TRILOGI UNTUK AKU ( Part 3)
Xuebing Du
d e v o n
The Stonewall Inn
Stranger Things
cherry valley forever
Game of Thrones Daily

roma★
I'd rather be in outer space 🛸

ellievsbear
One Nice Bug Per Day
EXPECTATIONS

No title available
will byers stan first human second
Not today Justin
Cosimo Galluzzi
Cosmic Funnies

❣ Chile in a Photography ❣
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
No title available
macklin celebrini has autism
seen from United States
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from Belgium

seen from Russia
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from United States

seen from India
seen from Denmark

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Belarus
seen from China

seen from Malaysia

seen from Germany
@nurulfaiqoh
TRILOGI UNTUK AKU ( Part 3)
TRILOGI UNTUK AKU (Part 2)
Untuk Aku di Masa Lalu (Surat 1)
Si Anak yang ramai dan suka keramaian. Orang-orang menyebutnya dengan ekstrovert. Suka sekali mencari teman dan mendapatkan hal baru, rasanya semakin banyak bertemu orang membuat energiku semakin bertambah. Sebuah kondisi yang mendasari untuk mengambil ektrakurikuler yang menunjang hal tersebut, jurnalistik dan teater. Aku rasa itu cocok denganku, karena aku bertemu banyak orang kocak dan tak terduga di sana. Masih jelas teringat, 10 orang berkumpul di sebuah ruangan berukuran 3x3 belum lagi tumpukan harta karun sekre yang seolah sudah jadi barang keramat, terbayang betapa sesaknya itu. Tapi ruangan itu terasa luas dengan alunan lagu-lagu JKT 48, yang membuat ruangan penuh bukan orang-orang di dalamnya, melainkan gelak tawa mereka. Tidak ada hari tanpa sesi mendongeng dengan teman sejawat, entah mengenai hal yang berbobot atau bahkan terlalu receh untuk dianggap berbobot.
Mungkin karena masih masa SMA, meski ada sejuta tugas menumpuk tapi bisa diakui bawa tawa dan bahagia yang dipunya itu nyata. Kita berada di fase antara waktu itu, fase remaja yang sedang menuju dewasa awal. Tapi masih didominasi dengan sifat di fase remaja yang begitu konyol, penuh kebodohan dan banyak keinginan. Sering kali belum bisa diajak bicara serius, penyebabnya banyak, bisa karena kurangnya pengalaman, tidak terasahnya kepekaan dan sedikitnya buku bacaan selain buku pelajaran. Meski aku sudah mulai membiasakan membaca, tapi cobaan dari teman-teman yang rusuh sangat merusak kebiasaan yang ingin ku bangun. Seperti yang disampaikan oleh guru sosiologiku, biasanya usia remaja memiliki kecenderungan untuk berkelompok, dan benar saja kekuatan kelompok ini luar biasa mempengaruhi karakter teman lainnya. Luar bisa kan teman-teman SMAku ini. Banyak yang bilang masa SMA merupakan masa yang paling indah. Aku antara setuju dan tidak, karena masa itu memuat banyak memori menyenangkan, tapi pada bagian akhirnya ada kenangan yang menyisakan luka, dan sepertinya itu yang jadi titik balik untukku.
....
TRILOGI UNTUK AKU (Part 1)
(Prolog)
Untuk kesekian kalinya, hampir seluruh manusia di muka bumi sedang mempersiapkan perayaan tahun baru. Kecuali mereka yang tidak mengaminkan perayaan tahun baru dan mereka yang sedang dilanda bencana, baik bencana alam maupun bencana manusia. Hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku terjebak kerumunan orang-orang yang hendak merayakan pergantian tahun di tengah kota. Tapi kali ini, aku pulang larut bukan karena melembur target skripsi di café, melainkan bersebab tumpukan tulisan yang menunggu disunting sebelum berganti tahun.
Sepanjang jalan Braga terlihat berbondong-bondong orang-orang ini menuju sebuah lapangan yang katanya akan ada konser akhir tahun di sana. Sejenak aku berpikir, memangnya apa bedanya malam pergantian tahun dengan malam-malam yang lain. Langit malam tetaplah gelap, tidak nampak banyak bintang di langit, bulan juga tidak terlihat karena memang ini siklusnya sedang begitu, lalu keesokan harinya matahari masih terbit dari timur, warna langit fajar yang putih keabuan dengan semburan kuning menyala dari arah timur kalau tidak mendung, ditambah suara ayam tetangga yang masih saling bersahutan seolah mengajak kita terbangun dan tak lupa tumpukan pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Semuanya sama saja seperti sediakala, yang berbeda hanya angka-angka, lalu apa yang istimewa sampai orang-orang riuh merayakannya? Entah aku yang tidak paham pemikiran mereka atau aku saja yang berbeda. Tapi aku yakin pasti ada orang di luar sana yang sepemikiran denganku.
Aku tidak ingin banyak berasumsi, barangkali mereka punya alasan melakukan hal itu, sama aku juga. Ketika orang-orang menyalakan kembang api ataupun petasan di malam pergantian tahun, rasanya aku sedang mendengar alarm semesta yang memberikan pengingat bahwa waktuku di tahun ini sudah habis dan saatnya memulai lagi di tahun berikutnya. Itu artinya, saatnya melihat kembali ke daftar impian, apa lagi yang ingin diraih tahun ini. Jujur, kadang ada rasa lelah untuk menyusun target tahunan yang membuat diri ini berpacu mati-matian melawan diri sendiri agar mencapainya. Tapi jika melakukan hal tersebut, rasanya seperti planet yang terlempar dari orbit edarnya, kacau semesta. Mungkin eksistensinya masih, hanya saja kehilangan jalan, tak ada siang dan malam, tak ada bulan, menambrak sana-sini dan kehilangan kehidupan karena tidak mendapat sinar matahari.
Sebelum sampai ke kos, aku memutuskan untuk mampir membeli makanan ringan dan minuman. Pikirku, sebagai amunisi rencanaku malam ini. Ya, anggaplah semacam merayakan malam pergantian tahun, tapi ini berbeda. Tidak dengan riuh suara sound system konser, tidak dengan gemuruh letusan kembang api dan petasan yang saling bersahutan, dan tidak juga dengan kepulan asap sedab khas sosis atau jagung bakar. Cukup dengan duduk dalam sepetak kamar kos minimalis, sebuah laptop, secarik kertas, sebatang bulpoin, sekaleng nescafe cappuchino dan semangkok kacang roasted rasa BBQ, serta iringan lagu-lagu karya para musisi indie. Begini kiranya aku merayakan malam pergantian tahun.
Selama ini, orang-orang mengaminkan bahwa setiap orang adalah pemeran utama dalam kisahnya. Aku setuju dengan itu, tapi bagiku lebih dari itu. Menurutku setiap orang bisa menjadi penulis skenario dalam setiap kisahnya. Bukan hanya sekadar memainkan peran, tapi punya hak untuk mengukir kisahnya sendiri sebelum pada akhirnya mendapat persetujuan dari Direktur Utama. Manusia juga begitu, setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya, keinginan dan lainnya. Meski pada akhirnya keterlaksanaannya berdasar keridhoan Tuhan. Kali ini aku sedang belajar menjadi penulis skenario untuk kisahku sendiri. Semoga saja Tuhan berkenan pada naskahku. Aku buat naskah ini sedikit berbeda, semacam menulis surat untuk diri sendiri. Bermula Untuk Aku di Masa Lalu, berlanjut Untuk Aku di Masa Sekarang, dan diakhiri dengan Untuk Aku di Masa Depan.
...
Filosofi Fotosintesis (Part 5)
Motorku melaju bersama gerimis. Sejak sore tadi kota Bogor masih diguyur gerimis yang seolah meringis menyaksikanku yang sedang mengalami Quarter Life Crisis. Selama mengendarai motor aku memikirkan kembali segala rencanaku. Kali ini, aku tidak hanya memikirkan tentang aku dan kehidupanku saja, tapi tentang keluargaku juga, Bapak-Ibuk khususnya.
