Kilau emas mengupas langit sendu
Melintasi jalur yang pasti tanpa ragu
Sang fajar datang dengan harapan baru
Dengan hangat ia menyapa
Menghangatkan jiwa yang dingin mati rasa
Menyambut hari baru dengan penuh cinta
seen from Maldives
seen from Brazil

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from France

seen from Russia
seen from Australia
seen from Saudi Arabia
seen from Brazil
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Egypt

seen from Egypt
seen from United States
seen from Russia
Kilau emas mengupas langit sendu
Melintasi jalur yang pasti tanpa ragu
Sang fajar datang dengan harapan baru
Dengan hangat ia menyapa
Menghangatkan jiwa yang dingin mati rasa
Menyambut hari baru dengan penuh cinta
JALAN
Disaat ambisi memenuhi kepala dan kesempatan di depan mata tapi berlalu begitu saja karena konflik dengan diri sendiri. Mulai dari takut membuat kesalahan, hasil yang tidak sempurna, waktu yang terasa salah, hubungan sosial yang terlalu berbelit, merasa belum memenuhi kapasitas, ragu dengan diri sendiri, rendah diri, terlalu menunda dan ujung²nya berakhir stuck tanpa melakukan apa².
Hey, tapi katanya "It's only the way you see yourself"
Kalau kata Bang J.S Khairen: "Melangkah terus melangkah. Meski jalan, itu tetap melangkah."
Hari Ketiga
Pukul lima lebih sepuluh di pagi hari. Tak biasanya aku mengetikkan sederet catatan belanja dan bergegas mengirimkannya ke ponsel suamiku. "Aku ingin buat bothok daging," ucapku semangat. Padahal waktu terus berputar. Dua jam lagi harusnya aku sudah sampai di kantor.
Dengan penuh keyakinan bahwa waktunya cukup, aku mandi. Suamiku bersiap belanja di tukang sayur perumahan. Pukul enam kurang sepuluh menit, barulah suamiku datang. Aku yang sedang mengupas bawang, bergegas mencuci dan memotong daging hasil belanja.
Tak ada perasaan gugup dalam diriku. Ya, karena hari ini suasana kampus tak se-formal biasanya. Wajib berpakaian adat, katanya. Aku yang sejak semalam sudah coba mix and match kebaya pun akhirnya santai. Hingga pukul enam kurang lima belas. Dan aku masih memotong-motong wortel untuk kujadikan oseng. Aduh, aku tersenyum kecut pada diriku.
Aku merasa tak punya beban jika datang sedikit telat pagi ini. Tapi, jantungku mulai berdegup cukup kencang saat melihat hasil sebar gambar pakaian adat yang dikenakan orang-orang di grup kantorku. Sungguh totalitas. Sedangkan aku? Jadi wanita Bali, kataku sejak semalam. Tapi mana ada jegeg Bali yang berhijab?
Aduh pikiranku mulai tak karuan. Kegiatan memasakku jadi sedikit hilang fokus. Ditambah suara si kecil yang terbangun menangis minta gendong. Dan akhirnya aku telat datang. Tujuh lima belas aku belum juga datang. Rasanya motivasi berangkat langsung terjun bebas. "Aku tak ingin berangkat", kataku mantap.
Meski demikian, tanganku masih sibuk menyiapkan bekal anak dan suami. Hal-hal yang sebenarnya bisa di delegasikan. Pun biasanya suamiku akan menghentikanku dan menyuruhku berangkat. Tapi kali ini tidak. Sepertinya dia pun kewalahan.
Pukul tujuh dua puluh lima. Semuanya selesai. Aku yang sempat mondar mandir dua menit pun memutuskan untuk berangkat. Apapun konsekuensinya. Lalu, di atas motor aku merenung. Apa benar tidak apa-apa?
Pukul tujuh tiga puluh satu. Ah, sial. Presensiku telat satu menit. Aku lupa bahwa masih harus presensi manual. Tapi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Selamat makan. Selamat datang konsekuensi. Kan kupeluk erat semuanya.
Aku melajukan motor hingga ke lapangan. Jelas saja tak ada orang di parkiran. Hanya tersisa dua satpam yang menjaga kendaraan. Dengan setitik rasa gugup aku berjalan. Dari arah kanan, datanglah ibu-ibu berpakaian adat minang yang telat datang. Segera kususul langkahnya. Saat itu kulihat lautan manusia berjejer di lapangan hijau. Disaat yang sama, kami mendengar, "Dimohon peserta upacara untuk merapikan barisan karena upacara akan segera dilaksanakan."
Aku tercekat sepersekian detik. Perasaan lega yang besar mungkin nampak di mataku yang berbinar. Ah, memang ridho pasangan itu manis sekali.
