— Pertarungan Tak Terlihat —
───────────────────────────────────────
“Sering kali manusia tidak berhenti karena kehilangan keinginan. Mereka berhenti karena kehilangan harapan bahwa keinginannya mungkin tercapai.”
───────────────────────────────────────
Kita mungkin sering mengira bahwa manusia bergerak karena keinginan.
Kalau ingin bahagia, maka ia akan mengejar kebahagiaan.
Kalau ingin sembuh, maka ia akan berusaha sembuh.
Kalau ingin hidupnya berubah, maka ia akan mulai berjalan.
Masalahnya, batin manusia tidak dirancang sesederhana itu.
Ada orang yang sangat ingin bahagia, namun tidak sanggup menghadapi prosesnya.
Ada orang yang bersedia berjuang, namun tidak lagi percaya bahwa perjuangannya akan membawanya ke mana-mana.
Dan ada orang yang diam bukan karena tidak ingin, melainkan karena harapannya telah terlalu lama kalah.
Kita sering kali mencampurkan tiga hal yang sebenarnya berbeda. Dalam bahasa modern, kita mungkin menyebutnya sebagai keinginan, kesediaan, dan harapan. Menariknya, tradisi tasawuf sejak lama mengenal struktur batin yang tidak jauh berbeda: himmah, mujahadah, 'iffah, raja', dan khidmah.
───────────────────────────────────────
Keinginan adalah bagian yang paling mudah. Hampir semua manusia ingin hidup yang lebih baik. Ingin dicintai. Ingin tenang. Ingin terbebas dari penderitaan. Namun keinginan sering kali hanya menunjukkan arah hati. Ia belum tentu mampu menggerakkan langkah.
Dalam pandangan tasawuf, ini disebut himmah :
توجّه القلب بكليته إلى المقصود
"Pemusatan seluruh perhatian hati kepada tujuan yang dituju."
Himmah bukan sekadar keinginan biasa. Ia adalah dorongan batin yang membuat seseorang merasa terpanggil menuju sesuatu.
───────────────────────────────────────
2. Bersedia atau mau berjuang (Willingness/مجاهدة , عفة)
Bersedia berarti menerima harga yang harus dibayar. Para ulama menjelaskan mujahadah sebagai:
حمل النفس على ما تكره فيما يرضي الله
"Memaksa diri melakukan sesuatu yang berat demi sesuatu yang diridhai Allah."
Sedangkan 'iffah sering dipahami sebagai:
"Menahan diri dari hal-hal yang tidak patut."
Jika himmah adalah tenaga, maka mujahadah membuat manusia tetap bergerak ketika lelah. Sedangkan 'iffah membuat manusia tidak keluar jalur ketika tergoda.
Di titik ini banyak manusia berhenti.
Kita menginginkan hasilnya, tetapi belum tentu siap menghadapi prosesnya.
Kita ingin sembuh, tetapi tidak ingin terluka lagi.
Kita ingin berubah, tetapi tidak ingin meninggalkan hal-hal yang membuat kita nyaman.
───────────────────────────────────────
3. Harapan atau kemungkinan yang dirasakan (Perceived Possibility/رجاء)
Imam al-Ghazali menjelaskan raja' sebagai:
ارتياح القلب لانتظار محبوب في المستقبل
"Ketenangan hati karena menantikan sesuatu yang dicintai pada masa yang akan datang."
Harapan bukan sekadar berpikir positif. Ia adalah keyakinan bahwa langkah yang kita ambil masih memiliki kemungkinan untuk sampai ke tujuan.
Ketika harapan runtuh, manusia sering kali berhenti bergerak. Bukan karena tidak menginginkan tujuannya, melainkan karena tidak lagi percaya bahwa tujuan itu mungkin untuk dirinya.
Namun masalahnya, ketiga kondisi ini tidak selalu berjalan searah.
Kita ingin banyak hal. Namun tidak selalu bersedia membayar harganya. Dan meskipun bersedia, tidak selalu percaya bahwa semua itu masih mungkin untuk diraih.