Aku menyadari bahwa Bapak-Ibuk sudah tidak semuda dulu. Semakin aku beranjak dewasa, maka beliau berdua juga semakin meninggalkan kemudaannya. Aku masih ingat betul kata-kata Bapak sebelum aku berangkat ke Bogor.
"Bapak ki pengen suk nek wes tuo ora adoh-adoh karo anak wedok" (Bapak itu ingin nanti ketika sudah tua tidak tinggal jauh-jauh dari anak perempuan)
Jujur, aku terenyuh ketika Bapak bilang seperti itu, mengingat Bapak-Ibuk melimpahkan kasih sayang yang nyata kepadaku. Rasanya aku hanya ingin membuat mereka bahagia dan bangga. Dengan begitu saja aku juga akan bahagia nantinya. Itulah kenapa sulit sekali rasanya untuk menolak permintaan mereka.
Mungkin, pada akhirnya terkesan seperti orang yang tidak bisa memperjuangkan mimpi. Tapi ketika aku tarik lagi semua rencanaku ke ujungnya, tujuanku merencanakan semua itu salah satunya untuk membuat Bapak-Ibuk bahagia. Ternyata keinginan Bapak-Ibuk sangat sederhana, yaitu berdekatan dengan anak gadisnya. Perbedaan keinginan antara orang tua dan anak itu memang sering terjadi. Banyak yang bilang kalau sebagai anak kita harus bisa mengkomunikasikannya kepada orang tua untuk memperjuangkan keinginan kita. Tapi aku merasa tidak selalu bisa dibuat seperti itu, ada beberapa kondisi dan hal yang perlu jadi pertimbangan.
Tidak ada buruknya menuruti keinginan orang tua dan bukan kesalahan juga untuk memperjuangkan keinginankeinginan kita sendiri. Menurutku, mengikuti keinginan orang tua bukan berarti membuat mimpi-mimpi kita mati. Selalu ada cara untuk membuat mimpi itu terus hidup. Atau barangkali kita bisa menemukan hal lain yang bisa diperjuangkan bersama dengan mewujudkan keinginan orang tua.
Sesampainya di kos, aku bergegas membuka buku catatanku. Aku mengurai dan menyusun kembali semua rencanaku.
Bogor akan selalu menjadi titik tumpu aku bertumbuh. Bertahun-tahun ditempa bersama hujan yang membuatku paham apa artinya jatuh untuk menumbuhkan. Bersama derasanya hujan itu, ada banyak rencana besar yang secara keras ku kejar. Tapi hujan di Bogor pada akhirnya membawaku mengalir ke Bengawan Solo. Ya, di sanalah aku bermula. Katanya ada banyak hal yang bisa aku lakukan di sana, entah apa saja, tapi aku rasa sudah punya rencana akan melakukan apa. Membuat sekolah alam, menulis buku, melakukan pemberdayaan perempuan dan membangun usaha, adalah hal-hal menarik yang bisa aku lakukan. Hujan Bogor sudah mengajariku banyak hal, saatnya aku mengalir kembali ke Solo. Seperti tanaman yang melakukan fotosintesis, sebuah mekanisme reaksi yang dilakukan untuk bertahan hidup dan menghidupi makhluk lainnya. Dan aku ingin bisa melakukannya, berproses untuk bertahan hidup dan menghidupi lainnya
Bogor, 2 Februari 2020
***
Sudah larut ternyata, ada perasaan campur aduk setelah membaca kembali perjalananku 2 bulan lalu. Seringnya kita itu lebih dulu ketakutan daripada melakukan, padahal sebenarnya ketika dijalani semuanya akan baik-baik saja, selama hati dan otak kita juga lapang menjalankannya. Untuk kesekian kalinya aku hirup udara malam yang hening dari Solo, aku suka, tapi Bogor akan selalu dirindukan.
@kurniawangunadi @careerclass
Filosofi Fotosintesis (Part 4)
Telihat honda Vario 125 warna hitam dengan helm hitam berstiker logo komunitas daerah sudah mengawali barisan parkir sore ini. Ya, warung penyetan ini tidak seramai biasanya, biasanya ada belasan motor yang terparkir jam segini, tapi sekarang hanya ada 3 motor yang akan jadi 4 setelah aku parkir juga. Lihat itu, laki-laki berkaos hitam lengan pendek sudah duduk di hadapan es teh favoritku.
"Udah nyampe sini aje lu" Sapaku meledek
"Ya kan gue nggak lelet kayak lu" Dia meledek balik
"Yee enak aja"
"Hahaha" Dia tertawa dengan lepasnya.
Seperti biasa, sambil menunggu pesanan datang kami akan bercengkrama ngalor-ngidul. Tidak terlepas bahasan permasalahan hidup yang siap untuk kami muntahkan kepada masing-masing. Mungkin dia pikir ini adalah momen yang menguntungkan untuknya karena bisa menumpahkan umpatan pada atasannya. Tapi sebenarnya, aku lah yang sangat diuntungkan di sini.
"Dan, gue disuruh ibuk balik ke Solo, gimana menurut lo?" Tanyaku untuk memulai pembahasan.
"Kenapa emang"
"Banyak sih alasannya, pertama karena sekarang kondisinya sedang pandemi begini Bapak Ibuk khawatir terus ke gue. Kedua pekerjaan gue di sini kan nggak yang mentereng banget tuh, ya standar lah, yang menurut mereka di Solo juga ada dan pasti bisa gue dapetin. Ketiga, gue kan anak perempuan satu-satunya nih, jadi mereka merasa lebih tenang kalau gue ada di dekat mereka."
"Terus kalau dari lo sendiri gimana?"
"Gue sih pengennya stay di sini ya, karena gue udah punya banyak rencana yang rasanya jalannya itu udah ada di depan mata gue"
"Lo udah coba bikin semacam skema-skema gitu buat menganggambarkan segala dampak dari setiap opsi keputusan lo?"
"Udah gue bikin itu"
"Lah yaudah, harusnya udah tahu dong mau pilih yang mana?"
"Iya, tapi nggak semudah itu"
"Gini ya Cha, ketika lu dalam kondisi memiliki keputusan yang berbeda dengan orang lain khususnya orang tua lo, hal paling baik buat dilakukan adalah memilih yang banyak kebermanfaatannya. Terus biarkan hati lu menuju kebermanfaatan yang paling banyak itu. Dan yang tahu semua itu ya lu sendiri, bukan gue."
"Iya sih, tapi kalau gue balik ke Solo, gue harus memulai semuanya lagi dari 0. Meski sebenernya gue sejak lama punya mimpi buat bikin proyek sosial di kampung halaman seperti yang gue lakukan di sini. Tapi, terus mimpi-mimpi gue gimana nanti, semuanya ada di sini, bukan Solo"
"Haha, dengerin gue Cha, waktu gue galau sama kerjaan gue terus lu bilang gini 'selalu ada takdir baik yang menanti di balik pilihan yang dipilih dengan melibatkan Tuhan'. Sekarang kalimat itu bisa lu pakai sendiri untuk membuat keputusan. Terus lagi, setiap hal yang ada di dunia itu bisa diupayakan, kalau lu merasa yang lu mau itu pantas buat diperjuangkan ya lakuin aja. Ini cuma perkara bicara"
Aku terdiam sejenak, lalu dia melihat nasihat singkatnya
"Orang hebat itu bukan soal tempat Cha, mau di manapun, sesederhana apapun tempatnya, dia bakal tetep jadi orang hebat. Ini tuh cuma dunia Cha, mau cari apaan sih emang di dunia. Percuma juga lu hidup kalau nggak bisa memberi manfaat buat sekitar"
Dari obrolan singkat berbobot itu aku sepertinya sudah tahu harus mengambil keputusan bagaimana. Makasih ya Dan.
....
