Mentoring November
hai haiiii..
Sudah lama sekali tidak meninggalkan jejak di tumblr. Sepertinya karena sekarang sudah ada 'diary berjalan' hehe tapi ternyata itu pun belum cukup ya. Aku lupa kalau aku suka nulis dan butuh nulis. Saat konsul psikolog terakhir, ga nyangka yang keluar dan tumpah malah tentang momen-momen mentoring. Ternyata setelah hampir 4 tahun membersamai adik-adik, tanpa aku sadari banyak emosi yang terakumulasi dan belum kuproses dengan baik. Padahal, tiap habis mentoring selalu update ke suami apa yang terjadi didalamnya, tapi memang tidak diniatkan untuk memproses emosi dengan seksama sih. Hanya ingin mengeluarkan hasrat bercerita yang biasanya cepat-cepat dan seadanya. Jadi, PRku saat konsul itu adalah memproses dengan baik segala emosi yang kudapati saat mentoring dan memang kuniatkan lewat tulisan. Biar ada dokumentasinya juga. Sayang juga ya selama ini terlewatkan begitu saja. Tapi gapapa daripada engga sama sekali. Terakhir kali ketemu Dira, aku juga cerita momen-momen mentoring. Baru sadar juga kok selama ini ga pernah cerita ya ke Dira. Padahal daerahnya deket tempat tinggalnya. Respon Dira setelah aku cerita agak cukup mengagetkan sih,
"lo kuat juga ya Fir ngadepin mereka. Gue sih belum tentu kuat ya kalau jadi lo." Di luar tanggung jawab goals program beasiswanya sendiri yang justru membuat ini jauh lebih berat adalah ketika aku melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak hanya sekedar berempati tapi aku sudah berinvestasi pada relasi yang aku pun ga tau ini bertepuk sebelah tangan atau engga. Yang jelas aku menaruh harapan pada mereka. Harapan ini jadi jauh lebih memberatkan karena aku memposisikan mereka sebagai adikku sendiri dan membayangkan betapa pedihnya kenyataan yang harus mereka jalani kalau itu benar terjadi pada adik kandungku. Di sini aku juga belajar lebih sadar apa yang sebenarnya terjadi dan membatasi investasi perasaan pada relasi mentor dan mentee ini. November ini menjadi mentoring pertama untuk periode 2024/2025. Di awal periode ini, dapat kabar aku kena pergantian kelompok tapi yang aku kaget malah diamanahi pegang 2 kelompok. Bersyukur dan ga nyangka juga diamanahi 40 orang saat di sisi lain beberapa teman mentor aku tau ada yang ga lanjut. Tapi setelah aku pertimbangkan, ini bukan sekedar kafalah yang didapat atau banyak-banyakan jumlah mentee. Aku butuh tau kebelanjutan mentee di kelompok ini. Aku mau tau bagaimana akhir masa sekolahnya mereka. Jadi, aku mengajukan banding untuk kembali ke kelompok sebelumnya dan melepas 2 kelompok yang sudah diatur oleh tim pusat. Ga bisa dipungkiri ada perasaan senang diharapkan kembali oleh adik-adik. Bagaimana sedihnya mereka saat mereka tau kalau ada mentor baru yang ditempatkan untuk mereka. Aku jadi merasa dibutuhkan dan dinantikan. Paling tidak, bukan mentor yang dibenci atau tidak diharapkan. Meskipun saat mulai mengatur mentoring yaa tetap aja ya ada yang ilang, tidak responsif, dan itikad kurang baik lainnya. Sempat terbersit dalam hati, yaampun ini adik-adik udah kuperjuangkan tetap sama mereka, aku pun usaha lebih karena dari berangkat dari Bandung tapi masih aja kayak gini. Tapi setelah kupikir lagi, toh yang mau memperjuangkan kembali ke mereka ya aku. Aku yang butuh mereka. Ya ga usah berekspektasi mereka juga akan berkorban lebih lah. Berlangsunglah mentoring November. Aku juga miss ternyata hari itu adalah hari ke-2 mereka UAS. Ada beberapa yang izin karena mau ikut kelas tambahan untuk persiapan ujian Seninnya. Tapi masih oke lah.
Ini jadi mentoring offline pertama setelah hampir 3 bulan kita mentoring online. Ternyata buat mereka pun lebih senang mentoring offline. Engga ngantuk, bisa lebih fokus, ga ada gangguan sinyal atau device. Paling engga, mereka masih ada excitednya ikut mentoring. Tapi emang vibes mentoring online dan offline tuh beda banget sih. Materinya tentang iman dan taqwa yang supaya lebih relate aku sambungkan dengan perjuangan mereka yang lagi mengejar PTN impian. Agak teoritis dan turun sih moodnya pas bahas materi haha tapi gapapa wajar aja ya udah capek ujian, belajar dari malem. Jadi aku isi dengan pertanyaan biar lebih interaktif. Masing-masing siswa menilai rentang 0-10 pertanyaan berikut ini.
Jawabannya mayoritas laki-laki lebih yakin dibanding yang perempuan. Apakah tandanya perempuan lebih overthinking? Aku tanya juga alasan siswa dengan jawaban terendah dan tertinggi. Dari mentoring kemarin, aku merasa ada kerinduan dari mereka. Mungkin karena akhirnya mentoring offline. Mungkin juga karena hampir 1 bulan jaraknya dari mentoring sebelumnya. Jadi, ini pertemuan yang dinantikan begitu. Hal lain yang kusoroti adalah ada siswa yang semakin aktif merespon, bertanya, menanggapi, bahkan bercerita tanpa aku tanya. Bercerita hal-hal sederhana di luar topik mentoring. Jadi, lebih terbuka. Aku seneng banget. Akhirnyaaa, setelah 10 bulan. Padahal di awal, siswa ini sangat menutup diri. Ga banyak omong, ga aktif, ga responsif. Aku tanya ke teman yang lain, 'testimoninya' pun memang sulit untuk komunikasi dengan dia. Kerja kelompok juga ga beres. Saat evaluasi tengah tahun pun, dia termasuk yang terancam ga lanjut beasiswanya. Setelah ngobrol berdua, aku jadi faham kenapa dia setertutup itu. Ga mudah hidupnya. Tinggal di rumah petak dengan 3 keluarga. Bisa dibayangkan. Ya memang harus sabar dan berbagai macam cara dilakukan untuk pendekatan. Alhamdulillah.
















