Cara terbaik untuk merasa tenang dalam hatimu adalah dengan membaca surat ad-Dhuha. Karena ini adalah surat paling mengagumkan dalam Qur’an, yang memotivasimu untuk optimis. Dan berbaik sangka pada Allah Azza wa Jalla. Maukah kau kuberitahu makna kata “dhuha” … yang mungkin tak pernah kau dengar sebelumnya?
Surat Dhuha diwahyukan di waktu Rasulullah SAW tidak menerima wahyu dari Allah SWT selama 6 bulan. Selama 6 bulan Rasulullah SAW tidak menerima wahyu apapun dari Allah SWT. Jibril tidak turun, beliau tidak menerima mimpi. “Ada waktu dimana aku melihat berbagai mimpi bagus. Tapi sekarang ketika aku begitu lelah dengan pekerjaanku, otakku begitu lelah, aku tidak mendapat mimpi. Terkadang aku merasa sholawat dan ibadahku tidak berpengaruh pada hatiku dan pada hidupku. Jadi aku merasa agak jauh dari Allah Azza wa Jalla.”
Pernahkah terkadang kau merasa begitu? Ya ? Terkadang kau merasa, “ini tidak berpengaruh buatku. Allah SWT tidak menjawabku. Dia tidak meresponku. Aku tidak melihat mimpi baik lagi. Aku tidak merasa hatiku bergetar lagi. Aku tidak merasa tenang lagi, apa yang terjadi?”
Sama seperti itu, selama 6 bulan Rasulullah SAW tidak menerima wahyu apapun dari Jibril atau mimpi apapun, tidak ada sama sekali, selama 6 bulan! Jadi Rasulullah SAW berpikir bahwa Allah SWT membencinya. Dia mengira Allah SWT tidak menginginkannya sebagai nabi lagi. Jadi berbagai pikiran ini berkecamuk dalam dirinya. Bukankah begitu? Kita terkadang berpikir begitu juga? Sebagian dari kita berpikir, “ya ampun, Allah SWT pasti membenciku. Lihat hidupku! Allah pasti tidak menginginkanku. Lihatlah situasiku. Aku pasti orang yang dibenci dan teramat hina. Allah SWT tidak peduli apapun, Allah SWT bahkan pasti tidak peduli pada do’a ku.”
Terkadang pikiran ini dating padamu, beginilah keadaan Rasulullah SAW ketika suratnya diwahyukan. Jadi apa yang Allah SWT firmankan? Dia berfirman …
Ayat1, wadh-dhuhaa. “Demi waktu matahari sepenggalahan naik.”, jadi hal pertama yang kau beritahu pada orang yang depresi,”Bangunlah! Lihatlah cahaya matahari. Tidak semuanya suram. Tidak semuanya menyedihkan dan suram. Ada matahari yang indah di atas sana, cahaya indah.
Ayat2, wal-laili izaa sajaa. “dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”, masalah kedua pada orang yang depresi adalah mereka terjaga sepanjang malam. Mereka tidur di pagi dan malah terjaga di malam. Jadi segalanya suram dan sedih. Mereka punya pola tidur yang buruk.
Ayat3, maa wadda'aka robbuka wa maa qolaa. Tuhanmu tidak benci padamu ya Muhammad. Alah tidak benci kita! “Tuhanmu tidak benci padamu Muhammad dan tidak melupakanmu.” Begitu juga ya Abdullah, wahai hamba Allah, Allah tidak benci padamu, dan Allah tidak melupakanmu!
Ayat4, wa lal-aakhirotu khoirul laka minal-uulaa. “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada dunia ini.” Apa yang akan dating akan jauh lebih baik bagimu daripada situasimu sekarang.
Ayat5, wa lasaufa yu'thiika robbuka fa tardhoo. “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Kelak wahai umat Muslim, Allah insya Allah akan member kita surga, dan membuat kita bahagia. Kelak Allah akan member kita kemenangan dari semua ini, dan membuat kita bahagia. Kelak! Allah telah menjanjikan ini, dan pastinya kelak… kelak kita akan masuk surge insya Allah! Bukankah ini hal yang paling indah untuk disampaikan pada orang yang bersedih? Kemudian Allah memberikan alasan baginya untuk mempercayai ini. Apa yang Dia firmankan?
Ayat 6, a lam yajidka yatiiman fa aawaa. Dia memberi alasan bagi manusia sehingga mereka percaya. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” Tanya dirimu, bukankah kau kadang sakit parah. Bukankah kau dulu bayi kecil dan Allah mengurusmu? Bukankah dulu kau gadis kecil dan tidak ada yang mengurus, tapi Allah mengurusmu?
