Mulai lagi yuk merangkai mimpi-mimpinya. Nggak apa-apa, pelan-pelan aja. Gagal itu kan udah biasa ya, yang gak biasa itu ya bangkit lagi setelah gagal, bukan? Gasss🔥
Keni
Not today Justin
taylor price
🪼

tannertan36

JVL
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Monterey Bay Aquarium
Stranger Things
I'd rather be in outer space 🛸
Misplaced Lens Cap

roma★

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi

Kiana Khansmith
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Mike Driver
No title available
untitled
d e v o n
seen from United States

seen from United States

seen from France

seen from France
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Australia

seen from Germany
seen from Australia

seen from Australia
seen from Bangladesh
seen from France

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from France
@tsaf
Mulai lagi yuk merangkai mimpi-mimpinya. Nggak apa-apa, pelan-pelan aja. Gagal itu kan udah biasa ya, yang gak biasa itu ya bangkit lagi setelah gagal, bukan? Gasss🔥
Hidup menurutmu itu yang seperti apa?
Apakah perjuangan?
Apakah ketabahan?
Apakah kebahagiaan?
Apakah juga pertarungan?
Apakah mungkin penantian?
Apa?
Tanpa sadar, kemudian dalam sepi nan riuh, suara-suara yang senyap itu semakin menyeru. Ada di antaranya yang hidup, memberi napas pada ego-ego sambil tersenyum bengis, atau bahkan sesekali meringis. Ada juga yang sayup-sayup antara samar dan terdengar membawa sejuk, damai, tenang. Sayang, rupanya yang lebih riuh ialah bahan santap amarah. Yang kemudian gaduh dan semakin gaduh. Buncah. Tetapi, dalam bara yang menyala itu, ada sadar yang setidaknya sedikit menenangkan. Ya, sadar. Menyadari setiap embusan napas, menyadari setiap partikel-partikel yang bergumul menjadi satu kesatuan rasa, emosi, suara bising di kepala. Tidak apa-apa -batinku. Tidak apa-apa. Wajar. Manusiawi. Tenang. Tenang. Tenang.
Sepasang mata dipejamkan. Sejenak. Menghela napas, lalu embuskan perlahan-lahan. Tenang. Tenang. Tenang. Tidak apa-apa.
Kemudian yang buncah itu mulai ditata, dirunut, disuarakan. Pelan-pelan. Meski resah akan pertarungan atau hanya banyak prasangka, tidak apa-apa. Tenang. Tenang. Tenang. Suarakan. Pelan-pelan.
Kadangkala kan pikiran yang gaduh itu hanya perlu diberi ruang untuk ia menyampaikan isinya. Bukan pertarungan, apalagi penghakiman. Dengar saja. Dengar. Pahami. Resapi. Tanggapi. Tak perlu menyulutkan api jika tak ingin kacau dibakar egonya sendiri. Lalu meracau dalam frasa-frasa penghakiman. Dengar saja. Dengar.
Setelah satu per satu dibedah, riuhnya pun menyusut. Tak lagi begitu gaduh. Lebih tenang. Tenang. Damai.
Dan lalu, bersediakah hidup menghidupi?
Dalam lini manusia adalah manusia. Wajar. Tidak apa-apa sesekali dalam persimpangan, kebingungan mengambil jalan, gaduhnya isi kepala. Tidak apa-apa. Tenang. Tenang. Tenang. Ini hanya perihal ritme serta perkara bagaimana menyampaikan bisikan di kepala.
Semoga esok lebih baik.
Salam,
Thinker
Legam pun Punya Makna
Hari ini, sekali lagi, semesta mengajarkan saya tentang ragam hidup dan kehidupan. Salah satunya, ya, perihal work life balance yang pada implementasinya di tengah kehidupan yang mencabik-cabik mental serta membenturkan akal juga hati, ternyata memang luar biasa memborbardir suasana hati.
Saya jadi teringat beberapa hari lalu seorang kawan bertanya, “Bagaimana kabarmu? Mental aman?”
Lalu, dengan singkat saya jawab, “Tidak ada mental orang dewasa yang baik-baik saja (di fase seperti ini).”
