Dan doa apa lagi yang perlu disempatkan?
Apa saja, apa saja yang masih kurang dibenahi. Mendoakan diri sendiri juga perlu.
Iya, kadang kala lebih sering menyematkan perihal lain. Merasa diri sudah cukup sementara, sampai banyak ngeluhnya baru sadar.

shark vs the universe

oozey mess

No title available
Keni
🩵 avery cochrane 🩵
Three Goblin Art
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
tumblr dot com
Sade Olutola
he wasn't even looking at me and he found me
we're not kids anymore.
Cosmic Funnies
Monterey Bay Aquarium

Kaledo Art
wallacepolsom

blake kathryn
official daine visual archive
cherry valley forever
Mike Driver

⁂

seen from Latvia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Brazil

seen from Cambodia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@em-a-er
Dan doa apa lagi yang perlu disempatkan?
Apa saja, apa saja yang masih kurang dibenahi. Mendoakan diri sendiri juga perlu.
Iya, kadang kala lebih sering menyematkan perihal lain. Merasa diri sudah cukup sementara, sampai banyak ngeluhnya baru sadar.
Perihal Pilihan
Menikah sering kali kita sebut sebagai pilihan. Tetapi, jarang kita benar-benar berhenti untuk bertanya: pilihan siapa? Apakah ini keputusan yang lahir dari kesadaran, atau sekadar jawaban atas pertanyaan yang terus diulang oleh pikiran kita sendiri?
Dalam pernikahan, hidup tetap menawarkan opsi. Bahkan di titik paling sulit, selalu ada kemungkinan untuk memilih: bertahan, berubah, atau mengakhiri.
Ketika seseorang merasa tidak punya pilihan apa pun, mungkin yang perlu dipikirkan ulang bukan keadaannya, melainkan kepemilikannya.
Perihal usia mungkin pernah melibatkan pemilihan dari beberapa pilihan—berjalan seperti biasanya atau waktu yang akan mendesaknya, setidaknya agar tidak ada dua kemungkinan yang diterimanya.
Mungkin menikah bukan kewajiban yang harus dikejar, melainkan perjalanan yang perlu disiapkan, sebab yang akan melangkah di tanjakan dan turunan itu bukan siapa pun selain diri sendiri.
Jika hari ini belum sanggup, tidak apa-apa berhenti sejenak. Membekali diri, dan menguatkan hati. Karena kehilangan waktu bukanlah masalah, bisa jadi yang lebih menakutkan adalah kehilangan hak untuk memilih.
—
Ternyata sudah 8 tahun berlalu sejak pertama kali mengenal @30haribercerita. Waktu yang—kalau dipikir-pikir cukup lama juga hanya untuk sekadar mengikuti sebuah akun.
Tapi ini memang bukan soal akunnya semata. Yang membuatku bertahan adalah isi ceritanya banyak karakter, jujur, dan sering kali ngena. Rasanya seperti sedang membaca potongan hidup sendiri. Hehee
Jadi ingat satu kutipan di stiker Ani dan Budi "Hidup ini sederhana, ceritanya yang hebat-hebat." Oh iya, stikernya bisa kalian dapati di @toko30hbc (promosi dikit nggak apa-apalah ya 😄).
Lebih tepatnya sekitar Juli 2017 scroll, baca, scroll lagi, baca lagi. "Kok bisa ya orang-orang seberani ini bercerita?" Ada kisah tentang patah hati, kenangan dan masa kecil, tentang buku, dan hal-hal kecil yang biasanya kita simpan sendiri.
Salah satu yang paling aku ingat adalah tema ke-15 tentang "Lagu Untukmu."
"Lagu adalah cara yang menyenangkan untuk mengungkapkan perasaan dan merayakan kejadian."
Dan iya, rasanya benar. Kadang ada perasaan yang sulit diucapkan, tapi bisa dirayakan dengan suatu lagu.
Waktu itu aku tidak ikut menulis, kadang cuma jadi pembaca setia yang diam-diam menikmati cerita orang lain. Tapi dari sana aku menyadari, bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk bercerita, ada yang lantang, ada yang pelan. Dan semuanya sah. Tidak harus indah, tidak harus rapi.
Dan hari ini ayok kita menulis.. 😁
—
Menjadi seorang Ayah adalah harapan, dan perjuangan baru saja dimulai di episode berikutnya.
