ah elah 2x nih gue misuhnya, udah nulis panjang lebar ternyata ke reload. dah males pankapan lagi aja. Bye!
seen from France
seen from Iraq

seen from Türkiye

seen from Hong Kong SAR China
seen from Israel

seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Canada
seen from China
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from China

seen from Syria
seen from United States
seen from Germany
seen from Germany
ah elah 2x nih gue misuhnya, udah nulis panjang lebar ternyata ke reload. dah males pankapan lagi aja. Bye!
Moss Rose
Akhirnya aku memilih jatuh suka dengan bunga ini. Tumbuh rendah tak mencari banyak perhatian. Saat matahari mulai menyapa, kecantikan warnanya mekar tanpa ragu. Mampu bertahan tanpa keluh. Tidak manja tapi dengan sabar daunnya menyimpan embun. Saat senja datang, dia menutup diri. Mempersiapkan keindahan untuk esok hari.
Surabaya | 3 Januari 2026, 21.08 WIB
Belajar itu, tentang mengosongkan gelas, tentang lapang dada menerima ilmu.
Belajar, sambil berdoa semoga suatu saat Allah berikan taufik & hidayahNya untuk dapat mempraktikkan ilmu.
Semangat 🌻
Note: ini adalah resume kelas Belajar Berclodi yang pernah aku ikuti akhir tahun 2020, kalau ada informasi terbaru/yang perlu direvisi bisa disampaikan ya teman-teman 🫰🏻
Terima kasih 🌸
Berulang Tahun
Setiap kali orang-orang terdekat berulang tahun, ada syukur dan doa yang lebih panjang terucap dari hari-hari biasanya. Sebab betapa baiknya Tuhan telah menghadirkan mereka pada hidup dengan segala naik dan turunnya.
Hari ini adalah salah satunya—salah satu manusia favorit saya bertambah usia. Semoga segala kebaikan terus menerus sampai padanya.
Pic: Putri and Nava in a hotel elevator in Bahçelievler, Istanbul.
Nava Naimatul Fariza| Jakarta, January 3rd, 2026
Orang baik ada di mana-mana.
Sejak kecil, aku selalu tertinggal dalam hal yang melibatkan tubuhku untuk bergerak. Meski tumbuh di era emas permainan tradisional semacam; gobak sodor, enggrang, bentengan, engklek, lompat karet, petak umpet, dsbg. Aku jarang sekali memainkannya. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain seni peran dengan setumpuk barbie kertas, barbie patung, hingga boneka. Mungkin juga karena aku selalu kalah. Entah mengapa tubuh mini ini kesulitan berkoordinasi dengan baik.
Aku juga sangat malu kalau disuruh lari. Dulu kalau waktunya olahraga dan disuruh lari apalagi maraton (sebenernya ga layak disebut maraton, tapi kita dulu nyebutnya maraton😅) aku pasti mencari alasan. Karena aku merasa kalau aku ga bisa lari. Teman-teman waktu itu selalu meanggapi dengan
Mana ada orang ga bisa lari, males aja kamu emang..
Dengan koordinasi tubuhku yang kurang baik itu, aku baru bisa naik sepeda kelas 4 sd dan baru berani bonceng orang kelas 6 sd (padahal belajarnya udah dari tk). Dan setelah mondok, lama ga naik sepeda jadi ga bisa lagi.
Bisa naik motor masa ga bisa naik sepeda sih?
Bahuku naik, alisku mengkerut, mataku berkedip-kedip sok imut, dan bergumam lirih "nyatanya begitu, udah pernah nyoba dan jatuh juga"
Naik motor? Tentu saja aku bisa mengendarai motor matic saat kuliah semester 3. Itu pun mau tidak mau harus dipaksa bisa demi dibolehin keluar pesma dan berangkat dari rumah.
Perjalananku mengendarai motor tentu saja tidak mulus, meski ga separah lupa matiin lampu sein atau sein kanan tapi belok kiri. Tapi berkendara di jalanan besar bersaing dengan kendaraan yang aku dan motorku hanya sebesar bannya, belum lagi para pemotor yang lebih mirip pembalap F1, tentu saja tidak mudah.Berkali-kali aku jatuh; entah jatuh sendiri atau dijatuhin kendaraan lain.
Tapi Alhamdulillah selalu ada orang baik yang nolong.
Pernah satu ketika, aku berangkat ke kampus dengan sekardus buku yang masih berupa lembaran karena belum dijilid. Di tengah jalan kardus itu jatuh dan lembaran buku di dalamnya berserakan di jalan.
Waktu itu jam 6/7 pagi, jam sibuk. Tapi orang-orang sama menepi, beberapa orang turun dari bis, orang-orang yg duduk di warung-warung sama berdiri dan membantu memungut lembaran-lembaran itu bahkan yang diterbangkan angin ke ujung jalan nun jauh di sana.
Aku yang masih shock, bingung, dan takjub ditenangkan, diminta duduk diberi minum.
Saat kesadaranku utuh, sepedaku sudah terparkir di depanku dengan kardus yang sudah ditali rapat entah oleh siapa. Aku bahkan tidak sempat berterimakasih pada orang-orang yang menolongku karena mereka terburu kembali mengejar waktu.
Abu Hurairah: Gudang Hafalan pada Masa Wahyu
Pada masa jahiliyah, namanya adalah Abdu Syams. Ketika memeluk Islam, Rasulullah saw memberinya nama Abdurrahman. Ia dikenal sebagai pribadi yang penyayang binatang dan memiliki seekor kucing kecil yang senantiasa menemaninya ke mana pun ia pergi. Dari situlah ia dijuluki Abu Hurairah—bapak kucing.