(Baca bagian terakhir di episode berikutnya)
@kurniawangunadi @careerclass
Filosofi Fotosintesis (Part 3)
Anak itu mau seberapa banyak usianya,maka dia akan selalu dianggap 'anak' oleh orang tuanya. Ditambah lagi Terngiang kata-kata Ibuk di WhatsApp beberapa puluh menit yang lalu. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku ini bukan anak pembangkang, selama ini aku tidak banyak mengambil keputusan sendiri. Tapi aku selalu menginginkan suatu hari aku bisa mengambil keputusan sendiri dengan baik, dan menurutku inilah momennya. Hanya saja kembali lagi, diriku seolah ditarik pada karakter yang mengikatku selama ini.
Sepanjang perjalanan ke kos aku memikirkannya dengan penuh. Berkali-kali aku coba buat beberapa simulasi rencana, bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau begitu. Pemikiran itu semakin diperparah dengan skill overthinking yang aku miliki.
Sesampainya di kosan, aku segera membuat 'jaring-jaring rencana'. Itu semacam jaring-jaring makanan tapi ini berisi berbagai opsi rencana yang bisa aku ambil. Kurang lebih begini :
1. Stay Bogor -> cari beasiswa study S2 sambil kerja di X -> menjalin kerja sama dengan para dosen dan orang LIPI -> magang di LIPI -> thesis -> kerja di LIPI
2. Back to Solo -> bekerja di Y -> nemenin Bapak-Ibu -> kcari beasiswa study S2 -> membuka usaha.
Kurang lebih seperti itu, tapi sebenarnya lebih rumit lagi. Setelah membuat beberapa opsi yang sekilas terlintas dalam benakku adalah sebenarnya semua pilihan itu tidak ada yang mutlak baik atau mutlak buruk. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan memang dalam membuat keputusan, apalagi untuk hal-hal yang strategis hidup.
Aku tahu orang tuaku sebenarnya khawatir dengan pekerjaanju sekarang yang gajinya cukup untuk kehidupan sehari-hari, belum lagi usiaku yang tak lagi muda membuat orang tuaku semakin kepikiran. Mereka itu ingin segera menimang cucu, tapi mereka tahu betul bahwa anaknya ini adalah seorang workaholic yang seolah tidak tertarik untuk menikah. Satu lagi, sebagai anak perempuan satu-satunya mereka tidak tenang jika berada jauh dari rumah. Tapi di sisi lain aku merasa sudah dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri. Apakah itu egoku saja atau memang harusnya demikian? Sejauh ini, begitulah yang aku pahami dari situasi ini.
Memikirkan semuanya sendirian membuatku mengalami badai dilema. Jika sudah seperti ini, rasanya perlu bagiku untuk bercengkrama dengan orang-orang untuk mendapatkan insight.
"Cha, sibuk nggak nanti sore?" Sebuah pesan muncul dari Pop up notifikasi Whatsapp ku.
"Nggak sih, mau makan bareng?" Aku menjawab seolah susah tahu apa yang diinginkan.
"Iyaaa, haha, di tempat biasa ya, jam 5"
"Oke"
....
(Baca di episode berikutnya)
@kurniawangunadi
Filosofi Fotosintesis (Part 2)
".... Aku ingin bekerja di instansi penelitian pemerintah untuk menjadi peneliti dan memiliki usaha di bidang bio agronomi, karena pekerjaan itu sesuai dengan passion ku dan aku yakin bisa merasa bahagia dengan itu. Keinginan itu akan aku capai dalam 2-3 tahun mendatang dan akan memulai langkahku di kota ini melalui berbagai relasi yang aku dapatkan selama kuliah."
Sebuah rencana yang sempurna menurutku dan aku merasa yakin sekali perlahan bisa mewujudkannya. Bukankah setiap orang butuh keyakinan terlebih dahulu untuk bisa mewujudkan setiap keinginannya? Karena dengan keyakinan itu rasanya semesta juga sedang ikut mengaminkan apa yang diinginkan. Aku pernah dengar bahwa Allah selalu bersama dengan prasangka hamba-Nya. Jadi kalau bisa berprasangka baik kenapa membiarkan prasangka buruk memenuhi kepala.
Hanya saja, rasa yakin berbeda dengan espektasi. Aku yakin dengan keinginanku tapi tidak ingin berespektasi, karena segala yang diekspektasikan kadang berbeda dan kenyataannya. Aku bisa bilang demikian sebab hal itu sering terjadi dalam hidupku selama ini. Ada ekspektasi-ekspektasi yang harus dikendalikan agar tak melukai diri sendiri.
Aku melanjutkan tulisanku sambil menghabiskan segelas es teh favoritku. Setelah sekitar 15 menit aku mencoret-coret buku dengan segudang rencana, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke gawai. Ternyata pesan itu dari Ibuk. Sebagai orang Solo tulen meski tinggal di tengah kota, kami selalu berkomunikasi dengan bahasa Jawa, kalau aku seringnya pakai kromo madyo atau inggil (Bahasa Jawa pertengahan atau halus).
"Mbak, koe lagi ngopo?" (Kak, kamu sedang apa?)
"Niki lagi maem Buk ten warung" (Ini sedang makan di rumah makan)
"Yo, lha piye nang kono? Wes entuk penggawean sing sesuai rung?" (Iya, gimana di sana? Susah dapat pekerjaan yang sesuai atau belum?)
"Nggih tasek pekerjaan sing kolo wingi Buk, pangestune mawon" (Ya masih pekerjaan yang dulu itu Buk, doanya ya)
"Isek wayah pandemi ngene angel nduk, ibuk iki kepikiran terus lek sampean nang kono. Adoh omah, ibuk nek kepikiran iku dadi opo-opo ne kumat, wes koe muleh sek ae to cek kondisine apik sek. Nang Solo yo gak kurang-kurang" (Masih masa pandemi seperti ini susah nak, ibu ini kepikiran terus kalau kamu di sana. Jauh dari rumah, ibu kalau sedang kepikiran itu jadi sering kambuh sakit. Sudah kamu pulang aja dulu sampai kondisinya membaik. Hidup di Solo aja nggak akan membuatmu kekurangan)
"Nggih sabar riyen Buk, nopo-nopo nggih perlu proses, kulo tasek berproses ten mriki" (Iya sabar dulu Buk, apa-apa ya perlu proses, saya masih berproses di sini)
"Wes pokoke muleh sek to, engko diomongno maneh nang omah" (Udah pulang dulu aja, nanti kita obrolan lagi di rumah)
Pesan itu hanya terbaca dari notifikasi. Sengaja tidak aku buka, agar Ibuk tidak kepikiran ketika pesannya sudah ku baca tapi tak kunjung ku jawab, biar Ibuk menganggap aku sedang di perjalanan. Memang sedang dalam 'perjalanan', 'perjalanan menentukan pilihan'.
Lihat kan, hal seperti inilah yang membuatku enggan berekspektasi. Aku terdiam, menarik nafas dengan berat, menyedot 1 tegukan es teh terakhirku dan membereskan barang-barangku yang berserakan di atas meja. Perasaanku sudah campur aduk, sejauh ini aku bukan akan pembangkang, setiap yang orang tuaku katakan aku selalu tergerak untuk mengikutinya, entah itu sesuai dengan keinginanku atau tidak. Seperti saat ini, aku sedang dibenturkan dengan egoku dan ego orangtuaku.
@kurniawangunadi @careerclass
Filosofi Fotosintesis (Part 1)
Fotosintesis menjadi salah satu anugerah terbesar dengan sistem sangat canggih yang Tuhan ciptakan. Fotosintesis dikenal sebagai reaksi pembentukan karena dari reaksi itu terbentuk karbohidrat (C6H12O6) dan Oksigen (O2) dari karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Konon, reaksi fotosintesis lah yang membuat bumi kaya akan oksigen sehingga dapat dihuni oleh berbagai makhluk hidup seperti saat ini. Sejak belajar lebih dalam tentang fotosintesis di mata kuliah anatomi tumbuhan aku jatuh hati pada proses tersebut. Seiring berjalannya waktu, aku jadi merasa bahwa ada hal-hal dalam kehidupan sehari-hari kita yang selaras arah dengan mekanisme fotosintesis. Dan disinilah aku memulai Filosofi Fotosintesis.