Jujur, aku masih sering bingung memulainya dari mana. Kadang masih bertanya dalam hati, "Beneran ya, sekarang aku menjadi seorang ayah?" Tapi setiap kali menatap raut wajah kecil itu, semua rasa ragu perlahan berubah jadi tekad dan mulai memahami bahwa hidup rasanya langsung bergeser arah, tanpa aba-aba.
Malam itu, sekitar jam 1 dini hari, tangisnya membangunkan kami lagi. Dengan mata berat dan badan setengah sadar, sedikit lemas aku menggendongnya.
"Ututu tuu.. anak papah sudah bangun.." gumamku sembari membuka popoknya. "Owalah.. ternyata penuh, pantas kebangun." Tangannya bergerak ke sana kemari, mukanya agak manyun. "Sabar ya, Nak, bentar lagi selesai," kataku, walau sebenarnya aku juga lagi belajar sabar, pelan-pelan melepas popoknya.
Popok sudah diganti, ia masih gelisah. Aku melirik ibunya. "Mah, kayaknya lapar ini.." kataku pelan. Saat ia mulai menyusu, suasana mendadak tenang, sedikit menggeram menikmati ASI di tengah malam.
Aku mulai bergeser di sampingnya, menatap wajahnya yang lucu dan imut. Dalam hati aku membisik, ternyata kebahagiaan bisa sesederhana ini ya. Mata sayup-sayup diselimuti malam sunyi, bayi menyusu, dan kami bertiga saling menguatkan tanpa banyak kata.
Di momen-momen kecil seperti ini aku mulai paham, bahwa menjadi Ayah itu bukan soal hebat atau sempurna. Tapi tentang kemauan bangun di tangah malam walaupun dalam keadaan lelah, mau belajar walau sering salah, dan tetap hadir meskipun masih belum tahu harus memulainya dari mana.
Mungkin nanti aku akan lupa detailnya seperti apa, tapi perasaan ini disaat lelah, haru, dan cinta yang campur aduk, rasanya akan selalu tinggal dan membersamai dalam kehangatan.
Pelan-pelan mulai terbiasa dengan rutinitas baru ini. Jam tidur berantakan, badan sering pegal, tapi anehnya hati justru terasa penuh dengan makna. Rasa bangga setiap kali berhasil menenangkannya, meski hanya dengan gendongan sederhana atau suara yang sebenarnya juga masih gemetar. Di situ aku belajar bahwa, ternyata cinta dan kasih sayang bisa tumbuh seiring lelah yang diterima tanpa syarat.
Perjalanan ini masih panjang, dan aku pasti akan sering salah langkah; kurang tepat waktu, atau bahkan lainnya yang belum aku pernah laluinya. Aku yakin, dalam setiap doa yang terucap diam-diam, ada harapan besar yang kurapalkan untuknya. Semoga kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang baik, dan semoga aku diberi kekuatan untuk terus belajar menjadi ayah yang ia butuhkan, bukan yang sempurna, tetapi yang selalu ada untuknya, dan kasih sayang ke istri. ❤
Surabaya | 2 Januari 2026
Menguatlah lebih lama lagi, Bunga.
Apa kabar, Bunga? Baik-baik ya di sana?
Perihal waktu; kapan akan bertamu—sudah menjadi urusan-Nya, cepat atau lambatnya. Sebagai perantara, aku lantangkan segala upaya, sebab rinduku juga rindumu. Semoga kita dipertemukan dalam kasih dan sayang.
Perihal lika-liku, biarkan menjadi urusanku untuk melawan. Sepenuhnya!
Ingin menyerah, merebah dari segala kepenatan hari yang tidak beraturan. Tapi keadaan berkehendak lain. Menyuruhku tetap bersabar dan tetap kuat. Sembari melapangkan hati yang lebih luas, menetapkan niat kembali pada Sang Pencipta—barangkali bersyukur bisa menyembuhkan rasa penat di benak, menikmati lagi segala yang sudah dikehendaki, mengingat dari apa-apa yang harus disyukuri.
Sedikit lagi atau masih panjang. Tetaplah bertumbuh untuk segala asa.
Bang, gimana ciri2 laki-laki yang sudah selesai dengan dirinya sendiri?
Kita itu sebagai manusia tidak akan pernah selesai dengan diri kita sendiri. Sebab manusia itu dinamis: bisa maju, bisa mundur, bisa di atas, bisa di bawah. Orang yang kita kira saat ini maju, bisa jadi di depan nanti dia mundur. Yang saat ini di bawah, kelak akan di atas. Orang yang saat ini kita lihat sempurna, damai, penuh kebahagiaan, tidak ada yang menjamin ke depannya akan seperti itu juga.
