Orang Tua adalah seseorang yang paling sedih ketika kamu sedih.
Siapa yang paling sedih ketika kita sedih? Siapa yang paling kecewa kalau kita lagi kecewa? Siapa yang paling marah kalau kita lagi kenapa-napa? Siapa? Percaya atau engga, orang yang paling sedih ketika kamu lagi nggak bahagia adalah ibumu. Orang yang paling kecewa kalau kamu lagi kenapa-napa adalah ibumu. Bahkan, ketika kamu sedang berjuang, dia adalah orang yang paling khawatir akan keadaanmu.
Kamu mungkin bisa melenggong kesana kemari, tapi ibumu sebetulnya sedang khawatir apakah anaknya baik-baik saja atau tidak.
Aku sendiri punya cerita personal mengenai ini.
Kilas balik pasca lulus SMA. Ketika itu aku pulang jam 3 malam karena baru pulang dari Semarang untuk tes di lembaga Polisi. Yapp! Dulu aku pengen banget jadi polisi. Aku ikuti semua prosesnya dengan hati-hati, satu per satu.
Aku lari setiap hari secepat-cepatnya, sejauh-jauhnya. Tak hanya itu, aku juga sudah mengikuti latihan bersama untuk jadi polisi ketika itu. Hasilnya?? Aku pulang malam itu dengan tangan kosong. Betul betul kosong seperti seorang ayah yang telah mencoba melamar pekerjaan sana sini karena dia baru saja di PHK oleh perusahaan sebelumnya.
Aku hanya bisa menunduk ketika itu. Dan mengatakan “maaf ya Bu, aku gagal”.
Aku melihat matanya yang mulai berkaca-kaca ketika itu. Wajah teduhnya masih terlihat di antara ruangan makan rumahku yang memang hanya mempunyai sedikit pencahayaan.
“nggak papa” kata ibuku. Sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
Aku sadar betul bahwa dia sedih bukan karena aku gagal menjadi polisi. Tetapi karena aku tak berhasil mencapai apa yang aku inginkan. Entah menjadi polisi atau bukan, kalau itu adalah mimpiku, maka ibu selalu berharap yang terbaik untukku.
Ibu sedih karena aku sedih.
Dia memang bukan orang yang bisa berkata-kata panjang dan tertata seperti penulis, tapi kasih sayangnya itu merebak harum masuk ke relung jiwa anak-anaknya. Pengasih, perhatian, dan supportive.
Hari ini, kejadian itu terulang kembali. Ketika aku ditolak kerja di salah satu lembaga zakat Indonesia. Sejenak setelah aku mendapatkan kabar penolakan itu, aku langsung menelfon ibuku. Mengatakan bahwa aku belum rejeki di pekerjaan itu.
Kemudian samar-samar aku mendegarkan Ibu menguatkan aku dari ujung telfon ketika itu.
“Ngga papa, semoga nanti diberikan yang lebih baik.”
Nasihat yang sama seperti ketika aku gagal meraih cita-citaku tujuh tahun lalu. Ternyata ruang dan waktu tak mengubah sifat ibuku yang menerima anaknya apa adanya. Semoga memang Allah segera memberikan jalan terangnya.
Tepuk tangan meriah mengiringinya naik ke atas panggung. Wisudawan terbaik. Orang-orang pun mengucapkan selamat kepadanya selepas dia turun dari panggung wisuda. Riuh tepuk tangan masih terdengar di bangku belakang, di mana teman-teman satu angkatannya duduk.
Momen menjadi wisudawan terbaik dengan deretan piagam yang diraihnya selama kuliah, membuat setiap langkahnya dipenuhi tanya. Pertanyaan tentang pilihan kerja mulai datang dari orang sekitar. Tak jarang mereka melebih-lebihkan.
"Kalau jadi kamu tenang saja, kerjaan sudah aman. Nggak perlu kirim lamaran," celetuk seseorang.
Kata siapa?
Buktinya di sini dirinya sekarang. Duduk di halte bus menunggu rute tujuannya datang. Satu map dengan berlembar lamaran di dalamnya.