KONSISTEN Dear #30haribercerita maafkan karena yang kukira mudah, ternyata ada saja halang rintangnya. Ternyata konsisten sesulit ini ya. Baru hari ketiga sudah absen bercerita. Awalnya kupikir tak butuh banyak waktu sekedar mengunggah kata-kata usang di catatan gawai yang kubawa kemana-mana. Nyatanya ada-ada saja yang merengek-rengek minta diselesaikan hingga hari terlewat begitu saja. Dear #30hbc2303 maafkan karena aku terlambat mengantarmu bertemu teman-teman lain yang sudah sampai lebih dulu. Bukan, bukannya aku tak suka dengan angka cantikmu. Jika boleh, ingin rasanya kuhentikan detik dan cepat-cepat aku mengantarmu. Jangan marah, sebentar lagi kita sampai di tujuanmu. Lihat, teman-temanmu dengan senyum merekah sudah menunggu. Malang, 4 Januari 2023 https://www.instagram.com/p/Cm_x_1lBkGv/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Why do you write?
To bring comfort to myself and others.
Nah, di luar sana kan sudah ada banyak tulisan yang bisa dibaca?
Tapi, kan tidak semua orang punya akses ke tulisan-tulisan itu. Tulisanku bisa diakses teman-teman di sini. Siapa tahu ada yang bisa ambil manfaatnya.
Jadi, mau tetap menulis?
Iya.
Kamu lupa, dulu tulisanmu, puisi-puisimu, sempat dibilang dan dianggap lebay. Kamu sampai malu untuk menulis lagi. Lama loh jedanya sampai kamu berani menulis lagi. Meski begitu, kamu masih mau menulis?
Iya. Setidaknya dengan menulis hatiku bisa damai. Ada kusut yang bisa urai. Tidak harus divalidasi orang lain. Asal bisa menjadi cahaya untuk diri sendiri, cukup. Jika ada manfaatnya untuk diri sendiri, cukup. Jika tidak memberi mudharat bagi orang lain, cukup.
Am. 030123.
Ia, bapak. Lelaki pertama yang mencintaiku tanpa karena, yang mencintaiku tanpa tetapi, yang mencintaiku dua puluh lima tahun ini dan seterusnya. Bapak adalah laki-laki pertama yang tidak pernah terima jika ada yang menggangguku. Pernah suatu ketika, waktu aku masih SD. (Masa kecilku agak nakal, tomboh dan sering berantem hihihi). Sepulang sekolah kakak kelasku melempar jambu air kena kepalaku, sampai rumah nangis kejer ngadu ke bapak. Besoknya pas si kakak kelas ini lewat rumah, di marahin habis-habisan sama bapak. Agak berlebihan memang kalau diingat-ingat. (read: ngalem) Masa kecilku, bapak jarang di rumah. Karena harus bekerja di Surabaya. Masih ingat jelas di memoriku, betapa gagahnya bapak waktu itu. Dengan kumis tebal, tubuh tinggi besar. Ah didekat bapak selalu membuatku merasa aman dan nyaman. Bapak seringkali membuatkan aku jagung bakar, ubi bakar, atau singkong bakar ketika hujan datang. Setelah itu, kami Kembali berbincang dan bapak banyak menceritakan masa kecilnya kepadaku. Iya, sedekat itu aku sama bapak. Kini usia bapak hampir 70 tahun. Tubuhnya mulai rapuh, belum lagi 19 tahun ini bapak mengidap penyakit diabetes gen. Tubuhya yang dulu kekar, kini kurus. Kulitnya yang dulu kencang, kini menyusut dan kendur. Jalannya yang dulu gagah, kini agak membungkuk. Dulu bapak yang selalu membongcengku kemana-mana, kini aku yang membongceng bapak ketika ingin pergi kemana. Dulu jemari tangan bapak selalu menggengam tanganku ketika menyebrang jalan, kini jemari tanganku yang menggenggam tangan bapak untuk menyebrang jalan. Bapak tidak pernah menuntut apapun dari aku, dari kakak-kakakku. Bapakku bukan seorang sarjana, tapi bapak selalu bisa apa yang tidak aku bisa. Sehat selalu pak, sehat selalu, ijinkan aku melukis lengkung senyum di bibirmu. Dari aku sibungsu yang mencintaimu, pak ❤️ ___________ #30haribercerita #30hbc23 #30hbc2303 (di Malang) https://www.instagram.com/p/Cm9rF-uvwSO/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Badanku pegal. Setelah melalui lima belas menit perjalanan darat, kini aku diharuskan transit selama kurang lebih satu menit di tempat ini hanya untuk sekedar menatap lampu lalu lintas yang warnanya tak kunjung berubah. Setelah ini, masih ada perjalanan empat puluh menit yang harus kulalui sambil menikmati suasana pergantian warna langit yang semakin gelap. Perjalanan yang lumayan jauh dan memakan waktu yang cukup lama untuk ditempuh. Rasa lelah acapkali datang yang membuatku berpikir tuk singgah hanya untuk sekedar beristirahat, namun tak kunjung kuturuti. Roda motor berputar semakin kencang selaras dengan tenaga yang kugunakan untuk menarik gas. Terus melaju di jalanan yang tidak selalu rata. Sesekali motor tersentak oleh lubang-lubang kecil di jalan dan menggoyangkan posisi dudukku yang sedang nyaman sehingga membuatku beberapa kali memperbaiki posisi sampai pada akhirnya mulai terlihat sebuah rumah sederhana namun begitu membahagiakan ketika melihatnya. Aku pun telah sampai di tujuanku dan dengan penuh semangat kutempatkan motor yang membantu perjalananku ke tempat yang semestinya. Segera aku memasuki sebuah ruangan, tempat dimana akan kulampiaskan segala lelah ini, sebelum esok hari harus melewati jalanan itu lagi. #30haribercerita #30hbc23 #30hbc2303 https://www.instagram.com/p/Cm9dEQUPz0R/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Membasuh Kekhawatiran dan Rasa Bersalah
Kekhawatiran memang bukan menjadi hal yang menyenangkan untuk dinikmati terus-menerus. Ada rasa yang ingin diselesaikan secepatnya, diinginkan jawabnya, ditemukan ketenangannya. Pun begitu dengan rasa bersalah, ntah itu karena sikap, omongan, atau bahkan sekadar akun sosial media.
Pagi ini hariku dimulai dengan rasa khawatir tentang birokrasi beasiswa dan kampus yang sedang kuperjuangkan. Keberangkatan Februari 2023 dengan sekebon berkas yang masih menunggu untuk disubmit ke pihak yang terkait rasanya jadi PR besarku belakangan ini. Kalo kata Mbapia “ga pernah ya kamu tuh hidup tenang, pasti ada aja yang menguji adrenalin”. Hahahah, kalo dipikir lagi ya benar rasanya. Seberapa besar usahaku untuk membuat zona nyaman dan tenang, akan selalu muncul hal-hal yang diluar dugaan dan bikin kerja jantung lebih rodi gitu.
Akhirnya kuputuskan untuk ikut Workshop Cell Culture di kantor agar menyamarkan rasa kekhawatiran itu. It was fun, aku bisa share knowledge ke peserta yang ikut, bisa ketawa ketiwi perihal pose berfoto, dan obrolan-obrolan sok dewasa yang biasa terlontar dari ucapan Yusi. By the wayyyyy, ngobrol sama Yusi tuh emang bisa bervariasi spektrumnya, apa aja relate gitu, sampai obrolan merasa jadi golongan paling kiri di antara golongan paling kanan. We had the similar experience!!! Inti obrolan sama Yusi ini merujuk pada “Panjang kerudung seseorang bukan parameter tunggal yang menentukan akhlaknya.” PADAHAAAl, that’s not as the way you think, tp gausah buang-buang energi untuk hal-hal yang ga memberikan pasokan energi untuk kita, just put it aside. Walau di awal kita kayak dibuat merasa bersalah gitu dengan yang ngomentarin. :’) pukpuk. Mari bergandengan tangan buat orang yang suka dikomentarin cara berkerudungnya.
Next, momen birthdaynya Mba Visit yang petjahh bgt serunya! Kolab dari SCTE dan IPT Sel punca yang buat jadi hebohh karena timnya rame juga ya, ditambah tingkah lucu dari orang-orangnya. We wish u all the greatest things in life, Mba coz you deserve it!
And the two last activities were on the same time, so I used double devices to attend this two meetings. First, we, PK-198 team, had our berryberry first meeting about our program. We discussed a lot of things and it was wrapped aroun 9.30 pm. Importantly, this program will be held around the third week of January so I must be ready to prepare myself with bunch of tasks as well.
Thenn, the second meeting was about preparing Kak Dhita and Bang Farras’ wedding. Wow, I couldnt believe that i was chosen to be the one who takes in charge on their wedding. I really appreciate it A LOT!!! Hopefully semua berjalan lancaar. Aamiin
Shooo… at this moment, I feel like Allah is very kind, Dia membasuh kekhawatiran dan rasa bersalah yang ku rasakan itu dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan yang memberikan energi positif dalam diriku. Kegiatan yang sampe malam ini juga akhirnya membuatku merasa tercerahkan dan excited untuk menghadapi hari-hari selanjutnya.
Last, believe in Allah and put all plans in His Hand, He will guide us. InsyaaAllah