Dia lantas tertawa, begitu pun saya. Kita sama termangu kemudian menertawakan kehidupan dan berbagai rasa yang kita cecap. Saling didengar dan mendengarkan.
Dari banyaknya rasa yang dicecap pada fase pendewasaan, entah terpaksa atau tidak. Saya hanya ingin berkata pada semua dari kita yang tak henti belajar berproses:
“YOU’RE NOT ALONE!“
“YOU DESERVE!“
“YOU’RE THOUGHER!“
“IT’S OK. LIFE IS AROUND!“
Ya, dengan kata lain saya ingin mengatakan, “Tidak apa-apa, jangan lupa, kita manusia.”
Manusia di muka bumi memang beragam. Kadang, kita diperlihatkan dengan berbagai wajah kemunafikan. Kadang, kita diperlihatkan dengan berbagai wajah ketulusan. Ya, dan begitulah kehidupan. Beragam. Berwarna. Berputar.
Bulir-bulir dan segelintir yang tergelincir lalu lari kocar-kacir tetapi seperti juga kembali terlahir sebab tiadalah akhir, kita hanya dilatih supaya lebih mahir.
Benar, semesta menghantam kita dengan berbagai badai agar kita lebih mahir lagi memaknai hidup dan kehidupan. Agar kita lebih mahir menyikapi tiupan angin berikutnya, yang boleh jadi sama napasnya atau juga lebih kencang dari ini tiupannya.
Membuat kita juga pada akhirnya menjadi fasih bersembunyi. Di beberapa waktu dan situasi. Bukan lari. Bersembunyi menjadi cara untuk dapat berbincang dengan diri sendiri, mengadu syahdu dengan Tuhan Yang Mahatahu, di tengah kehidupan esok yang seperti apa kita belum juga tahu.
Bahkan, boleh jadi kita juga menjadi fasih menyembunyikan segala lara. Menyesapkannya dalam dada, meski luka melumatnya habis-habisan. Meski kerasnya kehidupan membuat diri susah payah mengatur kewarasan.
Dan hari ini, entah bagaimana bisa ambience itu sampai pada seorang kawan hingga membuatnya tanpa angin dan hujan mengirimi saya pesan pendek yang berbunyi, “are you okay.” Ambience yang juga lebih sering dirasakan oleh orang tua kepada anaknya.
Ya, cara Tuhan menghadirkan orang-orang baik di sekeliling kita memang sangat apik. Selaras bukan dengan janji-Nya bahwa kita tidak sendiri? Tidak pernah dibiarkan sendiri. Tuhan selalu bersama kita, mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk ada bahkan di saat kita sedang benar-benar tersungkur. Pun, keluarga yang selalu dapat menjadi rumah. Memberi damai dan siap selalu mendekap, sekalipun seluruh isi dunia begitu melukai hati.
Hari ini dan di detik saya menulis ini, saya tahu, bahwa saya tidak layak untuk mengeluh sebab barangkali di luar sana ada banyak badai yang lebih besar yang menimpa salah satu di antara kita. Tapi saya percaya, bahwa setiap manusia memiliki batasnya masing-masing, memiliki juga badainya masing-masing.
Dan yang kita butuhkan bukanlah mulut yang dengan mudah menghakimi serta memberikan stigma-stigma menyakitkan. Di situasi seperti ini, bukankah yang kita butuhkan hanyalah telinga yang mau lebih banyak mendengarkan?
Karenanya, bagi saya percuma berdebat dengan seseorang yang tidak menyediakan telinga untuk mendengar juga hati yang lapang untuk menurunkan ego. Jadi, boleh ‘kan saya menuangkan suara-suara yang berisik di isi kepala dalam tulisan ini?
Tidak semua orang terlahir untuk memiliki empati yang kuat, memang. Tapi, sebagai manusia yang terlahir menjadi manusia, saya percaya setiap kita memiliki nurani yang tersimpan kebaikan-kebaikan di dalamnya.
Dan untuk seluruh kita yang tak henti belajar berproses, sekali lagi, saya ingin katakan: “LIFE IS AROUND!”
Jadi, tidak apa-apa. Semuanya akan berganti, bahkan fase yang paling pahit sekalipun pasti akan berlalu.
Salam hangat,
Saya: Manusia
Perihal Kecewa
Pernah merasa seperti dipaksa dewasa? atau bahkan sekaligus juga dituntut untuk menjadi lebih bijak?
Siklus dalam kehidupan terus berjalan, pasang-surut, naik-turun, tentu sudah menjadi ritme keseharusan. Ya, karena memang hidup nggak melulu gembira, juga nggak melulu kecewa. Semua silih berganti, tapi memang di beberapa masa, ada kedua hal bersebrangan yang mungkin datang bersamaan.
Wajar, sih, sebenarnya kalau suatu waktu merasa kecewa. Toh, bukan aib ‘kan? Itu semua manusiawi. Saat tiba-tiba badai halus nan dahsyat meluluh-lantahkan segala harap juga mengacaukan upaya yang sedang coba dilakukan untuk mencapai suatu visi dalam hidup, tentu rasanya siap atau tidak, tetap dituntut untuk siap. Oh tidak, bukan dipaksa untuk siap, barangkali lebih kepada dituntut untuk bisa menerima. Baik, mari kita belajar berbesar hati dan berlapang dada.
Pertanyaannya, apa itu mudah? Jelas tidak jawabnya. Kita akan ada di fase kecewa lalu bergeming dalam hujan yang deras dan kelabu, kemudian tersungkur bahkan kelu dan bimbang menakar-nakar apakah esok masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih kuat dan tabah dari hari ini?
Banyak tagline yang mengatakan It’s Ok not to be Ok. Ya, saya sepaham bahwa kadang kala tidak apa-apa untuk tidak sedang baik-baik saja. Beberapa kawan pernah bertanya apakah saya pernah merasakan kecewa yang begitu dalam? Lalu, pertanyaan itu saya kembalikan: Memangnya ada manusia hidup di dunia yang tidak pernah merasakan kecewa?. Dia terdiam. Saya tersenyum.
Tapi, bukankah setiap kita mempunyai pilhan? Meski seringkali jalan yang bercabang kanan-kiri, membawa kebimbangan. Tetapi, setidaknya kita diberi pilihan untuk tetap bergerak bukan? Bagi saya, menikmati semua prosesnya adalah pilihan. Bukan berarti diam di tempat, tapi lebih kepada bagaimana memposisikan diri. Nikmati laranya, toh tidak pernah ada lara tanpa bahagia bukan? Begitu pun sebaliknya. Dan memang semua yang ada di dunia sifatnya sementara. Nggak apa-apa hari ini menangis, siapa tahu esok semesta sudah menyiapkan hari yang lebih indah.
Dari situ saya jadi mengerti bahwa berharap itu boleh, tapi kalau belum dijawab sekarang, ya, nggak apa-apa. Tenang, esok pasti juga terjawab.
Dan nggak ada salahnya belajar menjadi dewasa dan menjadi lebih bijak. Karena nggak semua yang mematahkan harus kita balas dengan balik menebasnya. Ada kala, menerima dan berdamai adalah pilihan yang dijalani. Bukankah merelakan apa yang terjadi biarlah terjadi adalah obat dari kecewa itu sendiri? Toh kita tahu bahwa segala yang di bumi sudah diatur sedemikian rupa oleh Yang Khaliq.
Sedang tidak baik-baik saja sekarang? Nggak apa-apa, nikmati, besok kita akan lebih kuat dari hari ini.
