[Oneshot] Caine - Grieve 2
Sudah beberapa minggu sejak aku, bersama anak-anak resmi pindah ke kota Glory. Bukan sebagai TNF, tapi sebagai The Council. Organisasi besar dibalik The Continental yang merupakan pemimpin dari kelompok-kelompok badside di kota ini. Organisasi yang mengatur jalannya bisnis gelap di kota.
Selama itu juga, setiap kali melewati markas Hashirasai---markas salah satu kelompok ilegal di kota ini, aku dan Rion, juga anak-anak akan diam. Tidak ada yang berani mengatakannya, tapi siapapun tau kalau tempat itu adalah tempat paling traumatik bagi kami. Karna disanalah kami kehilangan anggota keluarga kami yang berharga.
Rion dan aku, kehilangan putri bungsu kami.
Bukan cuma ketika melewati markas Hashirasai saja, setiap kali kami melewati jalan dekat makam Mia, kami---terutama aku dan Rion akan diam untuk sesaat. Yah, mungkin beberapa orang sudah bisa menerima kenyataan dan bahkan sering datang mengunjungi makam Mia... Tapi tidak denganku dan Rion.
Selama kami di kota ini, tidak sekalipun kami memiliki keberanian untuk datang ke makam Mia. Terlalu takut, aku takut menerima kenyataan. Karna dalam pikiranku, anak bungsuku itu sekarang hanya sedang berada di luar negri, sedang berobat seperti biasa dan nantinya akan pulang lagi menemuiku.
Tapi aku pun tau, kalau itu semua hanya angan.
Mia tidak akan kembali lagi. Aku tau itu..
Hanya saja... Aku merasa masih butuh waktu...
Aku masih butuh waktu untuk menerimanya.
Sejauh ini pun, aku belum bertemu dengan anak yang katanya membuat Mia mengorbankan nyawanya untuknya. Kalau tidak salah, namanya Jocelyn atau Ocel. Hime dari Hashirasai. Selia bilang, Mia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa Ocel---yang ternyata saudara Mia sendiri. Aku tidak begitu mengerti dengan ritual pengorbanan yang dimaksud, tapi pada intinya, dengan ritual pengorbanan itulah Mia bisa menyelamatkan Ocel. Sesuatu seperti memasukkan jiwa Mia kedalam tubuh Ocel----terdengar gila memang.
Katanya, Mia melakukan itu semua tanpa paksaan. Semuanya murni keinginan Mia yang ingin menyelamatkan saudaranya. Sayangnya Mia lupa, kalau dia masih punya keluarga yang sangat menyayanginya. Yang sangat kehilangan dirinya, termasuk aku dan Rion.
Kami begitu hancur, apalagi karna berita itu datang bersamaan dengan duka kehilangan Dede King, putra pertama Thea dan Rakean.
Mengingat kondisi Rion saat itu yang sangat rapuh dan kacau, aku tidak sanggup menahannya. Aku pun ikut hancur disana.
Butuh waktu sangat lama, sangat amat lama sampai akhirnya aku dan Rion bisa kembali bangkit dan pergi ke kota Glory untuk mengurus urusan yang belum selesai. Selama waktu itu, aku dan Rion pun memutuskan untuk tinggal di desa, dan anak-anak mengikuti kami tanpa bertanya.
Berkat itu, aku dan Rion bisa bangkit kembali. Syukurnya...
Meski sampai sekarang kami berdua masih tidak punya keberanian untuk mendatangi makam Mia.
Tapi cobalah kehilangan anggota keluarga yang sangat kau sayangi. Kalian baru akan memahami perasaan kami setelahnya.
Sampai suatu hari, tiba-tiba saja, The Dome kedatangan tamu.
Sejujurnya aku tau kalau lambat laun, selama aku masih tinggal di kota ini, kami akan bertemu dengan anak itu.
Tapi rasanya sangat tidak siap.
Aku nyaris mematung ditempat begitu melihat satu sosok berpakaian serba kimono Jepang duduk disalah satu sofa yang ada didalam Dome begitu masuk. Sedang duduk diam sambil memperhatikan anak-anakku yang lain bersenda gurau didepan counter kasir tanpa kata. Dari tatapannya, tampak seperti sedang melihat keluarganya sendiri setelah sekian lama tak berjumpa. Dipenuhi rasa rindu dan bahagia.
Dari tempatku didekat pintu masuk, aku bisa melihat jelas wajahnya yang benar-benar memiliki kemiripan dengan Mia, hanya dengan rambut yang lebih gelap. Menegaskan hubungan kekeluargaan yang mereka punya.
Benar, dihadapanku, didalam Dome, duduk sosok Jocelyn atau Ocel. Sosok yang paling ku hindari untuk bertemu selama ini. Aku tidak tau apa yang dia lakukan disini, tapi entah kenapa, dadaku sesak begitu melihatnya. Entah kenapa ada perasaan seperti ingin berlari dan memeluknya, tapi disisi lain ingin mencemooh dan menyalahkannya atas kehilangan yang aku alami. Perasaanku campur aduk, bingung harus apa.
Lama berdiri didepan pintu, Dayang, istri dari salah satu anakku, Gabe, menjadi orang pertama yang menyadari keberadaan ku. Segera mengajak suaminya untuk menghampiriku. Bertanya ada apa atau apakah ada yang salah. Tapi begitu Gabe melihat arah pandanganku, anak itu langsung mengerti.
"Mami masuk aja yuk mih, ngumpul sama yang lain." Ajaknya, seperti tau aku merasa gundah.
Aku tersenyum kecil, mencoba menyadarkan diri. Anak itu bukan Mia.. dia hanya saudara Mia. Aku harus sadar diri..
Pada akhirnya aku mengangguk, ikut bergabung bersama yang lain mengikuti ajakan Gabe. Anak-anak menyapaku, menanyakan kabarku dan dari mana saja aku. Mereka tampak sangat ceria, berbanding terbalik dengan pikiranku yang berkecamuk. Punggungku terasa panas, merasakan tatapan yang terus terasa dari arahnya. Begitu aku bergabung dengan anak-anak, kini anak itu sepertinya memusatkan seluruh perhatiannya padaku. Tapi dia tetap diam ditempatnya, tidak beranjak, tidak juga menghampiri. Hanya diam menatap kearah kami dengan tatapan yang sama campur adiknya dengan perasaanku.
"Mih, mami udah tau belum? Bentar lagi Dede Noy bakal lulus kuliah!" Ucap Selia dengan excited.
Aku teralih, topik soal Noy berhasil mengalihkan pikiranku dari anak yang masih duduk tak jauh disana. Tersenyum cerah begitu mendengar soal Noy yang sudah mau lulus kuliah.
"Iyakah? Wah! Hebat Dede, lulus lebih awal berarti ya?"
"Iya dongg, anak siapa dulu! Cucu siapa dulu hihi." Dengan bangga, Selia tersenyum sumringah.
Aku ikut senang, "jurusan apa deh Dede kuliahnya?"
"Kedokteran mih, kan Dede bilang mau jadi kayak mami!"
Aku tertawa, gemas karna Selia mengatakan itu. Masa iya karna aku. Dede Noy itu anak yang pintar, dan sejak kecil dia sudah sering bermain di rumah sakit bersama Mako, Iana, Marchie, Ruby dan Hiku. Jadi kemungkinan besar itu karna uncle dan aunty-nya. Malah tadinya aku berpikir, Dede Noy akan mengikuti jejak papoy-nya sebagai polisi. Karna anak itu lebih sering berada di kepolisian daripada dirumah sakit.
"Lah bener atuh mih." Sanggah Riji. "Orang Dede sendiri yang bilang kalau dia mau ngikutin jejak Mimoyang nya."
"Iya tuh, Mih!" Iana pun setuju.
Aku terkekeh lagi, "I see, I see. Jadi kapan Dede bisa ikut ke Glory?"
"Dih, Sel, kita juga penasaran ini!" Protes Rakean.
"Iya, kangen banget udah lama gak ketemu Dede nih!" Sambung Thea.
Selia dan Riji hanya tertawa saja. Tapi kalau mengingat kepribadian kedua anak itu, kepulangan Noy pasti jadi surprise dan pasti pakai cara yang sama mengejutkannya.
Aku hanya tersenyum, sesekali terkekeh menanggapi anak-anak yang kemudian masih saling mengobrol. Selama itu, belakang punggungku masih terus terasa panas. Dari sudut mataku juga, aku bisa melihat anak itu masih duduk ditempatnya, tapi kini tidak lagi sendiri. Dua orang pemuda entah siapa sudah ada disisinya. Berdiri tegap dengan tangan terlipat ke belakang. Alisku bertaut bingung, kapan mereka datang?
Sebuah senggolan pelan terasa di pundakku, membuatku menoleh kesamping. Rupanya Selia, menyenggolku karna aku tampak tidak fokus. Dengan suara berbisik, anak itu bertanya.
