Dua puluh lima tahun, waktu yang terlampau jauh untuk aku baru menyadarinya.
Dua puluh lima tahun, waktu dimana aku ada dan menjadi pembuka bertambahnya usiamu kala itu.
Di balik cahaya lilin yang berpendar, ada senyum kita yang saling beredar.
Memancarkan kebahagiaan setelah sepuluh tahun lebih mata kita tidak saling berbalasan.
Melukiskan kebahagiaan setelah sepuluh tahun lebih tanpa temu yang nyata.
Dua puluh lima tahun, waktu yang terlampau lama untuk kita beberapa kali menjadi jelas dan temaram (blur).
Sangat jelas! bahkan mungkin sejak kita menjadi lawan dalam lomba calistung?
Terputus. Blur. Tidak sadar.
Sangat jelas! disambung dengan secret admirer di sekolah menengah pertama.
Terputus lagi. Blur lagi. Belum juga sadar.
Berlanjut lagi via direct message lewat obrolan-obrolan ringan yang sampai di depan mata.
Lewat masukan-masukan yang sampai di telinga.
Akankah yang blur menjadi jelas, yang terputus menjadi terhubung, dan kita sama-sama saling menyadari?
Terimakasih karena tidak pernah berhenti berusaha.
Mengingatkan lagi dan lagi. Berkali-kali tanpa lelah, membantuku untuk bisa pelan-pelan menerima dan melepaskan apa yang seharusnya memang dilepaskan.
Berusaha terus berusaha, sampai tiba pada lingkar hijau penuh suara.
Kita saling meracau, membuat kepala kita sama-sama kacau.
Kita saling menyadari, membuat yang blur menjadi jelas tanpa tanda tanya lagi.
Karena pada akhirnya, semua yang terlewati menjadi candu yang tak bisa terganti.
Dan bersamamu—adalah takdir yang selalu kusyukuri.