Aesha Portulaca Grandiflora
Bogor, 21 April 2020
***
(2/2/2020) Tidak sengaja aku mendengar 4 orang di meja sebelahku sedang berbicara tentang krisis identitas yang mereka alami selama di dunia kerja. Semua obrolan itu membuat durasi makanku jadi lebih lama, karena otakku terpecah fokusnya. Bukannya berniat menguping, tapi pembicaraan mereka terlampau asik untuk aku anggap tidak mendengarnya. Anehnya lagi, meski rumah makan ini sedang ramai, telingaku masih bisa menjangkau percakapan mereka satu per satu.
"Gimana ya, mau ngejar idealisme tapi kita juga dikejar sama realita. Dunia kerja emang tak pernah sesederhana itu. Apalagi kalau kerja sama orang, beeh, berasa kehilangan diri. Ngikut aja apa kata bos" Kata salah satu dari mereka (a.k.a orang pertama).
"Sebenernya kayak gitu tuh balik lagi ke tempat kerjanya, ada kok orang yang bisa nemu tempat kerja bagus yang sesuai dengan idealismenya dan fine aja semuanya" Sahut salah satunya (a.k.a orang kedua).
"Tapi ya, mau se-ideal apapun tempat kerja dengan idealisme kita, akan selalu ada hal-hal yang menjadi minus. Entah dari teman kantor atau gaji atau lainnya" Sahut teman yang lainnya (a.k.a orang ketiga).
"Intinya, setiap pekerjaan itu ada konsekuensi dan resikonya, tinggal kita mau pilih konsekuensi dan resiko seperti apa nantinya" Kata orang yang belum berbicara di antara mereka (a.k.a orang keempat).
Obrolan mereka berlanjut semakin seru tapi membuat sakit kepala kalau ikut memikirkannya. Sesekali aku mengunyah sambil berpikir berkaitan dengan apa yang mereka bahas, memikirkan tentang diriku tentunya.
"Coba deh kamu tanyakan ke dirimu sendiri sekarang dengan 5W+1H, apa yang kamu inginkan, kenapa kamu menginginkan itu, kapan kamu mewujudkan keinginanmu, di mana kamu akan mewujudkan keinginanmu, dan bagaimana kamu mewujudkannya. Gitu aja dulu, bisa jawab nggak kamu" Kalimat menohok itu datang dari orang keempat.
Mereka semua terdiam, terlihat saling memandang, ada yang sambil meminum es teh, sedangkan lainnyaenarik napas dalam-dalam. Aku pun terpapar kondisi yang sama, ikut terdiam dan tidak jadi memakan nasi yang sudah siap di atas sendok. "Hmm benar juga ya, apa ya jawabannya" Batinku berbisik demikian. Aku langsung bergegas mengambil buku catatan tak bergaris dari tas.
"My 5W+1H Question Guide
What do I want?
Why do I want it?
When do I make it happen?
Where do I make it happen?
How do I do?
....
(Baca kelanjutan tulisan Echa di bagian berikutnya)
@kurniawangunadi
Sedang Menyusun Rencana
Suasana mendung menguasai seisi Bandung seharian ini. Di luar sedang berangin dan sebentar lagi gerimis. Melihat pepohonan bergoyang di luar sana membuat tubuh ini menggigil. Kenyataannya memang sedang menggigil, tapi bukan karena angin melainkan bersebab AC dan sikapmu yang mendingin sejak tadi.
"Coba kita diskusikan lagi pelan-pelan"
Kata-kata itu tidak membuatmu bergeming memandangi tembok kaca dengan raut ekspresi berpikir keras. Aku tahu ada banyak hal yang kau pikirkan. Sebagai calon kepala keluarga seluruh egomu sedang dilanda ujian di sini. Kamu merasa punya tanggungjawab sebagai penjembatan kedua keluarga. Kamu merasa harus menjaga wibawa di depan keluargaku dan keluagamu untuk keluarga kecil kita nanti. Aku sadar segala persiapan ini melelahkan dan menguras segalanya. Dan aku tahu betul semua yang sudah kau usahakan sejauh ini adalah hal terbaik darimu.
"Iya, pantas saja menikah disebut ibadah terpanjang. Baru akan dimulai sudah banyak lika-likunya" Celetukmu tiba-tiba.
Kau pun mengambil selembar kertas dan bulpoin yang pastinya sudah kau siapkan sebelum pembahasan ini, seperti biasanya kau selalu mempersiapkan setiap ide pokok dalam pembicaraan kita. Dan itu adalah sebuah hal yang membuatku memilihmu. Kau mulai membuat coret-coretan di kertas. Membuat premis A, B, C, D dan seterusnya. Meski katamu kau bukan ahli pembuat perencanaan, tapi aku akui untuk urusan adu strategi denganku sudah pasti kaulah juaranya.
"Bagaimana kalau begini saja, sepertinya ini opsi yang paling memungkinkan"
Di tengah perbedaan antara 2 keluarga yang pasti ada. Sejak awal aku selalu merasa bahwa kamu adalah orang yang cakap untuk bersikap bijak atas keduanya. Melalui secarik kertas penuh coretan yang kau buat, aku merasa lega telah menemukanmu kembali.
"Bisa ini, tinggal kita sampaikan, dan semoga yang terbaik" Kataku
Meski kita juga sebenarnya tidak tahu bagaimana nantinya, setidaknya sudah ada upaya terbaik. Seperti biasa, manusia hanya diberi hak berencana dan untuk hasilnya adalah kehendak Tuhan.
@kurniawangunadi @careerclass
Menikmati Peran Baru
Dulu Apak dan Amak sering bilang,
"sampean bakal ngerti lek wes dadi wong tua" (Kamu akan mengerti kalau sudah jadi orang tua)
Kalimat itu awalnya hanya masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri, sesulit itu untuk dicerna karena aku memang belum mengalaminya. Tapi sekarang, aku mulai memahami. Sejak kelahiran Khadijah Khuma Hadad, bidadari mungil di keluarga ini, telah mengubah duniaku bahkan sebagian diriku.
Rasanya aku rela melepaskan pekerjaanku yang dianggap orang-orang begitu mapan untuk beralih profesi sebagai seorang ibu. Seolah aku rela menanggalkan posisi bagus di kantor yang membuatku memiliki pundi-pundi pemasukan fantastis untuk bekerja tanpa jenjang karir di rumah. Seakan mendapat kebahagiaan bisa sesederhana melihat Khuma tersenyum dan berkembang dengan baik setiap detiknya. Aku lebih takut kehilangan momentum pertumbuhannya, dibanding kehilangan pekerjaanku saat ini. Apalagi, dengan sifat perfeksionis yang aku miliki membuatku tidak ingin melakukan kesalahan atau melalaikan pengasuhan pada anak pertamaku.
Meski dibalik itu, selalu ada rasa lelah yang mengikuti. Belum lagi sindrom jenuh yang sering menyerang wanita sepertiku. Ditambah overthinking yang selalu membayangi setiap malam. Sungguh, bukan perkara yang mudah.
Pada posisi ini, aku akhirnya menyadari betul betapa Amak dan Apak adalah sosok orang tua yang luar biasa. Maaf ya Mak, Pak, anakmu ini banyak tidak tahu diri, barulah dirasa semuanya setelah punya anak sendiri. Masih ingat betul air mata Amak dan Apak berlinang di hari Mas suami sah meminang, aku juga ikut berderai air mata meski sudah ditahan-tahan.