"Mami penasaran ya sama si Jocelyn?"
Aku tersenyum kecil, mengangguk pelan. Memilih jujur, karna itu memang benar. Aku penasaran sekali dengan anak itu, tapi tidak siap bertemu. Aku takut tidak bisa bersikap dewasa. Aku takut malah akan menyalahkan anak itu soal apa yang terjadi pada Mia. Meski aku tau, Mia melakukannya atas keinginannya sendiri.
Mendadak aku merasa sangat tidak dewasa.
Jika itu Rion, dia pasti bisa mengatasi perasaannya lebih baik daripada aku.
"Iya, cuma.. dia mirip banget sama Dede Mia." Ucapku pelan.
Seketika anak-anak disekitarku diam, seakan mengerti perasaanku. Mereka saling tatap, seakan saling bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk menghiburku. Membuatku terkekeh pelan, mereka sangat mengkhawatirkanku.. padahal akulah yang lemah karna tidak bisa menerima kepergian anakku dengan ikhlas.
"Gapapa, gapapa." Aku mengangkat kedua tangan. "Aku gapapa guys."
Selia dan Riji saling pandang.
"Mami mau coba bicara sama dia? Kayaknya dari tadi juga dia ngeliat kearah sini terus."
"Hah, gausah, gausah. Gapapa kok."
"Tapi dia keliatannya mau bicara sama mami tuh Mih."
Aku melirik kearah anak itu yang masih melihat kearah sini, melihat setitik raut sedih diwajahnya. Dadaku rasanya seperti tersentil.
"Emangnya kenapa dia bisa kesini?" Tanyaku, sedikit heran. Karna sekian minggu kami disini, ini pertama kalinya anak itu muncul.
Juna ikut angkat bicara. "Tadi kesini bareng anak Hashirasai yang lain, mih. Biasa, ngomongin bisnis. Tapi yang lain udah pada pulang, dia masih duduk disitu."
"Kita juga gak bisa usir kan Dome public space ya." Jelas Iana.
Aku melirik anak itu sekali lagi. Apa memang ada yang ingin anak itu bicarakan? Makanya dia tetap disini meski keluarganya semua sudah pulang. Dua orang yang bersamanya tampak lebih seperti bodyguard dibandingkan keluarga, dan jika mengingat posisinya sebagai Hime di Hashirasai.. yah, masuk akal juga.
Apa memang sudah saatnya aku memberanikan diri bicara dengannya..?
Rasanya tidak siap, tapi aku tau lambat laun, aku harus berhadapan dengannya.
Pada akhirnya aku mengangguk, meminta Riji, Selia dan Juna mengikuti ku untuk mendekati anak itu. Sedangkan anak-anak yang lain tetap ditempat mereka, kembali mengobrol sambil memperhatikan kami dari jauh.
Melihatku mendekat, anak itu, Jocelyn pun bangkit, berdiri dari tempatnya. Seakan sudah menunggu untuk menyambutku.
"Halo, Tuan." Sapanya, suaranya langsung mengingatkanku pada Mia.
Bahkan sampai suaranya pun mirip..
Aku tersenyum kecil, mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. "Halo, um.. Hime?"
"Panggil saya Ocel saja, Tuan." Pelan, anak itu tersenyum.
Aku mengangguk, "kalau boleh tau, apa ada yang tidak nyaman selama kamu disini?" Tidak tau harus mengatakan apa, aku malah bertingkah seperti customer service Dome. Tapi sudahlah, aku tidak tau bagaimana harus bersikap.
"...ternyata masih sama..." Samar, aku mendengarnya bergumam.
Tapi anak itu dengan cepat kembali tersenyum.
"Gak ada yang gak nyaman, Tuan. Tempat ini sangat indah."
Aku sebenarnya ingin bertanya kenapa dia masih disini sementara anggota Hashirasai yang lain sudah kembali. Tapi melihat caranya tersenyum, lagi dan lagi mengingatkanku pada Mia.
Kenapa wajah dan suaranya harus semirip ini dengan Mia?
Dadaku sesak, entah kenapa rasanya seperti sedang berhadapan dengan putriku Mia, tapi tidak bisa memeluknya karna dia bukan lagi Mia yang kukenal.
"Ada yang ingin saya bicarakan, Tuan Caine..." Suara anak itu memelan. "Bisakah saya bicara berdua saja dengan dirimu, tuan?"
