Rasanya perjalanan yang kulewati belakangan ini banyak memberikan pengaruh besar terhadap diriku yang sekarang. Hal-hal yang menjadikan aku lebih bisa dewasa dalam berpikir dan mengerdilkan diri dihadapanNya. Aku menjadi tak egois dan mampu berdikari atas kehebatan sendiri karena semuanya berkat pertolongan Allah. Laa hawla walaa quwwata illa billaah..
Minggu, 8 Januari kemaren aku mengantar Yusi ke Stasiun Pasar Senen. Bisa dibilang Yusi ini orang paling nyambung di kantor karena latar belakang kita hampir sama semua, sobi ideologisku wkwk ngobrol panjang lebar sambil makan ramen Sugakiya, aku nyeletuk "Jadi Yus, apa yang bisa kamu ambil dari 1 tahunan bekerja di Jakarta?", ga sangka ternyata pikirannya terenyuh sampe dia buat postingan di Instagramnya wkwk
Yus, sejujurnya akupun masih struggle untuk bisa berdiri atas prinsipku sendiri, atau bahkan masih kadang bergelut dengan pertanyaan "Aku nih punya prinsip ga sih dalam hidup?". Tak sering, namun beberapa kali, saat aku sedang berada di halte-halte kegalauan dalam hidup.
Aku ingat salah satu postingan dari Bang Safei Ridwan yang terus terngiang yang isinya tentang perkatan Prof. Hamka bahwa "Kita akan terus dipertemukan dengan apa yang kita cari". Rasanya dalem banget ya, kalo yang dicari popularitas, ya hanya sebatas itu aja. Langsung terbawa dalam alam bawah sadar, "aku ini ngejar S2 untuk apa ya?" Akhirnya aku harus balik ke grand design hidup yang coba aku rangkai lagi di awal tahun berkenaan juga dengan salah satu tugas PK-198 mendatang. (((Aah, aku jadi terkesima dengan tulisan di postingan Teh Qonit tentang Kemana Muara dari Gelar-gelar Kita dann juga dari Teh Istiichi :'D aaakk semuanya daging.)))
Ditambah, aku ingat juga salah satu highlight dari podcast Om Gita dan Ustad Faiz. Dalam podcast yang kudengar selama perjalanan menuju kantor, Ustadz Faiz mengatakan "Hidup boleh mengalir, tapi jangan tenggelam". Kalau dipikir-pikir, sejauh ini aku memang hidup mengalir... Qadarullah dapet beasiswa di UI, terus skrg dapet beasiswa LPDP, dan insyaAllah akan berangkat S2 di Eropa. Indah banget bukan Allah bawa aku ke aliran yang seperti ini? Aku bahkan tak pernah membayangkan akan sampai pada titik ini. Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Alhamdulillah Allah jaga aku untuk tidak tenggelam dalam gaya hidup dan pengaruh buruk yang mungkin ada di sekitarku selama di Jakarta. Allah jaga aku untuk terus berada di halaqah dan dikelilingi oleh orang-orang yang berusaha untuk taat pada Allah dan mengibadahi Islam sepenuhnya. Pun Allah jaga aku untuk terus memiliki semangat menjadi versi terbaik diriku dari hari ke hari dengan berbagai improvement yang mampu kulakukan. Hadzaa min fadhli rabbi...
Mungkin itu yang bisa ku sebut prinsip. What I value in my life. How I maintain this and that. How I build relationship with friends. How I woke up from my bad dream which turns out to be a wonderful dream. And many more. Prinsip itu ada untuk menjadi tolak ukur dasar minimum atas apa yangakan kita pilih, kita jalani, dan kita ibadahi.
Teruslah melakukan hal-hal secara sadar dan tak luput niat. Teruslah bergerak sesuai prinsip kehidupan. Dalam fisika, jika ada prinsip yang tak memenuhi hukum kentetuan, maka akan menajdi sebuah anomali. Begitu juga kehidupan, sekali kita lengah, tergeruslah kita dalam kesesatan. Semoga Allah jaga kita dan keluarga selalu.