#25 Sepeda
Sepeda dikenal sebagai kendaraan yang efisien dan ramah lingkungan. Mengendarai sepeda memiliki banyak manfaat yang bisa kita peroleh seperti tubuh lebih bugar, mengurangi polusi udara dan sebagainya. Double manfaat yah. Sejak menggunakan transportasi sepeda selama disini, saya jadi mengingat proses belajar naik sepeda saat kecil dulu. Bagaimana jatuh bangunnya, terluka, lecet di bagian tubuh hingga bersabar menunggu giliran belajar. Di desa saya kala itu, sepeda adalah barang langka, yang punya sepeda pun bisa di hitung jari. Dan yang punya sepeda otomotis punya banya teman. wkwkw Di dekat rumah saya saja yang seumuran sangat banyak, kalau sudah main suaranya kedengaran dari ujung ke ujung membuat bapak-bapak sering terganggu ketika tidur. Hihi. Dengan kuantitas yang sebanyak itu, sedang sepeda hanya 3/4 maka setiap kali jam main di sore hari kami diajarkan bersabar untuk saling gantian mengayuh sepeda dengan sistem putaran yang ditelah ditentukan. Meskpipun setiap orang seringnya punya jatah maksimal 3 kali putaran tak menyurutkan langkah kami untuk esoknya datang lagi di halaman depan rumah untuk belajar. Dari konsisten belajar itulah akhirnya saya bisa mengayuh sepeda sekarang, prosesnya lama, kurang lebih 2 tahun barun bisa. Namanya juga belajar, menikmati proses itu perlu. Hari ini, ketika saya mengendarai sepeda ke tempat belajar, saya membayangkan masa kecil yang sangat indah, mengingat teman-teman saya di desa yang sekarang sudah pada berkelana di berbagai tempat, mengingat filosofi belajar sepeda kami. Sehingga ketika lelah, mengingatkan kembali bagaimana proses yang telah di jalani. Seketika ingin bertemu dan menceritakan kembali memori-memori permainan yang kami lalui dulu. Dari rebutan sepeda, main di sungai, kejar-kejaran, main karet, main sembunyi-sembunyi dll. Lebih tepatnya ingin mengatakan: dear isma, andi, rival, iqbal, wana, kakak-kakak generasi di atas kami etc. terima kasih telah mengajarkan irfi belajar sepeda dan segala permainan tahun 90-an yang menyenangkan. Saking melekatnya ingat belajar sepeda sehingga sekarang menjadi alasan penguat ketika diambang putus asa untuk bangkit lagi. Kemudian saya teringat pesan dosen yang kebetulan beberapa hari lau memotivasi kami melalui filosofi sepeda. Menurutnya, terkadang hidup dengan bersepeda itu punya satu kemiripan, dimana untuk maju dan seimbang, kita hanya harus terus mengayuh dan bergerak. tidak peduli dengan apapun yang ada di sekitar. Kaki terus bergerak sementara kepala dan mata tahu kemana tujuan yang akan dicapai. Di saat orang lain berhenti menggapai mimpinya, kita masih tetap melaju dengan seimbang. Thats right. So, please jangan menyerah irfi! salam rindu guys (tim sepeda) :)