Aku hampir menahan nafas. Melirik Riji, Selia dan Juna untuk sesaat. Ketiga anak itu mengangguk, berucap pelan selama kami bicara ditempat yang masih dapat mereka lihat, aku bisa bicara dengan anak ini. Dan aku pun setuju, mengajak hanya anak itu untuk ikut bersamaku naik ke lantai 2. Anak itu pun sempat menyuruh kedua bodyguard nya untuk menunggu di bawah. Yang langsung dipatuhi mereka.
Lagipula lantai 2 Dome itu cukup terbuka, jadi anak-anak masih bisa melihat kami dan mungkin mendengarkan percakapan kami kalau kami bicara dengan nada keras. Tempat terbaik yang ada di Dome.
Begitu tiba dilantai atas, aku mempersilahkan anak itu untuk duduk di sofa sementara aku hendak mengambil posisi duduk didepannya. Tapi tanpa disangka, begitu aku duduk, anak itu malah langsung menjatuhkan diri kedepanku, bersimpuh dengan kepala tertunduk. Membuatku terperanjat dan refleks kembali berdiri dengan kaget.
Tenggorokanku rasanya tercekat, terkejut.
Anak itu tetap menunduk, bahunya kini bergetar. "Maafkan diriku, Tuan. Karna aku, anda harus kehilangan anak anda. Maaf tuan... Maaf..."
Hatiku perih sekali mendengar suaranya yang bergetar. Tapi kata-kataku seperti tertahan diujung lidah, seakan apa yang ada dihati dan kepalaku berbeda dengan apa yang sudah hampir terucap dari bibirku.
"Semuanya salah saya, tuan.. hiks.." dia terisak. Dan aku tidak sanggup lagi berdiam diri.
Aku langsung berjongkok didepannya, memegang kedua pundaknya dengan sedih.
"Bukan.. jangan bilang gitu.. itu bukan salah kamu." Ucapku, suaraku pun hampir goyah.
Rupanya anak ini sama sepertiku, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Mia. Kami sama-sama tau kalau apa yang Mia lakukan itu atas keingannya sendiri, tapi dengan egois kami tetap menyalahkan. Aku menyalahkan anak ini, dan anak ini menyalahkan dirinya sendiri.
Sekarang aku merasa seperti manusia terburuk didunia. Ya, aku memang kehilangan putri bungsuku, tapi bukan hanya aku yang kehilangan disini. Anak ini pun, Ocel kehilangan saudaranya. Keluarga kandungnya.
"Itu bukan salah kamu, Ocel.. itu pilihan Mia. Gak ada yang bisa menghentikan Mia saat itu karna itu apa yang mau dia lakuin..."
"Tapi Mia gak ada karna saya!" Terisak, Ocel tidak bisa menahan dirinya. "Saya.. hiks.. saya kirim dia pergi jauh, berharap dia bisa bahagia sama keluarga barunya. Tapi dia malah kembali dan mati karna saya. Saya.. saya merasa sangat bersalah, tuan."
"No, no.. dia gak meninggal karna kamu. Dia memilih itu untuk kamu, Ocel.. dia ingin menyelamatkan kamu. Kalau posisinya dibalik, aku yakin kamu pun pasti akan melakukan hal yang sama, kan?"
Ragu, aku memberanikan diri untuk memeluk Ocel. Dadaku sesak, tapi begitu membawa anak itu kedalam pelukanku, entah kenapa aku merasa begitu lega. Rasanya seperti aku bisa memeluk Mia lagi. Sampai-sampai aku tidak sadar sudah hampir ikut terisak.
"Jangan menyalahkan diri kamu lagi, Ocel... Kalau begitu, sama aja seperti kamu gak menghargai pengorbanan Mia. Mia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kamu, jadi kamu harus hidup bahagia menggantikannya."
Aku benar-benar sedih. Tapi disisi lain, juga lega. Rasanya seperti akhirnya aku bisa menerima kepergian Mia. Rasa berat yang seolah menekan dadaku selama ini seakan terangkat, meleleh bersama dengan rasa hangat yang kurasakan dari anak dalam pelukanku. Aku mengusap rambutnya pelan, mencoba menenangkannya yang masih terisak meski sudah tidak sekencang tadi. Terus merasakan deja vu, seakan aku sedang memeluk anakku sendiri, Mia Eleanor.
Butuh beberapa menit sampai Ocel akhirnya tenang. Begitu melepaskannya, wajahnya sudah memerah dan matanya sembab. Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku, mengusap air matanya dengan lembut.
