When You’re Trying to Heal
... اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ
Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup.
Yang terus-menerus mengurus seluruh kehidupan.
Tidak pernah mengantuk. Tidak pernah tertidur.
Langit dan bumi milik-Nya. Apa pun yang ada di antara keduanya berada dalam genggaman-Nya.
Siapa yang bisa memberi syafaat tanpa izin-Nya?
Dia tahu apa yang telah berlalu dan apa yang akan datang. Pengetahuan kita tidak pernah melingkari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia izinkan.
Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan menjaga semuanya tidak pernah membuat-Nya lelah.
Dia Mahatinggi. Mahaagung.
Coba rasakan lebih dalam ayat kursi yg biasa diucapkan.
Ia membuat hatimu sadar bahwa tidak ada satu detik pun hidup ini berjalan tanpa Dia.
Dia bukan sekadar jauh di atas Arsy. Dia juga dekat. Dekat dengan tarikan napas yg tidak terdengar orang lain.
Muhammad bin Hatib pernah bercerita, ketika ia masih kecil, sebuah bejana berisi cairan mendidih terbalik dan membakar tangannya. Ibunya panik. Ia menggendongnya dan berlari ke rumah Rasulullah SAW.
Bayangin hidup di Madinah saat itu. Misal kamu butuh dokter, dan di sebelah rumahmu ada seseorang yg doanya selalu dikabulkan, ke mana kamu akan pergi?
Nabi Muhammad SAW berdoa, “Hilangkanlah bahaya itu, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, karena Engkaulah Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.”
Di situlah kita mengenal nama Allah Asy-Syafi, Yang Maha Menyembuhkan.
Dokter bisa mengobati, obat bisa membantu, tapi hanya Allah yang menyembuhkan.
Ambil sebab. Jangan menyembah sebab.
Kalau kamu punya uang, kamu akan mencari rumah sakit terbaik, dokter paling prestisius, prosedur paling canggih. Tapi Rasulullah SAW mengajarkan sesuatu yg lebih dalam. Tidaklah seorang Muslim menjenguk orang sakit lalu tujuh kali mengucapkan, “Aku memohon kepada Allah, Rabb Arsy yang Agung, agar menyembuhkanmu,” kecuali ia akan disembuhkan, selama ajalnya belum tiba.
Jadi siapa dokter sejatinya?
Bukan manusia dgn jas putih, tapi Rabb Arsy yang Agung.
Dan kl ajal memang telah tiba, doa itu ttp menyembuhkan.
Ia menyembuhkan dari dosa, dari hukuman, dari kesombongan.
Bahkan kdg, Allah menyembuhkan melalui penyakit itu sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, jgn mencela demam krn ia membakar dosa sebagaimana api membakar kotoran pd besi.
Sebagaimana Sang Pemberi Rezeki kdg memberi dengan membatasi, Sang Penyembuh kadang menyembuhkan dengan sakit, but in a different way.
Kamu begitu percaya kepada-Nya sehingga setiap takdir adalah terapi, selama kamu menerimanya.
A great doctor treats you so that you're even better than before, right?
Asy-Syafi bukan hanya menghilangkan sakitmu, tp Dia mengangkat derajatmu dan menghapus dosamu.
Think of this other scenario. Ketika Nabi Muhammad SAW sendiri sakit, Jibril turun dan bertanya, “Apakah engkau sakit, wahai Muhammad?”
Ia meletakkan tangannya dan membaca ruqyah. Menyebut nama Allah atas setiap rasa sakit, setiap kejahatan, setiap ‘ain.
Look how comprehensive this healing is.
And Allah knows that you've probably been through a lot and that you need to be put back together holistically.
Dan Sang Penyembuh itu bukan di dalam kapsul obat, Dia Rabb Arsy, yang lebih dekat daripada urat nadimu. Kl aja menghela satu napas berat, itu pun sampai pada-Nya as a cry from the heart.
And The Strong doesn't just give you strength.
The Healer mends you from within, and He is with you when you are sick.
Di hari kiamat nanti Allah akan berfirman, “Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku.”
Manusia akan berkata, “Bagaimana mungkin Engkau sakit, wahai Rabb semesta?”
Allah menjawab, “Hamba-Ku sakit dan engkau tidak menjenguknya. Seandainya engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku bersamanya.”
So the Healer is with the ill, healing in real time even with His presence.
Nabi Ibrahim berkata, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” Ia menisbatkan sakit kepada dirinya. Tapi menyandarkan kesembuhan hanya kepada Allah. Even the prophets knew that they couldn't heal themselves. Dan Allah bukan hanya menamai diri-Nya Penyembuh. Dia menjadikan Al-Qur’an sebagai penyembuh. “Kami turunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang beriman.”
It covers much more than a flu. Ia obat bagi kegelapan batin, jiwa-jiwa yang sakit...
Imam Ibn al-Qayyim pernah sakit di Makkah tanpa dokter dan obat. Ia mengobati dirinya dengan Surah Al-Fatihah. Ia melihat efek yang menakjubkan. Glory be to God, the same Surah you recite 17 times a day that heals spiritual darkness is also medicine for the body. When medicine works, He created its elements and properties. When it doesn't, He decreed a different door of healing for you. And the Qur'an is healing and mercy walking next to your medication, not replacing it, but blessing it..
But how do you make sure that your prayers shine even while in the midst of your illness?
Allah adalah At-Tayyib, Yang Maha Suci.
Indeed, Allah is pure, and He accepts only what is pure.
Dari-Nya tidak keluar kecuali kebaikan.
