My very first time survey experience
Dalam rangka memenuhi janji saya pada diri sendiri beberapa hari yang lalu, hari ini saya akan membagikan secuil pengalaman saya saat melakukan survei. Alhamdulillah.. saya merasa Allah itu baik banget sama saya.. iya, Allah memang Maha Baik.. ada aja jalan yang Allah kasih untuk saya buat belajar.. kayak survei ini.. tiba-tiba tawaran untuk menjadi surveyor datang disaat Annisa ini sedang mencari berbagai kesibukan lainnya sambil menanti jadwal wisuda.
Berawal dari informasi lowongan surveyor beberapa minggu yang lalu yang tersebar di grup awardee DIY, yang tidak saya sadari kehadirannya sampai disadarkan oleh Fatma diwaktu yang tepat. Iya, Alhamdulillah saat itu surveyor Jogja masih kekurangan orang jadinya saya masih bisa ikut. Biasanya para awardee ini gercep banget kalo udah ada info gitu, baru disebar beberapa menit aja biasanya udah tutup tu lowongan gegara banyak yang daftar. Tumben kali ini agak sepi, lagi pada sibuk nesis kayaknya :D
Sebenarnya itu bukan awal juga sih, awalnya itu dari grup awardee sumut yang lagi nyari awardee asal Binjai. Sebagai satu-satunya warga Binjai saat ini di grup itu, saya langsung berkomentar dong. Lagi-lagi belum sadar kalau ternyata itu sedang dalam rangka mencari koordinator surveyor di Binjai wkwk, telat deh.. pas tau ternyata Binjai termasuk sebagai salah satu kota yang disurvei, disaat itu pula saya sudah terlanjur mendaftar sebagai surveyor di Jogja dan udah pesen tiket balik ke Jogja juga.. Udahlah sumut itu minim awardeenya, jadilah bukan awardee yang dikerahkan untuk nyurvei disana.. agak sedih sih gak bisa nyurvei kota sendiri.. tapi gapapalah ya.. udah ada orang lain juga kan.. yang penting tetep sama-sama belajar dimanapun berada..
Sebenarnya lagi, kita belum masuk ke intinya.. ini masih mukaddimah wkwk.. kalo versinya Kak Anin, ini sedang merekam jejak hehe..
Nah, jadi ini sebenarnya lagi bahas apa sih? Bahas pengalaman saya jadi surveyor RKCI. Apa itu RKCI? Saya ga akan bahas panjang lebar apa RKCI itu di postingan ini hehe.. teman-teman bisa googling sendiri kalo pengen tau tentang Rating Kota Cerdas Indonesia ya ;)
Singkatnya, I T B dan metrotv bekerjasama dengan mata garuda (ikatan alumni awardee elpedepe) untuk melakukan survei smart city ke 31 kota di Indonesia. Tiap kota membutuhkan data sebanyak 400 responden, jadi ada 20 surveyor di tiap kota yang masing-masing bertugas untuk nyurvei 20 responden. Dan saya salah satu dari enam ratusan surveyor itu, hehe.
Saya juga ga akan bahas panjang lebar tentang isi surveinya apa di postingan ini. Sesuai dengan rencana awal, kita akan lebih banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman survei pertama kalinya.. ke masyarakat kota pula.. dengan variabilitas sangat tinggi, mulai dari perbedaan usia, perbedaan pekerjaan, perbedaan jenis kelamin, sampai perbedaan tanggung jawab.
Karena dari masing-masing responden ada ceritanya sendiri dan terlalu panjang jika diulas satu persatu, maka saya merangkumnya menjadi beberapa poin yang menurut saya penting untuk diketahui oleh orang-orang yang akan, sedang, atau ingin melakukan survei. Tapi ini general juga sih.. Pelajaran yang mestinya bisa diterapin kapan aja. Ga mesti pas jadi surveyor doang hehe.