Saya pribadi tidak terlalu suka menggunakan istilah "selesai dengan dirinya sendiri". Saya lebih memilih menggunakan frasa "pembelajar". Orang yang terus belajar.
Jadi, ketika dia punya masalah pribadi, dia bisa menyelesaikannya dan menjadikannya sebagai pelajaran. Apakah ada jaminan masalah itu tidak kembali muncul? Tidak juga. Tapi, karena dia sudah belajar dan siap untuk menghadapinya, masalah itu akan jadi hal yang biasa. Orang (laki-laki) "yang sudah selesai dengan dirinya sendiri" menurut versi saya adalah dia yang menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan dia siap untuk menghadapinya di masa depan.
Ada satu momen yang paling penting untuk diketahui; adalah kisah silam yang antah-berantah, berapa kisah lagi yang harus kita kalahkan saat ini?!
"Apa kabar tara?" Kita awali lagi dengan kabar. Satu-satu dulu, kabar baiknya kita menuju jawaban atas pertanyaan orang lain yang sempat kita bersembunyi. Menoleh kebelakang, perjalanan kita akhirnya akan menjadi lebih dari kata indah..
Yah, kita sedang hadapi satu momen lagi.
pov: you're thumbelina (via)
Villa Este | Tivoli
September 2015
Sabar, semoga baik-baik saja.
Sebenarnya, tidak ada orang yang kehilangan semangat dan patah hatinya. Ia hanya berada di tempat yang jiwa dan pikirannya tidak menginginkan itu.
Berat memang. Dan bisa jadi itu adalah kondisi kita hari ini. Dan saat itu pula ia mulai bertengkar antara rasa dan pilihannya, antara waktu dan dirinya sendiri.
Tidak apa-apa. Sabar, semua akan berlalu.
@jndmmsyhd
Prasangka baik itu menjadi obat bagi keadaan yang terlihat menyakitkan.
Seorang kepala perusahaan berkata pada pegawai yang akan diberhentikan: "Bagaimana menurutmu jika kami tidak mempekerjakanmu atau kamu kami pecat?"
Pegawai ini menjawab: "Tidak apa-apa. Itu artinya Allah akan menempatkan seseorang yang lebih baik dariku untuk tempat ini, dan menempatkanku di tempat yang lebih baik dari tempat ini."
Ketika kita bisa menempatkan husnudzon (berbaik sangka) pada Allah, maka akan hadir ketenangan jiwa, akan datang pula ketenangan hati bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk hambanya.
@jndmmsyhd
Seberapa kuat kita akan menghadapinya. Maka, bersabarlah dengan sabar yang baik. :)
yumiko_o_
Menata Rumah
Barangkali hari ini ada yang hatinya sedang berantakan dan tidak layak untuk dihuni, tersebab suatu kejadian yang harus ia hadapi. Tidak apa-apa jika harus berantakan, namun jangan lupa untuk segera berbenah dan merapihkan kembali.
Hati itu layaknya rumah, tempat dimana seharusnya kamu bisa mendapatkan ketenangan, tempat dimana kamu bisa beristirahat dari bisingnya dunia luar yang begitu ganas.
Dan seorang yang luar biasa adalah ia yang bisa menata hatinya setelah tercabik-cabik bahkan hancur karena suatu pertengkaran atau kejadian yang begitu menguras rasa dan hati.
Jangan lama-lama dibiarkan berantakan rumahnya, kasihan jiwamu jika ia pulang ke rumah tapi didapati dalamnya tidaklah nyaman untuk dihuni atau dijadikan tempat istirahat.
Menangis sesaat boleh, bersedih dan meratapi sebentar boleh, tapi kemudian sudahi dan mulai berbenah.
Sebab kamu dan hati punya hak untuk kembali tenang dan kembali berjalan.
Selamat menata hati, menata rumah.
@jndmmsyhd
Sepanjang apapun malam, tetap saja akan tiba pagi hari. Meski pun kamu berusaha menghalangi matahari, ia akan tetap datang dan terbit, karena begitulah takdir telah ditetapkan.
Hidupmu pun sama, seberapa kerasnya kamu berusaha untuk selalu bahagia, tetap saja akan datang masanya kamu sedih dan susah. Begitulah cara Allah mengatur hidup ini.
Ada masanya kamu bahagia, ada masanya pula kamu bersedih. Hidup ini pergantian, dan sandarkanlah segala hidupmu kepada-Nya. Sebab Allah yang menghidupkanmu, maka Dia pula yang akan menghidupimu.
@jndmmsyhd