Kepada-Nya tidak naik kecuali sesuatu yang baik.
Dan tidak ada yang bisa mendekat kepada-Nya kecuali dengan sesuatu yang baik pula.
Karena itu kalimat “Laa ilaaha illa Allah” disebut sebagai kalimat yg paling suci, yang membersihkan penyakit syirik. Ia seperti obat yang membersihkan hati manusia dari penyembahan kepada selain Allah.
Ada pula sebuah riwayat yang sangat indah. Ketika seseorang berjalan untuk menjenguk org sakit dan mendoakan kesembuhannya kepada Allah, malaikat dari langit berseru kepadanya “Semoga engkau menjadi orang yang suci. Semoga langkahmu diberkahi. Dan semoga engkau menempati rumah di surga.”
Seolah-olah setiap langkah menuju org yg sakit dicatat sebagai perjalanan menuju surga.
Dan ketika orang2 beriman akhirnya masuk surga, mereka akan disambut dengan kalimat
“Salam sejahtera atas kalian. Kalian telah disucikan, maka masuklah ke dalamnya untuk selama-lamanya.”
Orang2 yg suci akan berkumpul dgn Yang Maha Suci. Yg indah akan dekat dgn Yang Maha Indah. Maka, jika Allah hanya menerima yg suci, lalu bagaimana dgn doa kita?
Sering kali kita memohon kesembuhan, meminta pertolongan, bahkan mendesak biar doa segera terkabul.
Tapi di saat yang sama, kita mengisi hidup dengan hal-hal yang tidak bersih.
Penghasilan yang meragukan, makanan yang tidak halal, niat yang tercampur riya, atau hati yang dipenuhi hal-hal kotor.
Nah, dgn dasar apa kita mengharapkan jawaban dari Allah, jika kita sendiri telah mencemari bekal yg kita bawa kepada-Nya?
Rasulullah SAW menceritakan seorang musafir lusuh mengangkat tangan dan berkata, “Ya Rabb, ya Rabb,” with signs of desperation, tp makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram. Dari mana doanya akan dikabulkan?
Jika ingin pintu kesembuhan terbuka, bersihkan kuncinya.
Suci penghasilanmu. Suci makananmu. Suci niatmu.
Jgn minta kesembuhan sambil memakan racun yg sama.
This is where people confuse two names. When we chase health and wealth, two of the greatest blessings after faith, we need to remember that we can't pit the names of Allah against each other.
You can't call upon Allah Ar-Razzaq for wealth and Allah Ash-Shafi for healing, but then ignore Him as At-Tayyib. Allah has demands of you in order to bless your prayers. And if you want that blessing to remain, then keep the means pure.
Lalu ada nama Allah Al-Mu'ti, Sang Pemberi. Al-Mu'ti is the Giver whose giving never runs dry.
Setiap hari setelah shalat kita membaca, “Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan.”
Allah memberi bukan hanya benda. Dia memberi keadaan.
Mampu tetap tenang saat cemas.
Lapang saat berita buruk datang.
Tetap kernih saat pikiran kacau.
Asy-Syafi mengangkat penyakit.
At-Tayyib menyucikan agar luka tidak terinfeksi lagi.
Al-Mu’ti memberi keadaan baru so that you don't get sick again. That's the rhythm of healing with Allah's names.
Tapi kt jg harus memperhatikan lingkungan dan konsumsi. Fisik, mental, spiritual.
Kalau tubuhmu diberi racun, ia sakit.
Kalau pikiranmu diberi kebisingan dan iri, ia gelisah.
Kalau mata telingamu hidup dlm kotoran, jiwa akan sakit.
Namun kabar baiknya, Nabi Muhammad SAW bersabda, setiap penyakit ada obatnya, termasuk penyakit hati.
Obat itu kadang pahit. But the one who can finally cure you can also prescribe a patience for you that can sustain you in the process. Kesembuhan sejati bukan ketiadaan rasa sakit, tp hadirnya ketenangan Allah di ruang yg dulu diisi oleh rasa sakit.
Ya Syafi, Sang Penyembuh yang tidak ada kesembuhan kecuali dari-Mu.
Sembuhkanlah aku dengan kesembuhan yang tidak mampu diberikan oleh obat ataupun manusia.
Jika ada penyakit yang menyentuh tubuhku, angkatlah ia dengan rahmat-Mu.
Jika ada dosa yang telah meracuni jiwaku, bersihkanlah ia bersama sakit yang Engkau angkat dariku.
Jadikan setiap rasa sakit sebagai pengingat akan kasih sayang-Mu, dan setiap kesembuhan sebagai jalan yang membawaku semakin dekat kepada-Mu.
Ya Tayyib, Yang Maha Suci, hanya menerima yg suci.
Sucikanlah hidupku agar layak diterima oleh-Mu.
Sucikanlah hartaku dari yang haram.
Sucikanlah ibadahku dari riya dan keinginan dipuji manusia.
Sucikanlah makananku, pakaianku, dan setiap jalan yang aku tempuh dalam mencari ridha-Mu.
Ya Mu'ti, Sang Pemberi yang tidak pernah habis pemberian-Nya. Engkaulah yang memberi kesehatan, ketenangan, dan kehidupan.
Jangan biarkan aku lupa bahwa setiap nikmat yg Engkau berikan adalah panggilan untuk kembali kepada-Mu.
Jadikan aku hamba yg bersyukur atas pemberian-Mu.
Hamba yang menerima dengan rendah hati, dan kembali kepada-Mu dengan penuh penghambaan.
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَاءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا