[baca bagian sebelumnya: Surat Al-Fiil Bagian 3]
Dan kemudian kita bertemu dengan 2 kata ini. "'Ashfin" pada "faja'alahum ka'ashfin". Dia jadikan mereka, Dia ubah mereka. "Ja'ala" dalam bahasa Arab digunakan ketika kau punya sesuatu kemudian kau ubah menjadi sesuatu yang lain. Misalnya kau ambil kayu dan kau ubah menjadi meja, itulah "ja'ala". Bukan "khalaqa", "khalaqa" berarti kau menciptakannya begitu saja. Tapi "ja'ala", kau mengubahnya dari sesuatu menjadi sesuatu yang lain.
Jadi sebagai contoh Allah 'Azza wa Jalla berkata "waja'alnaakum ummatan wasatho". Dia menjadikanmu, Dia membuatmu menjadi umat pertengahan. Kau pada awalnya sudah ada, tapi Dia mengubahmu. Jadi Allah ingin mengatakan bahwa orang-orang ini, Allah ubah mereka.
Ngomong-ngomong, "ja'ala" juga digunakan untuk sesuatu yang ada sebelum dan sesudahnya. Jadi mereka adalah pasukan yang kuat sebelumnya. Dan kemudian Allah mengubah mereka dan kita lihat mereka menjadi apa? Ini yang akan kita ketahui.
"Faja'alahum", Allah tidak mengatakan "faja'alahum 'ashfum ma'kuul". Allah berkata, "faja'alahum ka'ashfin ma'kuul". "Ka" digunakan untuk "tashbih" atau penyerupaan. "Dia menjadikan mereka seperti/seolah-olah.. Dia menjadikan mereka seperti/seolah-olah..". Jadi Allah ingin kita membandingkan seperti apa mereka terlihat dengan sesuatu yang bisa kita lihat.
Ini juga sangat penting, karena kita tidak ada di sana. Kita tidak melihat apa yang terjadi, dan saat itu tidak ada video. Jadi Allah menunjukkan "videonya" lewat firmanNya. Dia menunjukkan pada kita gambarannya melalui kata-kata ini. "Kau ingin tau mereka terlihat seperti apa? Karena Aku sebelumnya menjelaskan bagaimana Aku mengatasi mereka. Kau ingin tau seperti apa jadinya mereka? Biar Aku beritahu, mereka terlihat seperti..." (dengan huruf "ka") "'ashfim ma'kuul".
Jadi mari kita lihat kata ini satu per satu. "Ashf" dalam bahasa Arab dan "aashif" secara spesifik, lebih tepatnya digunakan untuk angin. Angin yang bertiup hingga mampu menjatuhkan daun. Kau tau tumpukan dedaunan, terutama di musim gugur, ada banyak daun berjatuhan, daun ini berada di tanah. Kemudian angin itu membuatnya terbang ke atas. Angin yang seperti itu disebut "aasifa", atau "riihin 'aashif".
"'Aasif" secara bahasa artinya adalah sesuatu yang meniup dedaunan dan kerikil ke udara. "'Ashf", atau "'ashfa" lebih tepatnya, adalah dedaunan yang sudah terputus dari dahannya, sudah layu, dan hancur, itulah kondisinya. Kata "'ashf" juga digunakan untuk jerami, karena ketika angin bertiup, benda apa yang ikut terangkat? Ada jerami-jerami kecil yang lemah, mereka ikut tercabut dan beterbangan di udara, oke? Jadi seperti itu definisi kata "'ashf".
Tapi Dia (Allah) berkata, Dia jadikan mereka SEPERTI "'ashf". Tapi Dia tambahkan pula "ma'kuul", yang dikunyah, yang dimakan. "Ma'kuul" artinya adalah sesuatu yang dimakan. Dan "'ashfiin ma'kuul" adalah kata yang digunakan oleh bangsa Arab ketika seekor unta atau hewan ternak lainnya, mereka mengunyah sesuatu. Dan hewan-hewan mengambil makanan yang banyak untuk dikunyah dan sebagiannya jatuh. Sebagiannya ada yang terbuang, dan sisa yang ada di tanah itu disebut "'ashfiin ma'kuul".
Jadi Allah berkata, "Kalian ingin tahu seperti apa mereka?". Mereka terlihat seperti sisa remahan itu. Yang sudah dikunyah hewan ternak dan jatuh dari mulut mereka. Seperti itulah tampilan mereka kalau kau ingin tau seperti apa mereka dihancurkan.
Konsepnya adalah hewan-hewan akan menggunakan kekuatan penuh rahangnya untuk mengunyah makanan, dan benar-benar mengunyahnya dan menghancurkannya. Sisa-sisa yang ada di tanah itu, seperti itulah Allah menggambarkan kepada kita, bagaimana Dia menghancurkan pasukan itu, dan bagaimana Dia menjadikannya seperti itu. Ini adalah makna pertama dari kata tersebut.
Kemudian "ma'kuul" bukan hanya berarti sesuatu yang dimakan. Dia juga bermakna sesuatu yang memang pada dasarnya menanti untuk dimakan. Dengan kata lain, "ma'kuul" adalah sesuatu yang memang sudah ada di sana, dan mereka tidak berdaya, mereka hanya bisa pasrah. Kau tau, seekor hewan yang akan dimakan, setidaknya mereka masih bisa berlari. Tapi jerami, atau rerumputan, atau apapun yang ada di depan hewan ternak, mereka tidak bisa lolos, takdir mereka adalah untuk dihancurkan (dimakan, red.). Allah swt. membandingkan mereka dengan makanan yang tak berdaya yang tidak punya pilihan lain selain dimakan. Seolah-olah mereka tidak punya jalan lari, sehingga "'ashfiin ma'kuul" yang digunakan.
Dan ada sebuah komentar dari Asy-syaukani rahimahullah, bahwa Allah swt. mengirimkan burung-burung ini, yang melempar batu-batu dengan akurasi yang sangat jitu. Dari tanah liat yang sudah dibakar menjadi batu, sehingga mereka hancur seolah-olah sesuatu yang di kunyah dan benar-benar hancur. Dan Allah swt. deskripsikan kondisi mereka ini. Allah swt. gunakan kata ini untuk mendeskripsikan mereka untuk menghinakan mereka.
Pasukan ini, mereka mengira mereka sangat kuat, dan Allah umpamakan mereka dengan sesuatu yang sangat lemah. Bahkan bukan daun yang masih menempel di dahan, tapi daun yang sudah terlepas dari pohonnya. Benar-benar lemah, itu adalah simbol kelemahan terbesar. Tidak butuh tenaga apapun untuk menggerakkannya, bahkan angin bisa menggerakkannya. Jadi Allah swt. mengandaikan pasukan terkuat dengan gambaran terlemah yang pernah ada.
Semoga Allah 'Azza wa Jalla memberikan kita pemahaman yang dalam dan jelas tentang buku ini, dan kemampuan untuk mempraktikkannya. Dan semoga Alla 'Azza wa Jalla menanamkan kebaikan ke dalam hati kita, dan mencabut segala keburukan dan kesalahan dari ingatan dan hati kita. Baarokallahu lii walakum fil Qur'aanil hakiim.. wa nafa'nii wa iyyaakum bil aayaati wa dzikril hakiim.
Wassalaamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuuh