Salah satu yang saya syukuri dari hadirnya Disney plus di Indonesia selain harganya yang terjangkau adalah, usaha disney buat menggaet vendor dari Indonesia sehingga ada film-film Indonesia yang tersedia di sana. Salah satunya adalah film favorit yang dulu hampir tiap malam sebelum tidur selalu diputar, Ayat-ayat Cinta. Yap, sejak Hooq sudah tidak mengudara, saya sudah berusaha mencari film ini di situs unduhan film namun tak jua ketemu. Terima kasih disney plus sudah mempertemukan kami (kembali).
Salah satu momen yang tak henti-hentinya membuat saya takjub adalah, momen ketika Fahry dipenjara. Di sana, ia mulai merasa putus asa. Difitnah orang yang ditolongnya, dikeluarkan dari Al Azhar, dan harus mendekam di penjara atas sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Fahry merasa dirinya sudah melakukan semua yang baik, lantas kenapa kemudian masih saja dia mendapat ujian yang amat berat?
Lalu ada seorang penghuni penjara yang ngasih reminder uwu, bahwa betapa sombongnya Fahry, kalau merasa bersebab ketaatannya lantas merasa gak layak untuk mendapat ujian seberat itu. Beliau lalu mengisahkan Nabi Yusuf, yang justru memilih jalan yang susah diterima akal, mendingan dipenjara dibandingkan harus berada dalam kebebasan tapi dipenuhi dengan ajakan kepada keburukan.
Saya jadi teringat kisah tentang ibu-ibu yang penuh perjuangan demi mendapatkan keturunan. Ada yang mengupayakan bayi tabung setelah mengumpulkan uang bertahun-tahun, ada yang harus keguguran, ada yang bertahun menanti tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Ketika diberi karunia dan titipan kehamilan dan hendak melahirkan pun, betapa ujian itu masih nyata beratnya. Saya masih ingat semasa stase kandungan dulu, ada ibu yang tak kunjung maju persalinannya, ada yang harus didorong, divakum, bahkan akhirnya harus melahirkan melalui proses sectio sesaria.
Sementara di media sosial, saya sering dapatkan berita mereka yang zina lalu melahirkan dan anaknya dibuang. Masih heran, apakah proses melahirkan mereka semudah itu? Apakah mereka tidak perlu suntikan oksitosin dan metil ergometrin? Siapa yang mengeluarkan ari-ari mereka? Kenapa semudah itu mereka mendapatkan keturunan padahal caranya salah, sementara banyak yang berusaha dengan semaksimal mungkin, dari niat baik hingga proses yang baik, kenapa justru ada banyak rintangan yang menyertai mereka?
Suatu masa pertanyaan itu ditanyakan pada salah seorang ustadz, beliau kemudian menjelaskan panjang lebar tentang konsep keberkahan. Bahwa bisa jadi pada perjuangan ibu itu ada berkah yang amat banyak. Ada banyak ujian, untuk meneguhkan. Ada banyak ujian untuk menggenapkan. Ada banyak ujian, agar sang Ibu semakin dekat dengan Sang Pencipta. Berbeda dengan remaja yang hamil dan melahirkan di luar nikah, bisa jadi nikmat menjadi ibu telah dicabut darinya. Ia tak lagi merasakan berkah dari perjuangan untuk menjadi ibu.
Saya kembali belajar banyak. Iya, kita tahu, bahwa kedekatan kita kepada Allah adalah salah satu wasilah agar kita lebih mudah mendapatkan pertolonganNya. Iya, siapa yang taat Allah akan bantu. Iya, siapa yang berbuat baik maka Allah akan membalas dengan balasan yang baik pula.
Tapi, bukan berarti dengan menjadi orang baik kita lalu lepas dari ujian. Bisa jadi ujian itu justru berat, bahkan lebih berat dari mereka yang banyak bermaksiat. Tapi disitulah kasih sayang dariNya, untuk meneguhkan kita, untuk menguatkan kita, untuk menggenapkan cinta, kasih, pasrah, dan harapan kita terharapNya.
Selamat terus berjuang dengan baik, di jalan yang baik. Jangan pernah lelah jadi orang baik meskipun banyak ujiannya, jangan pernah sekali-kali berpikir untuk menyerah, bisa jadi jalan yang terasa sulit itu ujungnya dipenuhi berkah, yang kelak membuat kita tersenyum penuh syukur.