Ayat 7, wa wajadaka dhooollan fa hadaa. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” Bukankah dulu kita tersesat saudara/I, sebelum kita menjadi orang yang taat? Aku ingat dulu aku jarang sholat! Aku tidak paham tentang agamaku. Bukankah dulu aku tersesat kemudian Allah menuntunku? Begitu juga, bukankah dulu kau kebingungan, lalu Allah menuntunmu?
Ayat8, wa wajadaka 'aaa`ilan fa aghnaa. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Berap banyak dari kita yang sangat kurang, kita tidak punya uang! Berapa banyak dari kita yang demi Allah … Allah SWT merahmati kita, menyayangi kita, sehingga menjadikan kita kaya harta? Berapa banyak dari kita yang diurus oleh Allah. Sementara keluarga kita di kampong hidup dalam kemiskinan?
Jadi Allah terus memberikan alasan kepada Rasulullah SAW dan pada kita. Mengingatkan kita berulang kali, kenapa kau harus percaya pada firman Allah bahwa janji-Nya akan jadi nyata! Jadi bagi orang yang depresi, inilah cara terbaik, dengan memberitahunya tentang masa lalunya, dan memberinya alasan untuk percaya bahwa janji Allah akan jadi nyata sebagaimana di masa lalu. Lalu Allah memberikan obat bagi depresi. Apa kau tahu apa itu? Orang yang depresi lebih memprioritaskan keadaan dirinya, tapi cara terbaik untuk menghapuskan depresi dan rasa jauh dari Allah SWT ini, adalah dengan mengingat orang-orang yang jauh lebih berkekurangan daripadamu.
Ayat 9, fa ammal-yatiima fa laa taq-har. “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”
Ayat10, wa ammas-saaa`ila fa laa tan-har. “ Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
Jadi Allah meminta kita mengingat dua jenis orang ini. Yang pertama adalah anak yatim, lalu pengemis. Ingatlah anak yatim, mereka tidak punya pengurus, tapi kau punya orangtua yang mengurusmu. Kau punya keluarga yang mengurusmu, tempat untuk pulang. Anak yatim tidak punya siapapun! Para pengemis, mereka tidak punya makanan dan memintamu akan makanan. Dia tidur kelaparan setiap harinya, tapi llah memberimu makanan. Berapa banyak dari kita yang tidur kelaparan subhanallah?
Jadi Allah memberitahu kita obatnya. Yaitu dengan melihat orang dibawah kita.
Ayat11, wa ammaa bini'mati robbika fa haddis. Dan jalan terakhir untuk menghapus rasa tidak terhubung pada Allah ini adalah … “ Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Bicarakan tentang nikmat Allah, “Alhamdulillah atas mataku, Alhamdulillah atas tanganku, Alhamdulillah atas mulutku, Alhamdulillah atas hatiku.” Jika Allah tidak mencintai kita, kenapa Dia masih membiarkan kita hidup? Jika Allah tidak menyukai kita, kenapa Dia member kita rezeki di setiap menit kehidupan kita? Jika Allah tidak mencintai kita, kenapa kita disini sekarang, berbagai ilmu ini, menambah hikmah dan kecintaan pada Allah Azza wa Jalla?
Saudar/i dalam Islam, setiap kali kau merasa jauh, baca surat ad-Dhuha, dan demi Allah kau akan merasa cinta yang sebagaimana yang didapatkan Rasulullah SAW dari Allah Azza wa Jalla, bahwa Allah SWT tentu merahmatinya, dan tentunya merahmati kita insya Allah. Kelak, kelak janji Allah akan nyata.
Saudara/i, inilah kenapa Sufyan at-Tsauri berkata dengan begitu mengagumkan. Dia berkata, “ Wallahi, aku tidak akan menggantikan Allah dengan orangtuaku untuk menjadi hakim di hari kiamat. Lebih baik Allah menghakimiku, daripada orangtuaku di hari kiamat, karena aku tahu Allah Azza wa Jalla mencintaiku melebihi orangtuaku.”
Jika kau percaya Allah lebih mencintaimu daripada orangtuamu, Allah akan lebih mencintaimu daripada orangtuamu. Jika kau percaya Allah bias mengampuni semua dosamu, llah akan mengampuni semua dosamu. Jika kau percaya Allah akan memberimu pahala dan memasukkanmu ke surga. Allah tidak akan mengkhianati percayamu pada-Nya. Allah akan insya Allah menjawab do’a mu dan memasukkanmu ke surge, bi’idznillah, insya Allah ta’ala.
-Syekh Tawfique Chowdhury-