Waktu itu aku membayangkan bahwa setelah ini hidupku seutuhnya terlepas dari orang tua, aku akan memiliki kartu keluarga sendiri, keputusan-keputudan final dalam hidupku bukan lagi haknya orang tuaku, dan baktiku sudah beralih kepada orang lain. Tapi saat ini aku juga tiba-tiba menestkan air mata, sambil memandangi Khuma mungil dalam dekapanku. Aku berandai, jika suatu hari ada lelaki yang meminang Khuma, mengambil tanggungjawab atas dirinya dan berjanji melanjutkan upaya untuk membahagiakannya, maka aku harus pastikan sudah melepasnya pada lelaki yang tepat. Mungkin aku akan sedih melepasny, tapi di sisi lain aku bahagia telah mengantarnya sampai ke fase hidup baru untuknya.
"Dek, kamu kenapa nangis? Capek ya? Sini biar aku ganti gendong Khuma"
"Nggak kok mas, adek cuma sedang membayangkan ketika Khuma dewasa nanti dan ada yang meminangnya, betapa terharunya adek"
"Haha, iya itu adalah salah satu tanda kelelahan, suka berandai-andai, sudah sini kasih Khuma ke aku, terus kamu istirahat dulu aja ya mumpung dia juga lagi tidur"
Aku tersenyum sambil mengabulkan titahnya. Bersyukur sekali rasanya dengan peran baruku sebagai ibu ini aku sedang dibersamai oleh sosok seperti Mas.
@kurniawangunadi @careerclass
Kriteria Hati
Masih ingat beberapa orang pernah bertanya padaku
"Yes, kriteria pasanganmu seperti apa?"
Tidak biasanya aku terdiam dulu ketika ditanya. Tapi pertanyaan itu benar-benar membuatku terdiam sejenak untuk berpikir. Rasanya aku belum pernah memikirkan hal itu terlalu dalam. Sejauh ini yang ada di kepalaku adalah memiliki pasangan yang bisa saling menerima dan nyambung. Ketika ditanya lebih jauh lagi indikator-indikator 'nyambung' itu yang bagaimana, aku tetap kesulitan menerjemahkannya.
Menurutku, memilih pasangan tidak bisa dibuat seketat seperti menerima pegawai perusahaan, tidak bisa dibuat instrumen yang se-obyektif itu, dan tidak harus mencentang semua semua indikator kriteria yang dimiliki. Tapi semua berkaitan dengan kelapangan hati untuk menerima. Jadi, aku memutuskan untuk tidak membuat kriteria yang terlalu berbelit-belit, karena kita tidak bisa menuntut orang lain memiliki apa yang kita inginkan. Itu juga yang membuatku belum menjatuhkan hati kepada siapapun untuk saat ini. Seperti yang sering Bunda sampaikan.
"Kak, pokoknya kakak jangan ada jatuh-jatuh hati dulu ya kak sebelum menikah. Karena tidak ada jatuh cinta yang lebih indah selain setelah menikah".
Ah Bunda, banyak tulisan Bunda yang mempengaruhi caraku berpikir, termasuk dalam perkara memilih pasangan hidup. Bunda selalu memberikan penyederhanaan dari kemegahan cinta. Membuat setiap orang yang sedang merayakan cinta tetap bersahaja.
Jika nanti datang saatnya diriku bersanding dengan seseorang, aku ingin sampaikan :
Barangkali kita tidak saling mengenal, tidak sengaja dipertemukan di persimpangan jalan, lalu Tuhan takdirkan untuk saling menautkan. Dari pertemuan itu kita akan belajar saling mengenal. Sebelumnya, ada baiknya kita tidak saling mengharapkan dan menggantungkan angan. Karena tak ada yang tahu akhir perjalanan. Apa benar kita bertemu untuk dipersatukan atau sekadar sebagai pembelajaran?
Barangkali masing-masing dari kita punya kriteria pasangan. Sebagai sesama manusia yang tak sempurna, mungkin kita tidak mampu memenuhi semua kriteria, setidaknya ada beberapa yang membuat kita layak untuk diperjuangkan.
Barangkali orang tua kita pernah memberikan petuah tentang seni menemukan pasangan. Tapi kita bersikeras memiliki cara sendiri untuk menemukannya. Aku harap kita bisa bijak dalam menemukan jalan tengah. Agar tetap mencapai hajat dengan sepenuhnya keridhoan.
Sejauh ini aku yakin. Tak mengenal hari ini bukan berarti tak mencintai di kemudian hari, selama diri bersedia membuka hati, segala hal baik bisa saja terjadi.
***
Tak berselang lama, gawaiku pun berdering
"Assalamu'alaikum, halo Yesha, bagaimana kabar"
"Wa'alaikumussalam, Hai kak Abil, alhamdulillah baik kak, ada apa kak?"
"Mau tanya Sha, pakah kamu sedang berproses dengan seseorang?"
"Alhamdulillah belum sih kak, ada apa?"
"ada orang yang punya niat baik ke kamu, kamu bersedia berproses dengannya kah?"
"Hah?! Maa syaa Allah, bagaimana ya kak, tidak ada alasan syar'i juga untuk menolak, jadi insyaAllah akan Yesha coba"
"Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan ya nanti, anyway kamu kenal kok sama orang ini"
"Hah?! Apa kak? Siapa?"
"Hihi, wassalamulaikum Yesha, nanti aku sambung lagi ya, insyaAllah"
"Loh kak.... "
Tuuut tuut tuuuut....
@kurniawangunadi @careerclass
Tak Sama Dengan Lainnya
Sedang menuju tengah malam. Aku masih terjaga seperti biasa. Memandang langit-langit kamar sambil pikiran menjelajah menembus ruang dan waktu. Seperti biasa, selalu ada buku ukuran A5 dengan kertas tanpa garis dan bolpoin hitam yang siap membantuku menangkap kata-kata dari angan. Katanya menulis bisa menjadi sebuah terapi emosi bagi orang-orang introvert sepertiku.
Kali ini pikiranku tidak sedang mencari ide tulisan, melainkan sedang merenungkan nasib sendiri. 29 tahun bukan usia yang muda, sudah pantas untuk memikirkan tentang pernikahan. Bukan tentang menikahnya, tapi aku merasa di titik membutuhkan seseorang yang bisa membersamai secara utuh, dan tidak ada solusi atas hal itu selain dengan jalan pernikahan.
"Aku pernah membaca terjemahan kitab suci yang menyebutkan bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasangan. Apakah aku termasuk di dalamnya? Tapi hal itu mudah berlaku bagi orang-orang dengan normal. Sedangkan anak dari keluarga brokenhome sepertiku itu tidak pernah bisa semudah itu. Sudah berapa kali niat baikku memninang seseorang terhalang status keluarga yang tak lagi utuh. Orang tuaku yang tidak bisa mempertahankan hubungan membuat anak-anaknya mendapat label yang sama, seolah 'perceraian' sudah menjadi salah satu jenis asam amino pada DNA. Yang tidak bisa bertahan itu orang tuaku dan bukan aku, aku juga bukan mereka, meskipun aku anaknya. Aku masih melihat sorot mata tidak percaya dan kasihan dari orang-orang ketika melihatku. Tidak jarang juga mereka meragukanku untuk membangun rumah tangga. Aku memang tidak punya orang tua yang utuh tapi bukan berarti aku tidak punya perencanaan penuh untuk hidupku. Dengan segala ketidakutuhanku ini, apakah aku boleh memiliki seseorang yang menerimaku secara utuh? Kalau boleh, ijinkan aku menemukannya dalam radarku"
Berat sekali kepalaku malam ini dan tulisan ini membuatku semakin pusing. Kalau aku menyimpan tulisan ini di bawah bantal apakah akan ada Peri Kata yang datang untuk memberiku beberapa koin emas? Kita lihat saja besok.
Selamat malam.
@kurniawangunadi @careerclass
Praaang!!
Praang!!
"Bisa nggak sih lo itu nggak banyak nuntut!"
"Gue gak bakal banyak nuntut kalau lo ..... "
Cacian demi cacian terus saja bersautan dari balik dinding kamar. Meski sudah ku pasang headset di telingaku, tetap saja suara nyaring yang menusuk hati itu masih saja bisa masuk telinga. Kondisi seperti ini lah yang membuatku dan Bang Bian tidak ingin lama-lama berada di rumah.