[Ringkas Cerita Rindu] Jangan-jangan aku lupa Pada mafhumnya seulur rindu Yang kuncup dari seharusnya mekar Barangkali memang itu adalah Sesumbar-sumbar angin berbisik Rupanya kita telah sama-sama Menahannya hingga menahun Rindu itulah rupanya Rupa-rupa warna langit Nan kelabu yang telah pamit Tak lagi meneteskan pelik yang mencekik Bukankah saatnya kembang mekar dari kuncupnya? Cirebon, 120520 -Tsaf- (at Bangka-Belitung Islands) https://www.instagram.com/p/CAFW9nIAl8K/?igshid=11f6lcdf7fu88
Hello Jakarta, I miss you! . . . Semoga semakin banyak dari kita menjadi yg lebih banyak mengucap syukur daripada menjadi kufur. Lebih banyak menjaga daripada terus mengagungkan praduga. Juga lebih pandai menyikapi dan memaknai daripada mengatai lalu menghakimi. Doaku: semoga rapalan doa-doa baik kita semua menjadi hal yg diwujudkan oleh-Nya, aamiin. Jangan lupa, makhluk hidup tidak hanya kita. Mari jaga keseimbangan. 😊 https://www.instagram.com/p/B-6NOitgAGf/?igshid=if2xlt7vfyb0
[Pujangga Yang Lupa Punya Telinga] Demi damai Aku bahkan rela menelan suaraku hingga di titik kelu paling pilu Yang kemudian berkata mungkin hanyalah bisa sepatah saja Sampai di saat hening itu abadi Kau mencariku sedang aku tenggelam bersama kebisuan Demi damai Aku bahkan rela bilapun tenggelam dalam carut-marut perdebatan rama-shinta Tentang siapa yang bodoh pun yang paling mencintai Bahkan sampai esok atau lusa yang kutemukan hanya seonggok daun kering yang jatuh di depan teras rumah tua itu Demi damai Aku bahkan rela tak lagi punya kamus untuk menata bahasa atau sekadar bicara Yang kemudian tinggal lekuk garis bibir saja sisanya Juga kembang kempis dada yang masih terus berembus Sampai di saat kau ketuk pintu rumah tua itu Usang: itulah yang kautemukan Ketika itu Berbahagialah kau pujangga yang pandai merangkai kata dan bersuara tapi lupa punya telinga Dan sunyi adalah kawanmu esok Hari -Tsaf- https://www.instagram.com/p/B9eodcqgZQe/?igshid=sgiqx9od77j9
[Kalau Hari ini Aku Mawar, Maka Besok Tidak Lagi] . . . Kalau sembunyi adalah ritual, maka diam adalah bahasa ibu paling dipakai. Begitu pula menatap dari bilik rindu. Sebab membuka sedikit saja tirai kenangan, bergenang sudah air mata sebab mengenang. "Gimana hubungan lu sama dia?", Ray menatap Le serius. "Ya, engga gimana2, Ray." Ray menyalahkan grinder. "Eh Ray, ini bar wajah baru nih." Ray menyuguhkan secangkir kopi favorit Le. "Nih, Kopi Sajak dengan sedikit gula kesukaan Alea." Le tersenyum, "Matur nuwun". Rey duduk di samping Le, mengangkat kedua alisnya tanda "gimana?" "Gue cuma masih takut Ray. Lebih banyak kecemasan untuk melanjutkannya." "Ada yg lu lupa Le." Le memiringkan kepalanya sambil menatap Rey serius. "Lu lupa kalau semuanya bisa dikembalikan ke Tuhan. Balikin semuanya ke Dia, pasrahin, dan berdoa. Tuhan yg pandai mengatur hati bahkan segala hal di kehidupan. Lu lupa punya Tuhan sampe yg ada lu cuma mengkhawatirkan apa yg bakal terjadi d depan." Le terdiam. . . . Katanya mawar merekah pada waktunya, tapi kalau digenggam ia membuatmu berdarah, masihkah harus menggenggam atau bahkan mendekapnya? Karena tak selamanya yg indah harus selalu digenggam untuk diberikan hak milik. Kadang kala hanya perlu dirawat dan dibiarkan tumbuh agar tetap terlihat indah. . . . #30haribercerita #30hbc2016 @30haribercerita https://www.instagram.com/p/B7XwDCugg8n/?igshid=1rk5564hng2go
