Ada kalanya, hidup terasa seperti serpihan-serpihan teka-teki yang tak pernah tersusun dengan rapi. Saat langit tampak mendung dan hari-hari terasa monoton, kita sering kali bertanya-tanya, "Mengapa harus begini?" Namun, di tengah-tengah kekacauan itu, ada satu prinsip yang mulai mengalir dalam darah kita: Amor Fati—mencintai takdir.
Dulu, aku berjuang dengan segala ketidakpastian, berusaha melawan setiap rintangan yang datang. Setiap kegagalan membuatku merasa semakin kecil, seperti tak ada yang lebih buruk daripada itu. Tapi, aku lupa satu hal: takdir itu bukan musuh. Takdir adalah bagian dari kita, entah kita menyukainya atau tidak. Dan justru, di sanalah letak kebebasannya—menerima tanpa perlu melawan.
Sekarang, aku belajar untuk melihat segala yang terjadi dalam hidup dengan cara yang berbeda. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan yang membentukku menjadi lebih kuat. Hari-hari yang kelabu, kesalahan, bahkan saat-saat kesedihan itu, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Mereka adalah bagian dari takdirku yang harus aku terima, bukan sebagai beban, tapi sebagai langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang siapa aku.
Amor Fati—mencintai takdir. Menerima setiap potongan hidup dengan cinta, bukan kebencian. Bukan hanya menerima hal-hal baik yang datang, tetapi juga berani mencintai momen-momen sulit, karena dari sana kita tumbuh. Seiring waktu, aku menyadari bahwa takdir bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan, tetapi yang perlu dicintai.
Hidup ini bukan tentang melawan segala hal yang datang, melainkan tentang berdamai dengan perjalanan itu. Aku mencintai setiap sisi dari takdirku, karena itu yang membentukku.
@ffahraa , hari keempat dari #28hariberprosa