Tak ada yang menyaut. Sepertinya masih Hana belum pulang. Dinda membuka sepatu musim dinginnya. Ini pertama kalinya bagi Dinda merasakan musim dingin. Begitu pula pertama kalinya bagi Dinda jauh dari keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Di sebulan pertama Dinda merantau, Ia menangis rindu hampir setiap hari. Kalau bukan bersama Hana, mungkin Dinda sudah terbang kembali ke Indonesia. Mereka saling menguatkan selama mereka berkuliah di New Zealand.
Dinda langsung menaruh tas ransel bunga-bunga favoritnya di meja belajarnya. Ia kemudian memandangi foto-foto yang gantung di dinding di atas meja belajarnya. Foto-foto bersama dengan Hana dan empat teman lainnya dari Indonesia. Mereka sering mengunjungi tempat-tempat indah atau hanya sekedar berkumpul dan makan-makan bersama. Berada di negara asing dengan mereka, sedikit mengobati kerinduan Dinda terhadap kampung halamannya. Setidaknya ia tidak merasa sendiri disini. Ia lalu memandangi foto di dalam bingkai kecil berwarna putih.
Didalamnya ada potret Dinda bersama Bapak, Ibu dan Alif di pagi hari sebelum Dinda pergi merantau. Bapak dan Ibu sedan memeluk Dinda sedangkan Alif berpose girang didepan mereka sambil berjongkok. Dinda tersenyum. Ia tidak menyangka sebelum bisa sedekat ini terdapat kejadian dimana momen tersebut menjadi titik balik bagi hubungan Dinda dan orang tuanya. Dinda jadi merasa sendu karena rindu keluarganya terutama Ibu.
Dinda segera mencari handphone di dalam ranselnya.
Incoming video calls: Ibu
Panjang Umur! Baru saja aku memikirkannya lalu Ibu menelpon. Muka Dinda seketika sumringah. Dinda menggeser tombol hijau dilayarnya. Dinda tekejut. Layar handphonenya dipenuhi separuh wajah Bapak dari dahi hingga kumisnya. Dinda terkekeh melihat tingkah bapak yang selalu menelpon dengan handphone Ibu dan selalu menaruh handphonenya sedekat itu dengan wajahnya.
"Assalamu'alaikum Din. Lagi sibuk tidak?" tanya bapa. Lucunya, di layar hanya kumis bapa yang bergerak naik turun.
"Wa'alaikumussalam pak. Ngga nih, baru aja sampe apartemen. Kenapa bapak lagi kangen aku yah?" tanya Dinda jahil.
Bapak hanya tersenyum. Dinda anggap itu sebagai jawaban iya. "Gimana kuliahmu?" balas bapak mencoba mengalihkan pertanyaan barusan.
"Alhamdulillah lancar pak. Bapak udah makan siang? Disana baru saja Zuhr kan?"
Jika hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu, Dinda tidak bisa berbicara sesantai itu dengan Bapak. Momen Dinda pingsan di depan ruang tv merubah semuanya.
Tepat setelah badan Dinda menggelepar di lantai Ibu berteriak histeris. Ia mulai menangis sambil memanggil Bapa. Alif tiba terlebih dahulu.
"Bu! Kak Dinda kenapa bu!" Alif membalik badan Dinda supaya bisa memeriksa keadaannya. Tidak ada luka benturan atau yang lainnya. Alif mengecek nadi dan nafas Dinda. Ibu masih menangis kebingungan. Tak lama bapak datang tak kalah paniknya. Bapak bertanya pada Alif dan Alif menjawab
"kayaknya Kakak pingsan pak."
"Lif, carikan kunci mobil, kita bawa kakak ke klinik didepan komplek. Ibu tenang dulu yah bu kita ke klinik dulu bareng-bareng." Bapak terlihat tenang namun air mukanya mengguratkan kepanikan. Bapak kemudian membopong Dinda ke mobil untuk dibawa ke klinik.
Tak lama kemudian Dinda tersadar. Ibu, Bapak dan Alif bernafas lega. Menurut keterangan dokter, benar Dinda hanya pingsan dan mengalami dehidrasi. Dokternya pun bertanya apakah Dinda terlihat lelah, banyak pikiran atau stress akhir akhir ini. Ketiganya saling tatap dan menggeleng tidak tahu. Alif hanya memberitahu Dinda akhir akhir ini sering lembur di pekerjaanya.
Dinda diperbolehkan pulang malam itu juga. Dinda masih lemas. Ibu menawarkan Dinda makan atau sekedar minum teh hangat. Namun, Dinda meminta untuk langsung istirahat. Ibu mengiyakan dan menemaninya sampai Dinda benar-benar terlelap. Malam itu tidak ada yang membicarakan tentang pingsannya Dinda.
Keesokan harinya, Dinda yang harus istirahat dirumah, mendadak menjadi permaisuri. Ibu langsung membuat bubur kacang hijau untuk Dinda. Bapak menawarkan Dinda bila ingin memesan makanan via aplikasi daring. Alif yang biasanya tidak pernah keluar kamar, kini berdiam di kamar Dinda meski hanya sekedar menjadi teman mengobrol kakaknya.
