30haribercerita kali ini adalah tentang sebuah kehilangan. . Tidak ada ayah yang benar-benar jujur mengatakan bagaimana perasaannya ketika ditinggalkan putrinya untuk menikah. . "Bahagia, sedikit sedih." Sudah. Begitu saja katanya. Bagaimana isi hatinya, tidak ada yang mampu menerka. Mungkin baiknya tidak perlu tau. Mungkin ada luka. Patah hatinya. . Sehari, dua hari.. belum ada yang berubah. Satu minggu tidak bersama, barulah tersadar di rumah itu tidak ada lagi gadis kecilnya. Ia sudah diambil orang. Laki-laki yang dengan gagah menemuinya, meminta ijinnya untuk meminang putri tersayangnya. . "Rasanya ada yang hilang. Seperti dicuri." Tuturnya. Seringkali, pandangan matanya jatuh pada sudut itu. Kamar putri sulungnya. Ada rindu yang tidak diungkapnya dengan lantang. Hanya lewat sorot mata sayu penuh cinta. Siapa yang melihat, akan turut rasakan getir yang ia tahan. . "Dia akan pulang." Kata bunda, coba tenangkan gundahnya. . "Iya. Tapi sudah bukan milik kita lagi." Lirihnya. Hingga ia hanya bisa menerima. Mengikhlaskan. Meyakini bahwa restunya tidak salah diberikan. Kehilangannya tidak berarti apa-apa, asalkan putri kecilnya bahagia. Ia yakin, si sulung bahagia. . . . . Iya. Aku bahagia. Teramat sangat. Keputusanmu tidak salah. Laki-laki ini melengkapiku, mengutuhkan aku, menjadikan aku seorang ibu. Aku tidak akan memintamu untuk tidak khawatir. Karena aku tau, ayah tetaplah seorang ayah. Dan anak tetaplah seorang anak. Bagaimanapun.. kasih ayah terhadap putrinya tidak semudah itu diputuskan dengan sebuah pernikahan. Aku paham. Aku hanya minta... selalu berbahagialah bersama kami. . Aku tau, ayahku tidak pandai tunjukkan isi hatinya. Namun aku paham benar, jauh di dasar hatinya ia lega. Ia ikhlas. Ia percaya, laki-laki yang jadi suamiku takkan teteskan satu air mata pun di pipiku. . Untuk seorang ayah terhebat. Cinta pertama. Cinta terbaik. . . . #30hbc1721 #30hbckehilangan . . . - Gratia, yang akan selalu jadi putrimu . Sariwangi, 21 Januari 2017