Aku berjalan cepat menuju stopan bis di seberang sekolah. Harusnya sekarang aku masih di sekolah, bersiap-siap latihan bola. Tapi tiba-tiba ibu sms, minta aku segera pulang. Katanya listrik turun atau entah apalah. Karena bapak sedang tidak di rumah, aku harus pulang.
Sebenarnya paling hanya masalah sepele. Tapi karena ibu panikan, dan aku anak lelaki satu-satunya.. Ya sudahlah.
Jam tanganku baru menunjukkan pukul 13:45. Rasanya aneh juga pulang jam segini. Biasanya pulang sore, setelah latihan bola. Dan setiap pulang ibu akan tanya, ‘Kenapa pulang jam segini?’ Heran juga, sudah tahu tiap hari anak lelakinya ini pulang sore, tapi tidak pernah bosan ditanya.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Panas. Sejurus kemudian aku melihat seorang gadis. Dia berseragam OSIS SMA juga, sepertiku. Kulitnya putih dan rambutnya pendek. Badannya sedang, agak kecil malah. Menggendong tas punggung warna hijau gelap. Sepatunya hitam, dan memakai jam tangan sederhana warna hitam juga. Sekilas bisa kulihat kepalanya yang mengangguk-angguk kecil. Mungkin mengikuti irama musik dari earphone yang nangkring di telinganya. Aku menduga-duga musik apa yang sedang ia dengar. Dia berjalan berlawanan arah denganku. Semakin dekat, aku makin bisa melihat wajahnya. Cewek ini tipeku banget! Hidungnya kecil, bibirnya melengkung ke atas, dan matanya hitam membulat. Manis sekali! Secara tak terduga, tiba-tiba mata itu mengerling ke arahku. Dengan cepat aku membuang pandangan, seolah sedang memperhatikan tukang rujak yang sedang mangkal di jalan.
“Seribu lima ratus,” kata tukang rujak itu. Lho? Kapan aku bilang mau beli? Emang lihat harus bayar ya? Tapi tak urung aku mengeluarkan seribu lima ratus rupiah dari sakuku. Biar cewek itu tidak mengira aku memperhatikannya dari tadi, batinku.
“Dibungkus, Mang,” aku berkata sambil memperhatikan tukang rujak itu. Ketika aku melihat ke arah cewek itu lagi, dia sudah tidak ada. Yahh..
Ibu kaget melihat aku membawa sebungkus rujak buah pulang. Ternyata dugaanku benar. Listrik bukannya turun, hanya kipas angin yang tadi ibu pasang memang agak ngadat. Dan ibu tidak mengecek alat elektronik lain. Tapi aku senang, karena langsung pulang jadi bisa bertemu dia... Eh, siapa namanya ya?
Esoknya, aku langsung pulang begitu bel berbunyi. Penasaran juga sama cewek kemarin. Aku menyusuri jalan pulang sambil mencari-cari, di mana kira-kira dia sekarang. Ah, itu dia. Datang dari ujung jalan, hari ini memakai jaket hijau tua. Sial, aku jadi tidak bisa melihat badge namanya karena tertutupi jaket itu. Tapi pakai jaket juga dia tetap manis. Dia berjalan bersama temannya, rambutnya pendek juga. Aku melihat, dari badge lokasi baju temannya, mereka berasal dari SMA Taruna Persada, sekolah sebelah. Mereka mengobrol. Sambil pura-pura menikmati pemandangan kota, aku memelankan jalanku, berusaha mencuri dengar percakapan mereka.
Ternyata mereka membicarakan film. Dia suka film Juno atau Juni atau apalah itu. Emang ada ya judul film itu? Dalam hati aku berniat akan mencari tahu film itu.
Ibu kaget melihat aku pulang siang lagi.
“Kamu sakit, Ndra? Kok pulang cepat?” tanyanya cemas begitu melihat aku muncul di balik pintu.
“Nggak Bu, cuma kangen Ibu,” jawabku, langsung ngacir ke dapur.
Ibu melihatku, masih dengan pandangan bingung.
Esok harinya aku menunggu cewek itu di jalan yang sama lagi. Aku tersenyum, akhirnya aku tahu film itu, film yang bercerita tentang seorang cewek yang hamil di luar nikah pada umur enam belas tahun. Eh tapi itu juga kata Ren, movie maniac di kelasku. Aku sih belum nonton. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan. Tengkukku panas karena terlalu lama tersiram matahari. Sudah jam dua, tapi dia tidak muncul-muncul juga. Kenapa ya? Aku melihat tukang rujak tempo hari. Ya sudahlah, sambil menunggu, makan rujak juga boleh.
