduga atau tak diinginkan kenyataannya. Kendatipun tentu lebih banyak pertemuan-perpisahan yang tak mampu kita terka. Tetapi masing-masing akan terus mengalir untuk hadir dan menjadi takdir.
Perpisahan barangkali akan memberikan luka, kecewa bahkan air mata untuk kita. Perpisahan juga barangkali bisa membuat dunia yang telah mulai memancarkan cahaya menjadi runtuh sesaat setelahnya. Namun, percayalah bahwa di balik setiap perpisahan akan ada pertemuan-pertemuan yang menyembuhkan serta menumbuhkan.
Pertemuan mungkin adalah tanda bahwa selama ini kita ada di zona nyaman terlalu lama. Kondisi yang membuat terkurung dalam tempurung yang kita punya. Pertemuan-pertemuan itu pun mampu menjadi kesempatan untuk menemukan berbagai hal yang baru. Mulai dari sudut pandang, pengalaman hingga beragam ilmu.
Oleh tersebab itu menyimpulkan dengan begitu cepatnya. Bisa jadi perpisahan yang menurut kita menyesakkan justru yang akan memberikan banyak pelajaran. Bisa saja pertemuan yang tak ada dalam asa pada akhirnya menjadi titik balik dengan beragam hikmah.
Maka dari itu bersabarlah, nikmati segala proses yang ada. Sembari terus berjuang, tidak berputus asa dan tak bosan untuk meminta tentang yang terbaik menurut ukuran-Nya.
Menemukanmu
"Aku memang tinggal di bumi. Tapi kamu tak akan bisa menjumpai di bumi melainkan dapat menemukanku di langit," ucapmu kala kita tengah bertemu beberapa tahun lalu. Saat itu aku hanya membalas dengan anggukan, walau sama sekali tidak benar-benar paham.
Berulang kali setelah pertemuan itu, aku mencoba mencerna perkataanmu. Namun, tak pernah kumengerti maksudnya. Entah karena keterbatasan pengalaman serta cakrawala pengetahuanku saat itu.
Bertahun-tahun setelahnya, saat kehidupan telah menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya, saat aku akhirnya tengah menempuh dan meraih cita. Aku mulai mengerti maksud ucapanmu kala itu. Setidaknya dengan ikhtiar maksimal dari yang diperjuangkan.
Tentangmu yang tinggal di bumi namun tak dapat kutemukan; adalah dirimu yang entah berada di salah satu sudut pada belahan dunia. Adalah dirimu yang barangkali tertahan di antara beribu bintang, barangkali terbengkalai sebelum adanya pinta ijabah yang menggapai.
Tentang menemukanmu di langit; menemukanmu dengan meminta kepada-Nya, Yang Maha Mencipta. Meminta dengan serendah-rendah hati, setinggi-tinggi ilmu, sebesar-besar sabar. Memintamu lewat setiap dalam setiap sujud panjang, lewat tengadahan do'a di sepertiga malam.
Aku pun begitu mengerti bahwa, mustahil menemukanmu di bumi. Sebab, sebenar-benar pintu untuk menujumu ada di sana, di balik keridhaan-Nya.
Semuanya lalu menjadi begitu mampu dimengerti dan menjadi nyata kecuali satu hal, kamu yang telah ditemukan lantas menjalani takdir bersama orang lain yang telah mampu mengertikanmu lebih dulu.
Sementara aku, yang baru saja mengerti tentang ucapanmu, mendapatkan sebuah pemahaman lain. Bahwa, aku telah terlambat. Terlambat untuk menemuimu lantas menjalani takdir yang baru, terlambat untuk meminta kepada Pemilikmu lantas membersamaimu hingga akhir waktu.