"Kamu kapan sih nikah?" tanya Ibu tanpa intro. Aku yang sedang menyisir rambut buru-buru menoleh ke Ibu yang sedang duduk di sebelah meja makan. "Nikah?" tanyaku. Memastikan telingaku tidak salah dengar. "Iya, nikah. Masa mau gini-gini terus," sahut Mbak R yang saat itu duduk berhadapan dengan Ibu. "Kenapa sih tiba-tiba ngomongin nikah?" aku mencebik kesal. Belum hilang rasa mulas di perut, justru ditambahi dengan pertanyaan paling biadab sedunia. Mulas di perutku jadi bertambah dua kali lipat rasanya. "Gak pengen kayak temen-temenmu?" "Nggak! Ngapain? Wong ini hidupku, mosok mau disama-samain?" "Orang itu cara pikirnya harus diubah. Mau gitu-gitu terus? Dinaikin sedikitlah!" Mbak R menimpali. Demi Tuhan, aku makin mulas rasanya. "Itu liat Mas Yudi, anaknya sudah mau tiga. Istrinya seumuran kamu loh. Kamu sama Yudi dulu sekelas bukan?" aku memutar mataku kesal. "Itu lagi Lek Riska anaknya sudah mau jalan. Temenmu lagi itu si Puji, anaknya udah lahir. Elok juga sudah punya anak. Anaknya si Fitri malah udah mau TK." "Ya terus kenapa sih kalo mereka punya anak?" ujarku gusar. "Kamu gak iri? Gak pengen gitu?" aku menggeleng. Kuraih toples keripik di depanku dan mulai melahap isinya untuk membuang kesal. "Kamu kenapa sih kemarin mau dilamar Mas Agus nggak mau?" "Nggak kenal!" "Dia kan udah deketin kamu." "Abis annoying. Ganggu banget. Mosok tiap hari diberondong chat kayak aku punya hutang aja sama dia. Belum lagi sering telepon-telepon. Ngajak ketemu lah. Kangen lah. Lagian aku kemarin punya pacar. Eh, sekarang sih udah putus sama dia. Yo wislah ngapain jadi bahas Mas Agus sih?" "Gini lo, Nduk. Bukannya apa, gimana ya bahasanya? Ibu tuh lebih suka aja kalau semisal kamu nggak ngeyel gini. Ibu gak nuntut apa-apa kok. Kalo kamu mau nikah, gapapa. Ibu gak akan minta macem-macem. Ibu malah lega, anak perempuan ibu satu-satunya akhirnya ada yang jagain. Hidupnya bisa lebih teratur. Gak bikin was-was kayak sekarang," ya Allah jadi aku beban banget ya buat emak. "Makanya, rasanya ibu pengen cepet-cepet liat kamu nikah. Sama siapa aja. Yang penting ndak nyakitin kamu. Sayang sama kamu. Dan bukan tukang selingkuh." Aku menghembuskan napas panjang. "Bun, kenapa sih orang harus nikah?" tanyaku. Biar bisa ena-ena halal, po? sambungku dalam hati. Mana berani aku nanya begitu langsung di depan ibuku. Syukur-syukur, malah kepalaku yang akan jadi korbannya. "Biar ada yang nemenin. Ada yang ngerawat. Ada yang mengingatkan kalo di rumah ada yang nungguin. Buat memperbaiki biar hidupnya lebih tertata. Banyak alasannya, Nduk. Dan jangan lupa, nikah itu ibadah." "Gitu, ya? Tapi sekarang dengerin Nduk, ya. Bukan niat nyinyir atau apa. Cuma uneg-uneg aja sih. Abis ini kuharap ibu ndak ngomongin soal itu lagi, ya?" Aku mengikat rambutku asal-asalan. "Pertama, aku nggak akan nikah dini. Pokok di bawah 20 tahun aku nggak bakal nikah. Omong-omong, umurku masih 19. Kedua, targetku setelah umur 25. Jadi, jangan nanyain kapan aku nikah, ya? Ketiga, aku belum bisa banggain emak-bapak. Aku masih suka nyusahin, belum mandiri, kadang manja, manajemen emosi dan masalahnya amburadul, yakin mau ngasih aku ke anak orang?" ibu menggeleng. Aku beranjak ke kulkas, membukanya dan mengambil sebotol air dingin. "Kalo ibu risih sama omongan tetangga gara-gara aku belum nikah, aku gak akan pulang. Sekalian aja. Toh, aku juga gak kenal lingkungan di sini," aku menuang air yang kuambil tadi kesebuah gelas bening. Meneguknya dengan cepat. "Lagian, kalo mau bandingin itu jangan sama yang udah nikah. Banyak temen-temenku yang berprestasi. Mosok iri sama yang nikah? Salah besar dong!" "Tapi, Nduk, kamu aja nggak tau perasan ibu kalo jauh sama kamu." "Aku tau, Bun. Ibu khawatir, takut, was-was, kan?" "Lebih dari yang kamu bayangin malah," sahut Mbak R. Iya, aku tahu banget kok Mbak. Aku sadar diri. "Kenapa aku malah merasa kayak dibuang ya kalo gini?" batinku, sisi kekanakanku muncul. Bukan salah ibu sih selalu mempertanyakan soal pernikahan padaku. Pasalnya, tradisi di sini hampir semua temanku menikah di usia 16-17 tahun. Karena banyak yang tidak melanjutkan ke SMA, otomatis menganggur dan pada akhirnya menikah. Dan aku salah satu yang melenceng dari tradisi itu. Setelah mengajukan cuti untuk semester depan, aku bahkan belum punya rencana akan melakukan apa. Hal tersebut yang kemudian membuat ibu gusar dan gatal ingin melihatku menikah. Kondisi yang selalu kubenci karena tetap tidak ada yang memahami alasanku enggan menikah. Orang tuaku divorce, dan hal tersebut meninggalkan trauma yang lumayan membekas di kepalaku. Ditambah kelakuan bapak tiriku sebelumnya membuatku ragu untuk mempercayai sebuah pernikahan. Terutama kesetiaan. Bisa dibilang aku mengalami krisis kepercayaan. Selain itu, masih banyak mimpi yang ingin kucapai. Dan barang tentu tidak akan bisa kucapai kalau aku menikah. Lalu aku merasa lapar setelah menulis uneg-uneg konyol ini. Ya sudahlah, selamat hari Kamis dan jangan lupa sarapan! Bhay.