Duka yang sudah aku sangka. Sayangnya, menjadi duka paling menyakitkan bagiku.
Semesta, aku punya duka yang sudah ku sangka sebelumnya akan datang.
Aku punya duka yang sudah berteriak bahwa aku seharusnya berhenti dari awal.
Duka kali ini terasa sangat menyakitkan, bagaimana bisa?
Aku harus merelakan seseorang yang bahkan belum aku genggam padahal kehadirannya sangat ku damba dan mendekapku lebih berwarna ketika hidup terasa hitam putih.
Sayangnya, aku kalah telak. Entah kalah dari masa lalunya yang masih erat tergenggam atau kalah karena aku tak cukup mampu menjamin cintanya lebih aman dihatiku.
Yang aku ketahui hanya “cintaku sama sekali tak di usahakan” padahal aku menunggunya sampai lebur tak tersisa. Sampai jiwaku hampir terbunuh karena memaksa tetap tinggal dan mencoba sekali lagi padahal sudah hancur tak tersisa.
Semesta, jika sampai akhir hidup ini kita tidak bertemu lagi maka kutitipkan segala yang terbaik untuknya. Untuk dia yang sempat berkali-kali aku minta kepada-MU, Tuhan. Untuk dia yang sempat ku usahakan berkali-kali.
Duka ini, adalah duka paling sakit dari mencintai yang pernah aku rasakan. Meskipun telah kuduga kehadirannya, tapi aku sangat tidak siap ketika duka ini hadir.
Mengucapkan selamat tinggal tidak ada yang ringan bagi mereka yang mencintai setulus hati. Berpamitan tidak ada yang menyenangkan bagi mereka yang berkali-kali mencoba tetap tinggal. Dan merelakan sungguh menyakitkan bagi mereka yang tidak pernah mau pergi.
Untuk pemilik Kopi Enak, seorang anak laki-laki yang dicintai, kamu harus tahu bahwa pernah ada seorang wanita yang memutuskan untuk menunggumu hingga dia ditarik paksa oleh semesta untuk beranjak. Sebelumnya, dia ditampar berkali-kali tapi ia selalu bersujud kepada Bunda dan Tuhan-nya untuk diberikan kesempatan lebih lama lagi, lebih lama lagi untuk ada disampingmu. Dia, selalu memilih tinggal padahal berkali-kali tawaran pergi itu selalu menjadi opsi. Tapi dia selalu memilihmu, karena dia menyayangimu. Sayangnya, semakin kuat dia mengusahakanmu semakin sakit, semakin gemetar, semakin terbunuh jiwanya. Dan kamu, kamu tidak pernah datang untuk menolongnya.
Semesta, takdirmu membuatku harus berkali-kali berlutut dan menangis sambil berteriak kepada Tuhanku untuk menghilangkan perasaanku padanya. Pada dia, pemilik Kopi Enak itu. Pada dia yang kini menjadi duka paling menyakitiku. Tapi, aku mencintainya dengan sadar. Dan aku mensyukurinya. Terima kasih atas kesempatan baiknya.
by Fritsa











