Aku Ingin Memiliki Sayap Part 6
Setelah lama berdiskusi akhirnya Wili bersedia untuk bergabung dengan kami, dia ditugaskan untuk melayani pelanggan dan aku bersama tuan Priscot bertugas untuk membuat roti dan cakenya.
Sudah 1 bulan lamanya Wili bergabung dengan kami, bekerja sama dengan Wili sangat menyenangkan karena dia mudah bergaul dan berkinerja bagus. Jarang mengeluh dan selalu supportif. Tuan Priscot berkata bahwa aku dan Wili menjadi partner yang baik untuk menjalani toko roti ini. Perbedaannya hanya aku yang introvert dan Wili yang ektrovert. Wili sangat dengan mudah membuatku banyak mengobrol, aku rasa Wili satu-satunya orang yang bisa membuat aku banyak berbicara.
“Lilac, diweekend ini apa kamu mau ajak aku jalan keluar, sudah 1 bulan ini aku bekerja disini tapi belum pernah kamu ajak jalan keluar” Ucap Wili
“Kamu memang mau kemana?” Tanyaku
“Danau mungkin, kita ada waktu cuma 1 jam di waktu istirahat. Mungkin kamu sering ke Danau kan? Jadi pasti tahu seluk beluk danau” Ucapnya lagi
“Okelah kalau begitu, kita izin dulu tuan Priscot jika mau keluar” Ucapku padanya
Setelah izin kepada tuan Priscot aku dan Wiliam memutuskan untuk pergi ke Danau berdua. Kami berjalan dari toko roti menuju Danau, disepanjang jalan Wiliam selalu mengajak mengobrol dari pembahasan ringan, lawak sampai dia bertanya sesuatu yang membuatku terdiam.
“Li, apa yang kamu rasakan sekarang?” Tanyanya tiba-tiba
“Rasakan apa?” Jawabku bingung
“Aku melihat kamu seperti menyembunyikan sesuatu yang besar, ceritalah jika memang kamu butuh seseorang untuk mendengarkan diri kamu. Aku tahu kamu sangat segan untuk cerita ke tuan Priscot.” Ucap Wiliam
“Tidak ada yang mau aku ceritakan” Ucapku singkat
“Tipe perempuan kayak kamu itu susah untuk diajak serius yah” Ucap Wiliam
Kami telah sampai di danau, dan Wiliam memutuskan untuk berenang, aku? Tentu aku menolak ajakan dia karena sebenarnya aku tidak bisa berenang. Aku hanya melihat Wiliam berenang kesana kemari, duduk di tempat biasa aku duduki. Selalu sama jika ke sini, menikmati indahnya alam dan sejuknya udara disini. Ntah kenapa aku sangat menikmati momen ini. Memejamkan mata menikmati sepoy-sepoy angin menusuk kulit. Tidak apalah aku menunggu Wiliam berenang, aku bisa refreshing sejenak, akhir-akhir ini aku disibukan dengan banyak pesanan yang membludak jadi selalu sibuk di kitchen dengan pergi keluar sejenak bisa meringankan beban ditubuhku.
Wiliam datang sehabis berenang, dia sudah siap dan membawakan aku makan siang.
“Loh, dia udah siap. Kapan dia beranjak dari danaunya?” Pikirku heran, mungkin karena terlalu menikmati sejuknya udara danau sampai aku tidak sadar bahwa Wiliam sudah beranjak dari danau dan sudah bersih-bersih diri dan sekarang dia ada di depanku dengan pakaian yang sudah rapi.
“Kamu tidak sadarkan aku sudah rapi, nih makan siangmu” Ucap Wiliam yang duduk disampingku sambal memberikan kantong makan siangnya dan pada akhirnya kita berdua makan siang dipinggir danau.
Sekembalinya kami berdua ke toko roti, kita kembali bekerja seperti biasa aku langsung membantu tuan Priscot di kitchen dan Wiliam langsung standby di depan.
“Bagaimana jalan-jalannya Li?” Tanya tuan Priscot
“Tidak ada bedanya seperti sebelum-sebelumnya tuan, toh ini hanya ke danau saja.” Jawabku
“Lain kali kalian berdua harus jalan-jalan ke tempat lain. Di kota ini banyak loh tempat bagus yang bisa dikunjungi” Ucap tuan Priscot
“Baik tuan, nanti kita bertiga bisa merencanakan untuk pergi bersama tuan. Bagaimana?” Ucapku
“Saya sudah tua, kenapa harus bawa-bawa saya. Kalian yang muda-muda nikmatilah masa muda kalian hahah” Jawab tuan Priscot dibarengi dengan ketawa khasnya
Aku hanya tersenyum melihat tuan Priscot tertawa lepas seperti itu. Aku sangat senang melihat tuan Priscot Bahagia.