“Mang, tau cewek yang biasa lewat sini nggak?” tanyaku sambil mencampur bumbu kacang dengan buah. Siapa tahu Mang Rujak ini gaul.
“Banyak atuh awewe lewat jalan ini, yang mana?”
“Yang putih, rambutnya pendek.”
“Oh, itu, yang temennya Neng Dewi yah?”
“Namanya aja saya nggak tau, Mang, apalagi temennya. Emang si Dewi sekolah di mana, Mang?”
“Di TarSad.” Taruna Persada.
“Ohh..” Sama seperti sekolah cewek itu. Mungkin saja teman cewek kemarin itu memang Dewi. Atau justru cewek itu yang namanya Dewi! Aku menyesal tidak melihat nama temannya kemarin.
“Mang kenal, sama temennya Dewi itu?”
“Kalo nggak salah mah, anak basket. Namanya Tania atau siapa gitu, Mang kurang apal.”
“Masa iya anak basket sih Mang?” Badannya kecil gitu.
“Iya, Mang sering lihat dia pulang pakai baju basket. Emang cantik, sih.”
“Ohh..” aku cuma bisa ber-ooh lagi. Hari itu aku pulang pukul 14.15 tanpa melihat dia, yang katanya adalah anak basket sekolah sebelah bernama Tania.
“Lang, cewek kamu si Faya, anak Tarsad, kan?” pagi itu aku bertanya pada Elang, teman sebangkuku.
“Iya, emang kenapa?” Elang balik bertanya.
“Kenal sama anak basket, nggak? Namanya Tania kalo nggak salah. Anaknya putih gitu, imut.”
“Aku sih nggak kenal, Ndra. Tapi kalo basket, kayanya Tarsad mau ada tanding sama sekolah kita. Soalnya Faya lagi sering latihan cheers, katanya mau buat hari Minggu. Emang kenapa sama si Tania? Kamu naksir ya?” goda Elang.
“Engga juga sih..” aku menceritakan semuanya pada Elang.
“Kenapa nggak kenalan aja sama dia pas ketemu?” tanya Elang begitu aku menyelesaikan ceritaku.
“Yahh, nggak ada persiapan Lang, lagian kagok aja kalo ketemu langsung kenalan,” jawabku.
“Kamu jangan mimpi bisa deket, kalo kenalan aja nggak berani! Ya udah ntar hari Minggu nonton basket bareng aja. Aku bilangin ke Faya, kamu mau kenalan sama Tania,” ajak Elang, lalu melanjutkan, “eh, kapan kamu latihan bola Ndra, bolos mulu. Kita kan juga mau tanding,” kata Elang lagi.
“Kamu kan udah pasti ketemu si Tania hari Minggu ntar, korbanin nggak liat dia sehari, kenapa?”
“Iya deh..” aku pasrah, yang penting bisa kenalan sama Tania hari Minggu ini.
Hari Minggu itu datang juga. Kaos paling keren, celana baru, sepatu basket modal pinjem dan handband menemaniku pergi ke SMA Taruna Persada. Elang duduk di sampingku, dan di sampingnya ada Faya.
“Jadi Andra mau kenalan sama Tania?” tanya Faya. Cewek Elang ini cantik juga. Walaupun agak centil.
“Iya,” jawabku pendek. Agak deg-degan menunggu pertemuan dengan Tania.
“Oh, ya udah. Ntar biar Faya sampein. Lang, aku pergi dulu ya, mau gladi,” pamitnya pada Elang.
Tidak sampai lima menit, sebuah sms sampai ke ponsel Elang.
“Kata Faya, si Tania maunya ketemu kamu abis basket kelar, Ndra,” kata Elang menceritakan isi sms yang barusan masuk.
“Ho-oh,” aku menjawab seadanya, masih tegang. Aku berusaha mengamati jalannya pertandingan. Mana cewek itu ya? Kok nggak kelihatan. Anak basket SMA Taruna Persada badannya tinggi semua. Mungkin lagi di bangku cadangan, pikirku.
Eh, nanti ngomong apa ya? Aku sudah membaca-baca majalah basket di rumah Elang, juga sudah nonton film Juno, pinjam Ren. Kalo musik? Kira-kira dia suka musik apa ya? Aduh.. bingung...