Ketakutan pertama saat akan menjadi surveyor di Jogja adalaah takut ga bisa berkomunikasi dengan baik karena ga bisa bahasa Jawa.. syedih soalnya cuma bisa bilang oo atau ngangguk-ngangguk doang abis ga ngerti mau jawab apa.. Alhamdulillah karena bermodal surat tugas dari I T B, jadilah berasa kayak jadi mahasiswa I T B selama dua hari hehe. Dan karena memperkenalkan diri sebagai surveyor dari I T B, alhamdulillah jadi ga ada yang ngajakin ngomong pake bahasa Jawa, selamaaat =D
Setelah terbebas dari kemungkinan diajakin ngomong pake bahasa Jawa, pelajaran berikutnya adalah berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dari kita dan memiliki latar belakang pendidikan dibawah kita. Contohnya saya kemarin dapat responden seorang kakek yang baik banget, usia beliau sudah lebih dari 50 tahun, tapi beliau tidak pernah menamatkan sekolah dasar. Jadilah saya harus menerjemahkan setiap kalimat yang ada di kuesioner dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kakek tersebut. Ya, kita memang harus menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara kita. Saya belajar banyak tentang ini. Alhamdulillah survei hari pertama saya ditemani Kak Rizka. Kak Rizka yang suka ngingatin kalau bahasa Annisa ini mulai agak “ketinggian”. Kita mungkin yang terbiasa berada di lingkungan akademik merasa kata-kata yang sering kita gunakan adalah kata-kata biasa yang seharusnya semua orang paham. Padahal gak. Komunikasi itu ada seninya. Ga bisa disamakan ngomong di lingkungan akademik sama ngomong di masyarakat. Harus bisa menempatkan diri. Percuma ngomong dengan bahasa tinggi-tinggi, jelasin panjang lebar, tapi ternyata lawan bicara kita gak ngerti kita ngomong apa.
Mungkin akan beda ceritanya kalau yang disurvei bukan masyarakat yang tingkat pendidikannya jauh di bawah kita ya. Saya mendapat responden seorang ibu, wanita karir, tepatnya sebagai salah satu pimpinan di salah satu kantor yang bertempat di Jogja dan memiliki lebih dari 100 karyawan. Tentu berbeda cara berkomunikasi dengan ibu ini. Intinya, mesti pintar-pintar menempatkan diri dan menyesuaikan diri dengan lawan bicara kita. Saya ingat banget, ibu ini awalnya jutek banget dan ga welcome dengan kehadiran saya, tapi pada akhirnya malah jadi keasyikan cerita dan ibu nya malah sampe mau bantu nyariin responden, tinggal sebut nama ibu aja katanya.. hehe.. makasih ibuu.. oiya, oot, saya juga salut banget sama ibu yang satu ini.. dari luar keliatan jutek, strong dan tegas banget sebagai pimpinan, tapi dibalik semua itu ibu ini berhasil mencetak 3 anaknya sebagai calon hafidz Qur’an... bahkan anak beliau yang pertama sudah hafidz 30 juz walau saat ini masih semester 4.. masya Allah :’)
Pelajaran berikutnya adalah belajar mendengarkan. Iya, jadi surveyor itu mesti tahan-tahan dicurhatin.. jadi ngerasain gimana rasanya tiap abis jawab satu pertanyaan dilanjut curhatan sepuluh menit, 1 jam bisa cuma dapat 1 responden :’) begitulah, tapi ya memang harus mau mendengarkan.. masa’ kita cuma mau mendapatkan jawaban aja, tapi ga mau dengerin keluh kesah mereka.. apalagi ini survei ke masyarakat terkait kotanya.. terkait pemerintahnya.. walaupun kita juga mungkin tidak bisa langsung menyampaikan pendapat mereka ke pemerintahan, tapi dengan bercerita berarti mereka memiliki harapan bahwa keluh-kesah mereka masih didengarkan.
Uniknya, saya bener-bener dapat responden yang beragam, ada yang positif banget menilai pemerintah, ada yang negatif banget menilai pemerintah. Saya banyak belajar dari seorang ibu, yang menjadi salah satu responden saya, beliau diamanahkan seorang anak yang menderita disabilitas, tidak bisa berbicara hanya bisa melihat dan mendengar. Dan dalam kondisi seperti itu, masih harus menjalani hidup seorang diri, sebagai single parent, karena ditinggal suaminya. Sedih. Tapi ibunya kuat banget. Super strong kalo ini. Saya bersama teman saya, Agni, di hari kedua, mendengarkan selingan cerita ibu hampir di setiap pertanyaan. Dari ibu yang punya banyak kenalan di pemerintahan ini saya belajar, kadang kita suka terlalu cepat mengambil kesimpulan, kita sering menganggap negatif semua yang dilakukan pemerintah, padahal tak selalu begitu, kita cuma tidak tau saja apa yang sudah diusahakan pemerintah untuk kita. Terima kasih ibu, terima kasih karena sudah menerima kami dengan tangan terbuka di rumah ibu.. mengenalkan kami pada anak ibu.. dan mengajarkan kami untuk bersyukur lebih banyak :’)
Oiya, ternyata jadi pendengar yang baik saja tidak cukup sodara-sodara. Menunjukkan antusiasme saat merespon lawan bicara juga penting. Kita juga harus membuat lawan bicara kita nyaman sama kita. Kayak ibu-ibu yang saya ceritakan di poin sebelumnya, yang awalnya jutek bisa jadi deket banget hehe
Menghargai pemberian orang lain
Poin terakhir adalah menghargai.. menghargai pemberian orang lain. Awalnya dari pihak penyelenggara survei tidak memberikan souvenir apapun untuk responden. Saya yang terbiasa di msc selalu menerima sesuatu setiap habis bantuin penelitian orang, rasanya jadi ga enak kalo ga nyiapin apa-apa.. jadilah saya nyiapin souvenir, minimal pulpen lah, pikir saya begitu. Ga taunya di lapangan mah beda. Saya nemunya tukang parkir, tukang ojek yang gak butuh pulpen.. malah saya yang dikasih pulpen sama kakek yang saya ceritakan di poin pertama, “ini saya punya pulpen merah, buat kamu aja.. saya gak pake”. Yang awalnya mau ngasih, malah dikasih.. kita mungkin mampu membeli pulpen sendiri, bahkan mampu membeli yang lebih mahal dari itu, tapi jangan sekali-kali menolak pemberian orang.. mereka hanya ingin menyenangkan hati orang lain.. mereka juga ingin bisa memberikan sesuatu.. dan saya hanya bisa melihat ekspresi kakek yang bahagia saat melihat saya menerima pulpen itu :’)
Seperti yang Rasulullah ajarkan, kalau ada yang memberi hadiah terimalah.. kalau tidak diberi hadiah, jangan meminta..
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu menerima hadiah dan sangat menghargainya.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud)
“Barangsiapa yang diberi sesuatu tanpa meminta, hendaklah ia menerimanya. Karena itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Ahmad)
Setiap pekerjaan pasti ada suka dukanya.. Alhamdulillah, saya dapat responden yang baik-baik.. selain ada yang ngasi pulpen, ada yang bikinin minum pas nyurveinya di rumah, disuguhi gorengan ala rumahan, diambilin jambu langsung dari pohonnya, dibeliiin minum, bahkan ada yang sampe ngasi uang. Padahal biasanya respondennya yang dapat souvenir ya, ini malah surveyornya yang banyak dikasi orang hehe.. jazakumullah khair ya bapak ibu responden yang baik.. :’)
Alhamdulillah, itu tadi tiga poin yang insyaAllah jadi pelajaran berharga untuk diri saya sendiri dari pengalaman pertama melakukan survei.. semoga bermanfaaat untuk yang gak sengaja ngebaca tulisan sepanjang ini di dashboard hehe
Oiya, saya juga jadi salut banget sama orang-orang yang penelitian pake survei. Setiap peneliti pasti punya kesulitannya masing-masing. Jadi kebayang gimana anak akuntansi yang misalnya mesti survei ke auditor atau manajer ya, pasti tantangannya beda lagi. Ini baru nyurvei 20 orang aja udah sempat hampir mau nyerah gegara lelah banget kok kayaknya susah dapat responden, padahal yang disurvei itu masyarakat, tinggal berani-beranikan diri aja ngetok rumah orang wkwk. Semangat yaa yang lagi penelitian pakai survei.. kalian sungguh luar biasaaa~
Semangat mengambil hikmah di setiap perjalanan yaa ;)
Sleman, 11 Agustus 2017 | 22.03 WIB | annisafithria