“Berkeluarga itu akan ada kerikilnya, konfliknya, tidak ada yang mulus seperti cerita di TV, tidak hanya senang-senang saja, Nak.”
“Cinta aja engga cukup untuk modal menikah, Nduk.”
“ Kompleks. Berkeluarga itu kompleks, jangan terburu-buru ya, Dek”
“Nanti, kalau sudah takdirnya, juga bakal ketemu kok, orang dan waktu yang tepat.”
“Ma, aku tidak akan terburu-buru ya, Mama juga yang sabar.”
“Bagus, mama dukung penuh untuk kamu bersiap-siapuntuk hal besar ini, ya.”
“Siap, Ma. Mama juga jangan lupa bersiap ya, menurutku Mama juga perlu melakukan itu. Bersiap jika suatu saat waktu menikah itu datang.”
“Oke, belajar bareng ya, Nduk. Mama suka kalo begini.”
“Aku mau coba dulu dari menormalisasi ucapan maaf, tolong, terima kasih dan komunikasi asertif deh. Sama kemarin dapet materi kuliah tentang Family Life Cycle.”
Kira-kira, begitulah nasihat dan percakapan yang aku bayangkan dalam otak. Ingin sekali mendengar nasihat dan diskusi mengenai pernikahan dari orang-orang terdekatku. Namun, aku terlalu malu dan merasa kecil untuk membukanya dulu. Bingung, mengapa kok orang – orang sepuh disini tidak ada yang berinisiatif membuka diskusi daripada menanyakan terus “sudah ada calon belum?” Saat ini, bayangan hal tersebut baru sekedar imaji
Sebenarnya aku juga ingin mengkonfirmasi banyak hal pada Mama, tentang teori-teori pernikahan yang pernah aku dengar. Utamanya tentang FAMILY LIFE CYCLE. Dinamika hidup berkeluarga. Yang tiap stasenya ada tantangannya. Yang katanya tiap stasenya jadi tempat tumbuh, wadah belajar. Ingin sekali mengkonfirmasi dan bertanya pada Mama apa yang terjadi di keluarga kita? Aku terlalu kecil untuk memahaminya dulu.
“Apakah Mama merasa kesepian saat anak-anaknya mulai dewasa dan meninggalkan rumah?”
“Aku yakin Mama bahagia melihat anaknya berhasil melalui satu persatu stase hidup sampai akhirnya dewasa dan meninggalkan rumah, tapi apa Mama juga siap menghadapi kesepian itu?”
Itu yang ingin aku tanyakan juga.