Ketika kita melihat seseorang mandeg atau "menyerah", biasanya label yang paling cepat kita lemparkan adalah malas, tidak punya ambisi, atau kurang berniat.
Tapi mari coba kita lihat dengan lebih jernih. Sebab bisa jadi penilaian itu lahir dari posisi kita yang kebetulan sedang memiliki ketiga hal tersebut dalam keadaan selaras. Kita lupa bahwa tidak semua orang sedang berdiri di titik yang sama.
Kita mungkin sulit menyadari bahwa ketika salah satu dari tiga hal itu hilang, langkah manusia sering terhenti—tak terkecuali diri kita sendiri.
───────────────────────────────────────
Dan tidak semua langkah yang terhenti lahir dari kemalasan; sebagian lahir dari harapan yang perlahan kehilangan tempat untuk pulang.
────────────────────────────
Dalam banyak tradisi tasawuf, ada satu keadaan lagi yang disebut dengan khidmah (خدمة).
Biasanya khidmah diterjemahkan sebagai pengabdian atau pelayanan. Namun jika dilihat lebih dalam, khidmah bukan sekadar tentang melayani sesuatu di luar diri. Ia juga tentang kesediaan untuk tetap hadir di dalam kehidupan.
Tetap bangun ketika hati sedang lelah.
Tetap berjalan ketika arah terasa kabur.
Tetap melakukan apa yang mampu dilakukan hari ini.
Mungkin karena itulah terdapat ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali:
من علمني حرفا فقد صيّرني عبدا
"Siapa yang mengajariku satu huruf, maka ia telah menjadikanku sebagai hamba baginya."
Bukan karena kehinaan. Melainkan karena adanya kerelaan untuk melayani sesuatu yang dianggap bernilai. Di titik ini, khidmah menjadi bentuk tertinggi dari kesediaan.
───────────────────────────────────────
Dan kehidupan adalah guru yang paling sering kita lupakan. Padahal lewat luka dan prosesnya, ia mengajari manusia huruf demi huruf takdir.
───────────────────────────────────────
Setiap kali manusia memilih untuk tetap berjalan—meski tertatih, meski bingung, meski tidak sepenuhnya mengerti ke mana arah hidup membawanya—mungkin ia sedang berkhidmah kepada guru yang bernama kehidupan.
Dan mungkin di sinilah letak sesuatu yang terasa tragis sekaligus indah tentang manusia: bahwa tidak semua bagiannya utuh, tidak semua harapannya hidup, tidak semua keyakinannya tetap menyala. Namun ia tetap berkhidmah kepada kehidupannya.
Khidmah adalah alasan mengapa seorang ibu yang depresi tetap bangun pagi untuk membuatkan sarapan anaknya.
Khidmah adalah alasan mengapa seseorang yang patah hati tetap berangkat kerja di tengah kereta komuter yang padat.
Khidmah adalah alasan mengapa seorang mahasiswa yang hampir menyerah tetap membuka bukunya sekali lagi.
Khidmah adalah alasan mengapa seseorang yang kehilangan arah masih sanggup berkata:
"Aku akan mencoba lagi besok."
Kadang keinginan melemah.
Kadang harapan hampir padam.
Namun manusia tetap berjalan semampunya. Tetap bangun di pagi hari. Tetap menyapa orang yang dicintainya. Tetap mencoba hidup meski tidak sepenuhnya mengerti untuk apa.
Bukankah itu tragis sekaligus indah?
───────────────────────────────────────
Sebab kita mungkin tak akan pernah benar-benar tahu bahwa di balik satu keputusan yang terlihat sederhana, sering kali manusia sempat mengalami pertarungan panjang yang tak terlihat di antara keinginan, kesediaan, dan harapan.
───────────────────────────────────────
Dan mungkin yang paling layak kita kagumi bukanlah mereka yang selalu kuat. Melainkan mereka yang tetap berjalan meski tidak seluruh bagian dirinya sedang baik-baik saja.
Mereka yang tetap berkhidmah kepada kehidupannya—meski kadang harus berjalan dengan bagian-bagian yang tak sepenuhnya sempurna.