Sudah enam bulan sejak momen riuh pujian itu berlalu. Kini semua pujian itu menjadi ujian baginya. Riuhnya telah menguap jauh bersama mimpinya yang memburam.
Pengharapan itu terkadang membuatnya runtuh. Sesak nafas sendirian. Namun, bahunya tetap dipaksa tegap menghadapi kerasnya dunia.
Ia kini memikul beban pengharapan. Sebuah pembuktian.
"Pasti bisa, masa wisudawan terbaik nggak bisa."
"Nggak ragu pasti kamu bisa masuk top global company,"
"Kita sih mesti berkali-kali coba. Kalau kamu, sekali langsung goal!"
Sayangnya ia telah kehilangan suara keyakinan. Semakin samar, semakin jauh terdengar.
Masih kah sama bentuk syukurmu pada Tuhan dari hari kemarin atau malah bertambah? Aku harap yang bertambah adalah syukurnya bukan ngeluhnya.
Ternyata bener ya dewasa itu capek. Penuh tanggung jawab. Makin tambah umur bertambah pula problematikanya dan rumit.
Tapi pernah gak kamu perhatiin anak-anak yang dilampu merah. Anak-anak berkulit silver.
Pernah gak kamu malu dengan mereka, rasanya mereka dewasa belum pada waktunya. Kalau anak seumuran mereka sibuk belajar di sekolah tempat bimbel. Makan yang tercukupi, menikmati fasilitas yang disediakan seperti handphone, tv netflix, rumah yang nyaman, dan orang tua yang hangat.
Tapi rasanya lebih mudah mereka tertawa bersama teman-temannya dibandingkan kamu. Kamu seusia mereka lagi sibuk ngapain sih? Kalau boleh flasback.
Aku jadi teringat ternyata benar Allah menguji seorang hambanya sesuai kadar kemampuannya , kalau kita diuji dalam suatu hal tandanya Allah kasih kepercayaan bahwa Allah percaya kalau kita mampu melewati ujian itu, dan Allah percaya kita bisa.
Dan akhirnya aku mengakui kalau memiliki lingkungan yang sehat, positif itu ngaruh banget buat cara pandang kita, habit kita, ternyata lingkungan seberdampak itu.
Ada satu quote dari guru aku beliau pernah bilang kalau keburukan itu mudah menular.
Jadi pilihlah lingkungan yang baik agar yang tertular adalah hal-hal kebaikan
Pertemuan itu jodoh.
Pertemanan itu juga bagian dari jodoh.
Jadi teruslah menjadi orang baik, kalau bukan kamu yang menemukan orang baik semoga kamu ditemukan oleh orang baik😊
Entah mengapa ruangan kecil ini kian hari kian dingin sekali. Apakah sebab aku sendiri? Satu per satu manusia yang kusayangi telah bergilir pergi.
"Bilakah tiba masaku?”, tanyaku setiap melepas orang-orang terkasih.
Hidupku yang panjang rasanya sangat melelahkan. Aku selalu penuh dengan ketakutan. Aku selalu mengkhawatirkan masa depan sembari menyesali semua hal yang sudah kulakukan. Masaku bergulir seperti lipatan kain. Walau sepanjang apapun, rasanya hanya seperti satu sisi yang bertemu sisi satunya lagi. Cepat, seakan tak berbekas.
Aku kehilangan masa mudaku sebab terlalu sibuk memenuhi ekspektasi manusia. Katanya, jika perjalananku tidak sama maka aku adalah manusia yang gagal. Aku tidak ingin jadi manusia yang gagal. Maka kulakukan saja semuanya. Kemudian masa muda berlalu sementara aku tak kunjung mendapatkan apa-apa.