Bang Bian sudah terbiasa hidup di kamar kos selama 9 tahun, sedangkan aku 6 tahun. Kami hanya pulang beberapa kali dalam setahun ketika ada libur panjang dan hari raya, itu pun hanya 7 hari di rumah paling lama. Dan kami merasa tentram dengan itu, karena seolah sisi gelap dari keluarga kami tidak pernah terjadi lagi. Padahal itu hanya perkara waktu dan peruntungan. Kami sedang beruntung saja, setiap kami pulang tidak lagi didapati suasana itu.
Tapi pandemi membuat kami harus lebih lama di rumah. Sekali lagi, kami mendengar teriakan penuh kebencian itu lagi, seolah tidak ada cinta dalam keluarga ini. Ingatan masa kecil itu terpanggil kembali. Kami mengunci diri di kamar masing-masing, seperti kembali menjadi anak kecil, kami hanya diam. Entah apa yang dilakukan Bang Bian di kamarnya, sedangkan aku tentu terisak sambil berpura-pura belajar.
Semakin lama suara dari luar semakin meninggi, entah bunyi benda apa lagi yang Papa lempar ke dinding. Tidak terasa dada pun menjadi sesak. Sulit sekali rasanya bernafas mendengar Mama menangis sambil berteriak seperti itu, sedangkan Papa yang tak henti melempar barang ke dinding tak sanggup lagi berucap sambil menahan tangisan serupa.
Kadang aku membayangkan antara aku atau bang Bian memiliki keberanian untuk memadamkan bola panas di ruang tengah.
"Mau sampai kapan Papa sama Mama saling menyakiti seperti ini? Kita semua jadi ikut tersakiti, Pa, Ma. Bagaimana tidak sakit ketika dua hati yang membentuk keluarga ini terluka, pasti semuanya akan kesakitan juga. Kami bukan lagi anak 15 dan 18 tahun, tapi 24 dan 27 tahun, bukankah sebentar lagi kami akan masuk ke fase berumah tangga? Tapi bagaimana kami sanggup membangun rumah tangga sendiri kalau seperti ini, bagaimana kami tidak ketakutan untuk membangun keluarga kalau melihat Papa dan Mama yang bertengkar terus menerus. Kami ingin bisa membangun keluarga yang hangat, penuh kasih dan dukungan. Jangan buat kami kehilangan kepercayaan membangun keluarga dari orang lain, hanya karena Papa Mama tidak bisa bertahan"
Siapakah yang akan mengatakan itu pada Papa Mama, Bang, Binar atau Bang Bian?
@kurniawangunadi @careerclass
Analisis SWOT dari Bapak
"Kamu sudah siap?" Tanyamu melalui Whatsapp, singkat padat dan mengena
"InsyaAllah, bismillah"
Baiklah sepertinya ini sudah semua, baju batik rapi membuatku terlihat lebih dewasa, celana mulus setelah disetrika semalam, tatanan rambut yang stylis hitam mengkilap karya barber shop termahal di sini. Satu lagi yang tidak boleh tertinggal, minyak wangi untuk membiaskan aroma sisa metabolisme yang tumpah ruah akibat detak jantung bak genderang perang. Hal terakhir yang tidak boleh terlewat, berpamitan dengan Mamak hebatku yang menjadi wonder women setelah Baba wafat 10 tahun lalu.
"Le, yakin tidak mau Mamak temani?" Kata Mamak sambil membalas memegang tanganku dengan kedua tangannya.
"Ajil suka Mamak temani, tapi kali ini adalah saatnya Ajil menunjukkan keberanian dan wibawaku sebagai laki-laki dewasa yang meminang anak orang. Mamak bisa temani Ajil dengan doa, kan selama ini doa Mamak selalu ampuh lebih tokcer dari racikan obat Koh Afeng, haha"
"Hahaha, kau ini mau meminang anak orang serius lah sedikit"
"Haha, aku serius ini Mak"
Selama berkendara menuju ke lokasi tujuan, mulut dan hatiku tak berhenti merapal doa. Batinku, tidak disangka langkah kehidupanku sudah berjalan sejauh ini. Ternyata saat untuk secara sadar mengambil tanggungjawab terhadap anak orang sudah di depan Mata. Aku jadi teringat obrolan ngalor ngidulku bersama Baba
"Jadi laki-laki itu nggak mudah. Apalagi yang sudah menikah. Kelihatannya saja kami banyak bersenang-senang ketika berkumpul bersama. Itu hanya pengalihan sementara dari beban berat yang dipikul. Bayangkan, kita itu memikul surga-nerakanya keluarga dan hidup orang-orang di dalamnya. Tapi kalau bukan karena kesabaran, ketulusan dan ketegaran Mamakmu membersamai Baba, mungkin Baba sudah menyerah. Nanti, kamu harus pandai memilih istri, istri yang bisa hidup bersama mimpinya sebelum bertemu denganmu, lalu ketika bertemu denganmu dia bersedia menghidupi mimpimu dan akhirnya bisa diajak merangkai mimpi bersama. Kalau ada wanita seperti itu, percaya sama Baba, damai nanti hati kau."
Ba, jujur saja dulu aku tidak paham apa maksudnya, tapi sekarang Baba pasti bangga karena aku bisa menemukan 1 wanita seperti itu dari jutaan wanita di dunia.
20 menit 20 detik, ternyata aku sudah sampai, lebih cepat 4 menit 40 detik dari perkiraanku. Terlihat pintu rumah sudah terbuka seolah siap menyambut tamu. Tak lama muncul sosok wanita dengan gamis coklat muda dan jilbab panjang menjuntai coklat tua, sangat manis seperti kue pancong setengah matang rasa Milo.
"Langsung masuk aja sini"
Terlihat ada beberapa suguhan di meja. Wah siap sekali ini menerima tamu. Lalu dari balik lorong muncul lelaki paruh baya dengan kaos putih dan sarung yang terlilit rapi.
"Gimana tadi di jalan, aman?" Tanyanya sambil mulai duduk di depanku
"Alhamdulillah aman Pak"
"Alhamdulillah, jadi bagaimana, langsung saja sampaikan tanpa basi-basi. Alin sudah cerita, jadi tidak perlu berputar-putar"
"Iya Pak, saya ke sini dengan penuh kerendahan hati ingin meminta ijin untuk meminang putri Bapak menjadi istri saya"
Pria itu manggut-manggut sambil tersenyum tipis entah apa maksudnya.
"Coba tulis di kertas ini hal yang kau takuti ketika menjadi suami serta kebahagiaan dan kenestapaan macam apa yang akan Alin terima jika menjadi istrimu. Tulis saja dengan jujur, tidak perlu dibanyakkan yang baik-baik"
Gila, pertanyaan macam apa itu, beliau sudah menyiapkan 2 halaman kertas folio bergaris dan sebuah bulpoin. Sungguh di luar espektasi.
Ketakutan menjadi suami :
Ketika dalam perjalanan keluarga kami saya mengalami musibah yang membuat saya tidak mampu membahagiakan dan memberi kehidupan yang layak bagi keluarga saya. Beberapa hal atau kebiasaan yang takutnya akan dibenci oleh istri saya. Saya takut tidak bisa memenuhi janji saya kepada Bapak dan Baba saya untuk menjadi suami yang baik. Saya takut pekerjaan yang membabibuta akan menjadikan saya sebagai pribadi yang menyebalkan di rumah. Saya takut tidak mampu bertahan hidup jika Allah memanggil istri saya lebih dulu. Pun sebaliknya, saya tidak sanggup kalau meninggalkan keluarga saya lebih dulu dan membiarkan Alin harus mengambil 2 peran dalam keluarga seperti ibu saya. Sebagai suami yang sekaligus ayah nantinya, ada rasa takut tidak mampu memberi pengasuhan yang baik kepada anak-anak saya. Kalau kata Baba saya dulu jadi suami itu memikul surga-nerakanya keluarga, saya takut tidak bisa membawa keluarga saya mencapai surga.
