Waktu yang Salah ataukah Aku?
Pernah tidak, kamu berada di waktu yang terlihat salah? Seolah waktu membuatmu berada pada masalah yang tak pernah kamu duga sebelumnya. Jika pernah, apakah rasanya sesakit ini? Sekecewa ini?
Awalnya, sungguh tak pernah disangka. Kemarin, kau kembali dari kepergian yang terlihat tak berujung pulang. Bahagia melanda hatiku. Hari-hari jadi berwarna setelah sebelumnya gelap sebab kehilanganmu. Namun, keanehan mulai terlihat. Lambat laun aku menyadari sesuatu hal, ada yang berbeda dari kepulanganmu, aku merasa kau telah berubah. Aku merasa kau tak benar-benar pulang.
Entah darimana aku bisa merasakan itu. Saat kita jalan bersama, berbicara, atau saat kita duduk berdua, hanya untuk menikmati secangkir kopi menjelang malam, raut wajahmu sangat jelas mmenggambarkan jika kau tak benar-benar bersamaku. Aku tetap merasakan kesendirian meski saat ini kau sedang bersebelahan denganku. Ragamu menggenggam erat diriku tapi jiwamu melayang nan jauh di sana, berharap bisa memeluk dengan nyata. Jika tebakanku benar, aku rasa kau masih memikirkan orang lain yang sempat bersamamu kala itu.
Pantaskah?
Demi bersamamu, pintu hati dengan sengaja kututup untuk yang lain. Agar saat kembalimu, pintu ini hanya terbuka lebar untukmu.
Namun, demi bersama yang lain. Kau dengan tega menutup pintu hatimu untukku. Bahkan ketika kau kembali bersamaku. Tak lagi ada pintu hatimu yang benar-benar terbuka.
Tuan, hidup memang sebuah pilihan tapi hati bukan untuk dijadikan bahan pilihan seenaknya. Seharusnya, jika dari awal hanya setengah dirimu hadir. Dan setengah lagi untuk dia di masa lalumu. Mengapa kau ikrarkan dirimu kembali bersamaku? Untuk apa? Kenapa semesta mengirimkan kau untukku jika pada akhirnya kau harus pergi lagi?
Rasa kita tepat tapi berada di waktu yang salah. Ataukah aku yang salah karena dengan mudah masih menerimamu?
Pergilah saja..
Biar ku bunuh perasaan ini untukmu. Jika aku terlihat seolah tak ingin kau pergi, sebenarnya hatiku hanya tak siap untuk terluka lagi, tapi kepergianmu kali ini akan menjadi kerelaanku yang paling dalam yang tak akan pernah lagi kuulang dengamu.
Tenang saja, akan ada dimana waktunya aku lupa siapa kau, aku lupa apa yang pernah terjadi antara kita, aku lupa apa yang kau lakukan ketika aku menangis, aku akan lupa ketika kau khawatir jika aku terjatuh sakit. Tapi, tolong permudalah aku untuk berpindah ke lain hati. Usai sudah sampai di sini. Jangan sekali-kali datang untuk kembali lalu pergi lagi. Yakini aku bahwa kamu telah pergi dan tak akan pernah kembali. Dan yakini pula aku, bahwa aku harus mengubur kenanganmu lebih dalam lagi.
Akhirnya, baru aku sadari sekarang, ternyata memang lebih baik tanpamu.Hari-hari terasa lebih melegakan. Tujuan terlihat semakin jelas. Kau hanya pendatang rasa sedih. Kau tidak pernah menjadi pemulih. Keputusan pergimu adalah hadiah terbaik untukku.
Selamat tinggal, cukup sudah. Jangan kembali lagi.











