(malam hari sehabis azan maghrib di depan gedung olahraga, tempat Chia latihan bulutangkis)
C : (mengangguk) duduk sini, Kak.
R : kok nunggu di sini, kenapa nggak di dalam?
C : lihat bintang dari sini lebih jelas. (menunjuk ke langit)
R : malam ini bintangnya kelihatan jelas, ya.
C : hmm. kok Kak Ra di sini? dari mana ke mana?
R : (tergagap) oh... aku dari, hmm itu beli kaset di depan. (menunjuk toko musik di seberang gedung olahraga)
C : malam-malam gini? rumahnya Kak Ra bukannya jauh ya dari sini. eh, kan kita searah.
R : iya, jadi, tadi belajar kelompok dulu. rumah temanku dekat sini. (meyakinkan Chia)
R : Chia, coba lihat ke sana. (menunjuk ke langit terlihat formasi bintang-bintang) kamu lihat kayak layangan gitu nggak?
C : ahh... itu rasi bintang kan? (memandang ke arah yang ditunjuk Ra)
R : betul. tepatnya adalah rasi bintang gubuk penceng atau crux, sebagai penunjuk arah selatan.
C : wah! Kak Ra keren! (mengacungkan dua jempolnya)
R : aku baca dari buku, Chia.
C : aku juga, lho. buku catatannya Pram, hahaha. eh, sama novel juga, kok.
R : tapi sebenarnya aku tahu rasi bintang itu karena temanku. dia nggak bilang itu rasi bintang crux. dia cuma bilang lihat ke arah selatan, nanti ada formasi bintang mirip layangan. terus katanya, itu tanda persahabatan kita.
C : wah... so sweet. (memperlihatkan ekspresi gemas)
R : gara-gara itu aku cari tahu tentang rasi bintang yang mirip layangan, ternyata nama resminya crux. dan rasi bintang layangan bagiku nggak cuma penunjuk arah selatan, tapi pengingat persahabatan kami.
C : terus sekarang masih bareng-bareng?
R : (menggelengkan kepala) jarang banget ketemu. udah beda sekolah. tapi kenangan masih di hati.
C : mau dong jadi sahabat Kak Ra. buka pendaftaran nggak?
R : terbuka untuk Chia. (membuka kedua tangannya, disambut pelukan Chia)
C : maaf Kak Ra, aku bau keringat. (melepaskan pelukan dengan cepat. mereka tertawa bersama sambil memandangi langit yang bertabur kilauan bintang.)