"Kamu gak perlu menyalahkan dirimu lagi. Aku dan yang lain sudah menerima kepergian Mia. Jadi kamu juga harus begitu, kamu harus melanjutkan hidup kamu dengan lebih baik lagi, Ocel. Sayangi diri kamu, karna kehidupan kamu itu pemberian Mia. Kamu juga pantas bahagia, Ocel." Ucapku dengan lembut.
Anak itu menatapku dalam-dalam, diantara segukan ia mengangguk samar.
"Baik, tuan... Saya akan menjaga nyawa pemberian Mia ini dengan baik. Saya hanya.. ingin meminta maaf. Pada anda dan yang lainnya karna sudah merebut Mia dari sisi kalian..."
Aku menggeleng, mengusap rambutnya dengan lembut. "Jangan katakan itu. Kami sudah mengerti."
Beberapa waktu setelahnya kuhabiskan dengan mencoba mengobrol dengan Ocel. Menanyakan kehidupan anak itu sebelum mengirim Mia pergi sampai Mia bisa bertemu dengan kami. Diam-diam, aku memperhatikan caranya bicara, suaranya, intonasinya, ekspresinya, zdan gerak-geriknya. Benar-benar mirip... Rasanya seperti sedang mendengarkan Mia bercerita. Aneh.. aku tau mereka bersaudara. Dan wajah mereka tidak semirip itu, tapi kenapa aku terus merasa deja vu setiap kali melihat gerak-geriknya?
Pada akhirnya, setelah mengobrol cukup lama, Ocel pun berpamitan untuk kembali ke Hashirasai. Dan entah kenapa aku melepasnya dengan berat hati. Seperti tidak rela dia pergi. Tapi tetap ku ulas senyum diwajah.
"Apa... Saya bisa sering berkunjung kesini, tuan?" Anak itu menatapku penuh harap sambil menanyakan itu. Kami sudah hampir menuruni tangga untuk kembali ke lantai bawah.
Aku langsung mengangguk sambil tersenyum lembut. "Boleh. Datanglah kapanpun, kami akan menyambut dengan tangan terbuka."
Ocel tersenyum lebar. Dan langkahnya berubah riang saat menuruni tangga. Aku mengikutinya dengan perasaan aneh. Ya, perasaanku memang aneh sekali. Berulang kali kukatakan kalau anak didepanku ini Ocel, bukan Mia. Tapi benakku terus menerus berkata Mia.
Tepat dianak tangga terakhir, gumaman kecil dari mulut anak itu membuatku membeku. Menatap punggungnya menjauh kearah bodyguard-nya, lalu berpamitan keluar dari Dome. Mataku terus mengikuti sosoknya sampai menghilang dari pandangan. Aku tertegun, mencengkram pegangan tangga dengan tatapan kosong.
"Seneng banget bisa ketemu mami lagi."
Itu seperti terngiang dipikiranku. Seakan meyakinkan benakku soal Mia dari sosok Ocel.
Selia, Riji dan Juna, yang dari tadi menungguku pun menghampiriku. Tampak bingung karna aku tertegun ditangga. Selia bahkan sampai melambaikan tangannya didepan wajahku, memanggilku.
"Oh.." seperti tersadar, aku menoleh kearah Selia. "Nggak, gapapa kok." Ucapku lagi, tersenyum kecil menenangkan mereka.
Aku diam sejenak, lalu tersenyum lagi. "Lega."
Dan seperti mendengar kabar baik, Selia, Riji dan Juna pun ikut tersenyum lebar. Mereka tidak bertanya lebih jauh soal apa yang aku bicarakan dengan Ocel. Hanya langsung mengajakku bergabung bersama yang lain lagi untuk berjalan-jalan, berkata kalau sebelumnya mereka berencana jalan-jalan ke karnaval bersama-sama. Dan mereka ingin aku ikut. Yang tentu saja aku setujui.
Hatiku sudah lega. Gumaman Ocel itu seperti penenang.
Entah kenapa, meski aku tidak mengerti maksud ritual pengorbanan yang katanya memasukkan jiwa Mia kedalam tubuh Ocel itu, aku merasa seperti Mia memang ada disana. Didalam tubuh Ocel. Dan perasaan itu membuatku begitu tenang.
Atau mungkin aku hanya merasa lega karna telah bicara dengan Ocel dan akhirnya bisa menerima kepergian Mia.
Mia, kamu selamanya anak mami... Meski kamu udah gak ada. Mami akan selalu ingat kamu. Maafin mami juga ya, karna bukan mami yang baik buat kamu...
Semoga kamu tenang disana. Anak baik, anak bawangnya mami...