[Papua, Kamu Cantik!] . . . "Rud, masih ingat Indonesia bagian mana yg paling ingin kukunjungi?" "Jepang?" "Itu bukan Indonesia, Rud", lirik Le. "Hehehe, Papua?" "Yups!!! Aku mau kesana!!!!" Kadang kala apa yang kita tunggu pada akhirnya akan sampai ke garis finis. Kadang kala pula, apa yang kita mau, tidak harus langsung terwujud detik itu juga. Supaya apa? Supaya kita berusaha dan terus berdoa. Karena Tuhan mau lihat seberapa kita serius memperjuangkan apa yang kita inginkan. Sampai pada akhirnya Tuhan mewujudkan apa yg telah kita inginkan, entah baru-baru ini atau hal yg sudah lama kita inginkan. Lantas, bagaimana dgn keinginan yg tidak teruwujud? Tuhan lebih tahu dari apa-apa yg kita tahu, termasuk apa yg paling kita butuhkan. Karena seringkali Tuhan lebih memberi apa yg dibutuhkan bukan apa yg menjadi sekadar keingininan. . . . Rudi memandang Le cukup lama. Le mengernyitkan dahi tanda bertanya kenapa. "Berita banyak mengabarkan keadaan di sana." "Konflik?" Rudi mengangguk. "Rud, kita masih punya Tuhan yg akan selalu melindungi." "Keamanan di sana?" "Orang sana menjamin pengawalan, Rud, kita ga boleh underestimate duluan. Biar nanti kuceritakan bahwa Papua itu cantik dan ramah." . . . Perjalanan udara yg cukup lama ditempuh. Bukan hanya dgn perasaan yg juga senang. Sebenarnya Le juga ada perasaan takut, turbulensi pesawatlah karena cuaca, kericuhan Tanah Papua, dan banyak. Tapi, Le berusaha menumbuhkan haqul yakin bahwa Dia akan selalu bersamanya. Punggung Le sudah panas rupanya menempuh perjalanan jauh, pesawatnya transit di Makassar. Selepas itu melanjutkan perjalanan menuju sang primadona, Papua! Benar saja, pesawat sempat turbulensi. Tapi hal itu tidak menyurutkan pandangan indah. Papua dari ketinggian sungguh indah, cantik! Bukit-bukit, pulau-pulau kecil, danau sentani. Cantik! Perasaan Le begitu bahagia. "Papua, kamu cantik!" . . . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2007 https://www.instagram.com/p/B7FKt9vgHjZ/?igshid=1rxw9048qly8c
[Seperti Kaktus] . . . "Rud, Rud, tolong ambil itu botolnya!", perintah Le sambil menunjuk botol bekas mineral kosong yang hanyut terbawa arus sungai. "Ee...e..eh..." Byuurrr! Rudi terpeleset bebatuan sungai dan terjatuh. "Hahaha", seru Le dan kawan-kawan yang melihatnya. Rudi tersenyum melihat Le tertawa, siapa kira di hatinya tidak kesal. Tapi barangkali tawa Le menyembuhkan kesal itu sendiri. Menjadi relawan merupakan panggilan jiwa bagi keduanya. Le dan Rudi sama2 senang berkegiatan sosial, bahkan Rudi tak pernah absen untuk mendonorkan darahnya ke PMI. "Le, di sana ada yg luka! Ayo kesana!", teriak Shea. "Rud, kotak obat bawa!" Dengan sigap Rudi mengambil kotak obat, kemudian ketiganya berlari menuju korban yg luka. Perihal pertolongan pertama, Le sudah terbiasa. Ia sudah terampil perihal membalut luka dengan kasa, bahkan membalut luka hatinya ia pun begitu terampil. "Halo tampan, mana yg sakit? Kakak obatin, ya!", Le sambil mengelus-elus kepala seorang anak laki2. Anak itu mengangguk sambil menangis. "Nggak sakit kok, nanti kakak kasih coklat ya. Fyuuhh fyuhhh...", Le sambil meniup-niup luka yg sedang diobati. . . . Memori yang terekam, tidak mudah hilang begitu saja. Ada banyak cerita yg bahkan belum diselesaikan. Tetapi barangkali, Le dan Rudi memilih menjadi seperti kaktus. Yg tetap tumbuh meski ada di kegersangan. Yg sabar menanti berbulan bahkan bertahun untuk menuai bunga yg mekar. Barangkali begitulah kurang lebih ceritanya. Ego yg dijunjung tinggi hingga amarah yg ditelan dan dibawa lari menjauh dari titik keduanya bertikai. Bersembunyi di balik bilik-bilik rindu yg kemudian keduanya saling tangkap menangkap bayangan untuk didekap setiap kali rindu itu datang. "Alea.....", rintih Rudi yg sedang merindu sembari mengusap foto kenangan bersama. . . . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc006 https://www.instagram.com/p/B7AylN9gbIO/?igshid=19u6zbo7wwti3