Hidupku menjadi monoton dan membosankan. Cita-citaku terkubur, idealisme yang saat muda dengan pongah kubanggakan perlahan habis digerus rutinitas. Tanpa benar-benar tahu apa yang kulakukan, hidupku rasanya selalu melelahkan. Aku terus mengutuk diri; seharusnya aku menikmati masa sebelum ini. Seharusnya aku menikmati masa sebelum ini. Separah apapun aku mengutuk diri, waktu tetap saja tak sudi kembali.
Suatu hari saat tulangku mulai renta dan suraiku memutih, aku menyadari bahwa aku telah kehilangan hal yang paling berharga dan hingga kapanpun takkan mampu kuganti. Aku kehilangan nikmatnya merapal syukur tanpa beban komparasi. Aku kehilangan indahnya hidup di hari ini. Aku kehilangan diriku sendiri.
Aku punya rahasia.
Aku kasih tahu ya rahasiaku.
Aku punya dua buah folder di smartphoneku, folder rahasia namanya.
Satu letaknya di catatan dan satu letaknya di recording.
Isinya harus dijaga, teramat wajib untuk bisa tutup mulut.
Sepertinya jika semua orang tahu isi file itu, mereka jadi bisa melihat sisi terang dan gelapku, bisa baca isi pikiranku.
Tapi aku tak ingin banyak orang tahu.
Tapi aku mau kamu tahu.
Nanti, sewaktu aku pergi, kamu kuperbolehkan membukanya.
Passwordnya mudah, warna bunga favoritku.
-----------
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Setiap file dalam catatan itu selalu dimulai dengan pertanyaan yang sama. Isinya tak lain dan tak bukan adalah sampah pikiran dan emosi.
Orang-orang banyak bilang itu namanya overthinking.
Nggak boleh mikir negatif. Harus positive vibes.
Useless. Buat apa dipikirin.
Tapi bagiku, memilikinya (iya, folder itu) bisa membantuku mengurai satu per satu isi pikiranku. Aku belajar bahwa bergemelut terus menerus tak membuatku merasa lebih baik. Justru membuatku melewatkan momen berharga, secantik senja sore itu. Aku butuh mengurainya.
Maka aku mulai belajar membuat sirkuit baru dalam otakku. Mulai dengan menyadari, mengakui, memvalidasi, (tak) menghakimi, dan menerima.
Tentu sulit, karena terus ditempa tiap waktunya. Hanya saja, aku yakin, aku bisa. Ini kisahku dan kisahmu. Semua sama, semua mengalaminya. Namun tak semua berkenan untuk mulai menyadari isi pikirannya.
Kalau diingat² sepertinya hari itu kali pertama mabok kapal walaupun hanya sekitaran 15 menit perjalanan. Perginya sekitaran sore tapi efeknya baru hilang esok paginya, sangat tidak nyaman.
Eh, tapi pas sampai justru disambut dengan pemandangan Pulau yang tidak main². Wisata yang cantik dan ditutup dengan matahari terbenam yang jadi salah satu terbaik selama ini.
Memang rasa²nya menahan/menerobos rasa tidak nyaman itu perlu atau istilah kekiniannya keluar dari "COMFORT ZONE". Bisa jadi malah ketemu hal² baru atau besar yang mungkin esok hari jadi yang terbaik atau bahkan punya pelajaran yang bakal berbekas seumur hidup.
Bisa jadi akan terbiasa dengan rasa tidak nyamannya tapi bisa jadi juga akan tetap bertarung dengan rasa tidak nyamannya. Probabilitasnya hanya dua itu. Kalau hal yang didapatkan lebih besar dari rasa tidak nyamannya, sepertinya akan sebanding menanggung rasa tidak nyamannya.
Maju mundur mau mencoba karena rasa tidak nyaman, tapi yaa keputusan akhir tetap di sang empunya pemikiran dan aksi.
... Aku ikut senang melihatnya. Aku harap di balik kelegaan nya itu, ucapan rasa syukur tidak lepas dari mulutnya.
Setelah dua orang tadi maju, membaur dengan hiruk-pikuk lalu lintas di Jalan Peta, aku menunggu bis bersama dengan beberapa orang lainnya. Belum sampai jarum detik berputar penuh, bis pun tiba. Karena masih cukup gelap, supir bis tersebut menyalakan lampu neon hijau disepanjang atap bis. Aku merasa seperti di culik oleh kapal alien.