Selepas sholat maghrib, Dinda sudah merasa enakan. Bapak yang sigap bila aku membutuhkan sesuatu, Ibu yang dengan cekatan menyiapkan makanan dan minuman yang membuat Dinda lebih bertenaga juga Alif yang menghibur Dinda dengan guyonannya. Dinda sudah lama tidak merasakan kehangatan itu dirumahnya. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Pikirannya tak sepenat kemarin. Ia merasa ini saat yang tepat untuk mengurai kekusutan ini.
"Mau kemana kak?" tanya alif yang sedang membaca novel dikamar Dinda.
"Keluar aja, bosen liat kamu terus. Ayo ikut sini Kakak mau ngomong sama Ibu sama Bapak juga"
Bapa dan Ibu sedang asyik menonton talkshow kesukaan mereka. Bapak melihat Dinda keluar dari kamar.
"Udah enakan Din? Mau makan sesuatu?" Bapak menoleh dan bertanya pada Dinda.
"Udah, Pak. Masih kenyang juga aku. Mau duduk disini saja sama Ibu sama Bapak." balas Dinda.
Akhirnya mereka berempat berkumpul di ruangan yang sama.
"Dinda mau ngomong sesuatu, Pak, Bu, Lif" Ibu segera mencari remote tv dan mematikan televisinya. "Maaf ya Dinda kemarin bikin heboh sekeluarga padahal cuma pingsan doang. Jadi sebenernyaa kemarin tuh...."
"Ibu yang minta maaf ya Dinda." Ibu memotong Dinda yang belum selesai berbicara. Suaranya sudah bergetar menahan sedih. "Ibu sudah denger semuanya dari Alif. Maafin Ibu menuduh Dinda ini itu..." tangisan Ibu pecah. Dinda bergeser mendekati Ibu sambil merangkul dan mengusap-usap pundak Ibu.
"Nggapapa Bu. Udah Ibu gaperlu sedih. Dinda kan sudah ngga kenapa-napa sekarang." Dinda mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis.
"Kak Dinda, aku juga minta maaf yah, pasti karena kakak memberikan tabunganya untuk kelas desain kemarin, Kakak pasti jadi pusing." Air mata Dinda akhirnya menerobos keluar melihat Alif yang ikut menangis. Suasananya jadi haru. Dinda pun bertukar pandang dengan Bapak
"Bapak juga ingin minta maaf Din soalnya Bapak..... soalnyaa bapak sering.... sering.."
"Iya pak, Dinda ngerti kok." Dinda tersenyum sedikit melihat Bapak yang terbata-bata. Dinda mengerti juga maksud Bapak. "Udah yuk sedih sedihnya." Dinda mencoba menepikan keharuan di ruangan tv ini. "Tuh liat aku juga tersenyumkan" Dinda tersenyum dengan lebar namun air matanya masih keluar. Tanpa Dinda sadari juga, ingusnya pun ikut keluar menggantung di lubang hidungnya. Ia sontak mengusap ingus dari hidungnya. Namun terlambat. Bapak , Ibu dan Alif yang melihatnya sudah tertawa melihat hal tersebut. Dinda pun ikut tertawa malu.
Setelah mereka agak tenang, Dinda membuka pembicaraan kembali
"Harusnya aku yang meminta maaf. Aku tau bapak, Ibu dan Alif begitu khawatir, sayang dan peduli sama aku. Bapak ingin pekerjaan terbaik untukku, Ibu ingin aku segera menemukan pasangan dan Alif pun mencoba membantu ku mencari pasangan. Tetapi aku tidak bisa mewujudkan atau mengiyakan itu semua. Aku sudah memutuskan untuk mengejar mimpiku Pak, Bu, Lif."
Dinda menarik nafas panjang terlebih dulu.
"Aku ingin melanjutkan kuliahku ke luar negeri."
"Ini Bapak sedang menunggu Ibu, kita akan pergi ke rumah makan favorit Alif. Untuk merayakan ulang tahun Alif." Dinda masih tersenyum heran mengapa Bapak masih saja merapatkan layar handphonenya pada mukanya.
Terdengar bisikan suara Alif dari belakang bapak. Namin Dinda tak dapat mendengar suaranya dengan begitu jelas.
"Itu ada Alif, Pak? Mana aku ingin ngobrol sebentar." sahut Dinda.
"Ah.... emm.. oh itu bukan... bukan Alif kok Din. Kan dia masih di tempat kerjanya. Nanti kita bertemu di.... dimana sih.. di rumah makan langsung!" Bapak pun tiba tiba mematikan kameranya.
Dinda padahal yakin tadi itu suara Alif.
Bel apartemen Dinda berbunyi. "Sepertinya itu Hana." pikir Hana.
"Ibu belum selesai pak dandan nya?" tanya Dinda.
Belnya berbunyi lagi. Dinda heran kenapa Hana tidak langsung masuk. Padahal Hana juga mempunyai kunci apartemennya.
"Belum Din, kamu kayak yang tidak tahu saja ibumu kalau dandan bagaimana" balas Bapak. Dinda terawa mengingat Ibu. Ia pun bergegas membukakan pintu untuk Hana.
"Pak sebentar yah..... Hana kamu kan punya kunci juga. Kenapa harus aku yang..."
Dinda membuka pintunya namun bukan Hana yang ada di baliknya.
Bapak sedang memegang handphone, Ibu sedang tersenyum lembut dan Alif tertawa sambil melambaikan tangannya.