[Detik Mana yang Kau Tak Suka?] . . . Kalau jarak yg dibatasi oleh satuan kilometer bukan menjadi masalah, lantas apa yang membuat waktu demi waktu kian terasa asing? Bukankah jarak mengajarkan banyak hal perihal menata hati? -------------------- . . Kumpulan asumsi yang berderet membentuk delusi, layaknya api yang menyulut sumbu kemudian berkobar dan semakin tinggi suhunya. Tidak lagi ada banyak kata, melainkan makna yang tersirat dgn sendirinya. Entah dimaknai dengan tepat atau hanya melahirkan persepsi. Begitulah hidup yg memang diperlukan dua sisi, untuk kita bisa memandang lebih luas semesta ini. Bukan terkurung di kotak yang itu-itu saja. "Awannya mengerikan", ujar Le melihat gumulan awan-awan hitam yg membuat langit kian mendung. "Awan kok mengerikan?", balas Rudi dengan ketusnya. "Hm~" . . Bagaimana cara memberikan udara pada sesak yg ada sedang kita jg sama sesaknya. Kemudian diam menjadi primadona sikap yg seringkali diambil. "Le, ga capek?", tanya Shea. Le tersenyum. "Mau sampai kapan, Le?" Le hanya mengangkat kedua bahu sebagai isyarat entahlah yg menjadi jawaban tak pastinya. "Kalau sama-sama gengsi, ga akan nemu titik tengahnya, Le. Kalau dia lagi jadi api, ya lu yg mesti jadi air. Kalau dia api terus lu jd api atau bahkan minyak tanahnya, hangus." Le memandang Shea penuh makna. "Ok Le. Gue jg tahu dia gengsinya naudzuhbillah gede, mungkin kalau gue jd lu gue belum tentu bisa bertahan sejauh ini." "Gue sama dia mungkin memang sedikit banyak kesamaan. Dan kesamaan itulah yg mungkin membuat kita sering bertikai. Ga ada yang ngelebur. Kayak sama2 segan, sama2 gengsi, atau bahkan sama2 saklek dlm beberapa hal." "Hmmm... Tipe-tipe punya prinsipnya masing2." "Lari mungkin jadi pilihan. Sama2 lari, entah berapa lama, cukup lama. Setelah semua reda, baru membaik. Gue tahu ini ga baik, bukankah seharusnya gue sama dia saling berkompromi menyelesaikan setiap masalah? Berjuang menerjang badai bareng-bareng?" "Le...", Shea mendekap Le yg matanya mulai berkaca-kaca. . . . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2005 https://www.instagram.com/p/B6-5fftg8iL/?igshid=1j9eel93nknod
[Kopi Mana Yang Kausuka?] . . . Jumat sore ibukota selalu dihiasi dengan kemacetan. Semua seakan berlomba untuk segera sampai di rumah. Bertemu dengan keluarga, bercengkrama, berbagi peluh. Dan menyebalkan memang terjebak di antara kemacetan ibukota ini. "Di depan macet...." Belum selesai bicara, suara Le disahut petir Yang bergelagar. "Astaghfirullah!", Le terkejut. "Sepertinya akan turun hujan." "Bawa jas hujan?" "Bawa" Kemacetan di sepanjang Jalan Menteng berhasil dilewati, akhirnya.... "Kita mampir ke Blank yuk!" "Boleh." Langit semakin gelap sore itu, gerimis sudah mulai berjatuhan. Alea dan Rudi masih bertahan dalam perjalanan, hingga akhirnya hujan semakin deras. Keduanya berteduh di bawah flyover. Sampai hujan mulai mereda dan keduanya melanjutkan perjalanan. ----------------- . . . Sesampainya di Blank Coffee.. "Sejak kapan suka kopi?" "Emm... Kapan ya?" "Jahh... Kalau bisa nyeduh, sejak kapan?" "Kepo deh hahaha, udah ah aku seduhin dulu. Tubruk kayak biasa kan?" "Iya" Blank Coffee adalah tempat kopi dimana kita diperbolehkan untuk belajar nyeduh atau nyeduh sendiri kalau sudah bisa. "Le, ini bijinya apa?" "Ini aku pakai gayo." "Setelah kintamani sekarang gayo, baiklah", Rudi sambil menghirup aroma secangkir tubruk yang diseduh Le. "Kamu suka kopi yang mana?" -------------- . . . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2003 https://www.instagram.com/p/B65_PWcgjcR/?igshid=1k9a4vntqblbv