Aku duduk di kursi paling depan agar bisa meluruskan kakiku. Pak supir mulai menginjakkan pedal gas bisnya dengan perlahan. Aku selalu suka dengan cara Pak supir berkendara, perlahan dan tak pernah mengebut, kecuali kalau sedang terlambat. Dengan kecepatan seperti ini, aku bisa melihat banyak hal lewat jendela tanpa merasa pusing, termasuk satu momen yang selalu aku lihat setiap hari nya.
Dari jendela bis, aku sering melihat seorang ayah yang gigih mengantar anak gadisnya sekolah. Meski hanya sekilas, tetapi hampir setiap pagi aku melihat si Ayah mengayuh pelan sepedanya melaju di jalanan yang ramai dengan kendaraan bermotor. Si anak duduk dengan nyaman di belakang, berpegangan pada pinggang ayahnya.
Dari seragam si anak, perjalanan si ayah tidaklah mudah. Jarak sekolahnya masih cukup jauh dari titik dimana aku sering melihat mereka. Aku tersadar. Dengan segala keterbatasan yang si ayah miliki, Ia masih berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ia tetap berusaha untuk meluangkan dan berupaya untuk mengantar anaknya dengan sepeda.
Bagi beberapa orang, perkara ini adalah perkara yang sepele. Tapi bagi si anak gadis ini, momen-momen ia diantar oleh ayahnya setiap pagi akan menjadi kenangan yang akan melekat kuat di benaknya. Kenangan dimana ia sadar bahwa kasih sayang ayahnya begitu besar dan begitu hangat.
Aku terharu juga terkagum. Melihat momen tersebut mengingatkanku untuk bisa menjadi ayah seperti itu. Ayah yang dapat memberikan kasih sayang sebesar dan setulus itu pada anaknya. Karena keterbatasan dalam bentuk apa pun bukan alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk yang tercinta.
Pagi itu adalah hari Minggu pertama bulan Ramadhan, tepatnya sekitar tahun duaribuan.
"Bapak bikin apa?" sebuah suara kecil terdengar sangat berhati-hati, berharap tak membuyarkan konsentrasi. Seketika merekahkan senyum di bibir seorang pria yang sedang bersila di dihadapannya.
Sheila dan Clara sudah mandi, bahkan setelah sahur berusaha tak tidur lagi, nonton tivi. Katanya "mau belajar puasa setengah hari".
Pagi itu mereka seperti berada di sebuah pagelaran seni, menyaksikan sebuah proses mahakarya penciptaan sebuah benda, dalam kacamata keingintahuan kanak-kanak yang bebas merdeka. Sesuatu yang selalu gemar mereka lakukan setiap kali Bapak memperbaiki kabel setrika, atau ketika Ibu menyembelih ayam dan membedah isinya. Hanya melihat saja, tapi rasanya sudah menjadi paling keren sedunia. Mengamati dan sesekali bertanya.
Kali ini Bapak membuat meja lipat untuk membaca Al Qur'an. Karena kedua anak perempuannya baru saja lulus Iqro' jilid enam. Alih-alih beli, Bapak memang suka berkreasi dan menyukai seni. Meski tak layak masuk galeri, tapi setidaknya bukankah karya adalah tentang kepuasan diri dalam berekspresi.
Sheila dan Clara. Dua gadis jelita bak pinang dibelah dua. Bersama dengan Anita yang rumahnya hanya berjarak 50an meter saja, menjadi geng cilik yang sangat eksis di pertetanggaan kompleks pada masanya.
---
"Dek, Bapak tolong dibelikan tatah di Toko Bahagia. Yang ukuran 3 per 4." Perlahan Bapak menjelaskan. Sheila mendengarkan dengan seksama. Ragu-ragu mencerna sebuah kata. Tatah. Dia belum pernah sekalipun mendengar apalagi tau rupanya.
