aku sudah menemukan titik lelah tapi entah kapan aku harus menyerah
terkadang hari cerah, seperti pembawa pesan, sebuah harapan
tidak seperti isi kepala, kaleng bekas yang dipukul terdengar nyaring, hanya harapan kosong
siapa yang tau, waktu yang baik akan datang, mendekap dan mengulurkan tangan
tapi wajar jika yang dulunya apik terjaga, tak bisa ditemukan lagi, hilang atau mungkin memulai dongeng baru, aku rasa bisa menulis cerita sungguhan
dengan tokoh baru? alur seperti apa? apakah bisa sebuah 'akhir' akan terdengar lebih melegakan? -aku masih tak begitu yakin
ah sialnya siapa yang akan kembali dan bertanya akan hal yang ingin sekali aku jawab
selalu terbayang versi terbaik mimpi-mimpi itu, intuisiku ingin menemukan ruang, bersama naluri?
kurasa mereka sama, hanya nalar yang akan berceloteh karena keras kepalanya aku memilih jalan yang memutar, terlalu paham bahwa aku kalah
seperti mainan yang sedih karena pemiliknya mendapat hadiah baru, bingung mencari pembenaran ia pantas menyimpan senyumnya, padahal yang ia lihat adalah kebahagiaan
sudah aku putuskan untuk tidak merubah apapun, tapi tak berhasil untuk sekedar menyapa
sudah aku putuskan untuk mulai melangkah, tapi tak berhasil untuk sekedar resah apalagi berharap yang lalu kembali
padahal jika berhasil pun apakah tetap sama? laiknya lampu merah yang akan selalu menjadi rambu berhenti di jalan
-tidak lagi, siapapun dan kapanpun
Selasa, 19 Mei 2020 '00.50