KEHILANGAN
Ani, seorang gadis berusia 19 tahun duduk bersimpuh dekat sebuah gundukan tanah, rumah sesungguhnya dari orang yang paling dia sayang, mbah Karti namanya. Dengan khusyu’ Ani memanjatkan doa untuk mbah Karti. Sudah satu tahun berlalu dari meninggalnya mbah tapi Ani masih saja diliputi kesedihan dan rasa bersalah.
Dulu, Ani hanya tinggal berdua bersama mbah Karti disebuah rumah sederhana. Beberapa tahun terakhir mbah mulai sakit-sakitan bahkan sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Mbah lebih sering tiduran saja di kasur. Kala itu, Ani yang merupakan siswa kelas 12 di sebuah SMA sedang disibukan dengan Ujian Nasional yang menjadi penentu kelulusannya sehingga Ani tidak bisa menjaga mbah pada siang hari.
Pernah suatu hari, Mbah meminta Ani untuk menemaninya “nduk di rumah saja ya nemenin mbah”.
“Mbah, Ani janji pulang cepat. Setelah selesai ujian, Ani langsung pulang ya. Mbah tungguin Ani” ujar Ani yang saat itu harus segera ke sekolah karena hari terakhir Ujian Nasional.
Namun ternyata, hari itu juga merupakan hari terakhir Ani bersama mbah. Tepat setelah Ani keluar dari ruang ujian, wali kelas Ani datang dengan mata berkaca-kaca dan menyampaikan “Ani, Ibu antar pulang ya. Kita lihat mbah di rumah”. “Mbah baik bu” dengan nada tidak yakin. “Barusan ibu dapat telpon, Mbah sudah tidak ada. Ani yang sabar ya” Ibu Rina, wali kelas Ani, langsung memeluknya.
Siang itu menjadi penyelesan luar biasa bagi Ani karena hari itu Ani tidak bisa memenuhi keinginan terakhir mbah yaitu menemaninya di akhir hidupnya.