Kenestapaan Alin ketika menjadi istri saya :
Dia akan banyak sendirian di rumah karena tuntutan pekerjaan saya saat ini. Dia perlu banyak bersabar pada sifat pelupa dan ketidakrapian saya menata barang, saya juga kurang peka orangnya, mungkin dia akan banyak memendam perasaan kesal kepada saya. Bisa jadi akan ada masa dia harus memutar otak untuk makan sehari-hari karena pekerjaan saya sifatnya project, meski sekali project sangat cukup untuk kehidupan dan tabungan kami selama 3 bulan di kota kecil ini. Tapi kalau sedang sepi, kami harus berhemat. Saya bukan orang yang romantis seperti laki-laki lain, barangkali Alin juga akan sedikit menggerutu soal itu, karena yang saya tahu adalah cara memperlakukan wanita yang saya cintai dengan baik. Bersebab pekerjaan yang kadang membuat saya harus keluar kota, nantinya ketika kami memiliki anak Alin harus bersusah payah mengurusnya sendiri, kecuali dia berkenan saya pekerjakan pengasuh.
Kebahagiaan Alin ketika menjadi istri saya :
Hidup bersama mimpi-mimpinya yang terus tumbuh, karena Alin selalu bahagia dengan itu, begitupun saya. Saya tidak menjanjikan kehidupan yang mewah, tapi saya berusaha membuatnya cukup untuk kami, sehingga Alin tidak merasa kekurangan. Meski tidak romantis tapi saya pemain peran yang baik, saya bertekad untuk bisa jadi apa saja yang Alin butuhkan. Karena Alin sangat suka dengan anak kecil, saya berdoa agar kami dikaruniai keturunan yang menyenangkan dan menyejukkan hatinya. Sehingga meski saya tinggal keluar kota, dia tidak akan kesepian bersama anak-anak yang hasil konstribusi saya juga. Saya kira itu, untuk kebahagiaan lainnya hanya Alin yang bisa memutuskan, saya hanya berusaha, karena kebahagiaan dia adalah tanggungjawabnya bukan atas kendali saya
.
Ajil, 7 Agustus 2022
56 menit aku menulisnya, sampai teh beliau tinggal 1/5 dari gelas.
"Sudah? Itu saja?" Tanyanya sambil menyimpul senyum seperti tadi
"Iya Pak sudah"
"Ya sudah, kertasnya saya terima, kamu boleh pulang dulu sambil merenungkan ketakutanmu menjadi suami, cari jalan cara untuk menghilangkannya, besok kamu boleh main ke sini lagi" Beliau berucap demikian dengan sangat ramah dan santai seolah tidak ada hati yang kehilangan arah di sini.
"Baik Pak, permisi, terima kasih atas penerimaannya sebagai tamu hari ini."
Aku pergi dengan tatapan hampa dan kebingungan. Maksudnya ini apa, lamaranku ditolak atau diterima, bagaimana kau menceritakan ke Mamak nanti. Selama perjalanan otakku masih saja tidak bisa mencerna segala kejadian hari ini. Hingga sampailah di rumah, ternyata ada pesan masuk
"Kamu jangan bingung ya, kamu tahu kan Bapak itu seorang psikolog pensiunan HR yang sudah bekerja selama 39 tahun".
Baiklah, sekarang ketakutanku jadi bertambah 1, menghadapi mertua yang rasa manager HR di kantor.
@kurniawangunadi @careerclass
Wanita Rumitmu, Mas
Wanita, katanya memiliki sistem organ limbic yang lebih rumit dibanding laki-laki. Tidak heran wanita juga jadi rumit sangat untuk dipahami. Hanya karena perkara sederhana bisa jadi perang dunia. Tidak sedikit pula yang mempersulit situasi yang mudah. Sosok yang terlalu banyak pertimbangan, pikirannya sangat suka mengkait-kaitkan, ditambah lagi kepekaannya yang tinggi sehingga membuatnya sangat sensitif. Benar-benar ya wanita ini, sayangnya sepertinya aku juga demikian.
Oleh karenanya para laki-laki tentu perlu memiliki ruang kesabaran dan penerimaan yang lebih. Tapi wanita juga seyogyanya tidak diam saja, tetap harus bicara untuk menyampaikan segala kekhawatiran, ketakutan dan kerumitan yang dirasakan. Karena sekali lagi, laki-laki juga manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan menerawang. Aku masih mengaminkan frasa "komunikasi adalah ruhnya hubungan". Maka dari itu, aku juga tidak akan diam saja mas, aku ingin hubungan kita hidup sehidup-hidupnya.
Kepada sosok yang akan menjadi 'mas' masa depanku. Ijinkan aku membuat pengakuan atas kerumitanku:
Aku adalah sosok wanita yang mudah khawatir. Khawatir jika nanti ketika aku sudah menua, kau akan perlahan pergi untuk mendua. Khawatir jika suatu saat aku membuat kesalahan kau tidak akan membuka pintu permaafan. Khawatir jika nanti setelah meminangku ternyata aku tidak sesuai dengan harapannu, kau akan menyesal dan kehilangan rasa sayang. Khawatir jika nanti sudah menjadi istrimu, aku kesulitan membaur dengan ibumu. Khawatir jika nanti begini, lalu akan begitu.
Aku adalah sosok wanita yang penakut. Takut menjatuhkan hati, karena sekalinya hati ini terjatuh maka dia tidak bisa mengutuh kembali. Aku takut jika suatu hari kau tiba-tiba lenyap alalu aku akan seperti wanita lain yang kehilangan lelakinya. Aku takut hanya aku yang mencintai di sini. Aku takut menjadi sosok yang terlalu menuntut. Aku takut tidak mampu memberi pengasuhan ideal sebagai seorang ibu. Aku takut segala ketakutanku akan membuatmu takut melanjutkan hidup bersamaku
Aku adalah sosok wanita yang suka merindu. Rindu pada saat kita bisa banyak bercengkrama tentang segala yang terjadi hari ini lengkap beserta mimpi-mimpi kita. Rindu dengan aktivitas yang membuat kita bersama-sama menebar kebermanfaatan. Rindu terhadap gelak tawa bersama karena candaan receh yang kita lontarkan satu sama lain. Rindu pada kata-kata magis yang kau ramu dan membuatku tersipu. Jujur, aku jadi merindukan tulisanmu, tulisan tanpa kata 'cinta' tapi penuh dengan cinta.
Aku adalah sosok wanita yang keras kepala. Jika aku mau kamu, ya berarti harus kamu, bukan yang lain.
Aku adalah sosok wanita pemarah. Marah jika kita tidak saling bicara ketika ada yang salah. Marah kalau kau tidak berkomitmen dengan kesepakatan yang kita buat. Marah ketika kau mengabaikanku tanpa sebab. Marah kalau rasa percaya dalam hubungan tak bisa dijaga. Marah jika kau menyerah padaku, padahal sebenarnya aku ingin kau memperjuangkanku lebih. Marah kalau pada akhirnya kita tidak bisa menentukan langkah.
Jadi, beginilah aku dengan segala kerumitanku mas. Aku adalah kata "rumit" yang niscaya dalam wujud manusia. Apakah sejauh ini kau bisa menerima? Kalau bisa segera saja datang ke rumah, kalau tidak bisa jangan buat ku merasakanmu yang mondar-mandir dalam hatiku tanpa arah.
.
Jakarta, 2023
Sungguh tulisan yang begitu lepas di tengah balutan udara dingin bulan Februari. Aku tutup buku jurnal dengan lembaran polos tak bergaris, sambil berkata dalam hati.
"Nanti, kalau kita bertemu, kau perlu mengenal wanita dalam jurnal ini mas"
@kurniawangunadi @careerclass
A Note After Parenting Class
"Millenial Parenting Club Session"
Lihat kan notifikasi kelas online hari ini sudah berdering, 15 menit lagi sesi akan dimulai. Melihat dari judulnya menyiratkan perspektif bahwa yang mengikuti kelas online ini adalah para orang tua yang ingin belajar memberikan pengasuhan yang lebih baik kepada anaknya atau calon anaknya.
