[Seperti Kaktus] . . . "Rud, Rud, tolong ambil itu botolnya!", perintah Le sambil menunjuk botol bekas mineral kosong yang hanyut terbawa arus sungai. "Ee...e..eh..." Byuurrr! Rudi terpeleset bebatuan sungai dan terjatuh. "Hahaha", seru Le dan kawan-kawan yang melihatnya. Rudi tersenyum melihat Le tertawa, siapa kira di hatinya tidak kesal. Tapi barangkali tawa Le menyembuhkan kesal itu sendiri. Menjadi relawan merupakan panggilan jiwa bagi keduanya. Le dan Rudi sama2 senang berkegiatan sosial, bahkan Rudi tak pernah absen untuk mendonorkan darahnya ke PMI. "Le, di sana ada yg luka! Ayo kesana!", teriak Shea. "Rud, kotak obat bawa!" Dengan sigap Rudi mengambil kotak obat, kemudian ketiganya berlari menuju korban yg luka. Perihal pertolongan pertama, Le sudah terbiasa. Ia sudah terampil perihal membalut luka dengan kasa, bahkan membalut luka hatinya ia pun begitu terampil. "Halo tampan, mana yg sakit? Kakak obatin, ya!", Le sambil mengelus-elus kepala seorang anak laki2. Anak itu mengangguk sambil menangis. "Nggak sakit kok, nanti kakak kasih coklat ya. Fyuuhh fyuhhh...", Le sambil meniup-niup luka yg sedang diobati. . . . Memori yang terekam, tidak mudah hilang begitu saja. Ada banyak cerita yg bahkan belum diselesaikan. Tetapi barangkali, Le dan Rudi memilih menjadi seperti kaktus. Yg tetap tumbuh meski ada di kegersangan. Yg sabar menanti berbulan bahkan bertahun untuk menuai bunga yg mekar. Barangkali begitulah kurang lebih ceritanya. Ego yg dijunjung tinggi hingga amarah yg ditelan dan dibawa lari menjauh dari titik keduanya bertikai. Bersembunyi di balik bilik-bilik rindu yg kemudian keduanya saling tangkap menangkap bayangan untuk didekap setiap kali rindu itu datang. "Alea.....", rintih Rudi yg sedang merindu sembari mengusap foto kenangan bersama. . . . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc006 https://www.instagram.com/p/B7AylN9gbIO/?igshid=19u6zbo7wwti3