Nama Abu Hurairah tidak asing di telinga kaum muslimin. Kalimat, “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda,” begitu sering kita dengar. Ia memang merupakan perawi hadits terbanyak. Imam Syafi’i menyatakan bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak hafal hadits di antara seluruh perawi hadits pada masanya. Bahkan, Imam Al-Bukhari menggambarkannya laksana sebuah perpustakaan besar yang lestari dan abadi.
Allah menganugerahkan kepada Abu Hurairah kemampuan yang luar biasa: cepat mengingat dan sangat sulit melupakan. Ia cukup mendengar sekali, lalu menguasai dan menyimpan isinya dengan sempurna. Hampir tidak pernah satu kata pun terlewat dari apa yang ia dengar.
Abu Hurairah menyadari betul karunia tersebut. Karena itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk senantiasa mendampingi Rasulullah saw ke mana pun beliau pergi. Sejak memeluk Islam, Abu Hurairah hampir tidak pernah berpisah dari Rasulullah, kecuali ketika tidur.
Ada tiga rahasia yang membuat Abu Hurairah menjadi perawi hadits terbanyak. Pertama, ia adalah seorang fakir yang tidak memiliki harta atau tanah untuk diurus, sehingga memiliki waktu luang lebih banyak dibanding sahabat lainnya untuk menyertai Nabi saw. Kedua, ia dianugerahi daya ingat yang sangat kuat. Ketiga, ia mengimani firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 159.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua yang melaknat.” (Q.S. Al-Baqarah: 159)
Namun, Abu Hurairah merupakan ahli hafalan, bukan seorang penulis. Lalu muncul pertanyaan: bagaimana kita bisa memastikan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkannya tidak berkurang maknanya atau justru dilebih-lebihkan?
Marwan bin Hakam pernah berniat menguji hal tersebut. Ia memanggil Abu Hurairah dan memintanya menyampaikan hadits-hadits Rasulullah saw. Pada saat yang sama, Marwan memerintahkan seorang penulis untuk mencatat seluruh ucapan Abu Hurairah secara diam-diam di balik dinding. Setahun kemudian, Marwan kembali memanggil Abu Hurairah dan memintanya mengulangi hadits-hadits yang pernah ia sampaikan. Hasilnya, tidak satu kata pun terlupa atau berubah.
Abu Hurairah adalah contoh nyata dari sabda Rasulullah saw, “Khairunnas anfa’uhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ia menggunakan bakat yang Allah anugerahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Bahkan, demi memusatkan hidupnya untuk menyertai Rasulullah, ia pernah merasakan lapar yang begitu perih yang tidak pernah dirasakan oleh orang lain.
Kerja keras dan pengorbanannya membuahkan hasil berupa umur yang panjang. Raganya telah tiada, namun namanya terus hidup, senantiasa disebut mengiringi sabda Rasulullah saw. Bakat yang dipadukan dengan kerja keras itu menjadi teman setianya hingga liang lahat: sebuah amal panjang, yakni amal jariyah.
Pertanyaannya...
Sebagai sesama muslim, sudahkah kita memaksimalkan karunia yang Allah swt titipkan kepada kita?
Amalan apa yang telah kita siapkan?
Atau jangan-jangan kita termasuk golongan yang sering disebut dalam Al-Qur’an; sebagai orang-orang yang lalai?
Na‘udzubillahi min dzalik.
Ternyata sudah 8 tahun berlalu sejak pertama kali mengenal @30haribercerita. Waktu yang—kalau dipikir-pikir cukup lama juga hanya untuk sekadar mengikuti sebuah akun.
Tapi ini memang bukan soal akunnya semata. Yang membuatku bertahan adalah isi ceritanya banyak karakter, jujur, dan sering kali ngena. Rasanya seperti sedang membaca potongan hidup sendiri. Hehee
Jadi ingat satu kutipan di stiker Ani dan Budi "Hidup ini sederhana, ceritanya yang hebat-hebat." Oh iya, stikernya bisa kalian dapati di @toko30hbc (promosi dikit nggak apa-apalah ya 😄).
Lebih tepatnya sekitar Juli 2017 scroll, baca, scroll lagi, baca lagi. "Kok bisa ya orang-orang seberani ini bercerita?" Ada kisah tentang patah hati, kenangan dan masa kecil, tentang buku, dan hal-hal kecil yang biasanya kita simpan sendiri.
Salah satu yang paling aku ingat adalah tema ke-15 tentang "Lagu Untukmu."
"Lagu adalah cara yang menyenangkan untuk mengungkapkan perasaan dan merayakan kejadian."
Dan iya, rasanya benar. Kadang ada perasaan yang sulit diucapkan, tapi bisa dirayakan dengan suatu lagu.
Waktu itu aku tidak ikut menulis, kadang cuma jadi pembaca setia yang diam-diam menikmati cerita orang lain. Tapi dari sana aku menyadari, bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk bercerita, ada yang lantang, ada yang pelan. Dan semuanya sah. Tidak harus indah, tidak harus rapi.
Dan hari ini ayok kita menulis.. 😁
—