Betapa banyak kita baca berbagai konten instagram yang membahas tentang kesalahan-kesalahan pengasuhan yang banyak terjadi di sekitar kita. Tak jarang hal itu membuat kita melakukan justifikasi kepada orang tua kita sendiri. Tidak sedikit juga yang play victim seolah kenestapaan kondisinya saat ini adalah akibat kesalahan pola asuh. Barangkali itu bukan hal yang salah, hanya saja jangan juga lah kalau menyalahkan orang tua, mereka dulu juga masih belajar. Meski tidak sepenuhnya sempurna, tapi mereka juga lah yang menyempurnakan kita menjadi manusia seutuhnya hari ini
Tapi memang perkara menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah. Ketika mendengar cerita dari teman-temanku yang sudah menjadi orang tua akan ada perasaan yang membuat kita bisa merelakan banyak hal untuk memberikan dunia kepada anak. Banyak bercengkrama dengan mereka membuatku juga ingin mempersiapkan diri, karena jujur saja rasa takut dan khawatir untuk menjadi orang tua yang baik itu tidak bisa dipungkiri. Aku juga masih meraba-raba bagaimana defini sesungguhnya dari orang tua yang baik bagi anak.
Selama 120 menit sesi itu berjalan yang membuat kepalaku mulai dipenuhi segala hal rencana untuk anakku kelak. Tidak terasa catatanku juga terlihat penuh kali ini, tapi bukan hanya penuh oleh materi yang aku dapatkan selama sesi, melainkan catatan kecil yang aku buat untuk anakku kelak
"Hai mas/mbak, ini Umma, terima kasih ya sudah hidup dengan baik di rahim Umma sampai terlahir ke dunia. Sebagai rasa syukur, Umma hanya bisa berupaya memberikan sujud di sepertiga malam untuk mendoakanmu. Umma hanya manusia biasa mas/mbak yang bisa marah dan lelah, jadi nanti kalau Umma lepas kendali mohon dimaafkan ya. Umma tidak bisa menjanjikan banyak hal kepadamu, selain hidup Umma untuk selalu menghidupkanmu. Apapun pilihan mas/mbak, selama itu baik dan membuat mas/mbak bahagia Umma akan selalu ada menggenggam tangan mas/mbak untuk meraihnya. Semoga Umma bisa memberikan pengasuhan terbaik untuk mas/mbak ya. Nanti kita belajar untuk saling bertumbuh ya nak."
Jemari itu melenggang begitu saja di bawah catatan materi sesi ini. Tak terasa ada air mata yang menetes di bagian kata 'Semoga Umma'. Lalu aku potret secarik catatan itu untuk aku kirimkan ke salah satu kontak yang ada di gawaiku.
"🖼 mas, bagaimana menurut mas?"
Dia membalas
"Dek, dari cara adek ini sudah membuat Adek menjadi orang tua yang baik insyaAllah, nanti kita belajar bersama ya, meski mas juga bukan sosok sempurna tapi mas juga akan ambil peran untuk ini, dan adek tidak sendiri"
Aku menghela nafas sambil menarik bibir memberikan simpul senyum. Sedikit lega tapi masih banyak khawatirnya.
Saatnya melanjutkan hari ini...
.
.
@kurniawangunadi @careerclass
Akhdar-Azraq
"Gus, sampean (a.k.a. kamu) yakin dengan pilihan sampean? Us Azra itu berbeda paham loh dengan keluarga Gus dan keluarga besar Yai Farhan"
Lagi-lagi pertanyaan itu, kali ini Zakki yang bertanya. Kopi hitam di depanku masih penuh, artinya kami baru beberapa menit duduk. Mulai dari Abah, Umma, Abang bahkan sekarang sahabat baikku sendiri mempertanyakan niatku meminang Us Azra.
"Bismillah, InsyaAllah aku udah istikharah dan merasa yakin dengan dia"
Zakki tampak menyeruput terlebih dahulu kopinya yang masih mengeluarkan asap, menghela nafas lebih dalam lagi
"Gini lho Gus, sampean ini kan da'i, Us Azra juga punya posisi penting dalam jama'ahnya. Apalagi keluarga Yai yang sudah dikenal oleh jama'ah kita, apa kata orang nanti Gus kalau sampean menikahi pembesar dari jama'ah lain. Gus tau sendiri kan di sini issue kedua jama'ah ini cukup sensitif"
Aku terdiam sambil menatap jauh ke arah bentangan sawah di depan kami, beberapa menit kemudian aku mulai berbicara selaras hembusan angin yang menerpa rambut di balik songkokku. Aku buka songkok berbahan anyaman menjalin, dan meletakkannya di samping cangkir kopi. Barulah ku tanggapi perkataan Zakki
"Zak, sampean lihat tidak itu, ada sawah yang menghijau, di atasnya ada langit yang membiru. Indah sekali kan ya pemandangannya?"
Aku melihat Zakki manggut-manggut sambil menikmati hembusan angin sama seperti itu.
"Tanpa hujan dari langit sawah itu tidak akan menumbuhkan apa-apa, begitupun langit tanpa padi yang tumbuh di sawah itu tidak akan mendapat pasokan oksigen untuk menyeimbangkan tekanan udara. Mereka berbeda, Allah ciptakan mereka berbeda untuk bisa berdaya. Kadang memang harus ada yang berbeda supaya bisa memberikan dampak besar. Sampean kalau masang batu baterai lak posisinya berlawanan to antara yang positif dan negatif? Aku sama Azra juga begitu Zak".
Zakki berpikir keras memahami apa yang aku sampaikan
"Wes mbuh lah Gus, lek sampean udah mantep ya aku cuma bisa mendoakan yang terbaik"
Dia pergi sambil menepuk-nepuk pundakku karena dia sudah dipanggil Abah dari jauh. Tinggal aku yang sendiri bersama secangkir kopi yang masih setengah cangkir.
Azra, Azraqul Husna Taqiyyah, ketika orang-orang itu mempertanyakan keputusanku memilihmu dan barangkali hal yang sama juga terjadi padamu, tidak ada ragu untuk menjawab pertanyaan mereka. Jujur, ada rasa takut dalam diriku sendiri. Apakah aku mampu menjadi tamengnu untuk menghadapi mata dan mulut orang-orang yang tidak sepaham dengan kita? Tapi setiap rasa ragu menyerang, aku yakin dan berharap di balik belahan suangi itu, ada kau yang tak henti menyambung doa denganku.
Dalam kemelut waktu yang kian membiru
Barangkali ada taju yang sedang kau hunus
Tapi aku menyebutnya niat tulus
Seduh sedap bersembab-sembab katamu kemudian
Melengganglah ucap selayaknya angin malam
Semilir mengusik bilik takdir, kataku getir
Sedari awal kita adalah pelik yang hendak berkelik
Di sana ada belukar lebat yang menanti disisir
Kau nampak bergeming dengan parang tertanting
Sedang di tangan yang lain, ada jemariku
Yang tak berhenti beramin
Pada akhirnya tiada yang mengerti takdir
Akankah berakhir atau sampai akhir
Tapi aku akan terus menyulam kain
Agar kelak ku balutkan mendekapmu
Yang sedang merapal menerjang musim
Azraq Taqiyyah (Pamulang, 16 Agustus 2020)
Sajak penuh ketakutan dan harapan yang berkalibrasi dengan apik. Terima kasih ya Azra.
"Pelangi itu indah dengan warnanya yang berbeda-beda, bayangkan kalau warnanya sama, bukan pelangi namanya, dan kehadiran pelangi itu langka, tapi selalu ditunggu selepas hujan untuk membuat hati orang-orang merasa bahagia". Tambahan kata-kata Azra di akhir puisinya
.
.
@kurniawangunadi @careerclass