Rezeki
Salah satu keputusan terberani yang diambil dalam kehidupan ini adalah saat tahun 2020 yang lalu memutuskan untuk menikah.
Bagaimana tidak. Baru beberapa hari dinyatakan lulus S2, dan dengan situasi awal pandemi yang pekerjaan pun masih belum kunjung pasti, aku memberanikan diri datang ke rumahnya dan menemui orang tuanya langsung.
Seiring berjalannya waktu hingga akhirnya sekitar sebulan sebelum pernikahan tanpa disangka aku bisa diterima di tempat berkaryaku saat ini.
Sempat khawatir akan keuagan, terlebih gaji sebagai dosen yang awal awal sudah tentu sangat pas-pasan, tapi betapa benar janjiNya bahwa Allah akan membuka pintu rezeki bagi hambaNya yang menikah. Rasa-rasanya sangat tidak masuk akal terlebih 1-2 tahun terakhir saat diberikan amanah olehNya sebagai orang tua, entah mengapa selalu saja ada datang rezeki yang tak pernah disangka.
Maka benar jika ada ungkapan, jika rezeki kita telah dijamin olehNya, rezeki pasangan, rezeki anak, lantas mengapa justru kita seringkali menyibukkan mengejar rezekinya hingga lupa untuk mengejar Sang Maha Pemilik dan Pemberi Rezeki.
Hari berganti hari hingga tahun berganti tahun, begitu tak terasa waktu berjalan. Saat kita disibukkan dengan berbagai hal untuk mengejar rezeki duniawi, setiap minggu, bulan, atau tahun kita akan mengecek sudah seberapa tabungan kita, bagaimana cashflow pendapatan dan pengeluaran kita, padahal ia hanya sementara. Lantas seberapa sering kita berkontemplasi tentang tabungan pahala kita, cashflow antara pahala dan dosa yang kita perbuat, hingga apakah sudah cukup bekal untuk kehidupan pasca dunia nanti?
#30haribercerita #30hbc2403