[Blank Black Fall] Kereta listrik sabtu menuju Bogor seringkali penuh dan sesak. Rupanya Alea lupa akan hal itu. Diterabasnya sudah kereta itu, ia masuk entah pada rangkaian ke berapa. Yang jelas bukan di rangkaian pertama juga bukan rangkaian akhir. Otomatis di situ bercampur antara laki-laki dan perempuan. Alea melihat peluang untuk memilih rangkaian itu, karena masih memiliki ruang yang memungkinkan baginya untuk tidak berdesak-desakan meskipun dia juga tidak kebagian kursi. Bergelantunganlah sepanjang jalan. "Le, nanti kita turunnya di mana?", tanya Shea. "Depok baru" "Ok", Shea kembali memasang earphone miliknya. Keduanya berangkat dari Stasiun Manggarai yang tak pernah sepi. Sebenarnya Le salah satu orang yang memiliki tipe suka pusing melihat banyak orang. Baru setengah perjalanan tepatnya Stasiun Pasar Minggu, Le sudah keringat dingin. Kepalanya pusing bukan main. Perutnya mual. Matanya dipaksa untuk tetap terjaga dan tidak terpejam. Le melihat ke sekeliling, tidak ada kursi kosong. "Kuat Le kuat", batinnya. Sampai Stasiun Tanning Barat, Le semakin parah. Ia tahan sampai Stasiun berikutnya. Dan.... "Shea, kita turun sini aja." "Lho Le....", Shea mengikuti Le yang segera turun di Stasiun Lenteng Agung. Baru sekali melangkah keluar.. Brugg.... "Eh Le.. aduh.. tolong.. tolongggg!!!" "Lho Mbak temennya kenapa ini?" "Tolongin Mas tolongin!" Dan seketika semua menjadi gelap, kosong, lalu terjatuh. @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2004 https://www.instagram.com/p/B66B58ngkvd/?igshid=atibz31pileo
[Album Musik Kesukaan] . . "Kamu suka musik apa?" "Hmm... Apa ya? Random sih." "Coba deh, mau dinyanyiin lagu apa?" "Apa aja deh." "Hmm.. perempuan~" "Hahaha" -------------------------- "Minggu depan ada undangan buat ngisi acara, kita nyanyi bareng ya!" "Hah? Gila kali, suara aja macem ga ngerti nada suruh nyanyi di panggung." "Nanti kan bisa latihan dulu." "Nggak!" Perbincangan soal musik selalu mengasyikan, katanya. Tapi apalah daya Alea yang kudet alias kurang update perihal musik. Gimana mau update musik lha wong dia dari TK ga diajarin nyanyi. Sampai besar keluarganya juga bukan musisi atau yang gemar menyanyi, ambyar sudah suaranya. Berbeda dengan Zain atau yang biasa dipanggil Zen. Keluarganya keturunan musisi, jelas dia tau musik. Mulai dari lagu daerah sampai lagu-lagu luar negri dia khatam. Atau mungkin lagu luar planet dia juga tahu? Lho? . . . "Le, kita latihan ya." "Zen, aku aja dulu dikeluarin dari grup paduan suara karena katanya suaraku putus-putus." "Siapa yang bilang?" "Guru padusku." "Suaramu bagus, ikuti saja nadaku ya. Kita belajar." "No!" Zain menghela napas, menyimpan gitarnya di meja. Mungkin dia lelah meyakinkan Le supaya tumbuh rasa percaya dirinya. Zain menyeruput tubruk yang terbuat dari biji kopi kintamani yang diseduh oleh Le. "Kok ini enak?" "Masa sih?" "Serius" Tiba-tiba musik Bli Wayan menyalahkan lagu Fall for You dari Secondhand Serenade. Tanpa sadar Le ikut menyanyi dan menikmati musiknya. Sampai di lagu berikutnya, masih Secondhand dengan judul Your Call. Zain memandanginya. "Kamu tahu lagu ini?" "Iya, ini kan favoritku. Secondhand Serenade." "Lho katanya tadi ga punya favorit? Random aja katanya." "Hehehe" . . . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2002 https://www.instagram.com/p/B64jU6NAZRh/?igshid=tgvkhy6lu5m4
