antre
Tadi pagi kami bertiga menuju toserba di pasar di dekat rumah. Ibra mendapat reward untuk membeli mainan yang dia suka. Dan (untungnya) pilihannya jatuh ke sebuah mobil derek (karakter di cars, namanya mater) berharga murah (hanya 11000 :"D). Saat kami tanya kenapa memilih itu? Dia jawab: "karena ibra belum punya mobil derek di rumah". Okelah kami setujui dan karena harganya murah juga :"D
Ibra pun semangat untuk membayarnya ke kasir. Antri dengan tertib. Tiba-tiba ada seorang ibu yang menyelak antrian ibra. Mba-mba kasir juga sepertinya ga lihat, ibu itu menyelak sehingga ibu itu dulu yang dilayani. Spontan ibra melihat saya (saya berdiri agak jauh), saya bisa merasakan mungkin maksudnya mau bilang "kenapa ibu-ibu itu nyelak, padahal ibra udah antri?".
Saya dekati ibra, dan akhirnya kami dilayani setelah ibu itu. Ingin rasanya menegur, tapi ibu itu buru-buru berlalu.
Mudah-mudahan kejadian ini tidak membuat ibra kapok antri. Kejadian ini menjadi catatan bagi saya, supaya bisa briefing ibra, apa yang harus dilakukan jika terjadi seperti ini lagi.
***
Hikmah:
- terkadang manusia dewasa sendiri yang merusak suatu nilai pada anak. Misal seperti kejadian ini, mungkin di rumah anak diajarkan tentang antre, tapi jika di luar terjadi pengalaman yang tidak mengenakkan, anak bisa saja berubah pikiran atas nilai yang sudah ditanamkan di rumah.
- anak-anak itu individu yang juga harus diakui eksistensinya. Jangan karena dia anak-anak, jadi disangka tidak mengerti tentang antre, dimana secara logika orang dewasa lebih paham. Tapi nyatanya banyak juga dewasa yang tidak paham.
- anak-anak itu belajar dari orang dewasa sekitarnya. Ingin anak antri, sudahkah kita memberikan teladan? Hal ini juga berlaku mungkin untuk kasus lain, seperti: ingin anak tidak marah-marah, sudahkah kita mencontohkan emosi berupa sabar? Dll
***
#ntms untuk membekali ibra nilai-nilai, karena pada dasarnya, saya tidak akan terus bersamanya :') #duhbaper