“Lilac, saya ingin bertanya sesuatu” Ucap tuan Priscot serius tiba-tiba
“Kenapa tuan?” Jawabku, aku heran kenapa tiba-tiba tuan Priscot menjadi serius
“Bagaimana menurutmu Wiliam?” Tanya tuan Priscot
“Wiliam sangat kooperatif tuan, kerjanya bagus, cepat dan cekatan.
“Maksudku bukan kinerja dia disini, tapi menurut pribadi kamu? Karena jika kinerja dia saya sudah tahu sejak lama jika dia memiliki kualitas yang bagus” Ucap tuan Priscot
Aku heran dengan arah pertanyaan tuan Priscot, kenapa dia membutuhkan pendapatku terhadap Wiliam.
“Kenapa tuan tanya seperti itu? Berarti itu ranah pribadi bukan menyangkut kerjaan?” Jawabku
“Saya ingin tahu, Wiliam dimatamu seperti apa. Hahah” Ucap singkat tuan Priscot
“Menurutku, Wiliam orang yang baik, ceria dan bisa menghangatkan suasana tuan. Dia orang yang bisa membuat orang untuk nyaman berada disampingnya dan dia juga orang yang bisa membuat saya berbicara banyak didepan dia.” Ucapku Panjang
“Berarti sangat tepat saya memilihkan partner seperti Wiliam untukmu Lilac.” Ucap tuan Priscot
Aku tersenyum tanda setuju, meskipun Wiliam selalu ingin tahu tentang diriku namun dia adalah orang yang baik dan bisa diajak untuk berkomunikasi. Lelaki yang peka dan selalu tanggap dalam menolong orang lain.
Beberapa minggu kemudian, kami dikejutkan dengan jatuhnya tuan Priscot di kamar mandi, aku dan Wiliam lekas membawa tuan Priscot ke rumah sakit dan yang membuat aku shock ternyata tuan Priscot punya riwayat serangan Jantung. Aku sangat cemas dan gelisah ketika berada di ruang tunggu rumah sakit, tuan Priscot masih belum siuman dan untungnya masih bisa diselamatkan.
“Istirahatlah Li, pulanglah. Aku yang akan menjaga tuan Priscot disini” Ucap Wiliam
“Tidak Wil, aku akan menunggunya bersama denganmu disini” Jawabku
Dan pada akhirnya, kami berdua menunggu tuan Priscot bersama di rumah sakit dan memutuskan untuk menutup toko roti dulu. Pukul 1 siang tuan Priscot siuman dan meminta aku untuk masuk kedalam ruangannya.
“Lilac” Panggil tuan Priscot dengan nada yang lemah. Melihat tubuh tuan Priscot yang lemah tak berdaya seperti ini. Aku tak sanggup untuk tidak menangis, mataku penuh dengan air mata meskipun aku sudah berusaha untuk menahannya.
“Yah tuan, tuan istirahatlah” Pintaku
“Kemana Wiliam?” Tanya tuan Priscot
“Wiliam ke toko dulu, karena ada Tuan Arka mengirim barang kesana. Setelah urusannya selesai dia akan kembali kesini tuan” Ucapku
“Lilac saya ingin berbicara sesuatu” Ucap Tuan Priscot
“Iyah tuan, ada apa?” Tanyaku
“Bekerjasamalah dengan Wiliam dalam mempertahankan toko roti itu. Aku serahkan semuanya pada kalian.” Ucap tuan Priscot
Itu adalah permintaan terakhir tuan Priscot disisa hidupnya, aku dan Wiliam memutuskan untuk mengabulkan keinginannya. Kami berdua sekarang mengurus toko roti atas perintah tuan Priscot. Semua urasan legalitas toko roti ternyata sudah diurus tuan Priscot sebelum ia meninggal dunia. Dan lagi-lagi aku ditinggal orang yang aku sayangi. Sudah tidak terhitung berapa kali aku menangis di kitchen karena teringat tuan Priscot. Jika aku menangis aku akan menangis di loker tempat tuan Priscot biasa istirahat. Aku tidak mau terlihat oleh siapa pun jika aku menangis, tapi untuk sekarang aku tidak bisa menahannya. Tertalu sakit ditinggal orang yang aku sayangi satu persatu. Kenapa Tuhan membiarkan aku kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Tapi sekarang ada Wiliam yang selalu menyemangati, dia tahu aku sangat kehilangan sekali dengan meninggalnya tuan Priscot.
Chapter Pertama “Aku Ingin Memiliki Sayap” telah selesai.
Di Chapter berikutnya akan dibahas hubungan menarik antara Lilac dan Wiliam, kemanakah arah perjalanan pertemanan mereka?