"Mbak, be-li tatah-ukuran tiga-per empat" Sheila sebagai utusan utama melakukan uji coba, mengulangi kata-kata Bapaknya. Menggemakan satu kata asing dalam benaknya. "Tatah. Tatah. Ta-tah".
Bapak menangguk. "Sama dek Ara dan dek Nita ya." Mereka bertiga pun berangkat. Membuka pintu rumah dan melangkahkan kaki kecil mereka ke toko di seberang jalan utama. Sekitar 300 meter jaraknya.
Sheila berusaha fokus dengan isi kepalanya. Mengulang ulang satu kata kunci utama. "Tatah. Tatah. Ta." Namun baru beberapa langkah dari halaman rumah, satu kata kunci itu sirna. Terdistraksi oleh obrolan lain diantara mereka.
"Tadi Bapak bilang beli apa ya? Aku lupa." Ia ragu-ragu bertanya kepada anggota geng ciliknya, dengan polosnya.
"Yah tadi kan kamu yang dibilangin Bapak. Aku juga nggak ingat." Clara menimpali. Memang dia tidak fokus memperhatikan dari tadi. Karena baginya tugasnya adalah menemani.
"Ya uwis takon meneh wae, mengko dienteni." Anita mencoba memberikan solusi.
Sheila kembali kepada Bapak dengan cepat. Takut-takut dia bertanya. Tapi berhasil kembali dengan jawabannya.
"Tatah. Ta-tah. Inget. Ta-tah." Lagi-lagi ia mencoba sekuat tenaga mengingat kosa kata yang sangat baru baginya. Sulit nempel di kepala.
"Piye dek La?" Clara memastikan kembali ingatan saudaranya.
"Ta-tah. Ta-tah." Mereka melanjutkan langkahnya, hingga harus terhenti lagi karena menyadari kata kunci lain yang tiba-tiba sirna.
"Tadi ukuran berapa ya?" Separuh merengek Sheila bertanya. "Aku lupa."
"Mosok kudu takon meneh. Tapi aku ndak berani tanya." Meski menurutnya bukan ide bagus. Anita berusaha memberi solusi kedua kalinya. Clara hanya menatap saudaranya memastikan. Tapi ia juga benar-benar tak mengetahuinya.
"Ya mbok gentenan to yo sing takon, mosok aku terus" pinta Sheila berharap bukan dia.
"Ayo tak terke, tapi kowe sing takon ya" Ara mencoba menguatkan Ila.
Sheila takut harus bertanya untuk kesekian kalinya. Tapi dia sama sekali tak punya clue sedikitpun untuk menebaknya. Ah, bukankah Bapak membutuhkan alat itu untuk dibeli segera?
---
"Ba-pak, tadi yang mau dibeli-." Kata-kata Sheila belum selesai, tiba-tiba sebuah bentakan terdengar memekakkan telinga kecilnya. Jangan tanya kata apa. Bahkan dia tak ingat apa yang didengarnya.
Satu-satunya hal yang mampu dia lakukan hanyalah menangis sekencang-kencangnya. Yang mampu ia rasakan hanyalah sesak yang memenuhi dada.
Ada satu hal yang belum akan ia sadari di saat yang sama. Bahwa itu adalah luka batin pertamanya.
---
Sepersekian detik kemudian, Bapak bergegas meraih tubuh anaknya. Memeluk Sheila erat sambil mengucap istighfar sangat banyak. "Maafkan Bapak, Nak. Maafkan Bapak tidak sengaja." Batinnya meronta. Mengusap kepala anak gadisnya, meminta maaf dengan berbagai cara. Ingin memastikan anaknya akan baik-baik saja. Tapi terlanjur. Bukankah saat ini itu sia-sia?
---
Dua ribu dua puluh.
Disadari atau tidak. Kekakuan itu masih ada. Ketakutan itu sesekali menguasainya. Membuat sebuah jarak besar dan dalam, sungguh tak nyaman.