[Merayakan adalah Pilihan] Hujan semakin deras mengguyur ibukota malam itu. Suasana begitu sunyi, tanpa riuh akhir tahun seperti biasanya. . . Le terduduk dan melamun di kursinya sambil melihat keluar jendela dari lantai 13. "Deras sekali hujannya", ucap Le. "Yah apa kabar tuh HI?", Shea sambil tertawa. "Ya, ga gimana-gimana She namanya hujan. Tuh jam segini aja kembang api masih sepi", Le menunjuk jam dinding digital yang angkanya menunjukkan pukul 23:58 WIB. "Iya, sih. Lha kita? Tahun baru masih aja lembur, berteman segudang kerjaan yang tak kunjung usai." Le hanya tersenyum kemudian kembali bekerja. . . Drett drett... Pesan WhatsApp masuk. "Le, bakar-bakaran yuk. Lu dimana? Gue jemput ya." "Sorry, masih lembur nih." "Yahhh." . . Le membatin, teringat suatu percakapannya di Rumah Teh. "Happy new years!", Le begitu riang. "Kemaren Shea juga ulang tahun lho, aku ngasih kejutan tapi gagal", tambah Le. "Untuk apa? Apakah setiap pergantian tahun harus dirayakan? Apakah juga setiap yang berganti usia perlu dirayakan?" Le terdiam kesal. "Le, bukankah itu semua pertanda kalau jatah hidup berkurang? Jatah usia bumi berkurang? Lantas, mengapa dirayakan? Apanya yang perlu dirayakan Le?", lelaki itu berusaha menjelaskan pandangannya. "Selalu kaku." "Bukan begitu Alea, bukankah lebih baik kita banyak berdoa dan bersyukur?" "Ehem", Le mengangguk. "Inget ga? Dulu satu kelas dihukum Abi gara-gara ngerayain ulang tahun dengan cara yang kurang tepat? Abi bilang apa waktu itu?" "Iya-iya, terima kasih sudah diingatkan Bapak yang selalu bijak." "Hehehe", sambil mengusap kepala Le. . . . . @30haribercerita #30haribercerita #30HBC2001 https://www.instagram.com/p/B64dqxWA2Xb/?igshid=rru8vl40b1tv
Pesan Tak Terbaca Untuk Kekasihku
Untukmu kekasihku,
Dengan cara apa lagi kukasihi?
Kuberitahu di sana adalah jurang
Kutarik engkau agar tak jatuh
Sedang kau tetap memilih berjalan menuju jurang itu
Untukmu kekasihku,
Dengan cara apa lagi kusayangi?
Kubelai manja rambutmu sambil kubisikkan, "Kau mampu menjadi lebih hebat! Mari beriringan meski jelas aku sudah terpanah berkali-kali sampai panahnya menembus ulu hati"
Sedang kau, membiarkan pemburu liar kembali memanahku dari persembunyiannya hingga terang-terangan
Untukmu kekasihku,
Dengan cara apa lagi kucintai?
Kutitah engkau untuk berdiri perlahan-lahan dari merangkak-rangkak supaya kaubisa melangkah maju
Sedang, kaupatahkan kembali langkahmu dan kemudian kembali tersungkur pada lubang yang sama
Untukmu kekasihku,
Dengan cara apa lagi kumembersamai?
Kugenggam kau agar tetap kuat berjalan beriringan meski badai selalu berusaha meluluh-lantahkan
Sedang, rupanya kaulebih menyukai mendatangkam badai itu
Lagi dan lagi
Untukmu kekasihku,
Dengan cara apa lagi?
Rupanya aku sudah kehilangan cara
Sampai hanya di sudut celah angkasa raya
Ruang yang membuatku tetap betah untuk kutitipkan kalimat-kalimat baik sebagai doa
Rapalan-rapalan yang senantiasa mengalir tiada henti
Untukmu, kekasihku
Rawamangun, 291219
-Tsaf-
Belum tahu bukan berarti tidak akan tahu. Seperti juga yang terlihat tenang, bukan berarti ia tak punya arah gerak. -Tsaf- (at Pantai Pasir Padi Pangkalpinang Bangka) https://www.instagram.com/p/B5ZHRviAuo7/?igshid=v0lwjzr3kvu9