Beberapa hari terakhir kita sedang di rundung duka dengan berbagai bencana yang menimpa ibu pertiwi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi secara beruntun menyanyat hati siapapun. Dalam waktu sekejap ketika Allah berkehendak maka terjadilah. Ada mungkin yang sedang terlelap, bercengkrama dengan ria, atau sedang mengerjakan amanah tiba-tiba bencana datang tak terduga. Dalam situasi mencekam seperti itu siapapun akan mengingat kepada-Nya. Sebagai hamba yang lemah tentunya mulut tak berhenti merapal segala doa agar allah senantiasa melindungi. Lagi mungkin kita sedang disadarkan tentang esensi sebuah “DOA”, sebuah senjata di segala keadaan yang menjadi penghubung atas segala pinta yang di dasari oleh keyakinan hati kepada-Nya. Saya pernah mendengar di sebuh kajian, sang ustadz menyampaikan “Jadi kalau disuruh minta sama Allah, sebetulnya intinya bukan pada permintaannya, tapi kita berdoa itu agar jelas posisinya bahwa kita itu hamba dan Allah itu Tuhan kita. Doa itu adalah ibadah untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba. Hal terpenting dari doa adalah bagaimana kita memposisikan diri sebagai hamba dan Allah adalah penguasa segala galanya.” Di masa-masa darurat seperti ini, Ketika raga tak bisa turun langsung membantu evakuasi korban, Ketika ingin memberi namun terbatas, maka sejatinya kita masih punya kekuatan untuk mendoakan saudara kita yang sedang berjuang, sedang trauma, dan sedih atas kepergian sanak keluarga. semoga Allah kuatkan kita untuk menghadapii segala badai, menjadikannya muhasabah terbaik bagi setiap jiwa untuk mempersiapkan bekal Kembali kepadaNya. Yogyakarta, Januari 16 th 2021

