Perlahan mendewasa. Sheila menemukan gunung es tinggi dan kacamata hitam yang masih sangat sering mengendalikan pikiran. Sekeras apa usaha Bapak untuk mencairkan, sulit rasanya bisa terbuka. Terkadang sesak dan takut itu masih berasa.
Meski pada sehari-harinya, semua terasa normal-normal saja.
---
Duaribuduapuluhdua.
Sheila mulai membangun sebuah hubungan serius dengan seorang pria. Mereka bahagia tumbuh bersama. Saling bertukar cerita dan belajar dari setiap masalah yang ada. Hingga tiba pada satu titik sulit di depan mata.
Jalan buntu. They have no clue.
"Apa ini perihal restu? Atau masih ada hal-hal lain yang menjadi penghalang doa ku?" Mereka sudah berjanji akan berjuang hingga terlihat hasilnya. Sampai Tuhan memberikan jawabnya.
---
"Efek dahsyat memeluk bapak." Begitu judulnya. Sheila menontonnya di sebuah video seminar pra pernikahan. Tentu saja tujuannya untuk membuka jalan yang sedang ia perjuangkan.
Dan benar saja. Jalan itu terbuka. Tapi tidak untuk Sheila dan kekasihnya. Melainkan Bapak, yang cintanya jauh lebih besar, tapi rindunya harus ia redam. Untuk menjaga perasaan anak perempuannya.
---
Mendekati jam tiga lebih dua puluh lima. Ia ingin membuat rekaman video dalam hatinya menjadi nyata. Cukup sebentar saja, sebelum ia kembali pergi dari tanah kelahirannya.
Sheila meneluk Bapak tanpa bicara sepatah pun kata. Hanya diam menutup mata, berusaha memahami seberapa besar Bapak mencintainya. Dengan segala upaya yang ia bisa, Bapak selalu berusaha berdaya memberi sesuatu yang ia punya. Bermakna bagi anak perempuannya.
Sheila masih memeluk erat Bapak. Meski sekarang sudah setengah empat. Perlahan ia usap punggung lelaki yang ia dekap, seperti saat peristiwa Tatah melukai hati kecilnya. Bapak tidak pernah sengaja mengucapkannya, Sheila tau Bapak sangat sayang sama Sheila.
---
Bahkan hari ini saat menuliskan cerita tentang dirinya. Sheila menangis. Bukan untuk mengingat lukanya. Tapi untuk menyadari bahwa Bapak sudah sangat berusaha untuk menebus kesalahannya. Bahwa tidak ada Bapak yang sempurna, tapi ia selalu berikan yang terbaik yang ia punya.
Bukankah seharusnya sedari lama ia sadar, bahwa ada sesuatu yang terasa tidak benar. Mulai dari sini ini ia bertekad besar. Bahwa perbaikan sudah semestinya harus dikejar.
---
Duaribuduapuluhtiga.
"Itu udah ditunggu Ibuk didepan". Bapak berusaha memastikan.
"Iya sebentar masih kaos kakian".
"Maaf ya bapak ndak bisa ngantar, Ila sudah bawa payung buat jaga-jaga?"
"Hehe nggak usah Bapak kan nanti pakai kereta" Sheila tak ingin merepotkan, lebih tepatnya nggak suka ribet aja.
Tanpa menunggu menit berikutnya, Bapak kembali membawa payung dan meletakkannya di samping ransel anaknya. "Jangan lupa dibawa ya".
"Ah Bapak apasih, orang di luar nggak mendung juga" ego dalam hatiku sulit menerima. Tapi aku ingat janjiku untuk selalu menghargainya. Perlahan hatiku luluh untuk membawa payungnya. Menerima bahwa memang pada kenyataannya, Bapak selalu berusaha memberikan yang terbaik yang ia punya. Melindungi anaknya dengan apa yang ia bisa. Meski tak bisa selalu di sampingnya.
---
"Ila sudah sampai stasiun. Ternyata hujan. Untung tadi dibawain payung sama Bapak jadi ndak kehujanan".