“Ndra?” panggil Faya, “Ini Tania..”
Aku menoleh. Kaget. Putih sih, tapi yang ini badannya tinggi. Banget!
“Ngg.. Andra,” aku memperkenalkan diri ragu-ragu, menyodorkan tanganku.
“Tania,” katanya pendek sambil menyambut tanganku, “sori, aku duluan ya, cowokku udah nunggu. Yuk Fay, duluan. Lang, duluan ya,” katanya terburu-buru. Seolah tidak ingin memberikan harapan lebih padaku. Syukurlah.
“Ndra, jangan patah hati gitu dong, masih banyak cewek lain yang masih single,” hibur Elang nggak ngeh melihat tampangku yang masih shock karena kaget.
“Untung Lang,” desahku, “Soalnya kita salah orang.”
Akhirnya. Dua minggu ini aku hanya bisa melihatnya dari jauh, seperti biasa. Aku tidak bisa menyapanya bukan karena aku pengecut, tapi karena dia selalu pulang bersama teman-temannya, tidak pernah sendirian lagi. Ternyata kesempatan emas memang tidak datang dua kali.
Hari ini, hari ketujuh belas aku pulang lebih awal demi melihatnya. Dan aku masih tidak tahu namanya! Karena ini hari Rabu, pasti dia pulang lebih telat, dan teman-temannya bertambah banyak. Bosan menunggu, aku menghampiri gerobak rujak pinggir jalan lagi. Sebenarnya malas bertemu tukang rujak sok tahu itu, tapi karena bosan..
“Oh, maaf atuh kalo Mang salah kemaren,” kata tukang rujak itu setelah aku menceritakan kejadiannya, “Emangnya lagi nyari cewe yang kaya apa gitu?”
“Putih, agak pendek, rambutnya pendek. Biasanya jalan sama temannya, lewat sini tiap hari. Masa Mang nggak tahu?” aku bertanya, agak kesal.
“Oh, itu mah paling temannya Neng Nia..” katanya ragu-ragu.
“Ah, Mang. Nia yang mana lagi?” Nanti salah orang lagi, rutukku.
“Eh, Neng! Neng Nia, tumben jalan sendirian? Temannya mana, Neng?” tiba-tiba tukang rujak itu ambil inisiatif bertanya pada cewek di belakangku.
Aku menoleh. Itu kan cewek itu! Perutku tertohok. Siapa tadi namanya? Nia?
“Dea hari ini nggak masuk Mang, sakit. Jadinya nggak bisa beli rujak,” katanya sambil tersenyum. Manis banget! Perutku tambah tegang.
“Bukan, bukan saya yang nyari. Ini, ada yang nyari Neng Dea,” kata tukang rujak itu sambil menunjuk ke arahku.
“Oh, temannya Dea, ya?” tanyanya. Matanya yang bulat menatap langsung ke mataku. Aku kaget. Grogi. Bingung harus menjawab apa.
“Siapa namanya? Nanti aku bilang Dea.”
“Narendra Aji Putera,” jawabku otomatis, “eh, Andra. Andra aja manggilnya.”
Senyumnya merekah, “Nama kamu klasik ya, pasti ibu kita mirip.”
“Eh iya..” Ya ampun, manis banget! Aku buru-buru mencari bahan obrolan lagi. Ah! Film itu! Atau..
“Ndra, aku duluan ya, nanti aku sampein ke Dea” kata Nia. Dia sudah keburu menyetop angkot. Duh!
“Ya?” Nia menoleh ke belakang.
“Emang kenapa ibu kita mirip?”
“Besok aja deh, kita ketemu tiap hari, kan?” katanya sambil tersenyum lagi.
Aku merasa dadaku dipenuhi kehangatan.
“Besok aku tunggu di sini ya!” kataku padanya. Nia mengangguk. Angkot pun melaju, dengan membawa cewek manis yang selalu kutunggu sepulang sekolah. Aku menarik napas dalam-dalam. Bersyukur kepada Tuhan. Ternyata selama ini dia juga mengingatku!
Aku pulang dengan perasaan bahagia. Mencium kedua pipi dan kening ibu.
“Ibu punya kenalan yang punya anak cewek namanya Nia?” tanyaku.
“Enggak tuh?” ibu tambah bingung.
Ternyata namanya juga klasik. Jadi mungkin ibu kita memang mirip. Selain itu namanya cantik sekali. Madania Pramesti.
sampe dibikin ilustrasinya coba.. omiGod >__<